• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

D. Keterkaitan antar Variabel dan Hipotesis

1. Pengaruh antara Financing to Deposit Ratio terhadap Tingkat Bagi Hasil Deposito Mudharabah

Berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia No.12/11/DPNP/2010 mendefinisikan Financing to Deposit Ratio sebagai rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank syariah dalam memenuhi kebutuhan jangka pendek yang perhitungannya dilakukan dengan membandingkan jumlah pembiayaan yang diberikan kepada masyarakat dengan jumlah dana pihak ketiga. Financing to Deposit Ratio merupakan rasio keuangan yang mencerminkan kemampuan likuiditas bank syariah (Permatasari, 2018). Semakin tinggi rasio likuiditas dari bank syariah mengindikasikan bank syariah telah menjalankan fungsi sebagai lembaga intermediary dengan optimal. Semakin baik kualitas pendistribusian dana yang diberikan ke masyarakat, maka semakin besar pula tingkat pengembalian yang akan di terima bank syariah (Haruniang & Suprayogi, 2015).

Dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Arfiani dan Mulazid pada 2017 menunjukkan bahwa variabel Financing to Deposit Ratio berpengaruh signifikan terhadap tingkat bagi hasil mudharabah pada bank syariah Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Sabtatianto dan Yusuf pada 2018 menunjukkan bahwa variabel FDR tidak berpengaruh terhadap tingkat bagi hasil bank syariah. Semakin tinggi dana yang didistribusikan ke masyarakat dengan tepat, maka akan membuka peluang yang cukup

besar bagi bank syariah untuk menerima pendapatan yang lebih besar. Meningkatnya jumlah pendapatan bank syariah akan berdampak pada meningkatnya tingkat bagi hasil atau pengembalian yang akan diterima nasabah. Namun dengan semakin meningkatnya Financing to Deposit Ratio pada bank syariah menunjukkan kemampuan likuiditas bank tersebut menurun dikarenakan dana yang ada dalam bank syariah banyak dialokasikan untuk pembiayaan, sedangkan Financing to Deposit Ratio yang rendah menunjukkan kemampuan likuiditas bank syariah tersebut baik (Somantri & Sukmana, 2019). Untuk itu, bank syariah harus cermat dalam melakukan analisa pembiayaan terhadap calon debiturnya.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Financing to Deposit Ratio merupakan rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur kemampuan likuiditas suatu bank. Berdasarkan penjelasan diatas Financing to Deposit Ratio memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

H0 : Financing to Deposit Ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah.

H1 : Financing to Deposit Ratio berpengaruh signifikan terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah.

2. Pengaruh antara Non Performing Financing terhadap Tingkat Bagi Hasil Deposito Mudharabah

Dalam Surat Edaran Bank Indonesia No.9/24/DPbs/tahun 2007 dijelaskan bahwa Non Performing Financing digunakan oleh bank syariah untuk mengukur besaran pembiayaan bermasalah yang dihadapi bank syariah. Semakin tinggi rasio Non Performing Financing, menunjukkan kualitas pembiayaan yang diberikan oleh bank syariah semakin buruk. Non Performing Financing merupakan pembiayaan yang mengalami kesulitan pelunasan disebabkan oleh faktor kesengajaan maupun suatu kejadian yang terjadi diluar ekspektasi nasabah (Arfiani & Mulazid, 2017).

Dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Arfiani dan Mulazid pada 2017 menunjukkan bahwa variabel NPF secara parsial berpengaruh signifikan terhadap tingkat bagi hasil mudharabah pada bank syariah. Semakin tinggi rasio Non Performing Financing akan menyebabkan pendapatan yang diterima bank syariah menurun yang mengakibatkan pengembalian yang akan diterima deposan menurun. Sebaliknya, semakin rendah rasio Non Performing Financing akan menyebabkan pendapatan yang diterima bank syariah meningkat yang mengakibatkan pengembalian yang akan diterima deposan meningkat. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Nofianti, et al pada 2015, menunjukkan bahwa variabel Non Performing Financing tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat bagi hasil bank syariah.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Non Performing Financing merupakan rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur tingkat pembiayaan bermasalah pada suatu bank. Berdasarkan penjelasan diatas Non Performing Financing memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

H0 : Non Performing Financing tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah.

H1 : Non Performing Financing berpengaruh signifikan terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah.

3. Pengaruh antara Beban Operasional dan Pendapatan Operasional terhadap Tingkat Bagi Hasil Deposito Mudharabah

Rasio BOPO merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank syariah dalam mengendalikan pendapatan operasional dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan secara tepat. Rasio BOPO digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen dalam memakimalkan sumber daya yang dimiliki secara efektif dan efisien (Umuri et al., 2018). Dari penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Permatasari pada 2018 menunjukkan bahwa variabel BOPO berpengaruh signifikan terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Beban Operasional dan Pendapatan Operasional merupakan rasio keuangan yang digunakan

untuk mengukur tingkat efisiensi pada suatu bank. Berdasarkan penjelasan diatas Beban Operasional dan Pendapatan Operasional memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah: H0 : Beban Operasional dan Pendapatan Operasional tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah.

H1 : Beban Operasional dan Pendapatan Operasional berpengaruh signifikan terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah

4. Pengaruh antara Suku Bunga Bank Indonesia terhadap Tingkat Bagi Hasil Deposito Mudharabah

Menurut Kamus Bank Indonesia, BI Rate adalah suku bunga

kebijakan yang mencerminkan sikap atau stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan diumumkan kepada publik. BI Rate diumumkan oleh Dewan Gubernur Bank Indonesia setiap Rapat Dewan Gubernur bulanan. BI Rate diimplementasikan dalam operasi moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia melalui pengelolaan likuiditas di pasar uang guna mencapai sasaran profesional moneter (BI.go.id, 2016).

Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Halimatussa’idah dan Septiarini pada 2019 menunjukkan bahwa variabel suku bunga berpengaruh signifikan terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Permatasari pada 2018 menunjukkan bahwa variabel suku bunga tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa suku bunga Bank Indonesia merupakan faktor eksternal bank yang digunakan sebagai acuan suku bunga bank. Berdasarkan penjelasan diatas suku bunga Bank Indonesia memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah

H0 : Suku Bunga Bank Indonesia tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah.

H1 : Suku Bunga Bank Indonesia berpengaruh signifikan terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah.

5. Pengaruh antara Inflasi terhadap Tingkat Bagi Hasil Deposito Mudharabah

Inflasi merupakan keadaan perekonomian yang ditandai dengan meningkatnya harga barang dan jasa secara keseluruhan dan memberi dampak pada menurunnya daya beli masyarakat dan menurunnya tingkat investasi masyarakat (Halimatussa’idah & Septiarini, 2019). Terjadinya kenaikan angka inflasi akan memaksa Bank Indonesia untuk menekan laju inflasi. Untuk menekan laju inflasi, kebijakan yang dapat diambil oleh Bank Indonesia adalah dengan menaikan tingkat suku bunga Bank Indonesia. Apabila tingkat suku bunga Bank Indonesia naik, maka tingkat suku bunga pada bank konvensional meningkat pula. Hal ini menjadikan masyarakat yang memiliki kelebihan dana untuk menginvestasikan dana tersebut ke

bank konvensional dan memungkinkan nasabah bank syariah beralih ke bank konvensional. Untuk tetap mempertahankan nasabah yang dimiliki, bank syariah dapat mengambil langkah untuk menaikkan pula tingkat bagi hasil bank syariah. Jadi dapat disimpulkan untuk mempertahankan nasabah yang dimiliki bank syariah, tingkat bagi hasil yang akan diberikan nasabah dapat menyesuaikan dengan inflasi yang terjadi di suatu negara.

Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Halimatussa’idah dan Septiarini pada 2019 menunjukkan bahwa variabel inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat bagi hasil deposito bank syariah. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Arfiani dan Mulazid pada 2017 menunjukkan bahwa variabel inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat bagi hasil deposito bank syariah. H0 : Inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah.

H1 : Inflasi berpengaruh signifikan terhadap tingkat bagi hasil deposito mudharabah.

Dokumen terkait