Sektor perikanan memiliki nilai DIFL sebesar 1,08 yang berarti bahwa jika terjadi kenaikan permintaan akhir pada sektor perikanan sebanyak Rp.1.000.000,00 akan meningkatkan pasokan input antara secara menyeluruh dalam wilayah Kabupaten Cianjur sebanyak Rp 1.080.000,00. Sektor perikanan memiliki nilai DIFL sebesar 1,08, lebih kecil dibandingkan nilai DIBL sebesar 1,26. Nilai tersebut masih rendah dalam struktur perekonomian di Kabupaten Cianjur dilihat berdasarkan urutan, yaitu urutan 12 untuk DIFL dan urutan ketujuh untuk DIBL. Hal ini berarti bahwa sektor perikanan lebih sedikit digunakan sebagai input oleh sektor lain, dibandingkan dengan menggunakan input dari sektor lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan disajikan pada Gambar 13.
1.00 1.00 1.00 1.00 1.01 1.01 1.03 1.03 1.08 1.09 1.13 1.26 1.33 1.40 1.43 1.46 1.62 1.78 0.0 0.5 1.0 1.5 2.0
Industri Tanpa Migas Usaha Sewa Bangunan dan Jasa …
Pertambangan tanpa migas dan …
Pemerintahan Umum dan Pertahanan Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya Perdagangan Besar dan Eceran Tanaman Bahan Makanan Hotel dan Restoran Air bersih Kehutanan Komunikasi Perikanan Listrik Pengangkutan Jasa Sosial kemasyarakatan serta …
Perkebunan Bangunan/Konstruksi Peternakan
40
Gambar 13 Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan sektor-sektor perekonomian
Derajat kepekaan merupakan hubungan yang terjadi antara input dengan barang jadinya. Sektor yang mempunyai derajat kepekaan tinggi memberikan indikasi bahwa, sektor tersebut mempunyai keterkaitan ke depan atau memiliki daya dorong yang cukup kuat terhadap sektor yang lainnya. Adapun indeks derajat kepekaan memberikan indikasi bahwa, sektor-sektor yang mempunyai indeks derajat kepekaan lebih besar dari 1, berarti derajat kepekaan sektor tersebut di atas rata-rata derajat kepekaan secara keseluruhan.
Daya penyebaran dapat disebut juga sebagai hubungan keterkaitan ke belakang (backward linkage). Pada dasarnya daya penyebaran merupakan hubungan yang terjadi dengan bahan mentah ataupun bahan bakunya. Sektor yang mempunyai daya penyebaran yang tinggi memberikan indikasi bahwa, sektor tersebut mempunyai keterkaitan ke belakang atau memiliki ketergantungan atau kepekaan yang tinggi terhadap sektor yang lainnya. Adapun indeks daya penyebaran yang kuat memberikan indikasi bahwa sektor-sektor yang mempunyai indeks daya penyebaran lebih besar dari 1, berarti daya peyebaran sektor tersebut di atas rata-rata daya penyebaran secara keseluruhan. Sektor tersebut mempunyai keterkaitan ke belakang atau memiliki ketergantungan atau kepekaan yang tinggi terhadap sektor yang lainnya.
1.00 1.02 1.02 1.03 1.03 1.04 1.08 1.09 1.10 1.13 1.16 1.17 1.19 1.25 1.27 1.37 1.48 2.24 0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 Air bersih Kehutanan Pertambangan tanpa migas dan penggalian Listrik Komunikasi Perkebunan Perikanan Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya
Jasa Sosial kemasyarakatan serta jasa …
Pengangkutan Peternakan Hotel dan Restoran Bangunan/Konstruksi Tanaman Bahan Makanan Pemerintahan Umum dan Pertahanan Usaha Sewa Bangunan dan Jasa Perusahaan Industri Tanpa Migas Perdagangan Besar dan Eceran
41
Tabel 12 Pengelompokkam sektor perekonomian di Kabupaten Cianjur berdasarkan nilai IDP dan IDK
IDP>1 IDP<1
I II
- 1 Tanamana Bahan Makanan
7 Industri Non Migas
IDK>1 11 Perdagangan Besar dan Eceran
16 Usaha Sewa Bangunan 17 Pemerintahan Umum Dan
Pertahanan
III IV
2 Perkebunan 4 Kehutanan
3 Peternakan 6 Pertambangan tanpa Migas dan
5 Perikanan Penggalian
IDK<1 8 Listrik 9 Air Bersih
10 Bangunan/ kontruksi 12 Hotel dan Restoran
13 Pengangkutan 14 Komunikasi
18 Jasa sosial kemasyarakatan 15 Bank dan Lembaga Keuangan
Lainnya
Berdasarkan hasil analisis, kelompok IDP dan IDK sektor-sektor perekonomian dibagi menjadi:
1. Kelompok I adalah sektor-sektor yang menpunyai IDP dan IDK diatas rata-rata (>1).
2. Kelompok II adalah sektor-sektor yang mempunyai IDP di bawah rata-rata (<1) dan IDK diatas rata-rata (>1).
3. Kelompok III adalah sektor-sektor yang mempunyai IDP di atas rata-rata (>1) dan IDK di bawah rata-rata (<1).
4. Kelompok II adalah sektor-sektor yang mempunyai IDP dan IDK di bawah rata-rata (<1) ( Dwiastuti 2008).
Pengelompokan sektor-sektor perekonomian Kabupaten Cianjur berdasarkan nilai IDP dan IDK dapat dilihat pada Tabel 12. Dari hasil analisis, sektor perikanan menempati kuadran ketiga dalam pengelompokkan tersebut, karena memiliki nilai IDP lebih besar dari satu dan nilai IDK kurang dari satu. Dilihat dari IDK, sektor perikanan mamiliki kemampuan untuk meningkatkan pertumbuhan sektor hulu (penyedia input) yang terkait langsung maupun tidak langsung kebelakang. Dengan kata lain, sektor perikanan mampu meningkatkan output sektor lainnya sebagai input bagi sektor itu sendiri. Berdasarkan hasil analisis I-O, belum ada sektor yang bisa dijadikan sebagai sektor strategis untuk menigkatkan perekonomian di Kabupaten Cianjur karena belum ada sektor yang memiliki nilai IDK dan IDP lebih besar dari 1.
IDP sektor perikanan memiliki nilai kemampuan diatas rata-rata untuk mendorong pertumbuhan produksi sektor hulu yang digunakan sebagai input untuk sektor perikanan. Sektor perikanan masih kurang memiliki kemempuan untuk mendorong sektor-sektor hilir yang menggunakan output sektor perikanan sebagai input produksinya. Keterkaitan kedepan sektor perikanan hanya dengan sektor perdagangan besar dan eceran dan sektor perikanan itu sendiri. Upaya pengembangan perikanan memerlukan keterkaitan dengan sektor lainnya, baik
42
keterkaitan ke depan maupun ke belakang. Informasi mengenai sektor yang berkaitan dengan sektor perikanan sangat diperlukan. Gambar 14 menyajikan keterkaitan ke belakang sektor perikanan dengan sektor lainnya.
Gambar 14 Keterkaitan ke belakang sektor perikanan dengan sektor lainnya Sektor perikanan memiliki keterkaitan ke belakang yang lebih banyak (11 sektor) dibandingkan dengan keterkaitan ke depan (1 sektor). Keterkaitan ke belakang menunjukkan kegiatan sektor yang menyediakan input bagi sektor perikanan atau kemampuan sektor perikanan untuk menarik sektor-sektor dibelakangnya (sektor hulu). Keterkaitan ke depan menunjukkan kegiatan sektor lain yang menggunakan output dari sektor perikanan atau kemampuan sektor perikanan untuk mendorong sektor yang ada di depannya (sektor hulu). Sektor yang berkembang adalah sektor yang memiliki keterkaitan yang tinggi dengan sektor lainnya baik ke depan maupun ke belakang.
Sektor-sektor yang mempunyai keterkaitan ke belakang dengan perikanan yaitu: (1) Usaha sewa bangunan dan jasa perusahaan (menyediakan wadah budidaya); (2) bank dan lembaga keuangan lainnya (menyediakan permodalan); (3) Pengangkutan (mengangkut sarana produksi perikanan); (4) hotel dan restoran; (5) perdagangan besar dan eceran (menyediakan sarana produksi perikanan); (6) Bangunan/ konstruksi (menyediakan infrastruktur seperti jalan dan jaringan sungai); (7) Listrik (sumber energi); (8) industri tanpa migas (pabrik pembuatan pakan); (9) kehutanan (menyediakan sumber air); (10) peternakan (kotoran ternak ayam yang digunakan untuk pemupukan di kolam); (11)Tanaman dan bahan makanan (sawah sebagai media minapadi/sebagian tanaman yang digunakan untuk pakan); (12) Jasa sosial kemasyarakatan serta jasa lainnya (menyediakan jasa tenaga kerja harian); dan (13) Pemerintahan umum dan
0.0137 0.0096 0.0032 0.0062 0.0007 0.0159 0.0701 0.0079 0.0042 0.0126 0.0023 0.0004 0.0005 0.0 0.0 0.0 0.1 0.1
Tanaman Bahan Makanan Peternakan Kehutanan Industri Tanpa Migas Listrik Bangunan/Konstruksi Perdagangan Besar dan Eceran Hotel dan Restoran Pengangkutan Bank dan Lembaga Keuangan …
Usaha Sewa Bangunan dan Jasa …
Pemerintahan Umum dan …
43 pertahanan (penyedia perijinan dan keamanan). Sektor-sektor yang mempunyai keterkaitan ke depan dengan perikanan yaitu hanya sektor jasa sosial kemasyarakatn dan jasa lainnya. Sektor perikanan di Kabupaten Cianjur belum menjadi sektor strategis karena memiliki nilai IDP lebih besar dari satu dan nilai IDK kurang dari satu.
1. Multiplier
Multiplier adalah koefisien yang menyatakan kelipatan dampak langsung dan tidak langsung dari meningkatnya permintaan akhir suatu sektor sebesar satu unit terhadap aspek-aspek tertentu sektor ekonomi suatu wilayah (Rustiadi et al. 2011). Analisis ini dapat dilakukan terhadap output, pendapatan dan tenaga kerja. Analisis ini ingin melihat seberapa jauh perubahan-perubahan dalam output pendapatan dan tenaga kerja sebagai akibat perubahan permintaan suatu sektor. Penelitian ini menggunakan angka pengganda (multiplier) berupa pengganda tipe I yang memposisikan permintaan akhir rumah tangga sebagai exogenous dimana rangsangan konsumsi rumah tangga ikut mempengaruhi sistem ekonomi dan output secara keseluruhan (Nugroho dan Dahuri 2012). Analisis pengganda yang dilakukan terdiri dari angka pengganda output (output multiplier), angka pengganda pendapatan (income multiplier) dan angka pengganda NTB (total value added multiplier).
a. Output Multiplier (Angka Pengganda Output)
Hasil analisis angka pengganda output disajikan pada Gambar 15.
Gambar 15 Multiplier effect output sektor-sektor perekonomian 1.00 1.00 1.00 1.00 1.01 1.01 1.03 1.03 1.08 1.09 1.13 1.26 1.33 1.40 1.43 1.46 1.62 1.78 0.0 1.0 2.0
Industri Tanpa Migas Usaha Sewa Bangunan dan Jasa …
Pertambangan tanpa migas dan …
Pemerintahan Umum dan Pertahanan Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya Perdagangan Besar dan Eceran Tanaman Bahan Makanan Hotel dan Restoran Air bersih Kehutanan Komunikasi Perikanan Listrik Pengangkutan Jasa Sosial kemasyarakatan serta …
Perkebunan Bangunan/Konstruksi Peternakan
44
Sektor peternakan memperoleh angka pengganda output paling tinggi yaitu 1,78 lebih besar dari sektor bangunan/kontruksi (1,62). Perikanan memiliki output multiplier yang lebih rendah 1,26. Nilai tersebut diartikan apabila permintaan akhir sektor perikanan meningkat Rp. 1.000.000,00, maka pengaruh langsungnya terhadap total output perekonomian Kabupaten Cianjur adalah sebesar Rp.1.260.000,00. Nilai multiplier output sektor perikanan dalam kelompok sektor primer lebih besar dari tanaman bahan pangan, kehutanan dan perkebunan dan hanya lebih kecil dari peternakan.
b. Income Multiplier (Angka Pengganda Pendapatan)
Sektor bangunan/kontruksi merupakan pengganda pendapatan terbesar di Kabupaten Cianjur. Peningkatan permintaan akhir atas output sektor bangunan/kontruksi akan memberikan peningkatan total pendapatan rumah tangga secara keseluruhan yang paling tinggi. Sementara itu, sektor perikanan berada pada urutan 7 dengan nilai 1,33. Angka ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan Rp.1.000.000,00 permintaan akhir output untuk sektor perikanan akan meningkatkan pendapatan rumah tangga sebesar Rp.1.330.000,00. Beberapa sektor primer memiliki nilai Income Multiplier cukup tinggi, hal ini menunjukkan bahwa sektor primer memiliki potensi untuk dikembangkan karena dengan meningkatkan nilai tambahnya, dapat meningkatkan pendapatan untuk masyarakat/rumahtangga. Hasil analisis angka pengganda pendapatan disajikan pada Gambar 16.
Gambar 16 Multiplier effect income sektor-sektor perekonomian 1.00 1.00 1.01 1.01 1.01 1.01 1.01 1.03 1.08 1.12 1.13 1.33 1.38 1.41 1.63 1.70 2.24 3.50 0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 3.5 4.0 Industri Tanpa Migas
Usaha Sewa Bangunan dan Jasa …
Pemerintahan Umum dan Pertahanan Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya
Pertambangan tanpa migas dan …
Perdagangan Besar dan Eceran Hotel dan Restoran Tanaman Bahan Makanan Air bersih Komunikasi Kehutanan Perikanan Perkebunan Listrik Jasa Sosial kemasyarakatan serta jasa …
Pengangkutan Peternakan Bangunan/Konstruksi
45
c. Total Value-Added Multiplier (PDRB Multiplier)
Dalam Tabel I-O, diasumsikan Nilai Tambah Bruto (PDRB) berhubungan dengan output secara linear (Rustiadi et al. 2011). Hasil analisis PDRB Muliplier disajikan pada Gambar 17. Hasil analisis menunjukkan bahwa dampak peningkatan permintaan akhir atas output sektor peternakan mengakibatkan peningkatan terhadap PDRB yang paling tinggi. Sementara itu, sektor perikanan memiliki nilai 1,27. Angka ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan Rp.1.000.000,00 permintaan akhir output untuk sektor perikanan akan meningkatkan PDRB sebesar Rp.1.270.000,00 .
Gambar 17 Total value-added multiplier sektor-sektor perekonomian Sektor perikanan merupakan sektor primer (berbasis sumber daya alam) akan berkelanjutan dan berdampak besar terhadap ekonomi wilayah apabila memiliki keterkaitan yang kuat dengan sektor yang lain. Hal ini sejalan dengan pendapat Rustiadi et al. (2011), roda perekonomian dapat bersinergi dengan baik dengan adanya keterkaiatan. Makin kuat keterkaitan antar sektor, makin kecil ketergantungan sektor tersebut terhadap impor, sekaligus memperkecil kebocoran
1.00 1.00 1.00 1.00 1.01 1.01 1.03 1.03 1.07 1.08 1.14 1.27 1.45 1.49 1.57 1.66 2.46 3.15 0.0 1.0 2.0 3.0 4.0
Industri Tanpa Migas Usaha Sewa Bangunan dan Jasa …
Pertambangan tanpa migas dan …
Pemerintahan Umum dan Pertahanan Bank dan Lembaga Keuangan …
Perdagangan Besar dan Eceran Tanaman Bahan Makanan Hotel dan Restoran Kehutanan Air bersih Komunikasi Perikanan Listrik Perkebunan Pengangkutan Jasa Sosial kemasyarakatan serta …
Bangunan/Konstruksi Peternakan
46
wilayah yang mengalir ke wilayah lainnya, sehingga nilai tambah yang dihasilkan dapat dinikmati oleh masyarakat di wilayahnya sendiri. Analisis keterkaitan antar sektor pada dasarnya melihat dampak output dan kenyataan bahwa sektor-sektor dalam perekonomian tersebut saling mempengaruhi.
Upaya yang dapat dilakukan dalam mewujudkan sektor perikanan sebagai salah satu sektor strategis di Kabupaten Cianjur adalah dengan meningkatkan keterkaitan sektor perikanan dengan sektor-sektor lainnya pada sektor hilirnya. Hal ini bertujuan untuk menciptakan nilai tambah produksi terutama dengan sektor industri non migas dan sektor perdagangan besar dan eceran. Sektor indutri non migas yang merupakan sektor sekunder dan sektor perdagangan yang merupakan sektor tersier adalah sektor lanjutan dari penunjang sektor primer yang cenderung berkaitan pada sumber daya manusia, modal, teknologi dan bahan baku yang berasal dari sektor primer.
Dengan memiliki keterkaitan k edepan yang kuat terhadap sektor tanpa migas terutama pada subsektor makanan dan minuman, diharapkan sektor perikanan akan menjadi sektor strategis yang bisa meningkatkan perekonomian wilayah Kabupaten Cianjur. Hal ini bisa dilakukan dengan cara meningkatkan keterkaitan dengan subsektor makanan dan minuman misalnya dengan upaya pengembangan indutri kecil dan menengah andalan seperti : (a) kerupuk ikan, (b) pengeringan ikan, (c) bakso dan sosis ikan dan (d) nuget ikan.
Potensi Perikanan di Kabupaten Cianjur
Potensi perikanan di Kabupaten Cianjur dapat dilihat dari nilai produktivitas menurut tempat pemeliharaannya. Data produktivitas ikan tahun 2012 disajikan pada Tabel 13.
Tabel 13 Produktivitas ikan di setiap wadah budidaya Tempat
Pemeliharaan Luas area Produksi Produktivitas
Pembenihan 219,70 ha 9.741.615.830,00 ekor 44.340.536,32 ekor/ha
KAT 1.744,32 ha 35.311,00 ton 20,24 ton/ha
KAD 45,00 unit 17,48 ton 0,39 ton/unit
Sawah 12.980,00 ha 6.156,00 ton 0,47 ton/ha
KJA 21.500,00 petak 4.948,39 ton 0,23 ton/petak
Karamba 1.348,00 m2 16,30 ton 0,01 ton/m2
Tambak 11,10 ha 113,20 ton 10,20 ton/ha
Sungai 224,00 km 69,91 ton 0,31 ton/km
Waduk 4.200,00 ha 243,93 ton 0,06 ton/ha
Laut 75,00 km 160,04 ton 2,13 ton/km
Sumber : Disnakanla 2012
Produktivitas optimum KJA diperoleh di tahun 1995 dengan nilai 2,3 ton/petak/tahun. Tahun 2012 turun menjadi 0,23 ton/petak/tahun. Perkembangan budidaya ikan sistem KJA di lingkungan perairan waduk awalnya berdampak positif terhadap peningkatan produksi ikan air tawar dan pendapatan petani ikan. Keuntungan yang tinggi membuat para investor masuk untuk berinvestasi. Akan tetapi di sisi lain, peningkatan jumlah unit kerja yang tidak terkendali dapat menimbulkan masalah penurunan produksi per satuan unit kerja. Kematian ikan
47 yang terjadi di waduk Cirata sebagai akibat kurangnya konsumsi oksigen di lingkungan perairan karena kejadian pengkayaan bahan organik sehingga terjadi umbalan. Dampak negatif tersebut timbul karena beberapa faktor lainnya, antara lain kurang diperhatikannya daya dukung lingkungan perairan, tata letak KJA, dan kurang memperhatikan prinsip-prinsip teknologi budidaya ikan sistem KJA yang tepat guna pada perairan waduk, terutama pengelolaan dan teknik pemberian pakan terhadap ikan yang dipelihara. Peningkatan produktivitas KJA dapat dilakukan dengan cara menerapkan teknologi IMTA (Integrated Multi Tropic Aquaculture).
Produktivitas pada wadah pemeliharaan lain sudah mendekati produktivitas optimum, hanya perlu penyuluhan kembali pada petani untuk menjadikan minapadi sebagai kegiatan utama dalam budidaya. Budidaya ikan sistem minapadi dapat menambah penghasilan petani, kaena selain dari hasil panen padi, petani memperoleh penghasilan tambahan dari budidaya ikan. Sistem minapadi ini membutuhkan modal lebih sedikit, karena tidak perlu menyediakan wadah budidaya untuk ikan. Jumlah RTP perikanan di Kabupaten Cianjur hanya 5,38% jauh lebih kecil dibandingkan jumlah RTP pertanian sebesar 46,1%. Sementara itu bila dilihat dari hasil produksi padi dalam satu tahun hanya 18 ton/ha. Sedangkan produksi ikan di KJA dalam satu tahun sebesar 234,4 ton/ha (BPS Cianjur 2013).
Pengambilan keputusan untuk menentukan wilayah pengembangan sektor perikanan di Kabupaten Cianjur dilakukan dengan menggunakan Analisis Hirarki Pengembangan Wilayah (metode skalogram). Analisis ini digunakan untuk menentukan hirarki pusat-pusat kegiatan wilayah. Menurut Budiharsono (2001) bahwa semakin besar jumlah penduduk, akan semakin banyak jumlah unit fasilitas dan jumlah jenis fasilitas pada suatu pusat pelayanan, maka semakin tinggi pula hirarki dari pusat pelayanan tersebut. Dalam analisis skalogram, wilayah hirarki 1 mengindikasikan bahwa wilayah tersebut memiliki tingkat perkembangan yang baik, sementara wilayah hirarki II memiliki tingkat perkembangan sedang dan wilayah hirarki III memiliki tingkat perkembangan yang rendah.
Hasil analisis skalogram berdasarkan tingkat pelayanan Kecamatan Leles, Cianjur, Tanggeung dan Cipanas masuk kedalam hirarki satu, 12 kecamatan masuk ke dalam hirarki dua dan sisanya hirarki tiga. Berdasarkan jumlah sarana prasarana perikanan, kecamatan Cilaku, Sukaluyu, Bojongpicung, Ciranjang, Mande, Cugenang dan Cikalong masuk ke dalam hirarki satu. Kecamatan yang masuk ke dalam hirarki satu pada analisis tingkat pelayanan masuk kedalam hirarki tiga. Hal ini menunjukkan kecamatan yang menjadi pusat pelayanan belum tentu merupakan pusat perkembangan sektor perikanan. Hasil perbandingan Hirarki kecamatan dapat dilihat pada tabel 14. Kecamatan yang berada di hirarki satu untuk pusat sektor perikanan sebagian besar berada di hirarki tiga pada pusat pelayanan umum, sementara kecamatan yang termasuk kedalam hirarki satu pada pusat pelayanan umum semuanya masuk ke dalam hirarki tiga pada pemusatan sektor perikanan. Peningkatan peran sektor perikanan dapat dilakukan dengan memperbaiki sarana prasarana umum yang berada di Kecamatan yang menjadi pusat sektor perikanan. Sarana prasarana yang diperbaiki merupakan sarana pendukung untuk sektor perikanan. Dangan perbaikan dan penambahan saran prasarana umum diharapkan dapat meningkatkan pengembangan sektor perikanan di pusat perkembangan wilayah perikanan. Peta perkembangan wilayah perikanan dapat dilihat pada gambar 18.
48
Tabel 14 Perbandingan hirarki kecamatan
Kecamatan Perikanan Umum
Cilaku Hirarki 1 Hirarki 3
Sukaluyu Hirarki 1 Hirarki 3
Bojongpicung Hirarki 1 Hirarki 3
Ciranjang Hirarki 1 Hirarki 2
Mande Hirarki 1 Hirarki 3
Cugenang Hirarki 1 Hirarki 3
Cikalongkulon Hirarki 1 Hirarki 2
Cibeber Hirarki 2 Hirarki 3
Warungkondang Hirarki 2 Hirarki 3
Gekbrong Hirarki 2 Hirarki 3
Karangtengah Hirarki 2 Hirarki 3
Agrabinta Hirarki 3 Hirarki 3
Leles Hirarki 3 Hirarki 1
Sindangbarang Hirarki 3 Hirarki 2
Cidaun Hirarki 3 Hirarki 2
Naringgul Hirarki 3 Hirarki 3
Cibinong Hirarki 3 Hirarki 2
Cikadu Hirarki 3 Hirarki 2
Tanggeng Hirarki 3 Hirarki 1
Pasirkuda Hirarki 3 Hirarki 3
Kadupandak Hirarki 3 Hirarki 2
Cijati Hirarki 3 Hirarki 2
Takokak Hirarki 3 Hirarki 2
Sukanagara Hirarki 3 Hirarki 3
Pagelaran Hirarki 3 Hirarki 2
Campaka Hirarki 3 Hirarki 2
Campaka Mulya Hirarki 3 Hirarki 2
Haurwangi Hirarki 3 Hirarki 3
Cianjur Hirarki 3 Hirarki 1
Pacet Hirarki 3 Hirarki 3
Cipanas Hirarki 3 Hirarki 1
49
Gambar 18 Peta perkembangan wilayah perikanan Kabupaten Cianjur Kecamatan yang masuk ke dalam hirarki satu untuk pusar perkembangan sektor perikanan memiliki kelengkapan sarana prasarana perikanan yang lebih lengkapan dibandingkan kecamatan yang berada di Hirarki 2 dan hirarki 3. Kecamatan ini berpotensi untuk dijadikan pusat perkembangan sektor perikanan. Kendala yang dihadapi adalah rendahnya kelengkapan sarana prasarana umum. Sarana prasarana umum merupakan pendukung untuk kelancaran proses pengembangan sektor perikanan. Sarana transportasi yang baik memudahkan distribusi saran prasarana budidaya perikanan dan pemasaran. Tersedianya pasar ikan juga memudahkan dalam memasarkan hasil produk perikanan.
Potensi perikanan yang dimiliki oleh kecamatan yang berada di hirarki 1 dapat dilihat pada tabel 15.
50
Tabel 15 Potensi perikanan di kecamatan yang berada di hirarki 1 Potensi
Perikanan
Kecamatan Hirarki 1
Cilaku Sukaluyu Bojongpicung Ciranjang Mande Cugenang Cikalongkulon Jumlah Rumah Tangga Perikanan 2282 2545 2759 2348 3794 2459 4035 Jumlah Kelompok Tani Ikan 13 - 17 34 22 2 15 Jumlah Irigasi 12 1 3 5 8 Luas Wadah Pembenihan 320 900 4900 410 350 460 340 Luas Kolam Air Tenang/ KAT (ha) 5110 8900 9900 11015 6800 6800 9000
Lus Kolam Air Deras/ KAD (ha) - - - - - 1600 - Luas Sawah (ha) 70981 80275 122350 80897 72817 101275 118062 Jumlah Kaam Jaring Apung (Petak) - 7800 - 225900 1665200 - 234300 Luas Karamba (m2) - - - 5500 2200 2700 2200 Panjang Sungai (km) 900 600 800 1700 1500 900 1100 Luas Waduk (ha) 0 15000 - 105000 180000 - 120000 Jumlah pembenih (orang) 19 22 115 14 23 40 18
Komoditas Unggulan di Setiap Kecamatan Keunggulan Komparatif di Setiap Kecamatan
Berdasarkan hasil analisis LQ yang disajikan pada Tabel 16 terlihat bahwa semua jenis ikan yang dianalisis merupakan komoditas basis dengan sebaran kecamatan yang beragam. Kecamatan Pasirkuda, Kadupandak dan Sukanagara merupakan kecamatan yang tidak mempunyai keunggulan komparatif karena memiliki nilai LQ < 1 pada semua komoditas yang dianalisis.
Nilai LQ >1 memberikan petunjuk bahwa kecamatan tersebut memiliki locational advantages dan berpotensi untuk memasarkan kelebihan hasil produksinya ke daerah lain. Komoditas-komoditas ini cukup sesuai dengan kondisi agroklimat sehingga dapat dikatakan merupakan komoditas unggulan dan banyak diminati oleh masyarakat setempat untuk dibudidayakan. Hasil perhitungan LQ dapat digunakan sebagai indikator dalam pengembangan perikanan budidaya di wilayah kecamatan dilihat berdasarkan pemusatan aktifitasnya.
51 Tabel 16 Hasil LQ per komoditas ikan di setiap kecamatan
No Kecamatan Mas Nila Jambal Tagih Kakap
Tongkol Banjar Tenggiri Layur merah 1 Agrabinta 0.04 0.05 0.06 0.06 4.35 4.96 5.08 3.33 1.02 2 Leles 0.40 0.48 0.68 0.39 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 3 Sindangbarang 0.00 0.05 0.05 0.04 1.85 3.25 3.09 2.87 2.69 4 Cidaun 0.02 0.02 0.02 0.02 2.67 1.80 1.84 2.44 3.16 5 Naringgul 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 6 Cibinong 1.83 1.10 1.66 1.21 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 7 Cikadu 1.71 1.47 1.24 1.18 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 8 Tanggeng 0.54 0.82 2.36 2.55 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 9 Pasirkuda 0.97 0.87 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 10 Kadupandak 0.81 0.97 0.88 0.83 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 11 Cijati 1.05 1.19 0.76 0.73 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 12 Takokak 1.08 1.17 1.14 0.85 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 13 Sukanagara 0.80 0.76 0.40 0.67 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 14 Pagelaran 1.34 1.12 3.88 3.58 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 15 Campaka 1.09 0.93 1.42 0.36 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 16 Campaka Mulya 2.99 0.99 1.54 2.19 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 17 Cibeber 2.32 1.41 0.95 1.41 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 18 Warungkondang 1.56 1.79 1.53 1.27 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 19 Gekbrong 0.82 0.89 2.93 2.40 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 20 Cilaku 1.08 1.92 1.22 0.43 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 21 Sukaluyu 2.51 1.80 0.77 1.08 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 22 Bojongpicung 2.05 1.08 1.71 1.77 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 23 Haurwangi 1.35 1.20 4.43 7.77 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 24 Ciranjang 1.70 1.87 1.73 1.71 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 25 Mande 1.50 1.56 1.48 1.38 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 26 Karangtengah 1.15 1.98 1.92 2.63 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 27 Cianjur 1.05 1.08 2.09 0.72 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 28 Cugenang 1.30 1.60 0.41 0.94 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 29 Pacet 1.06 1.96 0.46 0.38 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 30 Cipanas 1.02 1.03 1.15 0.85 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 31 Sukaresmi 1.41 1.46 0.83 1.09 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 32 Cikalongkulon 2.03 2.18 2.73 2.81 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
Produksi Ikan Mas di Kabupaten Cianjur masih dominan walaupun data yang digunakan adalah data produksi perairan umum. Secara geografis, sebaran komoditas basis Ikan Mas ini hampir ada di semua wilayah bagian Cianjur. Tingginya produksi diperairan umum menunjukkan bahwa ikan mas sesuai dengan kondisi agroklimat disebagian besar kecamatan. Selain itu, pembudidaya ikan banyak yang memilih untuk budidaya Ikan Mas karena sudah biasa dibudidayakan secara turun temurun. Tingginya permintaaan dari konsumen juga menyebabkan petani banyak yang membudidayakan ikan ini. Hasil analisis LQ menunjukkan bahwa ikan mas merupakan komoditas basis di 22 kecamatan.
52
Ikan Nila juga merupakan ikan yang banyak dibudidayakan di Kabupaten Cianjur. Selain produksi dari perairan umum, media pemeliharaan dapat berupa kolam, KJA maupun sawah melalui minapadi. Ikan nila mempunyai keunggulan komparatif di 20 kecamatan dan banyak terdapat di wilayah Cianjur bagian utara.
Ikan Jambal dan ikan tagih saat ini dapat menjadi alternatif untuk dikembangkan di Kabupaten Cianjur. Kedua jenis ikan ini, walaupun tidak tersebar pada semua kecamatan, akan tetapi menunjukkan jumlah lokasi dengan keunggulan komparatif yang cukup tinggi. Seperti halnya ikan nila, keunggulan komparatif ikan jambal dan ikan tagih banyak terdapat di wilayah Cianjur utara. Komoditas ikan air tawar lebih banyak menjadi sektor basis di Cianjur bagian utara.
Komoditas air laut yang dianalisis yaitu ikan kakap merah, ikan tongkol, ikan banjar, Ikan tenggiri dan Ikan laut memiliki keunggulan komparatif di tiga kecamatan yaitu kecamatan Agrabinta, Sindangbarang dan Cidaun. Ketiga kecamatan ini merupakan kecamatan yang memiliki wilayah yang berbatasan langsung dengan laut, sehingga komoditas air laut hanya dihasilkan dari ketiga kecamatan ini.
Keunggulan Kompetitif di Setiap Kecamatan
Perhitungan analisis SSA dilakukan untuk melengkapi analisis LQ. Nilai SSA yang digunakan adalah nilai pergeseran diferensial. Hasil analisis SSA