BAB II : LANDASAN TEORI
D. Keterhubungan manusia pada alam, Self-compassion dan Mahasiswa
Keterhubungan manusia pada alam dan self-compassion mempunyai beberapa keterkaitan. Mayer & Frants (2004) menemukan bahwa semakin kuat rasa keterhubungan manusia dengan alam, maka semakin urung manusia
melukai alam (merusak) karena dengan melukai alam dia melukai dirinya sendiri. Boleh dikata melukai diri sendiri (perasaan maupun fisik) sama halnya melukai alam karena manusia juga bagian yang terintegrasi dengan alam. Maka seorang individu akan cenderung memperlakukan diri dengan baik dan penuh kasih sayang terhadap diri sendiri. Sikap yang demikian merupakan salah satu dari komponen yang membentuk self-compassion yaitu self-kindness (kebaikan pada diri). Self-kindness merupakan sikap memperlakukan diri dengan kasih sayang tanpa menghakimi, mencerca diri dan menyakiti diri sendiri (Neff 2003a; 2003b).
Dalam prosesnya sikap yang demikian berlaku juga pada orang lain mengingat bahwa orang lain juga manusia yang merupakan bagian terintegrasi dengan alam. Bentuk kesadaran ini akan membawa individu pada sudut pandang yang lebih luas dan positif terhadap orang lain (Mayer & Frants, 2004). Individu akan menyadari bahwa semua manusia di dunia ini kurang lebih sama. Seorang individu akan cenderung melihat bahwa bukan hanya dirinya yang mengalami pengalaman hidup yang negatif, orang lain pun mengalami keadaan yang kurang lebih sama sehingga, seseorang tidak merasa sendiri. Sikap demikian disebut oleh Neff (2003a,. 2003b) sebagai common humanity (rasa kemanusiaan). Neff (2003a., 2003b) menjelaskan common humanity dipahami sebagai bentuk kesadaran bahwa pengalaman diri (negatif maupun positif) merupakan bagian kecil dari pengalaman seluruh umat manusia sehingga individu tidak merasa terisolasi dan tidak menghakimi orang lain karena orang juga mengalami hal yang sama.
Komponen terakhir adalah mindfulness. Minfulness merupakan bentuk kesadaran dan keterbukaan bahwa diri mengalami penderitaan tanpa adanya penyangkalan ataupun penolakan (Neff 2003a; 2003b). Keterhubungan yang intim dengan alam berdampak akan adanya pendirian akan tujuan hidup dan penerimaan diri (Nisbet, Zelenski, & Murphy, 2011). Ketika berada di alam seseorang akan lebih tenang dalam memahami pengalaman hidup yang tidak menyenangkan, memberikan perasaan diperbaharui, dan dipenuhi (Mayer, Frantz, Bruelman & Dolliver 2009; Martyn dan Brymer 2014 ). Munculnya kesadaran sebagai manusia berimplikasi pada rendahnya tingkat kecemasan individu. Dalam penelitiannya Martyn dan Brymer (2014) menjelaskan, mereka yang mendapatkan nilai tinggi dalam skala keterhubungan manusia pada alam menceritakan bahwa alam membuat mereka menyadari keutuhan dirinya, karena alam menerima manusia sebagai adanya. Adanya kesadaran akan penerimaan diri dan keutuhan diri, dampak pada kemampuan reflektif dan ketenangan dalam memahami pengalaman hidup yang tidak menyenangkan akan membuat seseorang menjadi lebih terbuka bahwa diri mengalami penderitaan tanpa adanya penyangkalan atau penolakan. Kesadaran akan penderitaan dalam hidup membawa individu termaksud tetap mengalami tanpa hanyut di dalamnya (Leary, Tate, Adams, Allen, & Hancock, 2007).
Germer & Neff (2013) menyatakan bahwa individu dengan self- compassion yang tinggi mampu menerima dirinya, mampu menjalin intimitas dengan sesama, mengakui bahwa penderitaan, kesalahan, dan kekurangan
yang merupakan bagian dari kehidupan manusia. Keadaan ini akan menciptakan resiliensi emosi dan membawa diri pada kesejahteraan diri yang terus dikembangkan.
Self-compassion dapat dibentuk dengan berbagai cara, salah satunya dengan mindfull self-compassion program (MSC) (Germer & Neff, 2011). Dalam program ini peserta diajak melakukan refleksi dan meditasi. Refleksi dapat dijadikan cara untuk meningkatkan self-compassion. Moon (dalam Leijen, Lam, Robert, Simons, Wildschut 2008) menerjemahkan Refleksi sebagai proses kognitif untuk belajar dari pengalaman. Postholm (dalam Clara, 2015) menjelaskan refleksi adalah sikap untuk melihat dengan cara dan sudut pandang yang lain demi menuju cara untuk berkembang. Dewey (dalam Clara, 2015) menjelaskan Refleksi berfungsi untuk mengubah situasi konflik dan membingungkan, menjadi situasi yang lebih jelas, masuk akal, mantap, dan harmonis. Situasi dalam konteks ini diterjemahkan sebagai suatu peristiwa dengan objek yang banyak dimana seseorang tidak menghakimi objek dalam peristiwa tersebut dan tidak merasa terisolasi akan tetapi berhubungan dengan keseluruhan dengan peristiwa. Dengan demikian maka bukti bahwa keterhubungan manusia pada alam memiliki keterkaitan dengan terbentuknya self-compassion karena ketika berada di alam seseorang akan lebih tenang dalam memahami pengalaman hidup yang tidak menyenangkan. Kondisi tersebut berdampak pada kemampuan reflektif individu (Mayer, Frantz, Bruelman & Dolliver (2009). Oleh karena alasan ini maka penelitian ini penting untuk dilakukan mengingat menurut penelitian sebelumnya self-
compassion pada mahasiswa psikologi Universitas Sanata Dharma cenderung rendah. Oleh karena itu perlu dicari bukti-bukti untuk membentuk self- compassion, salah satunya keterhubungan manusia pada alam yang dimungkinkan ada kaitan dengan self-compassion.
Literatur menunjukkan bahwa self-compassion yang terus dikembangkan akan membantu mahasiswa psikologi Universitas Sanata Dharma untuk menjadi seorang professional helper. Mahasiswa psikologi Universitas Sanata Dharma diharapkan mampu menjalin relasi yang baik dengan klien dengan cara berusaha bersikap professional, penuh empati, berusaha memahami klien secara pribadi, menghargai dan mengutamakan kesejahteraan klien serta memiliki kemauan untuk menolong klien (Buku Pedoman Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma, 2009) secara sederhana salah satu kunci menjadi seorang professional helper adalah compassion.
Memberikan compassion kepada orang lain tetapi tidak terhadap diri, seolah-olah menggambar pemisah antara diri dan orang lain, dan mengingkari keterkaitan utama dari individu (Hahn, 1997 dalam Neff & Pommier 2012). Dari perspektif psikologi Buddhis, membangun kapasitas untuk bertahan dalam penderitaan dengan kesadaran penuh belas kasih akan memfasilitasi munculnya kemampuan untuk menyampaikan kasih ke beberapa sasaran yaitu diri, orang lain, dan semua makhluk hidup (Hofmann, Grossman & Hinton, 2011). Oleh karena itu dengan self-compassion yang terus
dikembangkan maka harapan untuk menjadi professional helper akan terwujud
Penelusuran pada penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa dampak positif keterhubungan manusia pada alam memiliki andil untuk membentuk self-compassion maka peneliti berasumsi bahwa ada hubungan positif antara keterhubungan manusia pada alam dengan self-compassion. Akan tetapi asumsi ini masih belum terbukti maka perlu dilakukan pembuktian dengan melakukan penelitian mengenai korelasi keterhubungan manusia pada alam dengan self-compassion.