BAB IV HASIL PENELITIAN
F. Keterbatasan Penelitian
Salah satu usaha untuk menjaga kesahihan hasil penelitian, telah dilakukan berbagai upaya pengontrolannya terhadap variabel ekstra. Namun, karena keterbatasan dalam penelitian ini, maka masih terdapat beberapa faktor yang sulit dikendalikan. Tidak adanya perbedaan rerata yang signifikan antara siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah yang tingkat inteligensinya tinggi dan rendah, siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah maupun konvensional yang tingkat inteligensinya rendah dan siswa yang diajar dengan model konvensional dengan tingkat inteligensi tinggi disebabkan oleh kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam pengelolaan eksperimen. Adapun kelemahan-kelemahan tersebut antara lain:
1. sampel tidak diasramakan dan tidak dibatasi ruang geraknya sehingga penelitian ini tidak dapat mengendalikan mereka seutuhnya.
2. jarak tempat tinggal sampel yang satu dengan yang lain berbeda-beda. Hal ini dapat mempengaruhi kondisi mereka pada saat mengikuti pembelajaran. 3. latar belakang siswa sangat beragam, sehingga mereka memiliki pengalaman
yang berbeda-beda juga kaitannya dengan kemampuan menulis argumentasi. 4. perlakuan hanya dilaksanakan pada saat proses belajar mengajar berlangsung,
sehingga peneliti tidak leluasa untuk mengontrol efek dan variabel lainnya. Kelemahan-kelemahan ini dikemukakan sebagai bahan pertimbangan untuk menormalisasikan hasil penelitian dan bukan bertujuan untuk pembelaan.
xcv BAB V
SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN
G. Simpulan
Berdasarkan kajian teori dan hasil analisis serta mengacu pada rumusan masalah yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, dapat ditarik simpulan sebagai berikut.
1. Ada pengaruh antara penggunaan model pembelajaran berbasis masalah dan model konvensional terhadap kemampuan menulis argumentasi siswa kelas X SMA Negeri 4 Surakarta tahun ajaran 2009/2010. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil perhitungan bahwa Fo = 71,9423 > F1 = 3,39 yang berarti bahwa hipotesis nol yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan menulis argumentasi antara siswa yang diajar dengan model pembelajaran berbasis masalah dan yang diajar dengan model konvensional ditolak.
2. Tidak ada pengaruh antara tingkat inteligensi kategori tinggi dan inteligensi kategori rendah terhadap kemampuan menulis argumentasi siswa kelas X SMA Negeri 4 Surakarta tahun ajaran 2009/2010. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil perhitungan bahwa Fo = 0,112624 < F1 = 3,99 yang berarti bahwa hipotesis nol yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan menulis argumentasi antara siswa yang memiliki tingkat inteligensi tinggi dengan siswa yang memiliki tingkat inteligensi rendah diterima.
3. Tidak ada interaksi antara model pembelajaran dan tingkat inteligensi terhadap kemampuan menulis argumentasi siswa kelas X SMA Negeri 4 Surakarta tahun ajaran 2009/2010. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil perhitungan bahwa Fo = 0,2827 < F1 = 3,99 yang berarti bahwa hipotesisi nol yang menyatakan bahwa tidak ada interaksi antara model pembelajaran dengan tingkat inteligensi siswa terhadap kemampuan menulis argumentasi diterima.
xcvi H. Implikasi
Penelitian tentang pengaruh model pembelajaran dan tingkat inteligensi terhadap kemampuan menulis argumentasi siswa kelas X SMA Negeri 4 Surakarta tahun ajaran 2009/2010 menyimpulkan bahwa ada pengaruh antara penggunaan model pembelajaran berbasis masalah dan model konvensional terhadap kemampuan menulis argumentasi siswa, tidak ada pengaruh antara tingkat inteligensi kategori tinggi dan inteligensi kategori rendah terhadap kemampuan menulis argumentasi siswa, dan tidak ada interaksi antara model pembelajaran dan tingkat inteligensi terhadap kemampuan menulis argumentasi siswa. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka penelitian ini mempunyai implikasi secara teoretis, pedagogis, dan praktis.
1. Implikasi Teoretis
Penelitian ini membuktikan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan menulis argumentasi. Model pembelajaran berbasis masalah memiliki keunggulan jika dibandingkan dengan pembelajaran secara konvensional. Model pembelajaran berbasis masalah ini dirancang untuk mengalihkan pembelajaran yang terpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa. Siswa akan berperan aktif dalam pembelajaran karena dibentuk kelompok-kelompok diskusi untuk membahasa masalah dan menemukan jawabannya. Di dalam kelompoknya siswa akan mampu berpikir dan menjadi pelajar mandiri yang mampu menyelesaikan masalah dengan bertukar pikiran.
Model pembelajaran berbasis masalah ini menuntut siswa untuk aktif dalam pembelajaran yang berlangsung. Model pembelajaran berbasis masalah ini dirancang untuk melatih siswa memecahkan masalah dalam kelompok kecil, menuntut banyak kerja sama dan interaksi serta memandu siswa untuk memperoleh pengetahuan yang baru. Di sini guru bertindak sebagai penyaji masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog
xcvii
yang dilakukan dalam pembelajaran. Guru juga berperan sebagai pemandu siswa untuk dapat menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan penyelidikan.
Model pembelajaran berbasis masalah menjadi teknik yang cukup bagus bagi siswa untuk memahami isi pelajaran. Dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa. Siswa dapat lebih bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Pada akhirnya pembelajaran dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa karena dapat mengembangkan pengetahuan yang mereka miliki ke dalam dunia nyata.
Hal positif lainnya yang terdapat dalam model pembelajaran berbasis masalah ini adalah kegiatan pembelajaran yang diperkirakan dapat mengembangkan kesenangan, karena hampir setiap model belajar aktif tidak membosankan. Selain itu, dalam mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan, siswa dibiasakan menentukan langkahnya sendiri untuk mencapai tujuan belajar sebagai pelatihan belajar mandiri.
Di sisi lain, hasil penelitian ini juga membuktikan bahwa tingkat inteligensi tidak begitu berpengaruh pada kemampuan menulis argumentasi siswa. Secara teori, dalam mencipta sebuah tulisan yang utuh tidak hanya dibutuhkan penguasaan struktur, kalimat, maupun ide tulisan. Kecerdasan juga menjadi hal yang penting. Kecerdasan atau tingkat inteligensi mempengaruhi kemampuan dasar atau kemampuan siswa secara keseluruhan mengenai proses siswa berpikir, bertindak secara terarah serta bagaimana kemampuan siswa dalam mengatasi masalah yang dihadapinya secara efektif dan efisien.
Akan tetapi, penelitian ini membuktikan bahwa inteligensi tidak memiliki pengaruh yang besar dalam hal kualitas tulisan argumentasi. Karena pada dasarnya inteligensi mencakup inteligensi umum, cepat atau tidaknya dan terpecahkan atau tidaknya suatu masalah tidak terlalu tergantung pada kemampuan inteligensinya yang pada akhirnya mempengaruhi apa yang akan ditulis pada karangan argumentasi. Hal itu karena dalam menulis argumentasi diperlukan kemampuan berbahasa.
xcviii 2. Implikasi Pedagogis
Model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan kemampuan menulis argumentasi siswa. Hal ini karena dengan model pembelajaran ini siswa dapat belajar dalam kelompok dengan teman sebaya sehingga mereka bisa saling bertukar pendapat. Dalam kelompok siswa yang dibentuk secara heterogen yaitu terdapat siswa yang pandai dan yang kurang pandai dalam satu kelompok memungkinkan siswa untuk melakukan tanya jawab pada siswa yang dianggap mampu.
Melalui model pembelajaran berbasis masalah, siswa tidak hanya belajar untuk bertanggung jawab pada diri sendiri. Hal ini karena model pembelajaran tersebut dirancang dalam bentuk kelompok-kelompok. Sifat-sifat egois dengan sendirinya akan menghilang mengingat kerja kelompok adalah penting. Jika mereka bekerja sama dengan baik tanpa memandang kelemahan sebagai masalah besar yang harus diperdebatkan bukan diperbaiki maka kelompok tersebut akan menyelesaikan masalah yang diajukan dalam pembelajaran.
Penerapan model pembelajaran berbasis masalah dapat dimanfaatkan guru sebagai model pembelajaran yang mampu meningkatkan kualitas proses dan hasil pada pembelajaran menulis argumentasi. Model pembelajaran ini dapat melatih siswa untuk aktif, berpikir kreatif dan logis, melatih bekerja sama dalam kelompok serta meningkatkan kualitas tulisan mereka.
3. Implikasi Praktis
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi pendidik dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil pada pembelajaran bahasa Indonesia khususnya pada kompetensi dasar menulis argumentasi. Guru dapat memilih model yang lebih efektif dan efisien yaitu dengan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah sebagai alternatif untuk mengajar materi
xcix
menulis argumentasi. Pemilihan model mengajar yang tepat akan meningkatkan prestasi belajar bahasa Indonesia.
I. Saran
Berdasarkan hasil penelitian, kesimpulan dan implikasi yang telah diuraikan di atas, dalam usaha meningkatkan kemampuan menulis argumentasi siswa kelas X SMA Negeri 4 Surakarta, diajukan saran-saran sebagai berikut. 1. Guru bidang studi bahasa Indonesia sebaiknya menerapkan model
pembelajaran berbasis masalah dalam kegiatan belajar mengajar, khususnya pengajaran menulis argumentasi. Model pembelajaran berbasis masalah merupakan pendekatan yang efektif dibandingkan model konvensional dalam pembelajaran menulis argumentasi.
2. Siswa sebaiknya memahami bahwa menulis merupakan proses pembelajaran, maka ia harus memahami fase-fase menulis dengan baik sehingga dalam pembelajaran menulis mereka mampu menghasilkan tulisan yang baik. Selain itu, hendaknya siswa membiasakan diri untuk berpikir kritis dan tidak perlu takut untuk mengemukakan ide untuk menciptakan tulisan yang berkualitas. 3. Para pimpinan sekolah, khususnya Kepala SMA Negeri 4 Surakarta sebaiknya
menyediakan fasilitas yang memadai bagi para guru untuk dapat menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dalam kegiatan belajar mengajar.
4. Dinas Pendidikan sebaiknya memperhatikan kebutuhan sekolah terutama dalam peningkatan mutu pendidikan melalui penyediaan sarana prasarana yang memadai sehingga model pembelajaran berbasis masalah yang diterapkan dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya.
5. Para peneliti dapat mengadakan penelitian lebih lanjut guna menemukan aspek-aspek yang dapat mengembangkan kemampuan menulis siswa khususnya menulis argumentasi. Selain itu, para peneliti juga dapat melanjutkan penelitian ini dengan meninjau kembali variabel model pembelajaran berbasis masalah dan tingkat inteligensi siswa lebih lanjut atau
c
variabel bebas yang lain sehingga diperoleh hasil penelitian yang lebih lengkap dan baik.
ci
DAFTAR PUSTAKA
Airmansyah. 2009. ”Problematika Keterampilan Menulis dalam Pengajaran Bahasa Indonesia di SMP”. Jurnal Pendidikan Inovatif. Jilid 4 Nomor 2 Maret 2009 Halaman 88-91.
Al Amin. 2009. ”Razia Gepeng: Puluhan Gepeng yang Berkeliaran di Seputar Kota Medan Diangkat Petugas Satpol PP Medan dalam Operasi Ramadhan Tertib”. Dalam http://www.sumutcyber.com/?open =view&newsid=6677 &cat=14&pid=1. Diakses pada tanggal 9 Februari 2010.
Antara News. 2009. ”Belasan Pengemis Berontak Saat Dibawa Satpol PP”. Dalam
http://www.antaranews.com/berita/1251829642/belasan-pengemis-berontak-saat-dibawa-satpol-pp. Diakses pada tanggal 9 Februari 2010.
Atar Semi. 1990. Menulis Efektif. Padang : Angkasa Raya.
Aswi. 2006. ”Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Mutu Proses dan Hasil Belajar pada Siswa Kelas II SMA”. Jurnal Penelitian Pendidikan INSANI . Volume 7 Nomor 2 Desember 2006 Halaman 120-123.
Arends, Richards I. 1997. Classroom Instruction and Management. New York : Mc. Graw-Hill Companis Inc.
______. 2001. Learning to Teach. New York : Mc. Graw – Hill Companies Inc. Ary, Donald, dkk. 1982. Pengantar Penelitian Sosial dan Pendidikan (terjemahan
Arief Furchan). Surabaya : Usaha Nasional.
Boud, David & Feletti, Grahame I. 1997. Changing Problem-based Learning. Introduction to the Second Edition. London : Kogan Page Limited.
Burhan Nurgiyantoro. 2001. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta : PT BPFE.
Dadot. 2009. ”Menyusun Paragraf Argumentatif”. Dalam http://24bit.wordpress. com/2009/09/09/menyusun-paragraf-argumentatif/. Diakses tanggal 11 Oktober 2009.
Dewa Ketut Sukardi. 2003. Analisis Tes Psikologis : Dalam Penyelenggaraan Bimbingan di Sekolah. Jakarta : Rineka Cipta.
Didiek Yulianto dan Rahajeng Arum. 2009. “25 Gepeng ”Ngelem” Kena Razia”. Dalam http://www.beritabaru.com/index.php?option=com_content&view
cii
=article&id=5265:25-gepeng-qngelemq-kena-razia&catid=53:berita peristiwa&Itemid=58. Diakses pada tanggal 9 Februari 2010.
Duch, Barbara J., Groh, Susan E., & Allen, Deborah E. 2001. The Power of Problem-based Learning : A Practical “How to” for Teaching Undergraduate Course in Any Discipline. USA : Stylus Publishing.
Enco Mulyasa. 2005. Menjadi Guru Profesional : Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Engel, Charles E. 1997. Not Just a Method but a Way of Learning. London : Kogan Page Limited.
Ezra M. Choesin. 2004. Karya Tulis Ilmiah Sosial : Menyiapkan, Menulis dan Mencermatinya - Menyusun Struktur Argumen. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
Furqon Hidayatullah. 2009. Guru Sejati : Pembangun Insan Berkarakter Kuat dan Cerdas. Surakarta : Yuma Pustaka.
Forum Bebas Indonesia. 2005. ”Waspadai Adanya Makanan Berformalin di Pasaran”. Dalam http://www.forumbebas.com/thread-907.html. Diakses pada tanggal 9 Februari 2010.
Gorys Keraf. 1985. Argumentasi dan Narasi: Komposisi Lanjutan III. Jakarta : PT Gramedia.
Haris Mudjiman. 2006. Belajar Mandiri (Self – Motivated Learning). Surakarta. LPP UNS dan UNS Press.
Harry Alder. 2001. Boost Your Intelligence:Pacu EQ dan IQ Anda. Jakarta : Erlangga.
Henry Guntur Tarigan. 1993. Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa.
Hoerr, Thomas R. 2007. Buku Kerja Multiple Intelligences. Bandung : Kaifa. Indah Anisykurlillah. 2008. ”Penerapan Metode Problem-Based Learning (PBL)
pada Mata Kuliah Auditing II untuk Peningkatan Pemahaman Mahasiswa terhadap Kekeliruan dan Kecurangan Audit”. Jurnal Penelitian Pendidikan UNNES. Volume 25 Nomor 2 Tahun 2008 Halaman 119-123.
Isa Muhammad Said. 2008. ”Problem Based Learning: Suatu Model Pembelajaran untuk Mengembangkan dan Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah”. Dalam
http://n2.nabble.com/Problem-Based-Learning-Suatu-ciii
Model-Pembelajaran-untuk -Mengembangkan-dan-Meningkatkan-Kemampuan-Memech-td2746650.html. Diakses tanggal 1 Januari 2010.
Jos Daniel Parera. 1993. Menulis Tertib dan Sistematik. Jakarta : Erlangga.
Lakhsmi. 2008. ”Bengkel Menulis : Mengoposisi Serangan Argumentasi”. Dalam
http://sepocikopi.com/2008/10/24/bengkel-menulis-mengoposisi-dalam-serangan-argumentasi/. Diakses tanggal 11 Oktober 2009.
Max, Melvin H. 1976. Introduction to Psychology : Term, Procedures, and Principles. Columbia.
Ngalim Purwanto. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Oemar Hamalik. 1992. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung : Sinar Baru. Para Promotor KPKC. 2002. ”Pemanasan Global dan Perubahan Iklim”. Dalam
http://www.ofm-jpic.org/globalwarming/pdf/indonesian.pdf. Diakses pada tanggal 9 Februari 2010.
Parkay, Forest W. & Stanford, Beverly H. 2008. Menjadi Seorang Guru (Terjemahan). Jakarta : PT Indeks.
Purwoto. 2000. Strategi Belajar Mengajar. Surakarta: UNS Press.
Riki Fajri. 2009. ”Pengaruh Borak Formalin pada Makanan”. Dalam
http://rikifajri.blogspot.com/2009/11/pengaruh-borak-formalin-pada-makanan.html. Diakses pada tanggal 9 Februari 2010.
Rosyid. 2008. ”Skripsi : Peningkatan Keterampilan Menulis Paragraf Deskripsi Dengan Teknik Objek Langsung Melalui Pendekatan Kontekstual Komponen Pemodelan Pada Siswa Kelas X Mesin 3 SMK Tunas Harapan Pati Kabupaten Pati Tahun Pelajaran 2008/2009”. Dalam
http://www.bankskripsi.com. Diakses tanggal 9 Oktober 2009.
Sabarti Akhadiyah, dkk. 1996. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta : Erlangga.
Samal Soni. 2007. ”Skripsi : Peningkatan Keterampilan Menulis Paragraf Melalui Penerapan Kegiatan Menulis Jurnal dan Pemanfaatannya untuk Penilaian Autematik Pada Siswa Kelas II SMP Negeri 1 Andolo Kabupaten Konawe Selatan”. Dalam http://www.imansofyani.co.cc/Penelitian/ptk. Diakses tanggal 16 Oktober 2009.
civ
Siti Maslakhah. 2005. ”Menulis Tidak Semudah Membaca : Seputar Keluhan Mahasiswa terhadap Penulisan Karya Ilmiah”. Dalam Menuju Budaya Menulis Suatu Bunga Rampai. Yogyakarta : Tiara Wacana.
Soedjadi, R. 2000. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia. Jakarta : DEPDIKNAS.
Suara Merdeka. 2008. ”12 PGOT Terjaring Razia Satpol PP”. Dalam
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2008/09/11/30237/12-PGOT-Terjaring-Razia-Satpol-PP-. Diakses pada tanggal 9 Februari 2010.
Sudi Prayitno. 2006. ”Model Pembelajaran Berdasar Masalah untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar pada Perkuliahan Teori Peluang”. Jurnal Kependidikan Lembaga Penelitian UNY. Nomor 2 Tahun XXXVI November 2006 Halaman 127-131.
Sudjana. 2002. Metoda Statistika. Bandung : Tarsito.
Sugiyanto. 2009. Model-model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Mata Padi Presindo.
Sumadi Suryabrata. 1997. Metodologi Penelitian. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Sumanto. 1995. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan. Yogyakarta: Andi Offset.
Syamsu Yusuf. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
The Liang Gie. 1992. Pengantar Dunia Karang Mengarang. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta.
Tulus Winarsunu. 2002. Statistik dalam Penelitian Psikologi Pendidikan. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang Press.
Widodo Judarwanto. 2010. “Demo 100 hari SBY, Tidak Fokus dan Tidak Cerdas”. Dalam http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id= 16321&post=1. Diakses pada tanggal 9 Februari 2010.
Wikipedia. 2010. ”Pemanasan Global”. Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/ Pemanasan_global#Dampak_pemanasan_global. Diakses pada tanggal 9 Februari 2010.
Wina Sanjaya. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta : Kencana.