Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, maka :
a. Izin pemanfaatan ruang yang telah dikeluarkan dan telah sesuai dengan Peraturan Daerah ini tetap berlaku sesuai dengan masa berlakunya.
b. Izin pemanfaatan ruang yang telah dikeluarkan tetapi tidak sesuai dengan ketentuan Peraturan Daerah ini berlaku ketentuan :
1. Untuk yang belum dilaksanakan pembangunannya, izin tersebut disesuaikan dengan fungsi kawasan berdasarkan Peraturan Daerah ini.
2. Untuk yang sudah dilaksanakan pembangunannya, pemanfaatan ruang dilakukan sampai izin terkait habis masa berlaku dan dilakukan penyesuaian dengan fungsi kawasan berdasarkan Peraturan Daerah ini.
3. Untuk yang sudah dilaksanakan dan tidak memungkinkan untuk dilakukan penyesuaian dengan fungsi kawasan berdasarkan Peraturan Daerah ini, izin yang telah diterbitkan dapat dibatalkan dan terhadap kerugian yang timbul sebagai akibat pembatalan izin tersebut dapat diberikan penggantian yang layak.
4. Penggantian terhadap kerugian yang timbul sebagai akibat pembatalan izin tersebut dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Tanah Laut yang membatalkan/mencabut izin dimaksud.
5. Penggantian yang layak sebagaimana dimaksud pada angka 3 (tiga) dilakukan dengan memperhatikan indikator sebagai berikut :
- memperhatikan harga pasaran setempat ;
- sesuai dengan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) ; dan - sesuai dengan kemampuan daerah.
6. Ketentuan lebih lanjut mengenai teknis penggantian yang layak diatur dengan Peraturan Bupati.
Pasal 125
(1) Kawasan hutan yang telah ditunjuk atau ditetapkan yang secara teknis tidak dapat dipetakan dalam Lampiran Peraturan Daerah ini, dinyatakan tetap berlaku.
(2) Dalam hal batas kawasan hutan yang berimpit dengan batas-batas alam sungai, pantai atau danau, maka batas kawasan hutan bersifat dinamis mengikuti fenomena alam perubahan batas alam tersebut.
(3) Izin pemanfaatan hutan atau izin penggunaan kawasan hutan yang masih berlaku sebelum Peraturan Daerah ini mulai berlaku, dinyatakan tetap berlaku sampai dengan izinnya berakhir.
(4) Izin yang telah diterbitkan oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah yang semula berada dalam areal bukan kawasan hutan dan setelah terbitnya Keputusan Menteri Kehutanan No.SK. 435/Menhut-II/2009 menjadi kawasan hutan maka berdasarkan Peraturan Daerah ini ditetapkan menjadi areal bukan kawasan hutan sesuai dengan fungsi kawasan.
(5) Izin yang telah diterbitkan oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah yang semula berada dalam kawasan budidaya kehutanan dan setelah terbitnya Keputusan Menteri Kehutanan No.SK. 435/Menhut-II/2009 menjadi kawasan lindung kehutanan maka berdasarkan Peraturan Daerah ini ditetapkan menjadi kawasan budidayakehutanan sesuai dengan fungsi kawasan.
(6) Izin usaha perkebunan yang telah diterbitkan oleh Pemerintah dengan status Hak Guna Usaha (HGU) yang semula berada dalam areal bukan kawasan hutan dan setelah terbitnya Keputusan Menteri Kehutanan No.SK.
435/Menhut-II/2009 menjadi kawasan hutan maka berdasarkan Peraturan Daerah iniditetapkan menjadi areal bukan kawasan hutandengan fungsi kawasan perkebunan.
(7) Izin usaha perkebunanyang telah diterbitkan oleh Pemerintah Daerah dengan status Ijin Lokasi yang semula berada dalam areal bukan kawasan hutan dan setelah terbitnya Keputusan Menteri Kehutanan No.SK.
435/Menhut-II/2009 menjadi kawasan hutan berdasarkan Peraturan Daerah iniditetapkan menjadi areal bukan kawasan hutandengan fungsi kawasan perkebunan.
(8) Kegiatan plasma perkebunan masyarakat yang telah diterbitkan sertifikat hak milikyang semula berada dalam areal bukan kawasan hutan dan setelah terbitnya Keputusan Menteri Kehutanan No.SK.435/Menhut-II/2009 menjadi kawasan hutan berdasarkan Peraturan Daerah iniditetapkan menjadi areal bukan kawasan hutandengan fungsi kawasan perkebunan.
(9) Kegiatan budidaya perkebunan masyarakat (kebun mandiri) yang berada dalam kawasan hutan berdasarkan Peraturan Daerah iniditetapkan menjadi areal bukan kawasan hutandengan fungsi kawasan perkebunan.
(10) Kegiatan budidaya tambak masyarakat yang berada dalam kawasan hutan berdasarkan Peraturan Daerah iniditetapkan menjadi areal bukan kawasan hutandengan fungsi kawasan perikanan.
(11) Kawasan permukiman dengan status satuan wilayah administrasi pemerintahan berupa dusun, desa, kelurahan dan kecamatan beserta dengan fasilitas sosial dan fasilitas umum dan merupakan investasi dan aset Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah yang berada dalam kawasan hutan berdasarkan Peraturan Daerah iniditetapkan menjadi areal bukan kawasan hutandengan fungsi kawasan permukiman.
(12) Pengembangan sarana dan prasarana wilayah yang bersifat strategis berupa jalan, jembatan, kawasan industri, pelabuhan dan fasilitas umum lainnya, baik yang sudah ada maupun yang direncanakan dan berada di dalam kawasan hutan berdasarkan Peraturan Daerah ini ditetapkan menjadi areal bukan kawasan hutan dengan fungsi kawasan peruntukan lainnya.
(13) Reposisi kawasan hutan dalam Peraturan Daerah ini diprioritaskan perubahan peruntukannya menjadi bukan kawasan hutan dan/atau kawasan hutan.
(14) Areal Penggunaan Lain (APL) yang telah dikuasai oleh konsesi pengusahaan hutan (Hak Pengusahaan Hutan/Hutan Tanaman Industri) berdasarkan Peraturan Daerah ini dapat dilakukan tukar menukar kawasan dengan konsesi usaha perkebunan (Hak Guna Usaha/IzinLokasi) yang berada dalam kawasan hutan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
(15) Pengusahaan kawasan hutan, pengusahaan perkebunan dan pengusahaan pertambanganbeserta fasilitasnya, yang telah berakhir masa konsesinya,dinyatakan menjadi milik Pemerintah Daerah untuk pengembangan wilayah.
(16) Perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan serta penggunaan kawasan hutan dalam Peraturan Daerah ini,berlaku ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang kehutanan.
(17) Perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan serta penggunaan kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (16), selanjutnya diintegrasikan dalam perubahan rencana tata ruang wilayah.
(18) Perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan serta penggunaan kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (16) dapat dilaksanakan sebelum ditetapkan perubahan rencana tata ruang wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (17).
Pasal 126
1) Areal yang telah digambar dengan Outline pada lampiran peta RTRW Kabupaten Tanah Laut Tahun 2016-2036 termasuk Outline pada peta tematik merupakan dasar untuk pengajuan permohonan perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah dan/atau pihak ketiga lainnya.
2) Perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan pada areal yang telah digambar dengan Outline diproses berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
3) Dalam hal adanya rencana pembangunan strategis nasional dan pembangunan strategis daerah yang berada di dalam kawasan hutan di luar Outline yang telah ditentukan, maka perubahan fungsi dan peruntukan kawasan hutannya dapat diproses dan ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
4) Pengusahaan kawasan hutan, pengusahaan perkebunan dan pengusahaan pertambangan beserta fasilitasnya, yang telah berakhir masa konsesinya, dinyatakan menjadi milik Pemerintah Daerah untuk pengembangan wilayah.
BAB XVII
KETENTUAN PENUTUP