• Tidak ada hasil yang ditemukan

c. Mitigasi yang dilakukan adalah perencanaan lokasi untuk menghindari daerah yang dekat dengan lereng-lereng gunung berapi yang digunakan untuk aktifitas

2) Pola Pengumpulan Komunal

3.1.2.4.3. Ketentuan zonasi

Pembangunan prasarana sarana bidang Cipta Karya yang harus diperhatikan mencakup ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan lindung, kawasan budidaya, sistem perkotaan, dan jaringan prasarana.

Pengaturan zoning kawasaan ini akan disesuaikan dengan sifat penggunaan tanah dan dampak yang akan ditimbulkan dari kegiatan yang ada, sehingga pengaturan zoning kawasan nantinya digunakan sebagai acuan umum pengembangan wilayah jangka panjang, dan dijabarkan dalam rencana yang lebih detail misalnya kawasan pariwisata, kawasan industri, kawasan permukiman dan perencanaan kawasan lindung.

Pengaturan Zoning Kawasan Lindung

1. Pengaturan Zoning Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan

Untuk kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan yang terdapat pada lokasi tersebut meliputi beragai macam peninggalan sejarah dan peninggalan budaya turun menurun dari nenek moyang dengan pengaturan zoning yang diperuntukkan kegiatan penunjang pariwisata, dan fasilitas umum yang mendatangkan keramaian sehari-hari, dikhususkan sebagai penelitian ilmu pengetahuan.

Rencana pengelolaan kawasan lindung antara lain: a. Pelestarian keanekaragaman hayati dan ekosistemnya. b. Mempertahankan fungsi ekologis kawasan alami.

c. Pengawasan dan pemantauan untuk pelestarian kawasan konservasi dan hutan lindung. d. Penambahan luasan kawasan lindung, yang merupakan hasil alih fungsi hutan produksi

menjadi hutan lindung.

e. Pengembangan kerjasama antar wilayah dalam pengelolaan kawasan lindung.

f. Percepatan rehabilitasi lahan milik masyarakat yang termasuk di dalam kriteria kawasan lindung dengan melakukan penanaman pohon lindung yang dapat di gunakan sebagai perlindungan kawasan bawahannya yang dapat diambil hasil hutan non-kayu.

III- 84 LAPORAN akhir

h. Pemanfaatan kawasan lindung untuk sarana pendidikan penelitian dan pengembangan kecintaan terhadap alam.

i. Percepatan rehabilitasi hutan/reboisasi hutan lindung dengan tanaman yang sesuai dengan fungsi lindung.

2. Pengaturan Zoning Kawasan Perlindungan Bawahannya Pengaturan zoning kawasan Perlindungan bawahnya meliputi:

a. Kawasan hutan lindung yang terdapat di Kabupaten Flores Timur adalah di Kecamatan Ile Mandiri, Adonara Tengah, Ile Boleng, Wotan Ulumado, Adonara Timur, Demon Pagong, Ile Bura, Larantuka, Lewolema, Tanjung Bunga, Titehena dan Wulanggitang berfungsi melindungi kawasan yang ada dibawahnya dan fungsi tersebut tidak boleh dialih fungsikan menjadi kawasan budidaya. Menurut SK Mentan No. 837/ KPTS/UM/II/1990. potensi kawasan hutan lindung adalah di 18 Kecamatan di Kabupaten Flores Timur

b. Sedangkan kawasan lindung yang terlanjur terdapat permukiman sebaiknya dibatasi perkembangannya selanjutnya diarahkan pada kawasan yang tidak termasuk pada kawasan lindung. Selain itu juga harus dilakukan penanganan konservasi secara vegetatif atau mekanik.

c. Kawasan perlindungan bawahannya yang merupakan kawasan pertanian baik lahan basah maupun lahan kering disarankan dilengkapi dengan pengembangan tanaman yang mempunyai fungsi perlindungan serta pengolahan tanahnya agar menggunakan kaidah konservasi misalnya dengan membuat pola terasering atau guludan serta pada tiap ujungnya diberi tanaman penguat sehingga bahaya erosi, pelumpuran dan pengurangan top soil dapat dihindari.

d. Pada kawasan yang mempunyai fungsi perlindungan bagi kawasan bawahannya juga terdapat kawasan permukiman yang terdapat pada Kecamatan Titehena, Ile Bura Solor Timur dan Solor Barat. Permukiman dengan penyangga hampir di 18 kecamatan yaitu : Tegalan dengan kawasan lindung Kecamatan Ile Bura, Titehena, Lewolema, Tanjung Bunga, Solor Barat, Solor Timur, Wotan Ulumado dan tegalan dan kawasan penyangga meliputi Kecamatan Larantuka, Adonara Tengah dan Solor Barat. Ladang dengan kawasan lindung meliputi hampir 18 kecamatan. Pada kawasan ini dalam pengembangannya harus tetap

III- 85 LAPORAN akhir

mempertahankan fungsinya serta harus diupayakan pengembangan tanaman lindung dan mempunyai sifat menyuburkan tanah pertanian. Pada lahan dengan kelerengan di atas 40 % perlu dilakukan pergeseran penggunaan lahannya dari pertanian semusim ke pertanian tanaman keras dan pada sebagian pengembangan tanaman keras ini masih dapat digunakan untuk pertanian semusim sebagai penunjang kehidupan sehari-hari.

e. Kawasan perlindungan setempat yang terdiri atas perlindungan sekitar sungai dan waduk/danau.

1) Dimana untuk perlindungan di sekitar sungai dari kondisi yang sudah ada terdapat lahan pertanian, permukiman atau penggunaan bahan galian pasir dan untuk melindungai kawasan ini sebaiknya kawasan yang belum digunakan tetap dipertahankan dan dikendalikan akan perubahan kawasannya.

2) Kawasan sekitar waduk/danau, dimana dari kondisi yang ada terdapat pertanian sawah maka pada kawasan ini sebaiknya diberi tanaman keras sebagai pembatas antara waduk dengan lahan pertanian. Pada kawasan ini sebaiknya tidak diberi perubahan fungsi wilayah dan sebagai penunjang ekonomi sebaiknya tetap difungsikan juga sebagai kawasan pariwisata dan pengembangan perikanan.

3) Untuk perlindungan sekitar pantai yang sebagian besar merupakan hutan dan sudah merupakan kawasan konservasi sendirinya, walaupun demikian pada sebagian kecil kawasan budidaya diperuntukkan sebagai kawasan budidaya pertanian lahan kering dan perkebunan.

Selanjutnya pengelolaan pada kawasan lindung di Kabupaten Flores Timur direncanakan sebagai berikut:

Rencana pengelolaan kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya meliputi: a. Pengembangan pemanfaatan untuk pelestarian kawasan konservasi dan hutan lindung.

b. peningkatan luasan kawasan lindung, yang merupakan hasil alih fungsi hutan produksi menjadi hutan lindung.

III- 86 LAPORAN akhir

c. percepatan rehabilitasi lahan milik masyarakat yang termasuk di dalam kriteria kawasan lindung dengan melakukan penanaman pohon lindung yang dapat di gunakan sebagai perlindungan kawasan bawahannya yang dapat diambil dari hasil hutan non-kayu.

d. membuka jalur wisata jelajah untuk menanamkan rasa memiliki/mencintai alam, serta pemanfaatan kawasan lindung untuk sarana pendidikan penelitian dan pengembangan kecintaan terhadap alam.

e. percepatan rehabilitasi hutan/reboisasi hutan lindung dengan tanaman yang sesuai dengan fungsi lindung.

f. Pelestarian ekosistem yang merupakan ciri khas kawasan melalui tindakan pencegahan perusakan dan upaya pengembalian pada rona awal sesuai ekosistem yang pernah ada.

Rencana pengelolaan kawasan lindung setempat antara lain :

a. Perlindungan kawasan melalui tindakan pencegahan, pemanfaatan kawasan pada kawasan lindung setempat.

b. Pengembangan kegiatan yang bersifat alami dan mempunyai kemampuan memberikan perlindungan kawasan seperti wisata air.

c. Perlindungan kualitas air melalui pencegahan penggunaan area di sekitar kawasan lindung. d. Menindak tegas prilaku vandalisme terhadap fungsi lindung.

Rencana pengelolaan kawasan suaka alam antara lain :

a. Perlindungan dan pelestarian keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. b. Perlindungan keanekaragaman biota, tipe ekosistem, gejala dan keunikan alam bagi

kepentingan plasma nutfah, ilmu pengetahuan dan pembangunan.

c. Mempertahankan fungsi ekologis kawasan alami baik biota maupun fisiknya melalui upaya pencegahan pemanfaatan kawasan pada kawasan suaka alam dan upaya konservasi.

d. Perlindungan dan pelestarian habitat alami hutan bakau (mangrove) yang berfungsi memberikan perlindungan kepada perikehidupan pantai dan lautan.

e. Pengembangan dan perlindungan kegiatan budidaya di kawasan sekitar pantai dan lautan. f. Perlindungan kekayaan budaya berupa peninggalan-peninggalan sejarah, bangunan arkeologi,

III- 87 LAPORAN akhir

g. Pengembangan kegiatan konservas dan rehabilitasi yang berguna untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dari ancaman kepunahan yang disebabkan oleh kegiatan alam maupun manusia. Rencana pengelolaan kawasan pelestarian alam antara lain :

a. Perlindungan hutan raya atau taman raya yang mempunyai vegetasi tetap, yang memiliki tumbuhan dan satwa yang beragam.

b. Perlindungan arsitektur bentang alam unik atau khas. c. Perlindungan dan pelestarian koleksi tumbuhan

d. Pelestarian alam di darat maupun di laut yang dapat dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam

e. Peningkatan kualitas lingkungan sekitar taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam melalui upaya pencegahan kegiatan yang mempunyai potensi menimbulkan pencemaran.

Rencana pengelolaan kawasan rawan bencana alam antara lain :

a. Perlindungan manusia melalui upaya pencegahan pemanfaatan kawasan sekitar jalur aliran larva gunung berapi unuk kegiatan permukiman.

b. Perlindungan kawasan yang berpontensi mengalami longsor, banjir, tsunami melalui upaya mitigasi.

c. Pelarangan kegiatan pemanfaatan tanah yang mempunyai potensi longsor dan banjir.

Dari seluruh uraian tentang kawasan lindung di atas terdapat fenomena bahwa seiring dengan perkembangan penduduk setempat yang secara tidak langsung memerlukan tempat untuk hidup dan melakukan kegiatan sehingga perkembangan kawasan kawasan akan mengalami perubahan baik luas maupun fungsinya. Adapun untuk perubahan yang ada meliputi :

 Perubahan dari kawasan lindung menjadi permukiman  Perubahan dari kawasan lindung menjadi tegalan  Perubahan kawasan lindung menjadi ladang

Dari kondisi lapangan yang ada maka diperlukan upaya-upaya penyelesaian dalam memecahkan konflik yaitu melalui penerapan sistem pertanian konservasi (SPK), yaitu sistem pertanian yang mengintegrasikan teknik konservasi tanah dan air kedalam sistem pertanian yang

III- 88 LAPORAN akhir

telah ada untuk meningkatkan pendapatan petani sekaligus menekan laju erosi sehingga sistem pertanian menjadi suistainable. Adapun untuk pemecahan masalah yang ada diarahkan sebagai berikut:

Tabel 3.21

Jenis Konflik dan Alternatif Pemecahannya

No Jenis Konflik Alternatif Pemecahan

1 Pemukiman dengan kaw.

lindung

- Penduduk di sekitar hutan harus dilibatkan dalam pemeliharaan dan pengelolaan hutan sehingga merasa ikut memiliki

- Membatasi secara tegas pertumbuhan areal pemukiman, diikuti pengawasan yang ketat

- Memberikan pembekalan ketrampilan untuk mata pencaharian alternatif bagi penduduk seperti pembuatan jamur, budidaya anggrek dll.

2. Ladang dengan kaw. Lindung - Membatasi secara tegas pertumbuhan areal ladangdisertai

pengawasan yang ketat

- Melibatkan petani ladang dalam pengelolaan dan pemeliharaan hutan

- Mengusahakan petani agar menanam tanaman tahunan (perkebunan) disertai tindakan konservasi yang intensif agar fungsi lindung tetap terpelihara

- Agroforestry dan pembuatan hutan kemasyarakatan

3. Tegal dengan kaw. Lindung - Membatasi secara tegas pertumbuhan areal tegal, disertai

pengawasan yang ketat

- Melibatkan petani dalam pemeliharaan dan pengelolaan hutan disekitarnya

- Menerapkan sistem pertanian konservasi dalam budidaya pertanian dilahan tegal

- Mengganti jenis tanaman yang dibudidaya dan tanaman semusim menjadi tanaman tahunan dalam jangka waktu panjang/bertahap

- Agroforestry dan membuat hutan kemasyarakatan

Sumber : Hasil Rencana

Penggunaan teknik konservasi pada setiap satuan unit lahan satu dan lainnya dapat berbeda-beda, tergantung kelerengan, penggunaan lahan, ketersediaan bahan dan kemampuan petani. Konservasi tanah merupakan upaya untuk memperbaiki, memelihara adan meningkatkan daya guna lahan sesuai dengan kemampuannya agar tidak terjadi kerusakan lahan.

III- 89 LAPORAN akhir

Ada 2 teknik/metode konservasi yang telah dikenal yaitu mekanik dan vegetatif. Dalam pemecahan konflik penggunaan lahan digunakan kombinasi teknik mekanik dan vegetatif. Metode yang digunakan adalah sebagai berikut:

1. Mekanik dengan pembuatan teras, dimaksudkan untuk memotong/mengurangi panjang lereng dan memperkecil kemiringan lereng sehingga dapat mengurangi kecepatan aliran permukaan, macam-macam teras yang dapat digunakan adalah:

 Teras kridit (Tkr): sesuai untuk tanah landai sampai bergelombang dengan kemiringan 3 - 10 % jarak antar teras 5 -12 m

 Teras gulud (Tgl): sesuai dibuat pada lahan dengan derajat kemiringan 10 - 50 % jarak antar guludan rata-rata 10 m

 Teras bangku (Tbk): sesuai untuk lahan dengan kemiringan 10 - 30 %, teras harus dilengkapi dengan saluran pembuangan air (SPA), penguat teras dan bangunan terjunan  Teras Kebun (TBn): dapat dibuat untuk tanaman perkebunan dengan kemiringan lahan 30

- 50 %, teras hanya dibuat pada jalur tanaman

 Teras individu (Tin): dibuat pada lahan dengan kelerengan 30 - 50 %, untuk tanaman perkebunan didaerah dengan curah hujan rendah. Teras dibuat untuk individu tanaman (pohon) sebagai tempat pembuatan lubang tanaman.

2. Secara vegetatif (penggunaan tanaman dimaksudkan untuk melindungi tanah dari pukulan butir-butir hujan dan menambah bahan organik tanah. Cara penggunaan vegetatif dalam konservasi tanah sebagai berikut :

 Penanaman tanaman penutup tanah (TPT) yaitu dengan Centrosema Pubesceus (sentro), Dolichos lablab (komak), Cajenus Lajas (gude), Panicum maximum (rumput bengala), rumput gajah, Setaria sphacellata (rumput setaria) dan lain-lain

 Penanaman dalam jalur (strip cropping) (Sc) dilakukan dengan cara mengatur penempatan penanaman beberapa jenis tanaman dalam jalur-jalur setiap pada sebidang lahan.

 Pergiliran tanaman (pt) yaitu menanam berbagai jenis tanaman secara bergilir dalam urutan waktu tertentu pada sebidang lahan, misal pergiliran tanaman pangan dengan tanaman penutup tanah (pupuk hijau)

III- 90 LAPORAN akhir

 Penggunaan tanaman penguat teras (ptp): dilakukan dengan menanam tanaman yang dapat berfungsi sebagai penguat teras. Penguat teras dapat berupa pohon atau rumput-rumputan, misal sesbania groudiflora (turi), Gliricidea maculata (gamal)

 Agroforestry (Agf), hutan kemasyarakatan (Hkm). Metode tersebut digunakan dalam upaya pemecahan konflik penggunaan tanah (land use) pada setiap lahan yang terbagi pada setiap SSWP.

Untuk teknik konservasi pada kawasan yang telah mengalami pengalifungsian per kecamatan pada tiap-tiap SSWP dan bagaimana alternatif penanganannya adalah sebagai berikut:

Tabel 3.22

Konflik Penggunaan tanah di SSWP I

Kecamatan Macam Konflik Alternatif penanganan

Larantuka

Penyangga dengan tegalan Agroforestry, tanaman penguat teras, pergiliran

tanaman, hutan masyarakat Penyangga dengan

pemukiman Agroforestry

Lindung dengan ladang Agroforestry, hutan masyarakat, pergiliran

tanaman, strip cropping

Penyangga dengan kebun Hutan masyarakat, strip cropping, tanaman

penutup tanah, pergiliran tanaman

Ile Mandiri

Penyangga dengan ladang Agroforestry, tanaman penguat teras, pergiliran

tanaman, hutan masyarakat

Lindung dengan ladang Agroforestry, hutan masyarakat, pergiliran

tanaman, strip cropping

Penyangga dengan kebun Hutan masyarakat, strip cropping, tanaman

penutup tanah, pergiliran tanaman

Penyangga dengan

pemukiman Agroforestry

Lewolema

Kawasan penyangga

dengan ladang Agroforestry, tanaman penguat teras, pergiliran

tanaman, hutan masyarakat

Penyangga dengan kebun Hutan masyarakat, strip cropping, tanaman

penutup tanah, pergiliran tanaman Penyangga dengan

permukiman Agroforestry

Lindung dengan ladang Agroforestry, hutan masyarakat, pergiliran

tanaman, strip cropping

Lindung dengan tegalan Agroforestry, tanaman penguat teras, strip

III- 91 LAPORAN akhir

Kecamatan Macam Konflik Alternatif penanganan

Tanjung Bunga

Penyangga dengan ladang Agroforestry, tanaman penguat teras, pergiliran

tanaman, hutan masyarakat Lindung dengan Tegalan

Agroforestry, tanaman penguat teras, strip cropping, pergiliran tanaman

Penyangga dengan

permukiman Agroforestry

Lindung dengan ladang Agroforestry, tanaman penguat teras, pergiliran

tanaman, hutan masyarakat

Penyangga dengan kebun Hutan masyarakat, strip cropping, tanaman

penutup tanah, pergiliran tanaman

Demon Pagong

Penyangga dan ladang Agroforestry, tanaman penguat teras, pergiliran

tanaman, hutan masyarakat

Penyangga dengan kebun Hutan masyarakat, strip cropping, tanaman

penutup tanah, pergiliran tanaman

Lindung dengan ladang Agroforestry, tanaman penguat teras, pergiliran

tanaman, hutan masyarakat

Penyangga dengan kebun Hutan masyarakat, strip cropping, tanaman

penutup tanah, pergiliran tanaman

Penyangga dengan

pemukiman Agroforestry

Adonara Barat

Penyangga dengan kebun Hutan masyarakat, strip cropping, tanaman

penutup tanah, pergiliran tanaman

Penyangga dengan

pemukiman Agroforestry

Penyangga dengan ladang Agroforestry, tanaman penguat teras, pergiliran

tanaman, hutan masyarakat

Lindung dengan tegalan Agroforestry, tanaman penguat teras, strip

cropping, pergiliran tanaman

Sumber : Hasil Rencana

Tabel 5.1

Konflik Penggunaan Tanah di SSWP II

Kecamatan Macam Konflik Alternatif penanganan

Wulanggitang

Penyangga dengan kebun Hutan masyarakat, strip cropping, tanaman penutup tanah, pergiliran tanaman

Penyangga dengan ladang Agroforestry, tanaman penguat teras, pergiliran tanaman, hutan masyarakat

Penyangga dengan pemukiman Agroforestry

Lindung dengan ladang Agroforestry, hutan masyarakat, pergiliran tanaman, strip cropping

Ile Bura

Penyangga dengan ladang Agroforestry, tanaman penguat teras, pergiliran tanaman, hutan masyarakat Lindung dengan pemukiman Hutan kemasyarakatan, tanaman penguat teras

III- 92 LAPORAN akhir

Kecamatan Macam Konflik Alternatif penanganan

Lindung dengan ladang Agroforestry, hutan masyarakat, pergiliran tanaman, strip cropping

Lindung dengan tegalan Agroforestry, tanaman penguat teras, strip cropping, pergiliran tanaman

Penyangga dengan permukiman Agroforestry

Titehena

Penyangga dengan kebun Hutan masyarakat, strip cropping, tanaman penutup tanah, pergiliran tanaman

Penyangga dengan ladang Agroforestry, tanaman penguat teras, pergiliran tanaman, hutan masyarakat

Lindung dengan kebun Hutan masyarakat, strip cropping, tanaman penutup tanah, pergiliran tanaman

Lindung dengan pemukiman Hutan kemasyarakatan, tanaman penguat teras Lindung dengan ladang Agroforestry, hutan masyarakat, pergiliran tanaman,

strip cropping

Lindung dengan tegalan Agroforestry, tanaman penguat teras, strip cropping, pergiliran tanaman

Penyangga dengan permukiman Agroforestry

Sumber : Hasil Rencana

Tabel 3.23

Konflik Penggunaan Tanah di SSWP III

Kecamatan Macam Konflik Alternatif penanganan

Adonara Timur

Penyangga dengan kebun Hutan masyarakat, strip cropping, tanaman penutup tanah, pergiliran tanaman

Penyangga dengan ladang Agroforestry, tanaman penguat teras, pergiliran tanaman, hutan masyarakat Lindung dengan kebun Hutan masyarakat, strip cropping, tanaman penutup tanah, pergiliran tanaman Lindung dengan ladang Agroforestry, hutan masyarakat, pergiliran

tanaman, strip cropping

Ile Boleng

Lindung dengan kebun Hutan masyarakat, strip cropping, tanaman penutup tanah, pergiliran tanaman

Lindung dengan ladang Agroforestry, hutan masyarakat, pergiliran tanaman, strip cropping

Penyangga dengan ladang Agroforestry, tanaman penguat teras, pergiliran tanaman, hutan masyarakat

Adonara Tengah

Penyangga dengan kebun Hutan masyarakat, strip cropping, tanaman penutup tanah, pergiliran tanaman

Penyangga dengan ladang Agroforestry, tanaman penguat teras, pergiliran tanaman, hutan masyarakat

Lindung dengan kebun Hutan masyarakat, strip cropping, tanaman penutup tanah, pergiliran tanaman

Penyangga dengan tegalan Agroforestry, tanaman penguat teras, pergiliran tanaman, hutan masyarakat

Lindung dengan ladang Agroforestry, hutan masyarakat, pergiliran tanaman, strip cropping

III- 93 LAPORAN akhir

Kecamatan Macam Konflik Alternatif penanganan

Penyangga dengan permukiman Agroforestry

Wotan Ulumado

Penyangga dengan ladang Agroforestry, tanaman penguat teras, pergiliran tanaman, hutan masyarakat Penyangga dengan kebun Hutan masyarakat, strip cropping, tanaman

penutup tanah, pergiliran tanaman

Lindung dengan kebun Hutan masyarakat, strip cropping, tanaman penutup tanah, pergiliran tanaman

Lindung dengan ladang Agroforestry, tanaman penguat teras, pergiliran tanaman, hutan masyarakat Sumber : Hasil Rencana

III- 94 LAPORAN akhir

Tabel 3.24

Konflik Penggunaan Tanah di SSWP IV

Kecamatan Macam Konflik Alternatif penanganan

Witihama

Lindung dengan ladang Agroforestry, hutan masyarakat, pergiliran tanaman, strip cropping

Penyangga dengan ladang Agroforestry, tanaman penguat teras, pergiliran tanaman, hutan masyarakat

Klubagolit

Lindung dengan ladang Agroforestry, hutan masyarakat, pergiliran tanaman, strip cropping

Penyangga dengan ladang Agroforestry, tanaman penguat teras, pergiliran tanaman, hutan masyarakat

Adonara

Lindung dengan ladang Agroforestry, hutan masyarakat, pergiliran tanaman, strip cropping

Penyangga dengan ladang Agroforestry, tanaman penguat teras, pergiliran tanaman, hutan masyarakat Penyangga dengan kebun Hutan masyarakat, strip cropping, tanaman

penutup tanah, pergiliran tanaman Penyangga dengan permukiman Agroforestry

Penyangga dengan kebun Hutan masyarakat, strip cropping, tanaman penutup tanah, pergiliran tanaman Sumber : Hasil Rencana

Tabel 3.25

Konflik Penggunaan Tanah di SSWP V

Kecamatan Macam Konflik Alternatif penanganan

Solor Timur

Lindung dengan tegalan Agroforestry, tanaman penguat teras, strip cropping, pergiliran tanaman Lindung dengan pemukiman Hutan kemasyarakatan, tanaman

penguat teras,

Lindung dengan ladang Agroforestry, hutan masyarakat, pergiliran tanaman, strip cropping

Penyangga dengan kebun

Hutan masyarakat, strip cropping, tanaman penutup tanah, pergiliran tanaman

Solor Barat

Lindung dengan ladang Agroforestry, hutan masyarakat, pergiliran tanaman, strip cropping Penyangga dengan lading Agroforestry, tanaman penguat teras,

pergiliran tanaman, hutan masyarakat Penyangga dengan kebun

Hutan masyarakat, strip cropping, tanaman penutup tanah, pergiliran tanaman

III- 95 LAPORAN akhir

Kecamatan Macam Konflik Alternatif penanganan

Penyangga dengan tegalan Agroforestry, tanaman penguat teras, pergiliran tanaman, hutan masyarakat Lindung dengan pemukiman Hutan kemasyarakatan, tanaman

penguat teras

Sumber : Hasil Rencana

Dokumen terkait