• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Keterampilan Menulis

Menulis merupakan suatu keterampilan yang memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Tarigan (2008: 22) mengemukakan bahwa menulis merupakan kegiatan menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca grafik itu. Dengan menulis, kita dapat mengenali kemampuan dan potensi kita. Ketika sesorang menulis, penulis akan menggali pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya untuk mengembangkan tulisan tersebut. Berikut ini akan diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan keterampilan menulis.

1) Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa

Bahasa Indonesia memiliki empat komponen keterampilan berbahasa, yaitu: a) keterampilan menyimak, b) keterampilan berbicara, c) keterampilan membaca, dan d) keterampilan menulis (Tarigan, 2008: 1). Empat keterampilan tersebut saling terintegrasi satu dengan yang lainnya atau dapat dikatakan merupakan suatu kesatuan.

Karmin (dalam Sunendar 2011: 269) menyebutkan ruang lingkup kecakapan berbahasa ada empat yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Hal tersebut menunjukkan bahwa keterampilan menulis sangat penting bagi pembelajar bahasa dan wajib dikuasai oleh pembelajar bahasa agar tujuannya untuk mempelajari bahasa Indonesia tercapai dengan baik.

Dalam sebuah proses yang berjalan, pastilah akan ada hambatan atau kendala-kendala yang dihadapi. Hidayat (2001 dalam Sunendar 2011: 276) menyebutkan bahwa salah satu kelemahan pembelajar bahasa adalah dalam kegiatan menulis.

Pembelajar masih kesulitan dalam menggunakan struktur dan tatabahasa dalam menulis. Hal tersebut perlu diperhatikan dan perlu ditemukan solusi agar pembelajar dapat mengatasi kendala atau hambatan yang sering ditemui. Dengan begitu, pembelajar dapat menerima materi pembelajaran dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari dengan baik.

Sebagai seorang calon guru, mahasiswa Prodi PBSI dipersiapkan secara matang agar dapat menulis dengan baik dan benar sesuai kaidah kebahasaan dan tata bahasa yang baik. Salah satu komponen keterampilan berbahasa yang dijadikan sebagai bahan kajian peneliti dalam penelitian ini adalah keterampilan menulis.

2) Menulis Sebagai Suatu Cara Berkomunikasi

Webb (1975 dalam Tarigan, H.G., 2008: 2) mengatakan bahwa “komunikasi” dapat dikatakan sebagai sebuah proses pengiriman dan penerimaan pesan yang dapat terjadi sewaktu-waktu bila manusia atau binatang ingin berkenalan dan berhubungan satu sama lain. Proses berkomunikasi oleh manusia melalui gerak-gerik refleks yang sederhana dan bunyi-bunyi berupa bahasa.

Woolcort & Unwin (1974 dalam Tarigan, H.G., 2008: 19 ) membagi media yang digunakan dalam proses berkomunikasi menjadi tiga, yaitu visual (non-verbal), oral (lisan), dan written (tulis). Komunikasi lisan dan tulis memiliki hubungan yang sangat erat karena sifat penggunaannya yang saling berkaitan dalam bahasa.

Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa media tulis atau keterampilan menilis merupakan salah satu aspek penting dalam proses berkomunikasi.

Menurut Tarigan (2008: 3), menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain.

Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif. Ketika seseorang menulis, kegiatan tersebut pasti akan menghasilkan produk berupa tulisan atau karangan yang berbentuk teks. Kegiatan menulis ini merupakan salah satu cara bagi manusia untuk mengekspresikan atau menuangkan hasil pemikirannya ke dalam bahasa tulis. Penulis harus terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosa kata dengan baik agar tulisan yang dihasilkannya dapat diterima dan dimengerti oleh pembaca.

3) Fungsi dan Tujuan Menulis

Keterampilan menulis sekarang ini sangatlah dibutuhkan dalam berbagai segi kehidupan. Hampir semua hal dalam kehidupan tidak bisa dilepaskan dari kegiatan menulis.

Fungsi utama dari menulis adalah sebagai alat berkomunikasi yang tidak langsung. Selain itu, menulis sangat penting untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Marsey (1976 dalam Tarigan, H.G, 2008: 4) mengatakan bahwa menulis dipergunakan oleh orang terpelajar untuk mencatat, meyakinkan, melaporkan atau memberitahukan, memengaruhi.

Maksud serta tujuan seperti itu hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang dapat menyusun pikiran dan mengutarakan pikirannya dengan jelas. Kejelasan ini tergantung pada pikiran, organisasi, pemakaian kata-kata, dan struktur kalimat. Dari pendapat di atas, dapat kita katakan bahwa keterampilan menulis merupakan

suatu ciri dari orang yang terpelajar atau bangsa terpelajar. D’Angelo (1980 dalam Tarigan, H.G., 2008: 22) mengatakan bahwa : “Belajar menulis adalah belajar berpikir dalam/dengan cara tertentu.”

Menulis juga memiliki tujuan yang beragam. Tarigan (2008: 23) mengkategorikan tujuan menulis menjadi empat, yaitu: a) memberitahukan atau mengajar, b) meyakinkan atau mendesak, c) menghibur atau menyenangkan, dan d) mengutarakan / mengekspresikan perasaan. Sejalan dengan pendapat tersebut, menurut Hipple (1973 dalam Tarigan, H.G., 2008: 24-25) ada tujuh tujuan menulis adalah sebagai berikut:

a) Tujuan penugasan (assignment purpose)

Sebuah tulisan biasanya akan tercipta karena penulis mendapat tugas atau perintah dari seseorang, bukan atas kemauan sendiri. Jenis tulisan ini biasanya terbatas pada jawaban sesorang atas tugas yang diberikan. Kata-kata yang digunakan biasanya lugas, sesuai dengan pertanyaan yang diberikan.

b) Tujuan altrualistik (altrualistic purpose)

Sebuah tulisan juga dapat bertujuan untuk memberi hiburan kepada pembaca. Penulis menulis untuk menyenangkan para pembaca, menghindari kedukaan para pembaca, ingin menolong para pembaca untuk memahami, menghargai perasaan dan penalarannya. Tujuan altrualistik adalah kunci keterbacaan suatu tulisan.

c) Tujuan persuatif (persuasive purpose)

Menulis juga bertujuan untuk meyakinkan para pembaca akan kebenaran gagasan yang diutarakan. Penulis akan menggunakan pilihan diksi dan kata-kata yang membuat pembaca tertarik dan meyakini gagasan si penulis tersebut. Penulis berusaha membawa pembaca pada gagasan yang dimilikinya.

d) Tujuan penerangan (informational purpose)

Menulis untuk memberi informasi atau keterangan/ penerangan kepada para pembaca. Sebagai salah satu alat berkomunikasi, tentunya sebuah tulisan memiliki suatu keterangan atau informasi yang berasal dari penulis. Pembaca dapat menemukan keterangan atau penerangan mengenai sesuatu hal yang ingin diketahui.

e) Tujuan pernyataan (self-expressive purpose)

Menulis untuk memperkenalkan atau menyatakan diri si pengarang kepada para pembaca. Sebuah tulisan dapat mencerminkan diri si penulis. Penulis memperkenalkan diri dari gaya bahasa, diksi, dan ungkapan-ungkapan yang mencerminkan kepribadian atau dirinya.

f) Tujuan kreatif (creative purpose)

Menulis untuk mencapai nilai artistik atau nilai-nilai kesenian. Tulisan merupakan hasil kreatifitas manusia. Penulis menggambarkan perasaan, ide dan gagasannya menggunakan kata-kata dalam sebuah kertas atau media tulis lainnya.

g) Tujuan pemecahan masalah (problem-solving purpose)

Menulis untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh penulis agar dimengerti dan diterima oleh para pembaca. Dengan menulis, penulis akan merasa lega karena salah satu beban yang ada di dalam pikirannya dapat dituangkan ke dalam sebuah tulisan.

4) Komponen Keterampilan Menulis

Agar dapat menghasilkan suatu tulisan yang baik, ada beberapa komponen yang harus dipenuhi oleh seorang penulis dalam tulisannya. Menurut Kundharu Sadhono dan Y. Slamet (2012: 112), sebuah karangan yang baik terdiri atas isi, organisasi isi, gramatika, diksi, dan ejaan. Komponen tersebut bila dijabarkan adalah sebagai berikut.

a) Isi, meliputi relevansi, tesis yang dikembangkan, keeksplisitan analisis dan ketepatan simpulan.

b) Organisasi isi, meliputi keutuhan, perpautan pengembangan gagasan atau pikiran pokok paragraf dan organisasi keseluruhan kerangan. c) Gramatika atau tata bahasa, meliputi ketepatan bentukan kata dan

keefektifan kalimat.

d) Diksi, meliputi ketepatan penggunaan kata berkenaan dengan gagasan yang dikemukakan, kesesuaian penggunaan kata dengan konteks dan kebakuan kata.

5) Jenis-Jenis Tulisan

Teori dan pendapat ahli mengenai jenis atau bentuk tulisan sangatlah beragam. Akan tetapi, dalam penelitian ini untuk menentukan jenis-jenis tulisan, peneliti menggunakan pendapat dari Weaver dan Morris. Menurut Weaver (dalam Tarigan, 2008: 27) mengklasifikasikan jenis-jenis tulisan menjadi: eksposisi, deskripsi, narasi, dan argumentasi. Sejalan dengan Weaver, Morris beserta rekan-rekannya (dalam Tarigan, 2008: 27) juga berpendapat bahwa ada empat jenis tulisan, yaitu: eksposisi, argumen, deskripsi, dan narasi.

Secara singkat, penjelasan dari karangan eksposisi, argumen, deskripsi, dan narasi adalah sebagai berikut. Menurut Keraf (1982: 3), eksposisi merupakan pokok pikiran yang dapat memperluas pandangan atau pengetahuan pembaca uraian tersebut dan tidak berusaha untuk memengaruhi orang lain, sedangkan argumentasi dapat dikatakan sebagai suatu bentuk retorika yang berusaha untuk memengaruhi sikap dan pendapat orang lain agar mereka percaya dan akhirnya bertindak sesuai yang diinginkan oleh penulis atau pembicara (Keraf, 2007: 3).

Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat dilihat perbedaan antara jenis tulisan eksposisi dan argumentasi. Sementara itu, karangan narasi dapat diartikan sebagai bentuk wacana yang berusaha mengisahkan suatu kejadian maupun peristiwa sehingga tampak seolah-olah pembaca melihat atau mengalami sendiri peristiwa tersebut (Keraf, 2007: 135-136), sedangkan deskripsi atau pemerian adalah sebuah bentuk tulisan yang berisi pemaparan/perincian dari objek yang dibicarakan (Keraf, 1981: 93). Dalam penelitian ini, peneliti akan lebih fokus memberikan penjelasan mengenai karangan deskripsi.

2.2.2 Tipe-tipe Kesalahan Menulis

Dokumen terkait