Keterampilan berbicara merupakan bagian dalam kterampilan berbahasa. Keterampilan berbahasa (language arts, language skill) mencakup empat aspek segi yaitu (a) Keterampilan menyimak (listening skill); (b) Keterampilan berbicara (speaking skill); (c) Keterampilan membaca (reading skill); (d) Keterampilan Menulis (writing skill). Keempat komponen keterampilan berbahasa di atas saling berhubungan erat dengan cara beraneka ragam (Syamsuri, 2013). Keterampilan berbicara adalah keterampilan mengubah wujud pikiran atau perasaan menjadi wujud bunyi bahasa yang bermakna Shihabuddin (dalam Bintara, 2015:1). Sementara Tarigan (1981:15) yang didukung oleh pernyataan Suandi, dkk (2013:128) mengatakan bahwa berbicara adalah kemampuan mengungkapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan dan mengomunikasikan serta menyampaikan pikiran, gagasan-gagasan dan perasaan. Pengertian tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa berbicara berkaitan dengan pengucapan kata-kata
yang bertujuan untuk menyampaikan apa yang akan disampaikan, baik itu perasaan, ide, atau gagasan. (Barnabas dan Yukiar, 2013:3).
Keterampilan berbicara sebagai salah satu aspek keterampilan berbahasa yang bersifat produktif terdiri atas beberapa komponen, yaitu: (a) Penggunaan bahasa lisan yang berfungsi sebagai media pembicaraan melaluikosakata; (b) Struktur bahasa, lafal dan intonasi, dan ragam bahasa; (c) Penguasaan isi pembicaraan yang bergantung pada apa yang menjadi topik pembicaraan; (d) Penguasaan teknik dan penampilan berbicara yang disesuaikan dengan situasi dan jenis pembicaraan, seperti bercakap-cakap, berpidato, bercerita, dan sebagainya; (e) Penguasaan teknik dan penampilan ini penting sekali pada jenis berbicara formal, seperti berpidato, berceramah, dan berdiskusi.
Berbicara merupakan bentuk komunikasi manusia yang paling esensial, yang membedakan manusia dengan yang lainnya sebagai suatu spesies. Sebagai makhluk sosial, Manusia selalu melakukan komunikasi agar dapat berinteraksi dengan sesamanya. Seorang yang ingin berbicara harus memilih ragam bahasa yang sesuai dengan ekologi bahasa (lingkungan pembicaraan). Jika struktur kebahasaan salah dan tidak sesuai dengan ragam dan ekologi bahasa, maka akan menimbulkan terhambatnya komunikasi, terjadi salah tafsir, salah interpretasi, dan salah penempatan makna yang dikehendaki. Demikian juga pilihan kata yang dipakai harus sesuai dengan ekologi bahasa, topik pembicaraan, dan tingkat penerima pembicaraan.
Keterampilan berbicara merupakan keterampilan yang kompleks. Dengan demikian, agar kegiatan berbicara bertujuan informatif dapat diterima pendengar, pembicaraan secara keseluruhan harus jelas, logis, dan sistematis.
b. Tujuan Berbicara
Menurut Ermawan (2012) pada dasarnya, berbicara mempunyai tujuan umum, yaitu: (1) memberitahukan, melaporkan (to inform), (2) menjamu, menghibur (to entertain), (3) membujuk, mengajak, mendesak, dan meyakinkan (to persuade). Tarigan (1981:15) tujuan utama berbicara adalah untuk berkomunikasi. Melengkapi pernyataan tersebut, menurut Tarigan dan Tarigan (1990: 151-153) tujuan berbicara meliputi: 1) menghibur, 2) menginformasikan, 3) menstimuli, 4) meyakinkan, 5) menggerakkan. Sedangkan Keraf (1988:365) menyatakan maksud dan tujuan dari komposisi lisan adalah (1) mendorong; (2) meyakinkan; (3) bertindak/ berbuat; (4) memberitahukan; dan (5) menyenangkan.
Slamet (2008) mengatakan bahwa agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, pembicara harus memahami makna segala sesuatu yang ingin dikomunikasikan terhadap para pendengarnya. Jadi dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya tujuan keterampilan berbicara adalah sebagai alat dalam berkomunikasi, sehingga harus mengetahui bagaimana cara berbicara yang baik.
c. Ciri-ciri Berbicara yang Baik
berbicara juga mempunyai ciri-ciri tertentu yang dijelaskan secara ringkas berikut: (a) Adanya perhatian yang merupakan perwujudan rasa cinta yang tercermin dalam perilaku pembicara yang berusaha memahami minat, situasi, kondisi ataupun respons pendengar serta berusaha menyesuaikan diri dengannya; (b) Menggunakan bunyi-bunyi ujaran lingual sebagai alatnya untuk menyampaikan gagasan dengan diperkaya aspek gerak dan mimik, baik dalam berkomunikasi searah maupun dua arah; (c) Adanya tahap-tahap yang dipersiapkan pembicara sebelum melakukan kegiatan berbicara; (d) Adanya semangat seorang pembicara dalam menyampaikan suatu gagasan sebagai salah satu kekuatan yang tumbuh dari suatu keterlibatan pembicara dengan gagasan yang ditampilkan, ataupun pandangannya serta dari kedalaman emosi pembicara itu sendiri, sehingga dapat lebih menarik minat pendengarannya; (e) Menggunakan prinsip-prinsip kesantuan dalam berbahasa.
Arsjad dan Mukti (1991: 31-32) memberikan rambu-rambu agar seseorang mampu berbicara dengan baik seorang pembicara harus: (a) Menguasai masalah yang dibicarakan; (b) Mulai berbicara ketika situasi sudah mengizinkan; (c) Pengarahan yang tepat dan memancing perhatian pendengar; (d) Berbicara harus jelas dan tidak terlalu cepat; (e) Pandangan mata dan gerak-gerik yang membantu; (f) Pembicara sopan, hormat, dan melihatkan persaudaraan; (g) Berkomunikasi dua arah, mulai berbicara jika sudah dipersilakan; (h) Kenyaringan suara; dan (i)
Pendengar akan lebih terkesan kalau menyaksikan pembicara sepenuhnya.
Untuk itu, supaya isi pesan mudah dipahami, Ehniger (dalam Barnabas dan Yukiar , 2013:4) menyarankan hal-hal berikut: (1) Gagasan utama tidak boleh terlalu banyak; (2) Jelaskan istilah-istilah yang diperkirakan aneh dan kabur; (3) Atur kecepatan menyajikan informasi; (4) Gunakan data konkret; (5) Hubungan yang tidak diketahui dengan yang diketahui; (6) Masukkan bahan-bahan yang menarik perhatian.
d. Ragam Berbicara
William B. Ragan (dalam Rahayu, 2011:18) membuat daftar bentuk-bentuk ekspresi lisan, yaitu (1) cakapan fomal; (2) diskusi dengan maksud dan tujuan tertentu; (3) menyampaikan berita, mengumumkan dan melaporkan; (4) memainkan drama; (5) khotbah; (6) bercerita; (7) cakap humor dan berteka-teki; (8) mengisi acara radio; (9) menggunakan telepon; (10) rapat organisasi; dan (11) memberi pengarahan.
Menurut Mulgrave (dalam Tarigan 2008:22-23) wilayah bicara dibagi menjadi dua bidang umum, yaitu: (1) berbicara terapan atau berbicara fungsional (the speech arts); (2)pengetahuan dasar berbicara (the speech sciences). Bila berbicara dipandang dari unsur seni maka pendekatannya diletakkan pada penerapannya sebagai alat komunikasi dalam masyarakat, dan butir-butir yang mendapat perhatian, antara lain: (1) berbicara di muka umum; (2) semintik: pemahaman makna kata; (3) diskusi kelompok; (4) argumentasi; (5) debat; (6) prosedur parlementer;
(7) penafsiran; (8) seni drama; (9) berbicara melalui udara.
Sedangkan bila kita memandang berbicara sebagai ilmu maka hal-hal yng pelu ditelaah, yaitu (1) mekanisme berbicara dan mendengar; (2) latihan dasar bagi ajaran dan suara; (3) bunyi bahasa; (4) bunyi-bunyi dalam rangkaian ujaran; (5) vowel-vowel; (6) diftog-diftong; (7) konsonan-konsonan; (8) patologi ujaran.
Menuurt Tarigan (2008: 24-25). secara garis besar, berbicara (speaking) dapat dibagi atas:
1) Berbicara di muka umum pada masyarakat (public speaking) yang mencangkup empat jenis, yaitu:
a) Berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat memberitahukan atau melaporkan; yang bersifat iformatif (informatif speaking);
b) Berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat kekeluargaan, persahabatan (fellowship speaking);
c) Berbicara dalam situasi-situasi yang bersifa membujuk, mengajak, mendesak, dan meyakinkan (persuasive speaking);
d) Berbicara dalam situasi yang bersifat merundingkan dengan tenang dan hati-hati (deliberative speaking).
2) Berbicara pada konferensi (conference speaking) yang meliputi: a) Diskusi kelompok (group discussion), yang dapat dibdakan atas: (1) Tidak resmi: (a) kelompok studi (study group); (b) kelompok pembuat
kebijaksanaan (policy making groups).
parlementer (parliamentary posedure); dan (e) debat.
e. Penilaian Keterampilan Berbicara
Brooks (dalam Hidayah, 2011: 54) menyatakan bahwa dalam mengevaluasi keterampilan berbicara seseorang, pada prinsipnya kita harus memperhatikan lima faktor sebagai berikut.
1. Apakah bunyi-bunyi tersendiri (vokal dan konsonan) diucapkan dengan tepat?
2. Apakah pola-pola intonasi, naik dan turunnya suara, serta tekanan suku kata, memuaskan?
3. Apakah ketetapan dan ketepatan ucapan mencerminkan bahwa sang pembicara tanpa referensi internal memahami bahasa yang digunakan?
4. Apakah kata-kata yang diucapkan itu dalam bentuk dan urutan yang tepat? Sejauh manakah “kewajaran” atau “kelancaran” ataupun “kenative-speakeran” yang tercermin bila seseorang berbicara?
Berdasarkan pernyataan di atas, maka ditetapkan Indikator atau aspek yang dinilai dalam keterampilan berbicara ini meliputi:
1. Kejelasan bunyi (vokal dan konsonan). Indikator ketepatan bunyi adalah ketepatan dan kejelasan dalam pengucapan bunyi vokal dan konsonan.
2. Ketepatan intonasi. Indikator ketepatan intonasi adalah naik turunnya suara, ketepatan suku kata.
3. Volume suara. Indikator volume suara adalah tinggi rendahnya suara(pelan atau kerasnya suara).
4. Variasi kata. Indikator variasi kata yaitu kata-kata yang digunakan dalam berbicara (kosakata).
5. Penguasaan topik. Indikator penguasaan topik adalah kesesuaian antara topik dengan apa yang dibicarakan.
6. pilihan kata(diksi). Indikator pemilihan diksi yaitu ketepatan pemakaian kata dalam berbicara.
7. pemakaian kalimat (bentuk dan urutan). Indikator pemakaian kalimat adalah sruktur kalimat.
8. kewajaran (sikap, gerak gerik, mimik). Indikator kewajaran adalah sikap, gerak-gerik, dan mimik.
9. Kelancaran. Indikator kelancaran adalah kewajaran kecepatan berbicara, ketepatan penggunaan jeda/pause, dan ketidaktersendatan. 10. pandangan mata. Indikator pandangan mata adalah pangelihatan
pembicara ke seluruh audiens atau pendengar.
Penilaian untuk keterampilan berbicara menggunakan skala 1-5 untuk setiap komponennya. Setiap nomor diisi dengan rentang nilai 1-5, kemudian dijumlah untuk mendapatkan total skor. Untuk lebih jelasnya dapat dillihat gambaran penilaian pada tabel di bawah ini.
Tabel 3. Indikator Penilaian Keterampilan Berbicara
No. Aspek yang diujikan Skala Penilaian Ket.
1 2 3 4 5
1. Kejelasan bunyi (vokal dan konsonan)
2. Ketepatan intonasi 3. Volume suara 4. Variasi kata 5. Penguasaan topic 6. Pilihan kata atau diksi 7. Pemakaian kalimat 8. Kewajaran
9. Kelancaran 10. Pandangan Mata
Jumlah