BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1.3 Kualitas Pembelajaran
2.1.3.1 Keterampilan Dasar Mengajar Guru
Menurut Rusman (2012) keterampilan dasar mengajar (teaching skills)¸ merupakan karakteristik umum seseorang yang berhubungan dengan pengetahuan maupun keterampilan yang diwujudkan melalui tindakan. Keterampilan dasar mengajar adalah perilaku mendasar yang dimiliki oleh guru sebagai modal awal untuk melaksanakan tugas-tugas pembelajarannya secara terencana dan profesional.
Indikator keterampilan dasar mengajar guru dapat digambarkan dalam sembilan keterampilan mengajar.
1. Keterampilan Membuka Pelajaran (Set Induction Skills).
Membuka pelajaran adalah kegiatan pembelajaran untuk menciptakan pra-kondisi bagi siswa agar mental ataupun perhatiannya terpusat pada apa yang akan dipelajari. Menurut Abimanyu (dalam Rusman, 2012:81) membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan kondisi/suasana siap mental dan menimbulkan perhatian siswa agar terfokus pada hal-hal yang akan dipelajari.
Menurut Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah menjelaskan bahwa yang dilakukan guru dalam kegiatan pendahuluan adalah:
a. menyiapkan siswa secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran;
b. melakukan apersepsi, yaitu mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari;
c. menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai;
d. menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai dengan silabus dan RPP.
Dalam pelaksanaan pembelajaran model students teams achievment division berbantuan media audiovisual dalam keterampilan membuka pelajaran, deskriptor yang ditampakkan adalah mengkondisikan siswa agar
siap dan termotivasi dalam mengikuti pelajaran , melakukan apersepsi, dan menyampaikan tujuan pembelajaran.
2. Keterampilan Bertanya (Questioning Skills).
Menurut Bolla (dalam Rusman, 2012:82) dalam proses pembelajaran setiap pertanyaan, baik berupa kalimat tanya atau suruhan yang menuntut respons siswa perlu dilakukan, agar siswa memperoleh pengetahuan dan meningkatkan kemampuan berpikir. (Rusman, 2012) mengungkapkan dalam kegiatan belajar mengajar, mempunyai dampak positif terhadap aktivitas dan kreativitas siswa:
a. meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran;
b. membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap sesuatu masalah yang sedang dibicarakan;
c. mengembangkan pola berfikir dan cara belajar aktif dari siswa sebab berpikir itu sendiri sesungguhnya adalah bertanya;
d. menuntun proses berfikir siswa sebab pertanyaan yang baik akan membantu siswa agar dapat menentukan jawaban yang baik;
e. memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas. Dalam pelaksanaan pembelajaran model students teams achievment division berbantuan media audiovisual deskriptor yang ditampakkan dalam ketrerampilan bertanya adalah memberikan pertanyaan kepada siswa tentang hasil diskusi yang telah dilakukan siswa.
3. Keterampilan Menguatkan (Reinforcement Skills).
Menurut (Rusman, 2012) penelitian membuktikan bahwa penguatan (reinforcement) lebih efektif diterapkan daripada pelaksanaan hukuman
(punisment). Secara psikologis, individu memerlukan penghargaan atas segala usaha yang telah dilakukan. Guru yang baik harus memberikan penguatan berupa penguatan verbal (diungkapkan dengan kata-kata seperti bagus, seratus, tepat, pintar, dan sebagainya), maupun non verbal (dengan gerakan, isyarat, sentuhan, pendekatan, dan sebagainya).
Reinforcement merupakan respon terhadap sebuah usaha yang baik dan diharapkan suatu tingkah laku yang memungkinkan untuk berulangnya kembali tingkah laku tersebut.
Tujuan pemberian penguatan:
a. meningkatkan perhatian siswa terhadap kegiatan pembelajaran; b. merangsang dan meningkatkan motivasi belajar siswa;
c. meningkatkan kegiatan belajar dan membina tingkah laku siswa yang produktif;
d. menumbuhkan rasa percaya diri kepada siswa;
e. membiasakan kelas kondusif penuh dengan penghargaan dan penguatan. Ada beberapa cara dalam memberikan penguatan (reinforcement)yaitu: a. penguatan kepada pribadi tertentu. Penguatan harus jelas kepada siapa
ditujukannya pertanyaan tersebut, dengan menyebutkan namanya;
b. penguatan kepada kelompok siswa. Dengan memberikan penghargaan kepada kelompok siswa yang telah menyelesaikan tugasnya dengan baik; c. pemberian penguatan dengan cara segera. Penguatan diberikan sesegera
diharapkan.Penguatan yang dilakukan dengan tertunda cenderung tidak efektif;
d. variasi dalam penggunaan. Penguatan yang diberikan hendaknya bervariasi, tidak terbatas pada satu jenis penguatan saja karena akan menimbulkan kebosanan, dan lama kelamaan akan tidak efektif.
Dalam pelaksanaan pembelajaran model students teams achievment division berbantuan media audiovisual deskriptor yang ditampakkan dalam ketrerampilan menguatkan adalah memberikan penghargaan atas keberhasilan kelompok dan memberikan penguatan terhadap hasil kerja siswa
4. Keterampilan Mengadakan Variasi (Variation Skills).
Menurut (Rusman, 2012) peserta didik adalah individu yang unit, heterogen dan mempunyai kecenderungan yang berbeda-beda. Siswa ada yang mempunyai kecenderungan pada auditif, yaitu senang mendengarkan, visual senang melihat dan cenderung kinestetik, yaitu senang melakukan. Oleh karena itu, guru harus memiliki kemampuan mengadakan variasi dalam kegiatan pembelajaran. Antara lain dalam hal penggunaan multisumber, multimedia, multimetode, multistrategi, dan multimodel. Pembelajaran dilakukan secara klasikal, akan tetapi tetap dilakukan sentuhan secara individual. Sebagai contoh guru menggunakan media gambar untuk siswa yang cenderung visual, guru juga menggunakan metode ceramah untuk siswa yang cenderung auditif, selain itu guru juga mengadakan diskusi, eksperimen, demonstrasi, dan praktik untuk siswa yang kinestetik.
Tujuan dan manfaat keterampilan mengadakan variasi (variation skills) adalah:
a. menimbulkan dan meningkatkan perhatian siswa kepada aspek-aspek pembelajaran yang relevan dan bervariasi;
b. memberikan kesempatan berkembangnya bakat yang dimiliki siswa; c. memupuk tingkah laku yang positif terhadap guru dan sekolah dengan
berbagai cara mengajar yang lebih hidup dan lingkungan belajar yang lebih baik;
d. memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh cara menerima pelajaran yang disenangi.
Prinsip penggunaan keterampilan mengadakan variasi (variation skills) yang perlu diperhatikan adalah:
a. variasi digunakan dengan suatu maksud tertentu yang relevan dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan;
b. variasi digunakan secara lancar dan berkesinambungan, sehingga tidak merusak perhatian siswa dan tidak mengganggu kegiatan pembelajaran; c. direncanakan dengan baik dan secara eksplisit dicantumkan dalam rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP).
Dalam pelaksanaan pembelajaran model students teams achievment division berbantuan media audiovisual deskriptor yang ditampakkan dalam ketrerampilan mengadakan variasi adalah menyampaikan materi dengan bantuanmedia audiovisual, serta memberikan soal kuis kepada siswa sebagai evaluasi pembelajaran.
5. Keterampilan Menjelaskan (Explaining Skills).
Menurut (Rusman, 2012) tugas utama dari guru adalah mengajar, dalam mengajar guru dituntut untuk menyampaikan ilmu dengan menjelaskan materi pelajaran kepada siswa secara profesional. Dalam pelaksanaannya guru dapat menggunakan media pembelajaran dan sumber-sumber belajar yang relevan dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Keterampilan menjelaskan dalam pembelajaran adalah penyajian informasi secara lisan yang diorganisasi secara sistematis untuk menunjukkan adanya hubungan satu dengan yang lainnya, misalnya sebab dan akibat. Penyampaian informasi yang terencana dengan baik disajikan dengan urutan yang cocok merupakan ciri utama kegiatan menjelaskan.
Komponen-komponen dalam keterampilan menjelaskan (explaining skills).
a. Merencanakan
Sebelum melakukan pembelajaran, guru terlebih dahulu membuat perencanaan, baik dalam silabus maupun RPP. Dalam kegiatan pembelajaran terdapat tiga kegiatan utama, antara lain kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, kegiatan penutup. Dalam pelaksanaannya semua kegiatan tersebut memerlukan keterampilan untuk menjelaskan. Oleh karena itu, penjelasan yang dilakukan guru harus direncanakan dengan baik, terutama berkenaan dengan isi materi dan aktivitas siswa itu sendiri.
b. Perencanaan Suatu Penjelasan
Penyajian penjelasan dapat ditingkatkan hasilnya dengan memperhatikan hal-hal berikut:
1) kejelasan, penjelasan menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh siswa dan menghindari kata-kata yang tidak perlu;
2) penggunaan contoh dan ilsutrasi, memberikan contoh sebaiknya menggunakan contoh-contoh yang ada hubungannya dengan sesuatu yang dapat ditemui oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari;
3) pemberian tekanan, dalam memberikan penjelasan, guru hendaknya memusatkan perhatian siswa kepada masalah/topik utama dan mengurangi informasi yang tidak terlalu penting.
4) penggunaan balikan, guru hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan pemahaman, keraguan, atau ketidakmengertian siswa ketika penjelasan itu diberikan.
Sementara itu, menurut (Rusman, 2012) prinsip-prinsip keterampilan menjelaskan harus dikuasai oleh seorang guru agar siswa memperoleh pemahaman yang utuh dan jelas tentang materi yang disampaikan guru. Beberapa prinsip yang harus diperhatikan guru, yaitu: a. keterkaitan dengan tujuan, apapun yang dilakukan oleh guru dalam
menjelaskan materi pelajaran harus bermuara pada pencapaian tujuan pembelajaran;
b. relevan antara penjelasan dengan materi dan karakteristik siswa, materi yang dijelaskan harus sesuai dengan karakteristisk peserta
didik, baik usia, tugas perkembangan, tingkat kesukaran, dan sebagainya;
c. kebermaknaan. Apa pun yang dijelaskan mempunyai makna bagi siswa untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang;
d. dinamis, agar pelaksanaan pembelajaran lebih menarik, guru dapat menerapkan dengan tanya jawab, atau menggunakan media pembelajaran, agar penjelasan lebih menarik dan sistematis;
e. penjelasan dilakukan dalam kegiatan pendahuluan, inti, dan kegiatan penutup.
Dalam pelaksanaan pembelajaran model students teams achievment division berbantuan media audiovisual deskriptor yang ditampakkan dalam ketrerampilan menjelaskan adalah menyampaikan materi dengan bantuan media audiovisual.
6. Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil.
Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil adalah salah satu cara yang dibutuhkan untuk memfasilitasi sistem pembelajaran yang dilakukan dengan berkelompok (Rusman, 2012). Komponen yang diperlukan dalam kegiatan membimbing diskusi kelompok kecil antara lain:
a. memusatkan perhatian siswa pada tujuan dan topik diskusi. Pada aspek ini guru merumuskan tujuan dan topik yang akan dibahas pada awal diskusi dan mengemukakan masalah-masalah khusus, lalu mencatat perubahan atau penyimpangan diskusi dari tujuan dan merangkum hasil diskusi;
b. memperjelas masalah untuk menghindari kesalahpahaman dalam memimpin diskusi seorang guru perlu menguraikan permasalahan, meminta komentar siswa, dan menguraikan gagasan siswa dengan memberikan informasi tambahan;
c. menganalisis pandangan siswa. Perbedaan pendapat dalam diskusi menuntut guru menjadi fasilitator dalam memperjelas hal-hal yang disepakati dan hal-hal yang perlu disepakati di samping meneliti apakah suatu alasan mempunyai dasar yang kuat;
d. meningkatkan urunan siswa, yaitu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang, memberikan contoh dengan tepat, dan memberikan waktu untuk berpikir;
e. memberikan kesempatan siswa untuk berpartisipasi. Dilakukan dengan cara memancing partisipasi siswa dalam bentuk memberikan kesempatan siswa untuk bertanya pada siswa yang cenderung pendiam (pasif);
f. menutup diskusi, yaitu membuat rangkuman hasil diskusi, menindaklanjuti diskusi, dan mengajak siswa untuk menilai proses maupun hasil;
g. hal-hal yang perlu dihindarkan adalah mendominasi/monopoli pembicaraan dalam diskusi, serta membiarkan terjadinya penyimpangan dalam diskusi.
Dalam pelaksanaan pembelajaran model students teams achievment division berbantuan media audiovisual deskriptor yang ditampakkan dalam ketrerampilan membimbing diskusi kelompok kecil adalah membimbing siswa
untuk membentuk kelompok belajar siswa serta membimbing siswa dalam berdiskusi dalam kelompok.
7. Keterampilan Mengelola Kelas.
Menurut Usman (dalam Rusman, 2012:90) pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses pembelajaran, seperti penghentian perilaku siswa yang memindahkan perhatian kelas, memberikan ganjaran bagi siswa yang tepat waktu dalam menyelesaikan tugas atau penetapan norma kelompok yang produktif.
Komponen-komponen dalam mengelola kelas adalah sebagai berikut: a. keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan
kondisi belajar yang optimal, seperti menunjukkan sikap tanggap, memberikan perhatian, memusatkan perhatian kelompok, memberikan petunjuk yang jelas, menegur bila siswa melakukan tindakan menyimpang, dan memberikan penguatan (reinforcement);
b. keterampilan yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar yang optimal, yaitu berhubungan dengan respons guru terhadap gangguan siswa yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat melakukan tindakan remedial untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal; c. menentukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.
Dalam pelaksanaan pembelajaran model students teams achievment division berbantuan media audiovisual deskriptor yang ditampakkan dalam
ketrerampilan mengelola kelas adalah memberikan soal kuis kepada siswa sebagai evaluasi pembelajaran.
8. Keterampilan Pembelajaran Perseorangan.
Menurut Rusman (2012), guru dapat melakukan variasi, bimbingan, dan penggunaan media pembelajaran dalam rangka memberikan sentuhan kebutuhan individual. Pembelajaran ini terjadi apabila jumlah peserta berjumlah terbatas, yaitu hanya sebatas kelompok kecil (2-8 orang).
Komponen-komponen yang diperlukan untuk dikuasai guru berkenaan dengan pembelajaran perseorangan adalah:
a. keterampilan megadakan pendekatan secara pribadi; b. keterampilan mengorganisasi.
c. keterampilan membimbing dan memudahkan belajar, yaitu memungkinkan guru membantu siswa untuk maju tanpa mengalami frustasi;
d. keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran, mencakup membantu siswa menetapkan tujuan dan menstimulasi siswa untuk mencapai tujuan tersebut, merencanakan kegiatan pembelajaran bersama siswa yang mencakup kriteria keberhasilan, langkah-langkah kegiatan pembelajaran, waktu serta kondisi belajar, bertindak sebagai supervisor, dan membantu siswa menilai pencapaiannya sendiri.
Dalam pelaksanaan pembelajaran model students teams achievment division berbantuan media audiovisual deskriptor yang ditampakkan dalam
ketrerampilan pembelajaran perorangan adalah membimbing siswa untuk membentuk kelompok belajar siswa.
9. Keterampilan Menutup Pelajaran (Closure Skills).
Keterampilan menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk mengakhiri kegiatan pembelajaran. Kegiatan menutup pelajaran mempunyai tujuan untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari oleh siswa, mengetahui tingkat pencapaian siswa dan tingkat keberhasilan guru dalam proses pembelajaran.
Menurut Uzer Usman (dalam Rusman, 2012) komponen menutup pelajaran adalah sebagai berikut:
a. meninjau kembali penguasaan materi pokok dengan merangkum atau menyimpulkan hasil pembelajaran;
b. melakukan evaluasi antara lain dengan cara mendemonstrasikan keterampilan, mengaplikasikan ide baru pada situasi lain, mengeskplorasi pendapat siswa sendiri, dan memberikan soal tertulis.
Sementara Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah menjelaskan bahwa yang dilakukan guru dalam kegiatan penutup adalah sebagai berikut:
a. bersama-sama dengan siswa dan/atau sendiri membuat kesimpulan pembelajaran;
b. melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
d. merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedial, pengayaan, layanan bimbingan, memberikan tugas baik individu maupun kelompok;
e. menyampaikan pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
Dalam pelaksanaan pembelajaran model students teams achievment division berbantuan media audiovisual deskriptor yang ditampakkan dalam ketrerampilan menutup pelajaran adalah mengevaluasi hasil kerja siswa dengan rentang angka 0-100 serta menutup pelajaran.