• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

J. Keterkaitan Antar Variabel

1. Tingkat Pengetahuan Wajib Pajak Terhadap Kemauan Wajib Pajak Dalam Penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan.

Menurut Widayati dan Nurlis (2010:6), beberapa indikator bahwa Wajib Pajak (WP) mengetahui dan memahami peraturan perpajakan yang berpengaruh terhadap kemauan Wajib Pajak yaitu, a) kepemilikan NPWP, b) pengetahuan dan pemahaman mengenai hak dan kewajiban sebagai Wajib Pajak, c) pengetahuan dan pemahaman mengenai sanksi perpajakan, d) pengetahuan dan pemahaman mengenai PTKP, PKP dan tarif pajak, e) Wajib

55 Pajak (WP) mengetahui dan memahami peraturan perpajakan melalui sosialisasi yang dilakukan oleh KPP, f) bahwa Wajib Pajak (WP) mengetahui dan memahami peraturan pajak melalui training perpajakan yang mereka ikuti.

Menurut Supriyati dan Nur Hidayati (2007:48), bertambahnya wawasan Wajib Pajak (WP) mampu memberikan kesadaran akan pentingnya pajak bagi mereka, masyarakat dan negara. Tingginya tingkat pengetahuan akan mendorong pribadi Wajib Pajak (WP) dalam menjalankan kewajibannnya sehingga timbul rasa suka rela yang akan menyebabkan kemauan membayar pajak dan menyampaikan SPT sesuai dengan ketentuan perpajakan.

2. Sanksi Dalam Perpajakan Terhadap Kemauan Wajib Pajak Dalam Penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan

Menurut Waluyo (2008:30), sebagaimana diatur dalam pasal 39 Undang-Undang No. 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan bahwa bagi Wajib Pajak dengan sengaja tidak mendaftarkan diri, atau menyalah gunakan atau menggunakan hak tanpa NPWP, tidak manyampaikan Surat Pemberitahuan, sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara, diancam dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali dan paling tinggi 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar.

56 Menurut Dominicus Doli dan M. Khoiru Rusydi (2009:25), variabel sanksi-sanksi dalam perpajakan memilki dua item, yaitu sanksi atas keterlambata/ kealpaan dalam menyampaikan SPT, dan denda Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah) untuk Wajib Pajak yang terlambat/ alpha dalam menyampaikan SPT Tahunan. Kedua masalah sanksi tersebut mampu meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak (WP) dalam menyampaikan SPT Tahunan. Wajib Pajak (WP) akan patuh (karena tekanan) karena mereka berfikir adanya sanksi berat akibat ilegal dalam usahanya untuk menyelundupkan pajak. Dengan meningkatnya kepatuhan maka akan menumbuhkan rasa kemauan Wajib Pajak (WP) terhadap penyampaian SPT. 3. Kemudahan Dalam Proses Pengisian Surat Pemberitahuan (SPT) Terhadap

Kemauan Wajib Pajak Dalam Penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan

Menurut Dominicus Doli dan M. Khoiru Rusydi (2009:25), kemudahan dalam proses pengisian SPT dapat dilihat dari formulir SPT yang ada saat ini. Akan lebih mudah bagi Wajib Pajak untuk mengisi SPT dengan format yang lebih sederhana. Semua harus dibuat sesederhana mungkin, tapi bukan disederhanakan.

Penyederhanaan yang terdiri dari Induk SPT, 6 (enam) lampiran umum dan 7 (tujuh) lampiran khusus, membuat SPT tersebut membutuhkan buku petunjuk yang mudah dipahami dan dimengerti oleh Wajib Pajak. Setelah SPT sudah diisi dengan benar, masih terdapat opsi dalam hal penyampaian SPT tersebut, yaitu melalui e-SPT. Dengan adanya e-SPT,

57 Wajib Pajak dapat manyampaikan SPT-nya secara online, tanpa harus datang langsung ke Kantor Pelayanan Pajak.

Variabel kemudahan dalam pengisian SPT memiliki tiga item, yaitu formulir SPT yang sudah sederhana, petunjuk/ buku petunjuk yang mudah dimengerti, dan e-SPT yang sangat membantu Wajib Pajak, yang berpengaruh terhadap kemauan Wajib Pajak (WP) terhadap penyampaian SPT.

4. Tingkat Kesadaran Yang Dimilki Oleh Wajib Pajak Terhadap Kemauan Wajib Pajak Dalam Penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan

Menurut Dominicus Doli dan M. Khoiru Rusydi (2009:26), penyampaian SPT yang dilakukan tanpa merasa terpaksa melainkan didorong oleh pengetahuan akan pentingnya pajak untuk membiayai pembangunan merupakan indikator dari pola kepatuhan Wajib Pajak. Kesadaran merupakan hal penting agar pembayaran (pajak) bisa lancar tanpa perlu pemaksaan.

Menurut Sri Astuti dan Rini (2008:12), kesadaran perpajakan adalah suatu sikap sadar terhadap fungsi pajak yang mnimbulkan konsekuensi untuk membayar pajaknya secara tepat waktu dan tepat jumlah.

Variabel tingkat kesadaran yang dimiliki Wajib Pajak ada dua item, yaitu penyampaian SPT yang dilakukan tanpa merasa terpaksa, dan penyampaian SPT yang didorong oleh pengetahuan akan pentingnya pajak untuk membiayai pembangunan, yang akan berdampak kepada kemauan Wajib Pajak terhadap penyampaian SPT.

58 5. Sunset Policy Terhadap Kemauan Wajib Pajak Dalam Penyampaian Surat

Pemberitahuan (SPT) Tahunan

Menurut Tatian Ratung dan Priyo Hari Adi (2009:2), salah satu kebijakan tarbaru pemerintah dalam perpajakan adalah pelaksanaan program

Sunset Policy. Program menekankan pada aspek penghapusan sanksi administrasi pajak dan diharapkan hal ini dapat mendorong Wajib Pajak untuk memenuhi kewajiban perpajakannya dengan benar. Penghapusan sanksi administrasi dalam program Sunset Policy adalah penghapusan sanksi administrasi terhadap Wajib Pajak yang belum memilki NPWP, penyampaian dan pembetulan SPT yang salah, dan penghapusan sanksi administrasi atas kurang bayar pajak.

Menurut Tatian Ratung dan Priyo Hari Adi (2009:14), pengampunan pajak selalu mempengaruhi kepatuhan pajak (tax compliance) oleh Wajib Pajak dimana kemauan membayar pajak termasuk didalamnya.

Variabel Sunset Policy memiliki dua item, yaitu Wajib Pajak agar memenuhi kewajiban perpajakannya secara jujur pada masa yang akan datang, dan sanksi pajak dipandang dapat dilaksanakan secara adil, logis, konsisten, dan dapat menjangkau para pelanggar.

6. Persepsi Yang Baik Atas Efektifitas Sistem Perpajakan Terhadap Kemauan Wajib Pajak Dalam Penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan

Menurut Philip Kottler dalam Trianah Agustinah (2009:9), persepsi merupakan proses seseorang individu memilih, mengorganisir, menafsirkan masukan-masukan informasi untuk menciptakan sebuah gambaran yang bermakna tentang dunia.

59 Trianah Agustinah (2009:9), bahwa persepsi merupakan aktivitas seorang yang sekaligus juga makhluk individual dengan cara mengindera, mengintegrasikan, dan memberikan penilaian terhadap obyek-obyek fisik maupun obyek sosial yang dapat bersifat positif atau negatif, senang atau tidak senang, yang dapat memotivasi perilaku individual menjadi positif atau tidak.

Persepsi seseorang sangat berperan penting dalam mendorong kemauan yang timbul dalam dirinya dalam melaksanakan sesuatu (kewajibannya).

7. Sistem Monitoring Pelaporan Pembayaran Pajak (MP3) Terhadap Kemauan Wajib Pajak Dalam Penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan

Menurut Mienati Somya Lasmana dan I Made Narsa (2005:145), upaya pemerintah dalam meningkatkan tingkat kepatuhan dan kesadaran Wajib Pajak (WP) melalui penerapan sistem Monitoring Pelaporan Pembayaran Pajak (MP3), tampaknya harus dibarengi dengan upaya yang lain. Pasal 29 ayat (1) UU No.16 Tahun 2000 KUP telah mengisyaratkan bahwa DJP berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan per Undang-Undang.

Fungsi pengawasan untuk penegakan hukum melalui pemeriksaan

bertujuan untuk mencapai “Full Voluntary Compliance” yaitu sebuah kepatuhan yang tulus ikhlas/ sukarela dari Waji Pajak yang akan menimbulkan kemaun Wajib Pajak (WP) dalam menjalankan kewajiban

60 perpajakannya.

Dokumen terkait