• Tidak ada hasil yang ditemukan

Secara definisi, perkawinan berasal dari bahasa Indonesia berasal dari kata “kawin”, yang berarti membentuk keluarga dengan lawan jenis, melakukan hubungan kelamin atau bersetubuh.1 Dalam bahasa lain, kata kawin juga memiliki sinonim “nikah”. Namun, nikah secara bahasa berarti al-jam’u dan al-dhamu yang berarti kumpul.2 Kemudian nikiah juga bisa diartikan sebagai aqdu al-tajwij yang berarti akad nikah.Rahmat Hakim menyebutkan kata nikah berasal dari bahasa Arab, Nikahun yang merupakan masdar atau berarti nakahan dalam kata kerja, sinonimnya tazawwaja, dalam bahasa indonesia berarti perkawinan.3 Menurut Hukum Islam perkawinan ialah suatu ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk hidup bersama dalam suatu rumah tangga dan untuk berketurunan, yang dilaksanakan menurut ketentuan hukum-hukum syari’at Islam.4

Perkawinan sebagai suatu perbuatan sakral yang dibawa oleh Rasulullah SAW. ialah bertujuan untuk menata kehidupan umat manusia.

Penataan yang dilakukan tersebut secara sepintas dapat dilihat pada batang tubuh ajaran fikih, dalam empat hal, yaitu: Rub’ al-ibadat, yang menata hubungan manusia selaku mahkluk dengan khaliknya. Rub’ al-muamalat, yang menata manusia dengan pergaulannya antar sesama manusia untuk sampai kepada hajatnya masing-masing. Rub’ al-munakahat, yaitu menata

1 Aninomous, “Kamus Besar Bahasa Indonesia” (Jakarta: Balai Pustaka, Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994), h., 456

2Slamet Abidin,“Fikih Munakahat I”(Bandung: Pustaka Setia,1999), h., 9

3Rahmat Hakim,“Hukum Perkawinan Islam”(Bandung: Pustaka Setia, 2000), h., 11

4 H. Zahri Hamid, “Pokok-pokok Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan di Indonesia”(Yogyakarta: Bina Cipta, 1987), h., 1.

manusia dengan keluarga dan Rub’ al-jinayat, yang menata sesuatu tertib aturan dalam pergaulan demi tercapainya ketentramannya.5

Menurut agama Islam perkawinan merupakan sebagian dari perintah Allah yang harus dijalankan sebagaimana yang tercantum dalam surat An-nur ayat 23. Perkawinan juga disyariatkan oleh Nabi Muhammad SAW. yang mana hukumnya termaktub dalam al-quran dan sunnah. Sejalan dengan kebutuhan seksualitas manusia dan sesuai dengan saluran yang halal serta bersih sehingga dapat memperoleh keturunan sebagai penerus regenerasi, pemelihara kehormatan diri, kegembiraanhati serta ketenangan batin.6

Tujuan dilangsungkannya suatu perkawinan tentu tidak akan jauh dari suatu pemikiran untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Terlebih dalam Islam tujuan keluarga ialah untuk mengatur hubungan suami-istri dan anggota keluarga, saling meridai, menjaga diri dari setan, merupakan bagian dari kemuliaan keturunan, bekerja sama dalam menghadapi kesulitan hidup, menghibur jiwa dan menenangkan dengan bersama, melaksanakan hak-hak keluarga, dan pemindahan kewarisan.7 Maka untuk mewujudkan beberapa tujuan tersebt demi terciptanya perkawinan yangmitsqan ghalidhan8,tentu terdapat beberapa hal yang harus dipertimbangkan, seperti halnya usia perkawinan.9

Di dalam Al-qur’an, ayat-ayat tentang pernikahan sejatinya terdapat Dua Puluh Tiga (23) ayat. Namun, tidak ada satu ayatpun yang secara rinci menjelaskan atau memberi patokan terkait usia perkawinan.

Namun, apabila diteliti lebih lanjut, terdapat dua ayat dalam Al-quran yang

5 Ali Yafie, “Pandangan Islam Terhadap Kependudukan dan Hukum Keluarga” (Jakarta:

Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdhatul Ulama dan BBKBN, 1982), h., 1

6 Yulia Fatma, “Batasan Usia Perkawinan Dalam Hukum Keluarga Islam (Perbandingan Antar Negara Muslim: Turki, Pakistan, Maroko dan Indonesia),”Jurnal Ilmiah Syari’ahVol. 18, No. 2 (2019). h. 118.

7 Achmad Asrori, “Batas Usia Perkawinan Menurut Fukaha Dan Penerapannya Dalam Undang-Undang Perkawinan Di Dunia Islam” (Bandar lampung: Pasca Sarjana IAIN Raden Intan, 2015), h., 808

8Hasan Ayyub,“Fikih Keluarga Panduan Membangun Keluarga Sakinah Sesuai Syari’ah”

(Jakarta: al-Kautsar, 2011), h., 9

9Henry Cloud,Boundaries In Marriage”diterjemahkan oleh Connie Item Corputty Batas-Batas dalam Perkawinan(Batam: Interaksara, 2002), h.11.

berkaitan dengan kelayakan seseorang untuk dapat melangsungkan perkawinan, yaitu suratal-Nûr [24]: 32:

ْﻦِﻣ ُّٰﷲ ُﻢِﮭِﻨْﻐُﯾ َءۤاَﺮَﻘُﻓ اْﻮُﻧْﻮُﻜﱠﯾ ْنِا ْۗﻢُﻜِٕ ۤﺎَﻣِاَو ْﻢُﻛِدﺎَﺒِﻋ ْﻦِﻣ َﻦْﯿِﺤِﻠّٰﺼﻟاَو ْﻢُﻜْﻨِﻣ ﻰٰﻣﺎَﯾَْﻻا اﻮُﺤِﻜْﻧَاَو

ٌﻢْﯿِﻠَﻋ ٌﻊِﺳاَو ُّٰﷲَو ٖۗﮫِﻠْﻀَﻓ

“Dan kawinkanlah orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya, dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.(Q.s. al-Nûr [24]: 32).10

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa ayat tersebut ialah suatu perintah untuk menikah. Sebagian dari ulama mewajibkan bagi mereka yang mampu.11 Al-Marâghy menafsirkan sebagaimana dikutip oleh Mustofa, kalimat washâlihîn, tertuju bagi laki-laki atau perempuan yang mampu untuk menikah, mampu menjalankan hak-hak suami-istri, seperti berbadan sehat memiliki harta dan lain-lain. Adapun Quraish Shihab menafsirkan washâlihîn, sebagai seseorang yang mampu secara mental juga spritual untuk membina rumah tangga, bukan berarti yang taat beragama, karena dianggap bahwa fungsi perkawinan memerlukan pesiapan bukan hanya materi, melainkan juga mental dan spritual baik bagi laki-laki maupun perempuan.12

Kemudian ayat selanjutnya yaitu Surat al-Nûr [24]: 59:

ْﻢُﻜَﻟ ُّٰﷲ ُﻦﱢﯿَﺒُﯾ َﻚِﻟٰﺬَﻛ ْۗﻢِﮭِﻠْﺒَﻗ ْﻦِﻣ َﻦْﯾِﺬﱠﻟا َنَذْﺄَﺘْﺳا ﺎَﻤَﻛ اْﻮُﻧِذْﺄَﺘْﺴَﯿْﻠَﻓ َﻢُﻠُﺤْﻟا ُﻢُﻜْﻨِﻣ ُلﺎَﻔْطَْﻻا َﻎَﻠَﺑ اَذِاَو

ٌﻢْﯿِﻜَﺣ ٌﻢْﯿِﻠَﻋ ُّٰﷲَو ٖۗﮫِﺘٰﯾٰا

“Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta

10 Departemen Agama RI, “al-Qur’an dan Terjemahannya” (Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1998), h., 692

11Al-Imâm Abî Fadâ’ al-Hâfidz Ibnu Katsîr al-Damasqy,“Tafsîr Ibnu Katsîr”(Bayrut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2004), h., 269

12 Mustofa, “Perbandingan Hukum Perkawinan di Dunia Islam” (Bandung: Pustaka al-Fikriis, 2009), h., 22

izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.(Q.s.al-Nûr [24]: 59)

Surat al-Nisâ’ [4]: 6:

َﻻَو ْﻢُﮭَﻟاَﻮْﻣَأ ْﻢِﮭْﯿَﻟِإ اﻮُﻌَﻓْدﺎَﻓ اًﺪْﺷُر ْﻢُﮭْﻨِﻣ ْﻢُﺘْﺴَﻧآ ْنِﺈَﻓ َحﺎَﻜﱢﻨﻟا اﻮُﻐَﻠَﺑ اَذِإ ٰﻰﱠﺘَﺣ ٰﻰَﻣﺎَﺘَﯿْﻟا اﻮُﻠَﺘْﺑاَو

ْﻞُﻛْﺄَﯿْﻠَﻓ اًﺮﯿِﻘَﻓ َنﺎَﻛ ْﻦَﻣَو ْﻒِﻔْﻌَﺘْﺴَﯿْﻠَﻓ ﺎًّﯿِﻨَﻏ َنﺎَﻛ ْﻦَﻣَو اوُﺮَﺒْﻜَﯾ ْنَأ اًراَﺪِﺑَو ﺎًﻓاَﺮْﺳِإ ﺎَھﻮُﻠُﻛْﺄَﺗ ﺎًﺒﯿِﺴَﺣ ِﱠ ﺎِﺑ ٰﻰَﻔَﻛَو ْﻢِﮭْﯿَﻠَﻋ اوُﺪِﮭْﺷَﺄَﻓ ْﻢُﮭَﻟاَﻮْﻣَأ ْﻢِﮭْﯿَﻟِإ ْﻢُﺘْﻌَﻓَد اَذِﺈَﻓ ِفوُﺮْﻌَﻤْﻟﺎِﺑ

"Dan ujilah anak-anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk menikah. Kemudian jika menurut pendapat mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkan kepada mereka hartanya. Dan janganlah kamu memakannya (harta anak yatim) melebihi batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (menyerahkannya) sebelum mereka dewasa. Barangsiapa mampu, maka hendaklah dia menahan diri dan barangsiapa miskin, maka bolehlah dia makan harta itu menurut cara yang patut. Kemudian, jika kamu menyerahkan harta itu mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi. Dan cukuplah Allah sebagai pengawas"

Dijelaskan dalam tafsir ayatAl-ahkam, bahwa seorang anak dikatakanbaligh ialah ketika anak laki-laki telah mimpi basah. Sebagaimana telah disepakati oleh para ulama bahwa anak yang sudah bermimpi kemudian iajunub(keluar mani) maka dia telahbaligh. Sedangkan untuk perempuan ialah ketika telah hamil atau haid.13

Kemudian terkait kata “rushdan” dalam hal ini tafsir alMisbah, menjelaskan kata dasar rushdan ialah ketepatan dan kelurusan jalan, maka kemudian kata rushdan bagi manusia merupakan kesempurnaan akal dan jiwa sehingga menjadikan manusia tersebut mampu bersikap dan bertindak setepat mungkin. Al-Maraghi menafsirkan kata rushdan sebagaimana yang dikutip oleh Mustofa, yaitu apabila seseorang telah mengerti dengan baik cara menggunakan harta dengan membelanjakannya. Maka dalam hal ini katarushdan dapat diartikan sebagai kepantasan seseorang dalam bertasarruf serta mendatangkan kebaikan juga pantas dalam mengelola harta

13 Muhammad Alî al-Shâbûny, “Tafsîr Âyât al-Ahkâm min al-Qur’ân” (Bayrut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1999), h., 153

kekayaannya.14Kemudian frasa “balîgh al-nikâh” Al-Maraghi juga menjelaskan bahwa frasa tersebut menunjukkan bahwa usia seseorang untuk melangsungkan perkawinan, yaitu sampai bermimpi, pada keadaan ini, seseorang dianggap telah cukup usia untuk melahirkan anak atau keturunan sehingga dapat tergerak hatinya untuk melangsungkan perkawinan. Kepada seseorang tersebut juga telah diberikan beban hukum agama, seperti ibadah, muamalah serta penerapanhudûd.15

Terdapat juga frasaTamyizterkait hubungan kedewasaan/balighnya seseorang. Tamyiz adalah kekuatan daya pikir yang dengannya seseorang mampu untuk menemukan dan menetapkan beberapa perkataan.16 Jika merujuk kepada pendapata al-Asfahani, maka salah satu tolok ukur seseorang dapat dikatakan mencapai usiatamyiz adalah saat ia mampu berkomunikasi dengan orang lain, baik memulai ataupun merespon pembicaraan yang disampaikan orang lain. Selain hal tersebut, fiqh juga memberikan indikator yang lebih ringan terhadap kriteria tamyiz ini, yaitu ketika seseorang telah mampu makan, minum danistinja’secara mandiri.17

Maka beberapa penjelasan tersebut diatas, dapat ditelaah bahwa kedewasaan seseorang dapat ditunjukkan melalui mimpi basah bagi laki-laki, haid bagi perempuan, dapat berdasarkan tamyiz, rushdan ataupun baligh.

Akan tetapi hal tersebut seringkali tidak dapat dipersamakan antara orang yang satu dengn orang yang lainnya.

Dalam konteks lain yang lebih lanjut, secara historis, batasan perkawinan dicontohkan oleh pernikahan Nabi SAW. dengan Aisyah pada saat berusia 9 tahun juga batasan dewasa dapat digambarkan 15 tahun terhadap kejadian perang.

Hadis nabi yang diriwayatkan oleh Muslim:

14LTN PBNU, “Solusi Problematika Aktual Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas dan Konbes Nahdhatul Ulama”(Surabaya: Khalista, 2010), h., 9

15LTN PBNU, Solusi Problematika Aktual Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas dan Konbes Nahdhatul Ulama(Surabaya: Khalista, 2010), h., 9

16Moch. Nurcholis, “Usia Perkawinan Di Indonesia Landasan Akademis Dan Korelasinya Dengan Maqashid Perkawinan Dalam Hukum Islam” (Jombang: IAIBAFA Press, 2019), h. 50

17Zainuddin al-Malibari, “Fath Mu’in bi Syarh Qurrat al-Ayn bi Muhimmat al-Din”(Beirut:

Dar Ibn Hazm), 38.

َﻲِھَو ﺎَﮭِﺑ ﻰَﻨَﺑَو َﻦﯿِﻨِﺳ ﱢﺖِﺳ ُﺖْﻨِﺑ َﻲِھَو ﺎَﮭَﺟﱠوَﺰَﺗ ﻢﻠﺳو ﮫﯿﻠﻋ ﷲ ﻰﻠﺻ ﱠﻲِﺒﱠﻨﻟا ﱠنَأ َﺔَﺸِﺋﺎَﻋ ْﻦَﻋ

(

يرﺎﺨﺒﻟا هاور) َﻦﯿِﻨِﺳ ِﻊْﺴِﺗ ُﺖْﻨِﺑ

“dari Aisyah, sesungguhnya Nabi SAW. menikahinya ketika berumur 6 tahun dan mulai hidup bersama ketika usianya 9 tahun (H.R. Bukhari)

Sedangkan dalil batasan usia 15 tahun sebagaimana Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar:

“Saya telah mengajukan kepada Rasulullah Saw., untuk ikut perang Uhud yang waktu itu saya berusia 14 tahun, beliau tidak mengijinkan aku. Dan aku mengajukan kembali kepada beliau ketika perang Khandaq, waktu itu umurku 15 tahun, dan beliau membolehkan aku (untuk mengikuti perang).”

Dalam hal ini dapat terlihat bahwa seseorang dianggap telah dewasa apabila telah mencapai usia 15 tahun. Walaupun Rasulullah menikahi Aisyah pada umur 9 tahun, hal tersebut karena pada masa itu usia 9 tahun di Madinah sudah tergolong dewasa. Hal ini sebagai mana yang disampaikan oleh Ahmad Rafiq sebagai berikut:

“Dapat diambil pemahaman bahwa batas usia 15 tahun sebagai awal masa kedewasaan bagi anak laki-laki. Biasanya pada usia tersebut anak laki-laki telah mengeluarkan air mani melalui mimpinya. Adapun bagi perempuan, 9 tahun, untuk daerah seperti Madinah telah dianggap memiliki kedewasaan. Ini didasarkan pada pengalaman Aisyah ketika dinikahi oleh Rasulullah Saw. atas dasar hadis tersebut, dalam kitab Kasyîfah al-Saja dijelaskan:

“Tanda-tanda dewasa (bâligh) seorang itu ada tiga, yaitu sempurnanya umur 15 tahun, dan haidh (menstruasi) bagi wanita usia 9 tahun”. Ini dapat dikaitkan juga dengan perintah Rasulullah Saw., pada kaum Muslimin agar mendidik anaknya menjalankan salat pada saat berusia tujuh tahun, dan memukulnya pada usia sepuluh tahun, apabila anak enggan menjalankan shalat.”18

18Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), h., 82-83

Secara lebih detail dan rinci, pembatasan usia baligh menurut para ulama ialah termasuk namun tidak terbatas pada hal berikut:

a) Mayoritas Ulama

Mayoritas ulama, menyatakan bahwa seseorang yang telah bermimpi sehingga mengeluarkan sperma (ihtilam) bagi laki-laki dan haid bagi perempuan.19 Atau usia seseorang telah mencapai umur 15 tahun.20

b) Imam Abu Hanifah

Imam Abu Hanifah memberikan batasan usia minimalbalighyakni pada usia serendah-rendahnya 12 tahun bagi laki-laki dan usia 9 tahun bagi Perempuan (usia yang biasanya seorang perempuan sudah menstruasi). Kriteriabalighbagi laki-laki yaitu ihtilamyaitu dengan keluarnya sprema pada saat tidur ataupun terjaga, pada saat keluarnya sperma saat bersetubuh atau tidak.21

c) Imam Malik

Menurut Imam Malik, seorang laki-laki dan perempuan dikatakan baligh ialah pada saat telah sampai usia 18 tahun atau genap 17 tahun memasuki usia 18 tahun. Kriteria ini menggunakan mana yang dicapai terlebih dahulu. Namun lebih rinci, Mazhab Maliki memberikan kriteria baligh ada 7 macam, 5 macam berlaku bagi laki-laki dan perempuan, sedangkan 2 macamnya khusu bagi perempuan. 5 macam tersebut yaitu, keluar air mani baik dalam keadaan tidur atau terjaga, tumbuhnya rambut di sekitar organ intim, tumbunya rambut di ketiak, indera penciuan menjadi peka,

19Ahmad al-Dardir,al-Sharh al-Kabir,Vol. 3 (Mesir: Al-Bab al-Halabi), h. 393

20 Moch. Nurcholis, “Usia Perkawinan Di Indonesia Landasan Akademis Dan Korelasinya Dengan Maqashid Perkawinan Dalam Hukum Islam” (Jombang: IAIBAFA Press, 2019), h. 53

21Syamsudin al-qurtubi, Al-Jami’ Li al-Ahkam al-Qur’an, Vol. 5 (Riyad: Dar Alam al-Kutub, 2003), h. 37

dan perubahan pita suara. Sedangkan dua kriteria tersebut khusus bagi perempuan adalah Haid dan Hamil.22

Memang secara spesifik Al-Qur’an maupun Hadis tidak mengatur secara rinci dalam menentukan usia kedewasaan seseorang, dan dalam pendangan ulamapun ini menjadi sebuah perbedaan pendapat. Perbedaan tersbeut sangatlah wajar, karena secara sosiologis para ulama memiliki perbedaan dan tentu juga dalam metodologi penggalian hukumnya.

Perbedaan batasan usia dewasa yang ditawarkan setidaknya dapat dijabarkan pada beberapa hal berikut:

a) Ulama Syafi’iyah dan Hanabila, seseorang dianggap dewasa ialah ketika seseorang tersebut sudah haid bagi perempuan dan sudang mengalami mimpi basah bagi laki-laki. Namun, tentu disetiap daerah akan terjadi perbedaan terhadap kondisi sosiologisnya, sehingga ulama Syafi’iyah dan Hanabila memberikan patokan usia kedewasaan dimulai sejak usia 15 tahun.23 Ketentuan usia ini tentu dapat dilihat berdasarkan hadis Nabi tentang permintaan seorang anak muda yang meminta ikut perang uhud namun nabi melarangnya pada saat usianya masih 14 tahun, namun selanjutnya nabi membolehkannya ikut perang Khandaq pada saat usia orang tersebut telah 15 tahun.

b) Menurut Abdul Qadir Awdah, Imam Abu Hanifah, menyatakan bahwa usia kedewasaan seseorang ialah ketika telah sampai pada usia 19 tahun bagi laki-laki dan 17 tahun bagi perempuan.24Namun berbeda dengan al-Shabuni menyatakan bahwa pendapat

22 Moch. Nurcholis, “Usia Perkawinan Di Indonesia Landasan Akademis Dan Korelasinya Dengan Maqashid Perkawinan Dalam Hukum Islam” (Jombang: IAIBAFA Press, 2019), h. 54

23 Muhammad Ali al-Shabuni, Rawai’ al-Bayan (Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1999), h. 153

24 Abdul Qadir ‘Awdah, Al-Tashri; al-Jina;i al-Islami, Vol. 1 (Kairo: Dar al-Urubah, 1964), 602

termasyhur dikalangan Mazhab Hanafiyah tentang usia dewasa adalah 18 tahun hal ini didasarkan pada Surat al-Isra’ ayat 34:

َنﺎَﻛ َﺪْﮭَﻌْﻟا ﱠنِا ِۖﺪْﮭَﻌْﻟﺎِﺑ اْﻮُﻓْوَاَو ۖٗهﱠﺪُﺷَا َﻎُﻠْﺒَﯾ ﻰّٰﺘَﺣ ُﻦَﺴْﺣَا َﻲِھ ْﻲِﺘﱠﻟﺎِﺑ ﱠﻻِا ِﻢْﯿِﺘَﯿْﻟا َلﺎَﻣ اْﻮُﺑَﺮْﻘَﺗ َﻻَو

ًﻻْﻮُٔـْﺴَﻣ.

Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai dia dewasa, dan penuhilah janji, karena janji itu pasti diminta pertanggung jawabannya.

Ibn Abbas, menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan frasa Ashuddah dalam ayat tersebut ialah pada saat usia 18 tahun bagi laki-laki dan usia 17 tahun bagi perempuan. Ketidaksamaan usia antara perempuan dan laki-laki ini dianggap sebagai sebab pertumbuhan dan daya tangkap perempuan yang lebih cepat dibandingankan dengan laki-laki.25 Namun berbeda dengan Ibn Asyur dalam Moch. Nurcholis, menyatakan bahwa frasa ashuddah pada ayat tersebut ialah sampainya seseorang pada kekuatan secara fisik dan bersamaan dengan kesempurnaan daya nalar dan pikirannya.26

c) Imam Malik, menyatakan bahwa kedewasaan seseorang ialah pada saat seseorang telah mencapai usia 18 tahun.27

d) Mazhab Ja’fari, berpendapat seseorang telah dapat dipandang dewasa dan melangsungkan perkawinan apabila telah sampai pada usia 15 tahun bagi laki-laki dan 9 tahun bagi perempuan.28

Maka sejatinya dapat disimpulkan atas beberapa argumentasi tersebut diatas, usia perkawinan merupakan hal yang bersifat ijtihadi¸

25 Muhammad Ali al-Shabuni, Rawai’ al-Bayan (Jakarta: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1999), h. 154

26 Moch. Nurcholis, “Usia Perkawinan Di Indonesia Landasan Akademis Dan Korelasinya Dengan Maqashid Perkawinan Dalam Hukum Islam” (Jombang: IAIBAFA Press, 2019), 58

27 Abdul Qadir ‘Awdah, Al-Tashri; al-Jina;i al-Islami, Vol. 1 (Kairo: Dar al-Urubah, 1964), h. 603

28 Muhammad Jawwad Mughniyah “fikih Lima Mazhab, Terj. Masykur AB” (Jakarta:

Lentera, 1999), h. 316-318

bahkan ulama empat madzhab-pun memiki perbedaan pendapat atas hal tersebut. dalil Al-quran maupun hadis yang bersifat abstrak/umum merupakan jalan pertama untuk dapat menyesuaikan kepada perkembangan zaman. Sehingga terkait kapankan seseorang dapat melangsungkan perkawinan, tentunya hal tersebut dapat dijawab dengan menyesuaikan kepada keadaan Masyarakat tertentu mengingat perkembangan masyarakat yang sangat dinamis dan mengingat tidak adanya nash yang secara spesifik menberi patokan terkait usia untuk melangsungkan perkawinan.