• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. ROAD MAP GRAND DESIGN PENGENDALIAN

4.3. Keterkaitan Grand Design

Road Map Pengendalian Kuantitas Penduduk periode 2010-2015, 2015-2020, 2020-2025, 2025-2030 dan 2030-2035 akan disusun sesuai dengan hasil pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) periode sebelumnya serta dinamika perubahan penyelenggaraan pemerintah.

Gambar 1

Tahapan Pencapaian Sasaran Road Map Tahun 2010 – 2035

Pada periode tahun 2010 sampai dengan 2015, diharapkan jumlah dan laju pertumbuhan penduduk di Maluku mulai terkendali sehingga pada tahun 2030 akan dicapai kondisi penduduk tumbuh

33

seimbang (PTS). Kondisi PTS ini diindikasikan dengan pencapaian sasaran TFR sebesar 2,19 atau NRR sebesar 1.03 per wanita. Pada tahap berikutnya, kondisi PTS ini dapat tetap dipertahankan sampai dengan tahun 2035 sehingga struktur penduduk menjadi terkendali. Angka fertilitas (TFR) tidak dimaksudkan untuk terus menurun menjadi di bawah 2 per wanita karena hal ini akan menyulitkan dikemudian hari seperti dialami di negara-negara maju dengan pertumbuhan penduduk yang minus.

TABEL 2 SASARAN GRAND DESIGN PENGENDALIAN KUANTITAS PENDUDUK MALUKU TAHUN 2010-2035*

*) Sasaran Grand Design Pengendalian Kuantitas Penduduk ini diolah dari berbagai sumber seperti Proyeksi Penduduk tahun 2000-2025 (Bappenas), serta berbagai sumber lainnya seperti Sensus Penduduk 2010, Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDK!) 2007, sasaran MDG’s dansebagainya.

2010 2015 2020 2025 2030 2035 1 PENDUDUK - TOTAL 1.533.506 1.682.979 1.837.821 1.999.271 2.162.978 2.321.499 - LPP 2.80 1.80 1.72 1.64 1.51 1.33 2 FERTILITAS - TFR 3,20 3,08 2,96 2,84 2,72 2.,6 - NRR 1,44 1,39 1,34 1,29 1,24 1,19 - CBR 24,5 23,7 22,9 22,3 21,3 19,8 - CPR 34 73,83 74,81 75,77 76,73 77,69 3 MORTALITAS - IMR 30,1 28,3 26,4 24,5 22,6 20,7 - CDR 5.8 5,7 5,8 5,9 6,2 6,6 - LIFE EXPECTANCY 69,80 70,2 70,8 71,3 71,9 72,4 NO INDIKATOR TAHUN

34

BAB V

P E N U T U P

Penduduk sebagai pelaku dan sasaran pembangunan oleh karena itu di samping sebagai subyek (pelaku) pembangunan, penduduk sekaligus adalah obyek (penikmat) hasil pembangunan. Kebijakan pembangunan pada hakekatnya dimaksudkan untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) yaitu kebijakan pembangunan untuk meningkatkan

kesejahteraan penduduk saat ini, dan sekaligus juga mempertimbangkan kesejahteraan penduduk di masa mendatang. Kebijakan pembangunan untuk meningkatkan taraf hidup penduduk saat ini tidak boleh mengorbankan kesejahteraan penduduk generasi mendatang.

Pembangunan berawawasan kependudukan adalah pembangunan yang mengintegrasikan berbagai variable kependudukan ke dalam proses perencanaan, penanggaran, pengawasan, dan evaluasi pembangunan. Tanpa pengintegrasian ini, pembangunan dapat kehilangan maknanya dan bisa gagal untuk menjadi penduduk sebagai pelaku dan sasaran pembangunan.

Apa kaitan antara pembangunan berwawasan kependudukan dengan pembangunan berkelanjutan? Konsep dasar dari pembangunan secara berkelanjutan adalah pembangunan untuk memenuhi kebutuhan pada masa ini tanpa mengorbankan kebutuhan generasi pada masa yang akan datang.

35

Dalam konsep pembangunan berkelanjutan tersirat makna pentingnya memperhatikan aspek penduduk dalam pelaksanaan pembangunan. Tanpa memperhatikan pengelolaan jumlah penduduk secara baik, jumlah kelahiran akan tinggi dan berdampak pada ketersediaan sumber daya yang terbatas pada jangka panjang. Tanpa kualitas penduduk yang baik dan pembangunan masih mengandalkan pada ekploitasi sumber daya alam secara massif dalam jangka pendek akan menyebabkan pembangunan berkelanjutan sulit terwujud.

Oleh karena itu, pendekatan kependudukan berbeda dari kebijakan yang ada sebelumnya karena beberapa alasan, pertama, kebijakan kependudukan memasukkan aspek reproduksi dan seksualitas manusia sebagai komponen yang tidak dapat dipisahkan dalam pembangunan manusia dan pembangunan berkelanjutan. Kedua, strategi pemberdayaan dan pelayanan kesehatan reproduksi akan melengkapi program pembangunan manusia yang sedang dijalankan sekarang ini. Ketiga, pendekatan ini bersifat inklusif dan partisifatif, memberi suara dan kekuasaan dalam pengambilan keputusan kepada mereka yang berperan dalam reproduksi manusia dan seksualitas.

Karena pentingnya masalah kependudukan ini dalam pembangunan maka pada tahun 2009 telah diterbitkan Undang-Undang Nomor 52 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga. Sebagai tindak lanjut dari terbitnya undang-undang ini, Pemerintah memandang perlu membuat Grand Design

36

Pembangunan Kependudukan yang mencakup lima aspek, yaitu: kuantitas, kualitas, mobilitas, data-base, serta keluarga.

Dari sisi kuantitas, jumlah penduduk Maluku sangat kecil dengan laju pertumbuhan penduduk yang belum sepenuhnya dapat dikendalikan. Hasil sensus penduduk tahun 2010 yang lalu menunjukkan jumlah penduduk Maluku 1.553.506 jiwa dengan laju pertumbuhan yang tinggi. Dengan demikian baik target jumlah penduduk dan laju pertumbuhan tidak dapat dicapai.

Untuk mengatasi masalah tersebut, serta dalam rangka memberikan arah pelaksanaan pengendalian kuantitas penduduk sampai dengan dua puluh lima tahun ke depan, telah disusun Grand Design Pengendalian Kuantitas Penduduk tahun 2010-2035. Diharapkan Grand Design ini dapat memberikan arah kebijakan bagi perencanaan dan pelaksanaan pembangunan kependudukan di bidang pengendalian kuantitas. Di samping itu, Grand Design ini hendaknya menjadi acuan bagi penyusunan "road map" pengendalian kuantitas penduduk dan sekaligus menjadi pedoman bagi kementerian dan lembaga, serta pemerintah daerah dalam perencanaan pembangunan yang berwawasan kependudukan.

Dengan demikian, apa yang tertuang dalam Grand Design Pengendalian Kuantitas Penduduk ini mempunyai keterkaitan yang erat dan menjadi salah satu acuan untuk bidang kependudukan dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah yang dirumuskan setiap lima tahun sesuai tahapan rencana pembangunan.

37

DAFTAR PUSTAKA

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Badan Pusat Statistik (BPS), Proyeksi Penduduk Indonesia (Indonesia Population

Projection) Tahun 2000-2025, Bappenas,- BPS.

Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasioanl 2006, Ringkasan Proyeksi

Penduduk Indonesia 2000-2025 untuk Intern BKKBN

Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas), Badan Pusat Statistik dan United Nations Population Fund. 2005. Proyeksi

Penduduk Indonesia 2000-2025, Jakarta.

Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Kementerian Kesehatan 2008, Survei Demografi

dan Kesehatan Indonesia 2007, Macro Internasional, Maryland.

Badan Pusat Statistik (BPS) 2011, Data Penduduk Indonesia Berdasarkan

Sensus Penduduk2010, diakses melalui internet pada tanggal 04 Juni

2012, http://sp2010.bps.go.id/index.php/site?id=82&wilayah=Maluku Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) 2010,

Rencana Strategis Pembangunan Kependudukan dan KB Tahun

2010-2014 (Renstra) BKKBN, Jakarta.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) 2010,

Survey Indikator Kinerja Rencana Pembangunan Jangka Menengah

Nasional (RPJMN) Program Kependudukan dan KB Nasional

Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Dasar-dasar

38

Puslitbang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi 2009, Survey

Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 Provinsi Maluku

Puslitbang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi 2010, Survey

Indikator Kinerja Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional

Dokumen terkait