1. Proses dan pengerjaan minimal (Minimal Operations and Processes)
a. Pengerjaan yang dilakukan dianggap sebagai proses minimal dan tidak dapat diperhitungkan dalam menentukan apakah suatu Barang Originating Negara Anggota apabila proses minimal tersebut bertujuan untuk:
1) memastikan barang berada dalam kondisi baik untuk keperluan penyimpanan atau pengangkutan;
2) memfasilitasi pengiriman atau pengangkutan; dan 3) keperluan pengemasan atau penyajian barang untuk
dijual.
b. Suatu Barang Originating dari Negara Anggota yang diekspor ke Negara Anggota lain, tetap dianggap sebagai originating Negara Anggota pertama apabila pengerjaan yang dilakukan tidak melebihi pengerjaan sebagaimana dimaksud pada huruf a.
2. De Minimis
a. untuk barang jadi yang menggunakan kriteria asal barang CTC, Bahan Non-Originating yang nilainya tidak melebihi 10% (sepuluh persen) nilai FOB barang jadinya, tidak wajib mengalami perubahan klasifikasi barang.
jdih.kemenkeu.go.id
37
-b. untuk barang jadi yang menggunakan kriteria asal barang RVC, nilai Bahan Non-Originating sebagaimana dimaksud pada huruf a harus tetap diperhitungkan.
c. Dalam hal barang impor memenuhi De Minimis, tanda ( ✓
)
atau ( X ) harus dicantumkan pada kotak "De Minimis" di kolom 13 SKA Form D atau pada kotak "OMS= De Minimis"
e-FormD.
3. Perlakuan terhadap pengemas
a. Pengemas untuk penjualan eceran:
1) untuk barang yang menggunakan kriteria asal barang RVC, nilai pengemas untuk penjualan eceran harus ikut dihitung sebagai komponen barang dalam RVC apabila pengemas tersebut dianggap membentuk keseluruhan barang;
2) dalam hal ketentuan huruf a tidak dapat diterapkan, pengemas untuk penjualan eceran, apabila.
diklasifikasikan dalam satu pas tarif dengan barangnya, tidak diperhitungkan dalam menentukan asal barang sepanjang kriteria asal barang yang digunakan adalah CTC.
b. Kontainer dan pengemas yang khusus digunakan untuk tujuan pengangkutan tidak diperhitungkan untuk penentuan keasalan barang.
4. Aksesoris, Spare Part dan Peralatan
a. untuk barang yang menggunakan kriteria asal barang CTC atau proses khusus, keasalan dari spare part, aksesoris, peralatan, dan petunjuk/manual atau informasi lainnya yang disertakan dengan barang tersebut tidak diperhitungkan dalam menentukan originating suatu·
barang apabila:
1) aksesoris, spare part, peralatan dan petunjuk/manual atau informasi lainnya tersebut tidak dalam invoice yang terpisah dengan barangnya; dan
2) jumlah dan nilai aksesoris, spare part, peralatan, dan instruksional atau manual informasi lainnya tersebut wajar.
jdih.kemenkeu.go.id
b. untuk barang yang menggunakan kriteria asal barang RVC, nilai dari aksesoris, spare part, peralatan, dan instruksi atau petunjuk/manual atau informasi lainnya harus diperhitungkan sesuai dengan kriteria asal barang masing-masing.
5. Elemen Netral
Dalam menentukan apakah suatu barang merupakan Barang Originating, barang-barang di bawah ini tidak perlu ditentukan keasalan barangnya, sepanjang digunakan dalam proses produksi dan tidak tergabung dengan barang, yaitu:
a. bahan bakar dan energi;
b. tools, dies, dan moulds;
c. spare part dan bahan yang digunakan untuk pemeliharaan peralatan dan gedung;
d. pelumas, gemuk, bahan kompon dan bahan lain yang digunakan dalam proses produksi atau digunakan untuk mengoperasikan peralatan dan gedung;
e. sarung tangan, kaca mata, alas kaki, pakaian, serta.
perlengkapan dan peralatan keamanan;
f. perlengkapan, perangkat dan peralatan yang digunakan untuk menguji atau memeriksa barang;
g. katalisator dan pelarut; dan
h. barang lain yang tidak tergabung dengan barang yang diproduksi namun penggunaannya dapat ditunjukkan secara wajar sebagai bagian dari produksi barang tersebut.
6. Bahan Baku Identik dan Dapat Dipertukarkan
a. Dalam hal Bahan Originating dan Bahan Non-Originating yang identik dan dapat dipertukarkan digunakan dalam proses produksi suatu barang, metode yang dapat digunakan untuk menentukan keasalan barang meliputi:
I) Pemisahan fisik Bahan Originating dan Bahan Non-·
Originating yang identik dan dapat dipertukarkan;
2) penggunaan prinsip akuntansi yang berlaku secara umum atas pengawasan persediaan yang diterapkan;
atau
3) penggunaan metode manajemen persediaan di Negara Anggota pengekspor.
jdih.kemenkeu.go.id
39
-b. Dalam hal metode manajemen persediaan sebagaimana dimaksud dalam huruf a angka 3) digunakan, maka metode tersebut wajib digunakan sepanjang tahun ftskal.
V. KETENTUAN LAIN-LAIN
Dalam hal lnstansi Penerbit SKA menetapkan website untuk melakukan pengecekan validitas SKA Form D, informasi atas website_
tersebut diberitahukan dengan menggunakan mekanisme sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 Peraturan Menteri ini.
jdih.kemenkeu.go.id
VI. BENTUK DAN FORMAT LEMBAR ASLI SKA FORM D
I I I
jdih.kemenkeu.go.id
41
Ci) falwitllin adlnmiplion dlll0dulli54llililiefllr-.-iftlheaxnryrtdlslinaliclll(
(ii) anJjywilh lie aamignmentllllllllllans in acamdarlae \lil!IAl!ide 32 (Olia:! CansigmleriJ dlieATIG\; and
~ anJjylllilhlhecqpnailelia set out iftC!rapll!r!afllleATIGA.
3. ORJGINCRITallA: Far gaodslhatmea IROliginanteria. leelpQl1er adarpma!l'IIIIEtilldicalein BGK&aftis Farm, !he aWn!Jillalia llllli.iftlheD11111111!1'--. inlll!ti:lcMir1atlbla:
EH:ll-lARTICLEIIAJSTGIWJF'f: lt!!ihauld benaledlllatallhegaads inaeansignmantlllllllcp.ialfyaapaalet/iftlheirawndgllt.
1llis isd ,alkdarllllelalce'IIIWI similar:attiall!sofcllll'alaltsmorllPlftpans-lll!lli.
1:ESCRIPOON CF l'ROCUC1'S: llle dellDripliaft d ~ must be JUlllciilnllf dei8iled 111 enalJle Ille 111D1UD 111 lie idenfiliedbytieQlllam& OllialfS eraminilgltlam. Nana dlllilllUfadunr811d anynde mlltt:ablllallobespeaililld.
HARWNISEDS'r.3TEMNUMIIER:"fhootlilllallllilf&~mnbersllalbe111atarinASEAN~T'lllfNamwtallft (AHTNl Cadedlhe~Mell'lllerSlale.
ElCPORJER: The twill "Elrpadar" in Bale 11 ma,indudl!lhe~GJIR,-dualr.
FOR OFFIOIAL USE: The Cmblll .otdl1alllJ af lie in'1CJAllllJ Mamba-Stale must illllcale ('I.I In le nileallt lxlla5 in calumn 4111D111ha Gr 11111 ~ 1ll!illment is llllllGldsl
MUlTIPU: l1BIS: Far ~ illlm5 dedlRd irl hi - Farm 0. I pniflnl1IIII . . . Is lllll p1lad 111-, af Ille iliem!i, Ille "Pll!felenlialTIBIIIIIEdNalGNl!n"irlBIIK4slKucllle1iclll!d (-./)ancllhe ilen11u11b11rsladd alsa be cild!!d arnalmd appmpiatelyillBlllc:5.
FOB PRICE: lliil Is appliaable fDr pd& ap:idsdtam md ~ byl<ingdamaf Cambadla, Rllplaflllndanaaia, 811d Laa Peaple's lll!mDinlic Rsplldicand lfill!n!lle Regilnal"-e Oanlll!nttffliC) cd!!ria is 11AJ1e4 by pmliillng Ille FOB prioe aftll!
ADDI& in Elax: II.
THRD COUNIR'f ffiMJICIN8: In - . _ inlDOl!!I 311! ilslllld by a 1hild IXIIIIIIIIJ, "Ille Third etiumy lirHaidng" bDx
!llloul!I be 1iclred ('II) and such imarmalian as 1181111! and acuntly of 1he campanf issuing 1ha in¥alDe! 5hal be indicaled in Bax 7.
EW:JK,.TO-BACKosmFICATE OF ORIGIN: ln-al'flladHD.SackCO. ill IIDIXIRiaoae'lllitltRla 11 af Anllll!XBaflheATIGA, lie •ea--ta-BadtCO' i-3hauld be ticr.t (,j} illllll tie llffl!ft!IICII IIUmblr aid lhellala af - - - d l l e ariginal Pnxll(1) al QWll !hlll be indicaiedin Balrt7.
ElHBllKlNS; In ---glllllds-lllllltamta~ MllnharSlale faraillltian in anoltwCCllllllyml !llllddlRII!
ar alls111eeichibifiallfilr~ inloa Member Stafle.111 aaamdanoe1llilll Rule22 of Nn!lt8dlheA11GA, l h e ~ boltJhaljd bltfic:lllld ('JjandN-and addi!audllll!elllllliililln inlfcalldill BIiie~
ISSUED RETROACffllB.Y: DllalD imnlllll1faly t!IIDl!I ormlissiansGf 11111111" valid causes. fie 0artliaale ar Origin (l'Glffl D) may
111 ill8uad llltlmclillaly, m acDllldlllce 'llilh IJIIIIIIP'illh 2 ar Ra 10 al AN1lllc a al lhe ATIGA. and 11te "lsslllld ~
bDxsllcdlbeticlll!d{'J).
ACClM.l.ATION: In - . 'llllll!fe glllllds 01ioini11in1J in a Member Slllle - used ill 8l1lliller Meder Slale as malelials far filllslledQIIClds. in llllCIIIIBllleMh IJIRAl'llllil f of .Aliida3D aflheATIGA. lhe "Alll:umdatillll"llac!lhauld betii:t.er.U,'l.
PNmAL OUIUATION I.PC): If lhe ReaianalValue Can1ent cilhe mall!rial is less than fady pement (40%). lhe Cedlicale rt
Qiain (l'Glffl D) m-, lieillla b CUlllialran pu,paaes. • - - - • palllP'llph 2d Adide 30 fll lhl!ATIGA. tie"Parllal Cunlatian" lxlllf: shalild be 1idrad {;'J.
DE MINIMIS: If a good that does not tll1delgo Ille l1!qUial d1ange in 1arilr ~ dam rd a:eed 1etl pelCE!l'II (10"4)of l&FOBll!im, in~wilhMicle 33oflheATIGA. lhe"OeMinimill' llmtsfwMdbelidmd (,/).
jdih.kemenkeu.go.id
B. KETENTUAN PROSEDURAL TERKAIT TATA CARA PENGENAAN TARIF