• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keterkaitan antarunsur Intrinsik Karya Sastra

Sebuah karya sastra yang baik adalah perwujudan dari sebuah kesatuan atau unitas (Tarigan, 1985: 142). Keterjalinan antarunsur pembentuknya mampu menghadirkan harmoni makna yang menyeluruh sehingga membentuk satu rangkaian cerita yang menarik. Hubungan antarunsur tersebut adalah relasi antara alur, penokohan, dan latar serta sudut pandang yang diikat oleh tema sebagai kerangka dasar pembuatan sebuah karya. Para tokoh yang ada di dalam cerita saling berinteraksi sehingga dapat menggerakkan cerita dan membuat cerita itu menjadi menarik. Peristiwa-peristiwa cerita dimanifestasikan lewat perbuatan, tingkah laku, dan sikap para tokoh (Nurgiyantoro, 2005: 114). Maka dari itu alur tidak dapat dipisahkan dari penokohan.

Adanya latar juga berkaitan dengan penokohan karena latar dapat memberikan gambaran atau perwatakan seorang tokoh berdasarkan tempat dimana dia tinggal. Stanton (melalui Pradopo, 1995: 43) menyatakan bahwa latar

cerita akan mempengaruhi perwatakan, menggambarkan tema, dan mewakili nada atau suasana emosional yang mengelilingi tokoh. Penokohan juga mempunyai relasi yang erat dengan latar. Latar mempunyai tiga aspek yaitu mengenai tempat, hubungan waktu, dan lingkungan tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.

Di sisi lain, sifat-sifat latar juga sering mempengaruhi karakter seorang tokoh, semisal orang yang tinggal di kota pasti akan berbeda wataknya dengan orang yang tinggal di desa. Keterkaitan antarunsur di atas akan menimbulkan kesatuan cerita yang diikat oleh tema. Dengan kata lain, tema cerita merupakan hal pokok yang dapat diketahui berdasarkan perilaku para tokoh, latar, maupun kejadian-kejadian yang dialami para tokoh sehingga dapat diketahui pula makna yang terkandung dalam suatu cerita.

D. Sadisme

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi IV tahun 2008, sadisme

merupakan kekejaman, kebuasan, keganasan, kekasaran : kepuasan seksual yang diperoleh dengan menyakiti orang lain (yang disayang) secara jasmani atau rohani. Secara garis besar Larousse mengemukakan pengertian sadisme dalam kamus Le Petit Larousse Illustré (1967 : 704), yaitu :

Le sadisme est le plaisir à voir souffrir les autres. Perversion dans laquelle la satisfaction sexuelle ne peut être obtenue qu’en infligeant des souffrances physiques, morales du partenaire. (pour Freud, le sadisme est le détournement sur un objet extérieur de la pulsion de mort).

Sadime merupakan kepuasan melihat orang lain menderita. Gangguan jiwa dimana kepuasan seksual hanya dapat dicapai dengan menimbulkan kesakitan fisik, moral pasangan. Bagi Freud, sadisme merupakan penyimpangan terhadap suatu obyek di luar dorongan kematian.

Freud (melalui Semiun, 2006: 82) mengemukakan sadisme adalah insting yang dimanifestasikan bila kenikmatan seksual diperoleh dari menimbulkan rasa sakit atau penghinaan kepada orang lain. Freud menambahkan kalau perbuatan sadis ini dilakukan secara ekstrem, maka sadisme dilihat sebagai perbuatan seksual yang tidak wajar. Namun, sadisme yang tidak berlebihan adalah suatu kebutuhan umum dan dalam batas-batas tertentu ada dalam semua hubungan seksual. Dikatakan tidak wajar bila tujuan seksual dari kenikmatan erotic menjadi sekunder terjhadap tujuan destruktif.

Menurut Erich (2000 : 403-404), ada dua konsep konvensional tentang sifat sadisme, yang terkadang digunakan secara terpisah namun ada kalanya terpadu. Salah satunya diistilahkan dengan “algolagnia” (algos= nyeri, lagneia= nafsu atau keinginan kuat). Dalam konsep ini esensi sadisme dilihat sebagai keinginan untuk menimbulkan rasa nyeri, baik yang ada atau tidak ada, kaitannya dengan seks.

Marcuse (melalui Erich, 2000: 405) menilai sadisme sebagai salah satu ungkapan kebebasan seks manusia. Tulisan-tulisan Marquis de Sade ditanggapi oleh beberapa media masa yang secara politik cukup radikal sebagai manifestasi dari “ kebebasan “ ini. Menurut Sade (melalui Erich, 2000: 405) sadisme merupakan suatu hasrat manusia, dan bahwa kebebasanlah yang menuntut agar manusia memiliki hak untuk melampiaskan hasrat sadistik dan masokistik mereka, seperti juga hak-hak lain, jika ini member kenikmatan bagi mereka.

Menurut Erich (2000 : 416), esensi sadisme adalah hasrat untuk secara mutlak dan tak terbatas menguasai makhluk hidup, baik binatang maupun manusia. Menyakiti atau melecehkan orang dengan sengaja tanpa memberinya kesempatan untuk mempertahankan diri atau menghindar merupakan salah satu wujud penguasaan mutlak , namun ini sama sekali bukan wujud satu-satunya. Seseorang yang memiliki kekuasaan penuh atas makhluk hidup yang dikuasainya itu sebagai benda miliknya atau kekayaannya, sedangkan dia sendiri sebagai dewanya.

Kesadisan merupakan salah satu solusi bagi persoalan makhluk yang terlahir sebagai manusia manakala tidak diperoleh pemecahan lain yang lebih baik. Pengalaman menguasai makhluk lain secara mutlak, selama ada kaitannya dengan manusia dan binatang, mampu menimbulkan ilusi tercapainya batas-batas eksistensial manusia, terutama bagi orang-orang yang kehidupan kesehariannya kurang produktif atau kurang bahagia. Sadisme pada dasarnya tidak memiliki tujuan praktis, ia merupakan perubahan dari rasa tidak berdaya menjadi rasa menguasai secara mutlak; itulah yang dirasakan oleh orang-orang yang berjiwa kerdil (Erich, 2000 : 418).

Terdapat 3 jenis sadisme seperti yang dikemukakan oleh Erich (2000 : 404-410), yaitu :

1. Sadisme seksual

Sadisme seksual bersama masokisme, merupakan salah satu penyimpangan seksual yang sering dan paling dikenal. Bagi kaum pria yang

mengalaminya, penyimpangan ini merupakan syarat untuk melampiaskan dan mendapatkan kepuasan seksual. Bentuknya berkisar dari keinginan menyakiti si wanita, melecehkannya, membelenggunya, sampai dengan memaksa si wanita untuk sepenuhnya tunduk padanya.

2. Sadisme non-seksual (fisik)

Perilaku sadis non-seksual dari yang bertujuan menimbulkan nyeri fisik hingga yang paling ekstrem yaitu menimbulkan kematian, mengambil sasaran makhluk yang tidak berdaya baik manusia maupun binatang, tawanan perang, budak, anak-anak, orang sakit jiwa, narapidana, etnik minoritas, kesemuanya merupakan sasaran empuk sadisme non-seksual (fisik), termasuk di dalamnya penyiksaan yang paling kejam.

3. Sadisme mental

Sadisme mental, keinginan untuk melecehkan dan melukai perasaan orang lain, boleh jadi lebih banyak dijumpai ketimbang sadisme fisik. Jenis serangan sadistik ini jauh lebih aman bagi pelakunya karena yang digunakan hanya kekuatan kata-kata bukannya kekuatan fisik. Akan tetapi sakit psikis atau sakit hati bisa terasa sama atau bahkan lebih menusuk ketimbang sakit fisik. Sadisme mental dapat saja bersarang di balik bermacam tuturan yang tampaknya tidak menyakitkan hati : cecaran pertanyaan atau senyum (sinis), dan pernyataan yang memojokkan. Umumnya jenis sadisme ini akan lebih terasa menyakitkan jika dilakukan di depan orang banyak.

Erich (2000 : 420-421) mengemukakan bahwa sadistik mempunya ciri-ciri sebagai berikut :

1. Bagi orang-orang berkarakter sadis, yang dapat dikuasai adalah sesuatu yang hidup, benda hidup ia jadikan benda mati atau lebih tepatnya makhluk hidup ia jadikan obyek yang ketakutan terhadapnya.

2. Hanya tertarik pada obyek yang tidak berdaya, dia tidak akan tertarik pada binatang atau manusia yang lebih kuat darinya.

3. Orang sadis takut akan segala sesuatu yang tidak pasti yang sulit di duga, karena sesuatu yang demikian ini akan memaksanya bereaksi secara spontan dan apa adanya.

Dokumen terkait