• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : PENGATURAN HUKUM TINDAK PIDANA KEJAHATAN

6. Ketentuan Tindak Pidana Menawarkan Bantuan Untuk

(1) KUHP adalah penyebarluasan itu harus dilakukan secara terbuka. Menurut Menteri Kehakiman, penyebarluasan artinya memberikan kesempatan kepada beberapa orang untuk membaca satu eksemplar yang sama itu tidak dapat membuat pelakunya dapat dipidana. Simons berpendapat, bahwa yang membuat pelakunya tidak dapat dipidana bukan hanya memberikan kesempatan kepada beberapa orang untuk membaca satu eksemplar yang sama saja, melainkan juga menyebarluaskan suatu tulisan dalam lingkungan yang terbatas atau dalam lingkungan yang tertutup.69

Tindak pidana menawarkan bantuan untuk melakukan tindak pidana diatur dalam :

6. Ketentuan Tindak Pidana Menawarkan Bantuan Untuk Melakukan Tindak Pidana

69

a.

Pasal 162 KUHP mengatur tentang tindak pidana menawarkan pemberian bantuan untuk melakukan sesuatu tindak pidana, yang berbunyi :

“Barang siapa di muka umum dengan lisan atau tulisan menawarkan untuk memberi keterangan, kesempatan atau sarana guna melakukan tindak pidana, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.”

Unsur-unsur yang terkandung dalam Pasal ini adalah sebagai berikut : 1. Menawarkan dengan lisan atau dengan tulisan. Menawarkan dengan lisan,

misalnya : menawarkan sesuatu alat dengan harga murah, yang dapat dipakai untuk mengiris kaca, sehingga memudahkan orang untuk memasuki rumah orang lain, guna melakukan pencurian. Menawarkan dengan tulisan, misalnya : menawarkan dengan iklan kepada pria iseng yang ingin bersebadan dengan gadis (perawan), di sebuah rumah yang pasti dapat memberikan pelayanan yang memuaskan ;

2. Memberikan keterangan-keterangan, kesempatan atau sarana-sarana untuk melakukan sesuatu tindak pidana ;

3. Di muka umum.

Undang-undang tidak mensyaratkan keharusan adanya unsur kesengajaan pada pelaku tindak pidana pada pasal ini, akan tetapi tidak dapat disangkal lagi kebenarannya, bahwa tindak pidana yang diatur dalam Pasal 162 KUHP ini harus dilakukan dengan sengaja. Itu juga berarti kesengajaan pelaku harus ditujukan pada semua unsur tindak pidana yang diatur dalam Pasal 162 KUHP. Agar pelaku dapat dinyatakan terbukti telah memenuhi semua unsur

tindak pidana yang diatur dalam Pasal 162 KUHP, maka di sidang pengadilan yang memeriksa perkara pelaku, harus dapat dibuktikan bahwa :70

1. Pelaku telah menghendaki melakukan perbuatan menawarkan dengan lisan atau dengan tulisan ;

2. Pelaku mengetahui, bahwa yang ia tawarkan dengan lisan atau dengan tulisan itu ialah suatu pemberian keterangan, kesempatan atau sarana untuk melakukan suatu tindak pidana dan ;

3. Pelaku mengetahui, perbuatan menawarkan pemberian keterangan, kesempatan atau sarana dengan lisan atau dengan tulisan itu telah ia lakukan di depan umum.

Hakim harus memberikan putusan bebas, jika di sidang pengadilan yang memeriksa perkara ternyata salah satu dari unsur-unsur tindak pidananya tidak dapat dibuktikan.

Pasal 163 KUHP mengatur tentang tindak pidana menyebarluaskan, mempertunjukkan atau menempelkan secara terbuka suatu tulisan yang berisi penawaran tentang pemberian keterangan, kesempatan atau sarana untuk melakukan sesuatu tindak pidana, yang berbunyi :

“(1) Barang siapa menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan di muka umum tulisan yang berisi penawaran untuk memberi keterangan, kesempatan atau sarana guna melakukan tindak pidana dengan maksud supaya penawaran itu diketahui atau lebih diketahui oleh umum, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

(2) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut pada waktu menjalankan pencariannya dan pada saat itu belum lewat lima tahun sejak pemidanaannya menjadi tetap karena kejahatan semacam itu

70

juga yang bersangkutan dapat dilarang menjalankan pencarian tersebut.”

Pasal ini memuat delik penyiaran dari kejahatan yang dimaksud oleh Pasal 162 KUHP. Unsur-unsur yang terkandung dalam Pasal ini adalah sebagai berikut : a. Unsur subjektif : Dengan maksud agar penawara itu diketahui oleh orang

banyak atau diketahui secara lebih luas lagi oleh orang banyak ;

b. Unsur-unsur objektif : Menyebarluaskan, mempertunjukkan atau menempelkan secara terbuka suatu tulisan yang berisi penawaran untuk memberikan keterangan-keterangan, kesempatan atau sarana-sarana guna melakukan sesuatu tindak pidana.

Tindak pidana menyebarluaskan atau mempertunjukkan secara terbuka suatu tulisan yang berisi penawaran pemberian kesempatan untuk melakukan sesuatu tindak pidana misalnya melalui iklan di dalam sebuah surat kabar yang menyatakan bahwa disewakannya sebuah villa di Cipanas dengan ruang keluarga 20 x 20 meter, dan dengan halaman parkir yang cukup untuk 30 mobil, letak terpencil (1 kilometer dari jalan raya), cocok untuk menyelenggarakan rolet. Iklan seperti itu merupakan tulisan yang berisi penawaran mengenai pemberian kesempatan untuk melakukan suatu tindak pidana yang dimaksud dalam Pasal 163 ayat (1) KUHP.

Noyon, dalam cetakan keempat dari kitab pelajarannya yang berjudul Het Wetboek van Strafrecht I menghendaki agar kegunaan yang bersifat melangaar hukum dari kesempatan yang diberikan oleh pelaku dinyatakan dengan tegas di dalam surat dakwaan dari penuntut umum. Akan tetapi, Langemeijer tidak sependapat dengan kehendak Noyon, dengan alasan bahwa undang-undang tidak mensyaratkan keharusan seperti itu. Belum puas dengan alasan yang

dikemukakan, berkenaan dengan keinginan Noyon agar kegunaan yang bersifat melanggar hukum dari kesempatan yang diberikan harus dinyatakan tegas di dalam surat dakwaan dari penuntut umum seperti yang dikatakan di atas, Langemeijer berpendapat :

“Tidak ada alasan apa sebabnya tindak pidana harus dinyatakan dengan tegas, jika hal tersebut sudah cukup jelas bagi pelaku. Berdasarkan hal-hal tersebut, tidak berarti bahwa orang yang menawarkan sarana-sarana, kesempatan atau keterangan-keterangan itu perlu mengetahui tentang sifatnya yang melanggar hukum dari tindakan yang bersangkutan. Jika pada umumnya, pengetahuan pelaku tentang unsur-unsur dari suatu tindak pidana bukan merupakan syarat, maka dengan sendirinya undang-undang pun tidak dapat mensyaratkan keharusan adanya pengetahuan pada pelaku tentang sifatnya yang terlarang dari tindakan yang bersangkutan.”71

P. A. F Lamintang berpendapat bahwa walaupun kegunaan dari keterangan, kesempatan atau sarana yang ditawarkan memang benar bukan merupakan unsur tindak pidana yang diatur dalam Pasal 163 ayat (1) KUHP, tetapi untuk dapat menyatakan pelaku telah terbukti memenuhi unsur objektif dari tindak pidana tersebut, di sidang pengadilan yang memeriksa perkara pelaku, harus dapat dibuktikan bahwa pelaku ituu memang mengetahui yang ia sebarluaskan atau yang ia pertunjukkan atau tempelkan secara terbuka merupakan suatu tulisan, yang berisi penawaran mengenai pemberian keterangan, kesempatan atau sarana untuk melakukan sesuatu tindak pidana. Itu juga berarti tindak pidana tersebut mau tidak mau harus disebutkan di dalam surat dakwaan dari penuntut umum, walaupun untuk maksud tersebut tidak perlu dipakai kata-kata seperti yang terdapat di dalam rumusan tindak pidana yang bersangkutan.72

71

Ibid., hlm. 544.

72

7. Ketentuan Tindak Pidana Pembujukan (Uitlokking) Melakukan suatu Kejahatan yang Gagal

Tindak pidana pembujukan (uitlokking) melakukan suatu kejahatan yang ternyata gagal diatur dala

“(1)Barang siapa dengan menggunakan salah satu sarana tersebut dalam Pasal 55 ke-2 mencoba menggerakkan orang lain supaya melakukan kejahatan, diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun atau pidana denda paling banyak tiga ratus rupiah, tetapi dengan ketentuan jika tidak mengakibatkan kejahatan atau percobaan kejahatan sekali-kali tidak dapat dijatuhkan pidana yang lebih berat daripada yang ditentukan terhadap kejahatan itu sendiri.

(2) Aturan tersebut tidak berlaku, jika tidak mengakibatkan kejahatan atau percobaan kejahatan disebabkan karena kehendaknya sendiri.”

Tindak pidana yang diatur dalam Pasal 163 bis KUHP, dalam doktrin juga sering disebut sebagai mislukte uitlokking, yang artinya ialah usaha untuk menggerakkan orang lain melakukan suatu kejahatan, yang ternyata gagal. Menurut ketentuan pidana yang diatur dalam Pasal 163 bis KUHP, kegagalan itu disebabkan oleh dua hal, yakni : 73

73

Ibid., hlm 548.

a. Karena orang yang digerakkan untuk melakukan suatu kejahatan itu, ternyata tidak bergerak untuk melakukan kejahatan tersebut ;

b. Karena orang yang digerakkan untuk melakukan suatu kejahatan itu, ternyata tidak melakukan suatu percobaan yang dapat dipidana, artinya telah mencoba melakukan kejahatan yang bersangkutan, tetapi percobaannya itu ternyata tidak memenuhi syarat-syarat untuk membuat dirinya dapat dipidana.

Simons dan Pompe berpendapat bahwa perbuatan membantu melakukan suatu uitlokking tidak membuat pelakunya dapat dijatuhi pidana.74 Adapun menurut Hoge Raad dalam arrest-nya tertanggal 24 Januari 1950, N. J. 1950 No. 287 : membantu menggerakkan orang lain melakukan suatu kejahatan itu dapat saja terjadi. Dengan alasan bahwa dengan adanya kata melakukan dalam rumusan Pasal 55 KUHP itu, undang-undang tidak menutup kemungkinan tentang adanya suatu perbuatan membantu melakukan suatu uitlokking.75

P. A. F. Lamintang berpendapat bahwa orang yang membantu melakukan suatu uitlokking, yang ternyata gagal seperti itu, tetap dapat dipersalahkan telah membantu melakukan suatu mislukte uitlokking. Dengan kata lain, orang tersebut dapat diminta pertanggungjawabannya menurut hukum pidana karena melanggar larangan-larangan yang diatur dalam Pasal 56 jo. Pasal 163 bis KUHP.76

Noyon dan Langemeijer berpendapat bahwa tindak pidana yang diatur dalam Pasal 163 bis ayat (1) KUHP merupakan suatu kejahatan yang berdiri sendiri, tidak ada hubungannya dengan uitlokking, hingga persyaratan untuk adanya suatu percobaan, yang membuat pelakunya dapat dipidana, tidak berlaku bagi kejahatan ini.77

Tindak pidana tidak melaporkan akan adanya tindak pidana tertentu diatur dalam :

8. Ketentuan Tindak Pidana Tidak Melaporkan Akan Adanya Tindak