Blok ini dimaksudkan untuk mengetahui keadaan kesejahteraan rumah tangga ditinjau dari status penguasaan bangunan dan tanah, kualitas bangunan, sumber air minum, penerangan, sanitasi serta jenis bantuan yang pernah diterima sebelumnya.
33
Milik sendiri, jika tempat tinggal tersebut pada waktu pencacahan betul-betul sudah milik
KRT atau salah seorang anggota rumah tangga. Rumah yang dibeli secara angsuran melalui kredit bank atau rumah dengan status sewa beli dianggap rumah milik sendiri;
Kontrak, jika tempat tinggal tersebut disewa oleh KRT/anggota rumah tangga dalam
jangka waktu tertentu berdasarkan perjanjian kontrak antara pemilik dan pemakai, misalnya 1 atau 2 tahun. Cara pembayaran biasanya sekaligus di muka atau dapat diangsur menurut persetujuan kedua belah pihak. Pada akhir masa perjanjian pihak pengontrak harus meninggalkan tempat tinggal yang didiami dan bila kedua belah pihak setuju bisa diperpanjang kembali dengan mengadakan perjanjian kontrak baru;
Sewa, jika tempat tinggal tersebut disewa oleh KRT atau salah seorang anggota rumah tangga dengan pembayaran sewanya secara teratur dan terus menerus tanpa batasan waktu tertentu;
Bebas sewa milik orang lain, jika tempat tinggal tersebut diperoleh dari pihak lain
(bukan famili/orang tua) dan ditempati/didiami oleh rumah tangga tanpa mengeluarkan suatu pembayaran apapun;
Bebas sewa milik orang tua/sanak/saudara, jika tempat tinggal tersebut bukan milik
sendiri melainkan milik orang tua/sanak/saudara dan tidak mengeluarkan suatu pembayaran apa pun untuk mendiami tempat tinggal tersebut;
Dinas, jika tempat tinggal tersebut dimiliki dan disediakan oleh suatu instansi atau
perusahaan tempat bekerja KRT/salah satu anggota rumah tangga baik dengan membayar sewa maupun tidak;
Pengungsian, jika tempat tinggal tersebut merupakan lokasi pengungsian warga baru asal
Timor Timur;
Lainnya, jika tempat tinggal tersebut tidak dapat digolongkan ke dalam salah satu
kategori di atas, misalnya tempat tinggal milik bersama, rumah adat. Jenis Bukti Kepemilikan Tanah :
1. Sertifikat Hak Milik (SHM) atas nama ART adalah SHM yang diterbitkan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau Kantor Agraria terhadap sebidang tanah/kavling kepada pemilik tanah, dalam hal ini salah seorang ART.
2. Sertifikat Hak Milik (SHM) bukan atas nama ART adalah SHM yang diterbitkan
34
tanah/kavling kepada pemilik tanah, dalam hal ini seseorang yang bukan termasuk ART.
3. Sertifikat lain adalah tanda bukti yang diterbitkan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau Kantor Agraria terhadap sebidang tanah/kavling kepada pemilik tanah, dalam hal ini salah seorang ART. Sertifikat ini bisa berupa:
a. SHGB (sertifikat hak guna bangunan) b. SHP (sertifikat hak pakai)
c. SSRS (sertifikat atas satuan rumah susun)
4. Lainnya (Girik, Akte Jual Beli, dll) adalah salah satu tanda bukti kepemilikan tanah oleh pejabat pembuat akta tanah (PPAT/Notaris). Girik adalah surat tanda bukti kepemilikan pemilik tanah yang biasa disebut juga salinan Letter C yang dikeluarkan Kepala Desa/Kelurahan, baik yang sudah dipecah maupun induknya. Akte Jual Beli adalah akte perjanjian jual beli yang diterbitkan oleh Notaris PPAT (Pejabat Pembuat Akte Tanah), baik yang sudah atas nama ART maupun orang lain. Termasuk di Lainnya adalah SHGU (Sertifikat Hak Guna Usaha). Tanda lain yang dianggap bisa menguatkan bukti penguasaan tetapi bukan bukti kepemilikan tanah, antara lain Surat lembaga lain yang bukan Notaris/PPAT, SPPT (d/h: Ipeda/kartu kuning), Keterangan lain, seperti IMB, surat izin menggarap (dari Perhutani).
Catatan :
Sertifikat yang dimiliki atas nama anggota rumah tangga yang sedang bepergian lebih dari 6 bulan (bukan anggota rumah tangga saat pendataan) dianggap sertifikat atas nama anggota rumah tangga. Misalnya sertifikat atas nama anggota rumah tangga yang bekerja atau sekolah di luar daerah namun pulang sewaktu libur, maka sertifikat dianggap atas nama anggota rumah tangga.
Atap adalah penutup bagian atas suatu bangunan sehingga orang yang mendiami di bawahnya
terlindung dari terik matahari, hujan dan sebagainya. Untuk bangunan bertingkat, atap yang dimaksud adalah bagian teratas dari bangunan tersebut.
Beton adalah atap yang terbuat dari campuran semen, kerikil, dan pasir yang dicampur dengan air.
Genteng adalah tanah liat yang dicetak dan dibakar. Termasuk pula genteng yang terbuat dari beton (genteng yang terbuat dari campuran semen dan pasir), genteng fiber cement, dan genteng keramik.
35 Sirap adalah atap yang terbuat dari kepingan kayu yang tipis dan biasanya terbuat dari
kayu ulin atau kayu besi.
Seng adalah atap yang terbuat dari bahan seng. Atap seng berbentuk seng rata, seng gelombang, termasuk genteng seng yang lazim disebut decrabond (seng yang dilapisi epoxy dan acrylic).
Asbes adalah atap yang terbuat dari campuran serat asbes dan semen. Pada umumnya atap asbes berbentuk gelombang.
Ijuk/rumbia adalah atap yang terbuat dari serat pohon aren/enau atau sejenisnya yang umumnya berwarna hitam.
Lainnya adalah atap selain jenis atap di atas, misalnya papan, bambu, dan daun-daunan.
Dinding adalah sisi luar/batas dari suatu bangunan atau penyekat dengan bangunan fisik lainnya. Bila bangunan tersebut menggunakan lebih dari satu jenis dinding yang luasnya sama, maka yang dianggap sebagai dinding terluas adalah dinding yang bernilai lebih tinggi.
Tembok adalah dinding yang terbuat dari susunan bata merah atau batako biasanya dilapisi plesteran semen. Termasuk dalam kategori ini adalah dinding yang terbuat dari pasangan batu merah dan diplester namun dengan tiang kolom berupa kayu balok, yang biasanya berjarak 1 - 121m;
Kayu adalah dinding yang terbuat dari kayu;
Bambu adalah dinding yang terbuat dari bambu. Termasuk dalam kategori ini adalah dinding yang terbuat dari anyaman bambu dengan luas kurang lebih 1 m x 1 m yang dibingkai dengan balok, kemudian diplester dengan campuran semen dan pasir.
Lainnya adalah selain kategori 1-3.
Lantai adalah bagian bawah/dasar/alas pada lantai sebagian besar atau seluruh ruangan. Luas lantai bangunan tempat tinggal adalah jumlah luas lantai dari setiap bagian bangunan (sebatas atap) yang ditempati (dihuni) dan digunakan untuk keperluan sehari-hari oleh keluarga, termasuk teras, garasi, tempat mencuci, WC, gudang, lantai setiap tingkat untuk bangunan bertingkat dalam satu bangunan sensus.
Luas lantai tempat tinggal rumah tangga tidak termasuk ruangan khusus untuk usaha, warung, restoran, toko, salon, kandang ternak, lantai jemur (lamporan semen), lumbung padi dan
lain-36
lain. Untuk bangunan bertingkat, luas lantai adalah jumlah luas dari semua tingkat yang ditempati.
Catatan:
1. Jika satu bangunan sensus ditempati oleh beberapa rumah tangga, maka luas lantainya adalah luas lantai yang dipakai sendiri ditambah dengan ruangan yang dipakai bersama dibagi dengan banyaknya rumah tangga yang menggunakannya.
2. Jika ada 2 bangunan terpisah yang ditempati oleh satu rumah tangga dan masih dalam satu blok sensus, maka luas lantainya dihitung seluruhnya.
3. Taman yang di dalam rumah, atau yang disamping rumah namun masih di bawah atap, semuanya ditambahkan sebagai luas lantai.
4. Jika luas lantai lebih dari 998 m2 ditulis 998. Sumber air minum utama
Perlu pula diingat bahwa yang ditanyakan di sini adalah sumbernya. Jadi kalau rumah tangga mendapatkan air dari mata air yang disalurkan sampai ke rumah, maka sumber airnya adalah mata air. Bila responden menggunakan air yang berasal dari beberapa sumber air, maka pilih salah satu sumber air yang volume paling banyak digunakan oleh rumah tangga tersebut.
Air kemasan bermerk adalah air yang diproduksi dan didistribusikan oleh suatu perusahaan dalam kemasan botol (500 ml, 600 ml, 1 liter, 12 liter, atau 19 liter) dan kemasan gelas; misalnya air kemasan merk Aqua, Moya, 2 Tang, VIT, dsb.
Air isi ulang adalah air yang diproduksi melalui proses penjernihan dan tidak memiliki merk.
Leding meteran adalah air yang diproduksi melalui proses penjernihan dan penyehatan sebelum dialirkan kepada konsumen melalui suatu instalasi berupa saluran air sampai di rumah responden. Sumber air ini diusahakan oleh PAM (Perusahaan Air Minum), PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum), atau BPAM (Badan Pengelola Air Minum), baik dikelola oleh pemerintah maupun swasta.
Leding eceran adalah air yang diproduksi melalui proses penjernihan dan penyehatan (air PAM) sebelum dialirkan kepada konsumen melalui suatu instalasi berupa saluran air di tempat tertentu/umum. Rumah tangga yang mendapatkan air leding dengan cara ini baik dengan cara membeli atau tidak termasuk dalam kategori ini.
37 Sumur bor/pompa adalah air tanah yang cara pengambilannya dengan menggunakan
pompa tangan, pompa listrik, atau kincir angin, termasuk sumur artesis (sumur pantek). Sumur terlindung adalah air yang berasal dari dalam tanah yang digali dan lingkar
sumur tersebut dilindungi oleh tembok paling sedikit 0,8 meter di atas tanah dan 3 meter ke bawah tanah, serta ada lantai semen sejauh 1 meter dari lingkar sumur.
Sumur tak terlindung adalah air yang berasal dari dalam tanah yang digali dan lingkar sumur tersebut tidak dilindungi oleh tembok dan lantai semen sejauh 1 meter dari lingkar sumur.
Mata air terlindung adalah sumber air permukaan tanah di mana air timbul dengan sendirinya dan terlindung dari air bekas pakai, bekas mandi, mencuci, atau lainnya. Mata air tak terlindung adalah sumber air permukaan tanah di mana air timbul dengan
sendirinya tetapi tidak terlindung dari air bekas pakai, bekas mandi, mencuci, atau lainnya.
Air sungai adalah air yang berasal dari sungai.
Air hujan adalah air yang berasal dari hujan, biasanya di daerah yang sulit air, sehingga pada musim penghujan mereka menampung air hujan tersebut di suatu bak/kolam, sehingga pada waktu musim kemarau air tersebut bisa dipergunakan.
Lainnya adalah sumber air selain yang tersebut di atas seperti air waduk/danau. Penjelasan:
a. Rumah tangga yang minum dari air leding yang diperoleh dari pedagang air keliling dianggap mempunyai sumber air minum leding eceran.
b. Rumah tangga yang air minumnya berasal dari mata air atau air hujan yang ditampung dan dialirkan ke rumah dengan menggunakan pipa pralon/pipa leding maka sumber air minumnya tetap mata air atau air hujan.
c. Rumah tangga yang menggunakan dua sumber air minum atau lebih, maka sumber air minum yang dicatat adalah yang terbanyak dimanfaatkan selama sebulan terakhir.
d. Bila suatu rumah tangga menggunakan sumur terlindung sebagai sumber air minum, namun dalam mengambil (menaikkan) airnya, rumah tangga itu menggunakan pompa (pompa tangan atau pompa listrik), maka sumber air minum rumah tangga tersebut tetap dikategorikan sebagai sumur terlindung.
e. Untuk sumber air dari leding, sumur terlindung dan sumur tak terlindung berlaku baik yang terletak di dalam rumah, di luar rumah, maupun di tempat umum.
38
Jarak ke penampungan adalah jarak sumber air minum utama yang ada di lingkungan rumah tangga itu sendiri maupun tetangga ke penampungan kotoran.
Penggunaan Fasilitas Air Minum
Pendekatan yang digunakan adalah air minum yang banyak digunakan dalam satu bulan terakhir. Instalasi yang dikelola oleh non-PAM/PDAM dapat menggunakan cara penjernihan air yang sama atau berbeda dengan PAM/PDAM, seperti penyaluran air dari mata air ke rumah dengan menggunakan pipa atau bambu.
Sendiri, bila fasilitas air minum hanya digunakan oleh rumah tangga responden saja. Bersama, bila fasilitas air minum digunakan oleh rumah tangga responden bersama
dengan beberapa rumah tangga tertentu.
Umum, bila fasilitas air minum dapat digunakan oleh setiap rumah tangga.
Tidak ada fasilitas, bila fasilitas air minum rumah tangga responden jaraknya > 2,5 km atau mengambil air langsung dari sungai/danau/air hujan tanpa proses penjernihan dengan mesin penjernih air atau membeli.
Cara Memperoleh Air Minum
Membeli adalah apabila membeli air untuk minum. Contoh: Leding dari PAM/
PDAM/BPAM, atau air kemasan.
Tidak membeli adalah bila diperoleh dengan usaha sendiri tanpa harus membayar.
Penjelasan: Bila menyuruh tetangga untuk mengambil air dari waduk dengan memberi upah, cara memperoleh air minum dianggap membeli.
Waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh air minum (pulang-pergi) adalah dalam menit.
Fasilitas tempat buang air besar adalah ketersediaan jamban atau kakus yang digunakan oleh rumah tangga responden.
Sendiri adalah bila fasilitas tempat buang air besar yang digunakan khusus oleh rumah tangga responden, walaupun kadang-kadang ada yang menumpang.
Bersama adalah bila fasilitas tempat buang air besar digunakan bersama dengan beberapa rumah tangga tertentu. Tidak ada batasan berapa rumah tangga yang
39 menggunakan secara bersama-sama, asalkan penggunaannya terbatas pada beberapa rumah tangga.
Umum adalah bila fasilitas tempat buang air besar yang penggunaannya tidak terbatas pada rumah tangga tertentu, tetapi siapa saja dapat menggunakannya. Contoh MCK yang disediakan pemerintah untuk masyarakat, dan sejenisnya.
Tidak ada bila rumah tangga responden tidak mempunyai fasilitas tempat buang air besar, misalnnya lahan terbuka yang bisa digunakan untuk buang air besar (tanah/kebun/halaman/semak belukar), pantai, sungai, danau, kolam dan lainnya.
Kloset adalah tempat duduk/jongkok yang digunakan di WC/kakus.
Leher angsa adalah kloset yang di bawah dudukannya terdapat saluran berbentuk huruf “U” (seperti leher angsa) dengan maksud menampung air untuk menahan agar bau tinja tidak keluar.
Plengsengan adalah jamban/kakus yang di bawah dudukannya terdapat saluran rata yang dimiringkan ke pembuangan kotoran.
Cemplung/cubluk adalah jamban/kakus yang di bawah dudukannya tidak ada saluran, sehingga tinja langsung ke tempat pembuangan/penampungan akhirnya.
Tempat Pembuangan Akhir Tinja merupakan tempat akhir dimana tinja dibuang, baik melalui saluran ataupun tidak.
Tangki/SPAL adalah tempat pembuangan akhir yang berupa bak penampungan,
biasanya terbuat dari pasangan bata/batu atau beton baik mempunyai bak resapan maupun tidak, termasuk di sini daerah permukiman yang mempunyai Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) terpadu yang dikelola oleh pemerintah kota. Dalam sistem pembuangan limbah cair seperti ini, air limbah rumah tangga tidak ditampung di dalam tangki atau wadah semacamnya, tetapi langsung dialirkan ke suatu tempat pengolahan limbah cair. Di tempat pengolahan tersebut, limbah cair diolah sedemikian rupa (dengan teknologi tertentu) sehingga terpilah menjadi 2 bagian yaitu lumpur dan air. Air hasil pengolahan ini dianggap aman untuk dibuang ke tanah atau badan air (sungai, danau, laut). Pada beberapa jenis jamban/kakus yang disediakan di tempat umum/keramaian, seperti di taman kota, tempat penampungannya dapat berupa tong yang terbuat dari logam atau kayu. Tempat penampungan ini bisa dilepas untuk diangkut ke tempat pembuangan.
40
Dalam hal demikian tempat pembuangan akhir dari jamban/kakus ini dianggap sebagai tangki;
Kolam/sawah, bila limbahnya dibuang ke kolam/sawah;
Sungai/danau/laut, bila limbahnya dibuang ke sungai/danau/laut;
Lubang tanah, bila limbahnya dibuang ke dalam lubang tanah yang tidak diberi pembatas/tembok (tidak kedap air);
Pantai/tanah lapang/kebun, bila limbahnya dibuang ke daerah pantai atau tanah lapang, termasuk dibuang ke kebun;
Lainnya, bila limbahnya dibuang ke tempat selain yang telah disebutkan di atas.
Pertanyaan mengenai listrik ditujukan untuk mendapatkan data animo masyarakat dalam penggunaan listrik. Apabila rumah tangga ini menggunakan lebih dari satu sumber penerangan, maka pilih sumber penerangan yang mempunyai nilai lebih tinggi (kode terkecil).
Listrik PLN adalah sumber penerangan listrik yang dikelola oleh PLN. Rumah tangga dikatakan menggunakan listrik PLN baik menggunakan maupun tidak menggunakan meteran (volumetrik).
Listrik non-PLN adalah sumber penerangan listrik yang dikelola oleh instansi/pihak lain selain PLN termasuk yang menggunakan sumber penerangan dari accu (aki), generator, dan pembangkit listrik tenaga surya (yang tidak dikelola oleh PLN).
Petromak/aladin adalah Sumber penerangan dari minyak tanah seperti petromak/lampu tekan, dan aladin (termasuk lampu gas).
Pelita/sentir/obor adalah Lampu minyak tanah lainnya (teplok, sentir, pelita, dan sejenisnya).
Lainnya adalah Lampu karbit, lilin, biji jarak, dan kemiri.
Tempat Tinggal lain dan Penerimaan Bantuan
Suatu keluarga dikatakan mempunyai tempat tinggal lain bila ada salah satu anggota keluarga yang mempunyai tempat tinggal di tempat lain selain rumah/bangunan ini.
41 Suatu keluarga dikatakan pernah mendapat bantuan perumahan bila bantuannya dalam bentuk rumah jadi/siap pakai. Bila bantuannya dalam bentuk bahan (semen, batu bata, pasir, seng dan lainnya) tidak termasuk mendapat bantuan perumahan.
Sebagai WB-ATT, setiap keluarga akan ditanyakan tentang bantuan yang pernah diterima, seperti bantuan pendidikan, pekerjaan, dan perumahan. Termasuk yang ditanyakan kepada keluarga adalah sumber bantuan atau siapa pemberi bantuan.