• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ketentuan Pidana Pelanggaran Pembayaran Upah

Pengupahan merupakan masalah sangat krusial dalam bidang ketenagakerjaan bahkan apabila tidak profesional dalam menangani pengupahan tidak jarang menjadi potensi perselisihan serta mendorong timbulnya mogok kerja dan unjuk rasa. Penanganan pengupahan tidak menyangkut aspek teknis dan ekonomis saja, tetapi juga aspek hukum yang mendasari bagaimana hal-hal yang berkaitan dengan pengupahan itu commit to user commit to user

197 dilaksanakan dengan aman dan benar berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. Oleh sebab itu, untuk menangani pengupahan secara profesional mutlak memerlukan pemahaman ketiga aspek tersebut secara komprehensif20. Sebagaimana dikemukakan oleh Abdul Khakim bahwa:

Aspek teknis di bidang pengupahan tidak hanya sebatas bagaimana perhitungan dan pembayaran upah dilakukan, tetapi juga menyangkut bagaimana perhitungan dan pembayaran upah dilakukan, tetapi juga menyangkut bagaimana proses upah ditetapkan. Apa saja dasar pertimbangan penetapan dan siapa yang berwenang untuk menetapkan.

Aspek ekonomis di bidang pengupahan lebih melihat pada kondisi ekonomi baik secara makro maupun secara mikro yang secara operasional kemudian mempertimbangkan bagaimana kemampuan perusahaan pada saat nilai upah akan ditetapkan, juga bagaimana implementasinya) di lapangan. Di tingkat perusahaan kemudian diterjemahkan bagaimana sistem penggajian dalam suatu perusahaan dirancang sehingga kebijakan upah minimum tetap dapat mendorong produktivitas kerja pekerja atau buruh dan tidak terlalu membebani cashflow perusahaan.

Dalam praktik hal ini ternyata sangat dilematis, apakah pekerja atau buruh harus menuntut upah yang tinggi dulu baru produktivitas kerja diberikan atau pengusaha meminta jaminan produktivitas kerja yang tinggi baru upah yang diberikan secara proporsional? Tidak mudah memang, menurut pekerja atau buruh maunya minta upah dulu yang tinggi sehingga sejahtera, baru mereka memberikan produktivitas yang diinginkan pengusaha. Sebaliknya, pengusaha menginginkan pekerja atau buruh menunjukkan produktivitas kerja dulu, setelah perusahaan cashflow-nya baik, baru dibagi sama untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja atau buruh.

Aspek hukum bidang pengupahan meliputi proses dan kewenangan penetapan upah, pelaksanaan upah, perhitungan dan pembayaran upah, serta pelaksanaan ketentuan upah. Secara hukum, kesemuanya ini harus dipahami

20 Abdul Khakim,Op.Cit.

commit to user commit to user

198 dasar dan falsafahnya. Kemudian dipadukan dengan aspek lain (aspek teknis dan ekonomis).

Beberapa kasus terkait kekurangan perhitungan upah, termasuk uang pesangon, yang terakumulasi beberapa tahun terakhir sering mencuat ke permukaan dan memicu konflik yang berkepanjangan. Penanganan mulai dari tingkat perusahaan, dinas yang membidangi ketenagakerjaan, maupun ke Pengadilan Hubungan Industrial.

Berdasarkan uraian tersebut tampak jelas bahwa para pihak harus benar-benar memahami ketiga aspek secara komprehensif sebagaimana dipaparkan di atas, ketika salah satu pihak berpegang hanya pada satu aspek dan akhirnya sulit ditemukan keputusan yang bijak Oleh karena itu sangat keliru jika ada sebagian pihak yang berpendapat bahwa bidang ketenagakerjaan hanyalah masalah normatif, karena fakta dimensi ketenagakerjaan sangat kompleks seperti masalah pengupahan ini.

Dari pengertian tersebut, secara hukum jelas bahwa upah merupakan hak pekerja atau buruh dan bukan pemberian sebagian hadiah dari pengusaha.

Karena pekerja atau buruh telah atau akan bekerja untuk pengusaha sesuai yang telah diperjanjikan. Apabila tenyata pekerja atau buruh yang bersangkutan tidak berhak atas upah dari pengusaha.

Pemerintah, dalam hal ini adalah gubernur, dengan memperhatikan rekomendasi dari Dewan Pengupahan Provinsi dan/ atau bupati / walikota, menetapkan upah minimum berdasarkan kebutuhan hidup layak dan dengan memperhatikan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi, Sedangkan ketentuan mengenai penghasilan yang layak, kebijakan pengupahan, kebutuhan hidup layak, dan perlindungan pengupahan, penetapan upah minimum dan pengenaan denda terhadap pekerja/buruh yang melakukan pelanggaran karena kesengajaan atau kelalaiannya diatur dengan peraturan pemerintah (Pasal 97 UU No. 13 Tahun 2003).

Upah minimum diarahkan kepada pencapaian kebutuhan hidup layak, yaitu setiap penetapan upah minimum harus disesuaikan dengan tahapan pencapaian perbandingan upah minimum dengan kebutuhan hidup layak yang commit to user commit to user

199 besarannya ditetapkan oleh Menaker. Pencapaian kebutuhan hidup layak perlu dilakukan secara bertahap karena kebutuhan hidup minimum yang sangat ditentukan oleh tingkat kemampuan dunia usaha.

Upah minimum sektoral dapat ditetapkan untuk kelompok lapangan beserta pembagiannya menurut klasifikasi lapangan usaha Indonesia untuk kabupaten/ kota, provinsi, beberapa provinsi atau nasional, dan tidak boleh lebih rendah dari upah minimum regional daerah yang bersangkutan.

Pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum dan sanksi atas kejahatan bagi pengusaha yang membayar upah dibawah dari upah minimum adalah sanksi pidana penjara paling singkat 1(satu) tahun dan paling lama 4 (empat) tahun dan/ atau denda paling Sedikit Rp 100.000.000, (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 400.000.000 (empat ratus juta rupiah) (Pasal 185 UU No. 13 Tahun 2003).

Bagi pengusaha yang tidak mampu membayar upah minimum dapat melakukan penangguhan yang tata caranya diatur dengan keputusan Menaker.

Penangguhan pelaksanaan upah minimum bagi perusahaan yang tidak mampu dimaksudkan untuk membebaskan perusahaan yang bersangkutan melaksanakan upah minimum yang berlaku dalam kurun waktu tertentu. Bila penangguhan tersebut berakhir, maka perusahaan yang bersangkutan wajib melaksanakan upah minimum yang berlaku pada saat itu, tetapi tidak wajib membayar pemenuhan ketentuan upah minimum yang berlaku pada waktu diberikan penangguhan.

Apabila berpedoman pada Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, ketentuan pidana terhadap pelanggaran pembayaran upah diatur semaksimal mungkin yang sudah disebutkan diatas.

Adanya ketentuan sanksi pidana penjara, kurungan, dan/atau denda tersebut tidak berarti menghilangkan kewajiban pengusaha untuk membayar hak-hak dan/atau ganti kerugian kepada tenaga kerja atau pekerja/buruh sebagaimana diatur dalam Pasal 189 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003.

Jadi, meskipun pengusaha di pidana atau didenda, ia tetap berkewajiban commit to user

commit to user

200 membayar seluruh hak dan/atau ganti kerugian kepada tenaga kerja atau pekerja/buruh.

Menurut pengamatan ketentuan pidana tersebut masih terdapat kekurangan, yakni tidak adanya sanksi bagi pengusaha yang tidak membayar upah yang terlambat dibayar berikut denda dan bunganya. Memang jika ada keterlambatan pembayaran upah, pengusaha wajib membayar denda dan bunganya sebagaimana diatur peraturan pemerintah. Namun, ketika pengusaha tersebut tidak juga membayar upah yang terlambat dibayar, berikut denda dan bunganya, malah belum/tidak ada sanksi apa pun. Dalam Pasal 95 ayat (2) Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan jelas dinyatakan bahwa:

―Pengusaha yang karena kesengajaan atau kelalaiannya mengakibatkan keterlambatan pembayaran upah, dikenakan denda sesuai dengan persentase tertentu dari upah pekerja/buruh‖

Ketentuan sanksi upah juga tidak dapat dilaksanakan secara maksimal, dalam prakteknya para pihak dalam hubungan ketenagakerjaan seringkali tidak memperhatikan hak dan kewajiban masing-masing ketika keterlambatan pembayaran upah tidak dilaksanakan sesuai ketentuan.

G. Denda atas keterlambatan membayar dan /atau tidak membayar Upah

Pengaturan tentang pengenaan denda atas keterlambatan membayar dan/atau tidak membayar upah menurut ketentuan Pasal 95 ayat (2) dan (3) Undang-undang Nomor 13 Tahun 200 tentang ketenagakerjaan bahwa :

1). Pengusaha yang karena kesengajaaan atau kelalaiannya mengakibatkan keterlambatan pembayaran upah, dikenakan dengan sesuai dengan persentase tertentu dari upah pekerja/buruh.

2). Pemerintah mengatur pengenaan denda kepada penguasa dan/atau pekerja/buruh, dalam pembayaran upah.

Selanjutnya, dalam peraturan pemerintah nomor 78 tahun 2015 tentang pengupahan juga diatur : commit to user commit to user

201 Pasal 53

―Pengusaha atau pekerja/buruh yang melanggar ketentuan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama karena kesengajaan atau kelalainnya dikenakan denda apabila diatur secara tegas dalam perjanjian kerja, Peraturan Perusahaan, atau Perjanjian Kerja Bersama.

Pasal 54

(1) Denda kepada penguasa atau pekerja/buruh sebagaimana dimaksud dalam pasal 53 dipergunakan hanya untuk kepentingan Pekerja/buruh.

(2) Jenis-jenis pelanggaran yang dapat dikenakan denda, besaran denda dan penggunaan uang denda diatur dalam Perjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan, atau Perjanjian Kerja Bersama.

Berdasarkan ketentuan di atas, maka jelas bahwa :

a. Pengenaan denda tidak dapat dilakukan serta merta atau sembarangan. Jika belum atau tanpa ada pengaturan terlebih dahulu di dalam perjanjian kerja ; peraturan perusahaan ; atau perjanjian kerja bersama, termasuk pengaturan tentang jenis-jenis pelanggaran yang didapat dikenakan denda ; besaran denda ; dan penggunaan uang denda.

b. Hasil denda itu hanya digunakan untuk kepentingan pekerja/buruh jadi, tidak boleh digunakan untuk kepentingan pengusaha.

Sedangkan khusus untuk pengenaan denda atas keterlambatan membayar atau tidak membayar upah sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan sebagai berikut : 1. Pengusaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 yang terlambat membayar dan/atau tidak membayar upah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (4) dikenai denda, dengan ketentuan.

a. Mulai dari hari ke-4 sampai hari ke-8 terhitung tanggal seharusnya upah dibayar, dikenakan denda sebesar 5% untuk commit to user commit to user

202 setiap hari keterlambatan dari upah yang seharusnya dibayarkan;

b. Sesudah hari ke-8 apabila upah masih belum dibayar, dikenakan denda keterlambatan sebagaimana dimaksud dalam huruf a ditambah 1% untuk setiap hari keterlambatan dengan ketentuan 1 bulan tidak boleh melebihi 50% dari upah yang seharusnya dibayarkan; dan

c. Sesudah sebulan, apabila Upah masih belum dibayar, dikenakan denda keterlambatan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b ditambah bunga sebesar suku bunga yang berlaku pada bank pemerintah [Pasal 55 ayat (1)].

2. Pengenaan denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak menghilangkan kewajiban pengusaha untuk tetap membayar upah kepada pekerja/buruh [Pasal 55 ayat (2)].

3. Pengusaha yang terlambat membayar tunjangan hari raya keagamaan kepada pekerja/buruh sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) dikenai denda sebesar 5% dari total tunjangan hari raya keagamaan yang harus dibayar sejak berakhirnya batas waktu kewajiban pengusaha untuk membayar [Pasal 56 ayat (1 )].

4. Pengenaan pada ayat (1) tidak menghilangkan kewajiban pengusaha untuk tetap membayar tunjangan hari raya keagamaan kepada pekerja/buruh [Pasal 56 ayat (2)].

Dokumen terkait