TINJAUAN TEORI
4. Ketidaknyamanan pada Kehamilan Trimester III
Proses kehamilan akan membawa dampak bagi ibu yaitu terjadinya perubahan sistem dalam tubuh yang semuanya membutuhkan suatu adaptasi, baik fisik maupun psikologis, dalam proses adaptasi tersebut tidak jarang ibu akan mengalami ketidaknyaman yang meskipun hal ini adalah fisiologis, namun tetap perlu diberikan suatu pencegahan dan perawatan (Romauli,2011).
1) Sering buang air kecil
Peningkatan frekuensi berkemih pada ibu hamil trimester III paling sering dialami oleh wanita primigravida setelah lightening terjadi.
29
menurun dan menimbulkan tekanan langsung pada kandung kemih (Marmi,2011). Pembesaran uterus trimester ketiga menurunkan kapasitas kandung kemih(Doenges dan Moorhouse, 2001)
Cara mengatasi keluhan sering buang air kecil pada ibu hamil trimester III(Marmi, 2011), yaitu:
a) Segera mengosongkan kandung kemih saat terasa ingin berkemih. b) Perbanyak minum pada siang hari.
c) Tidur (khususnya pada malam hari) posisi miring dengan kedua kaki ditinggikan untuk meningkatkan diuresis
2) Nokturia pada trimester ke tiga diduga memiliki dasar fisiologis Aliran balik vena dari ektermitas difasilitasi saat wanita sedang berbaring pada posisi lateral rekumber karena uterus tidak lagi menekan pembuluh darah daerah panggul dan vena kava inferior. Bila wanita berbaring dalam posisi ini saat tidur malam hari, akibatnya pola diurinal kebalikan sehingga terjadi peningkatan saluaran urine pada saat ini (Varney 2007).
Cara mengatasi nokturia menurut Varney (2007), yaitu menjelaskan mengapa hal ini terjadi lalu membiarkannya memilih cara yang nyaman baginya dan menganjurkan mengurangi cairan setelah makan sore sehingga asupannya selama sisa hari tersebut tidak akan memperberat masalah.
3) Insomnia
Insomnia disebabkan karena perasaan gelisah, khawatir, ataupun bahagia. Ketidaknyamanan fisik seperti membesarnya uterus, pergerakan janin, bangun ditengah malam karena nocthuria, dyspnea, heartburn, sakit otot, stress dan cemas (Marmi, 2014).
Cara mengatasinya yaitu: Mandi air hangat, minum air hangat (susu/teh tanpa kafein) sebelum tidur, lakukan aktivitas yang tidak menimbulkan stimulus sebelum tidur, ambil posisi tidur relaksasi, membaca sebelum tidur (Varney, 2007).
30 4) Haemoroid
Haemoroid selalu didahului konstipasi, oleh sebab itu semua hal yang
menyebabkan konstipasi berpotensi menyebabkan haemoroid. Progesterone juga berperan dalam menyebabkan terjadinya relaksasi dinding vena dan usus besar, pembesaran uterus juga menyebabkan peningkatan tekanan pada dinding vena dan usus besar (Marmi, 2011).
Varices rectum sering terjadi pada konstipasi yang lama, mengejan,
atau sebagai akibat dari peningkatan volume sirkulasi dan relaksasi hormonal pembuluh darah. Adanya hemoroid dapat menyebabkan nyeri saat defekasi serta peningkatan pemindahan posisi usus memperberat masalah eliminasi (Doenges dan Moorhouse, 2001). Cara mengatasi, antara lain:
a) Makan makanan yang berserat, buah dan sayuran serta banyak minum air putih dan sari buah.
b) Lakukan senam hamil untuk mengatasi haemoroid.
c) Jika haemoroid menonjol keluar, oleskan lotion witch hazel (Romauli, 2015).
5) Keputihan dan pruritus
Leukorea merupakan sekresi vagina dalam jumlah besar dengan
konsitensi kental yang dimulai pada trimester pertama, sebagai bentuk dari hiperplasi mukosa vagina. Leukorea dapat disebabkan oleh karena terjadinya peningkatan produksi kelenjar dan lendir
endoservikal sebagai peningkatan kadar estrogen. Hal lain yang
dicurigai sebagai penyebab terjadinya leukorea adalah pengubahan sejumlah besar glikogen pada sel epitel vagina menjadi asam laktat oleh basil doderlein (Marmi,2014a).
Cara mengatasi, antara lain:
a) Memperhatikan kebersihan tubuh area genitalia
b) Membersihkan area genitalia dari arah genitalia dari arah depan ke belakang
31
d) Mengganti celana dalam secara rutin
e) Tidak melakukan douchatau menggunakan semprot untuk menjaga area genitalia (Marmi, 2014).
f) Anjurkan klien untuk sering mandi, menggunakan celana dalam katun. pakaian longgar, menghindari duduk dalam waktu yang lama
g) Pakailah pakaian yang tipis dan longgar, tingkatkan asupan cairan, mandi secara teratur (Romauli, 2015).
6) Konstipasi
Konstipasi biasanya terjadi pada trimester II dan III, konstipasi diduga terjadi karena akibat penurunan paristaltik yang disebabkan oleh relaksasi otot polos pada usus besar ketika terjadi peningkatan jumlah progesteron. Konstipasi juga dapat terjadi akibat dari efek samping penggunaan sulfa ferosus, hal ini akan memperberat masalah pada wanita hamil (Marmi, 2014). Peningkatan pemindahan posisi usus memperberat masalah eliminasi (Doenges dan Moorhouse, 2011). Cara mengatasi, antara lain:
a) Asupan cairan yang adekuat dengan minum air minimal 8 gelas perhari ukuran gelas minum.
b) Istirahat yang cukup. c) Minum air hangat
d) Makan makanan berserat dan mengandung serat alami, memiliki pola defekasi yang baik dan teratur
e) Buang air besar segera setelah ada dorongan dan buang air kecil teratur
f) Lakukan latihan secara umum, berjalan setiap hari, pertahankan postur tubuh yang baik, mekanisme tubuh yang baik, latihan kontraksi otot abdomen bagian bawah secara teratur. Semua kegiatan ini memfasilitasi sirkulasi vena sehingga mencegah kongesti pada usus besar, konsumsi laksatif ringan, pelunak feses, dan atau suposutoria jika ada indikasi (Marmi, 2014).
32 7) Napas sesak
Penurunan kapasitas pernapasan saat uterus menekan diafragama, megakibatkan dyspnea, khususnya pada multigravida yang tidak mengalami kelegaan dengan ikatan antara ibu dan bayi dalam kandungan. Cara mengatasinya adalah merentangkan tangan diatas kepala serta menarik napas panjang dan mendorong postur tubuh yang baik (Romauli, 2015).
8) Nyeri ligamentum rotundum/teres uteri
Ligamentum teres uteri secara anatomis memiliki kemampuan memanjang saat uterus meninggi dan masuk ke dalam abdomen. Nyeri pada ligamentum teres uteri diduga akibat peregangan dan kemungkinan akibat penekanan berat uterus yang meningkat pesat pada ligament. Nyeri ini merupakan ketidaknyamanan umum yang harus dibedakan dari penyakit saluran gastrointestinal maupun organ abdomen. Salah satu faktor yang membedakannya adalah nyeri menyebar ke daerah inguinal, yang merupakan ciri khas nyeri ligamentum rotundum/teres uteri (Varney, 2007).
Cara mengatasi, sebagai berikut: a) Tekuk lutut kearah abdomen, b) Mandi air hangat,
c) Kenakan penyokong atau korset abdomen maternal,
d) Gunakan sebuah bantal untuk menopang uterus dan bantal lainnya letakkan diantara lutut sewaktu dalam posisi berbaring miring (Romauli,2015).
9) Perut kembung/flatulen
Peningkatan flatulen diduga akibat penurunan motalitas gastrointestinal. Hal ini kemungkinan merupakan akibat efek peningkatan progesterone yang merelaksasi otot halus dan akibat pergeseran serta tekanan pada usus halus karena pembesaran uterus. (Varney, 2007). Cara mengatasi adalah menghindari makanan yang
33
mengandung gas, mengunyah makanan secara teratur, lakukan senam yang teratur (Romauli, 2011).
10) Pusing/sakit kepala
Sakit kepala tejadi akibat kontraksi otot/spasme otot (leher, bahu dan penegangan pada kepala), serta keletihan (Marmi, 2014). Cara mengatasinya adalah bangun secara perlahan dari posisi istirahat dan hindari berbaring dalam posisi terlentang (Romauli, 2015).
11) Nyeri punggung
Lordosis dan regangan otot disebabkan oleh pengaruh hormon relaksin, progesteron pada sambungan pelvis dan perpindahan pusat gravitasi sesuai dengan pembesaran uterus. Intervensi multiple biasanya lebih membantu untuk menghilangkan ketidaknyamanan (Doenges dan Moorhouse, 2001). Nyeri punggung terjadi pada area lumbosakral. Nyeri punggung bawah akan meningkat intensitasnya seiring bertambahnya usia kehamilan, karena nyeri ini akibat pergeseran pusat gravitasi wanita tersebut dan postur tubuhnya, perubahan-perubahan ini disebabkan oleh berat uterus yang membesar. Jika wanita tersebut tidak memberi perhatian penuh terhadap postur tubuhnya maka ia akan berjalan dengan ayunan tubuh kebelakang akibat peningkatan lordosis. Lengkung ini kemudian akan meregangkan otot punggung dan menimbulkan rasa sakit atau nyeri (Varney, 2017). Cara mengatasi nyeri punggung bawah yaitu:
a) Postur tubuh yang baik,
b) Mekanik tubuh yang tepat saat mengangkat beban, hindari membungkuk berlebihan, mengangkat beban dan berjalan tanpa istrahat, ayunkan panggul/miringkan panggul, gunakan sepatu tumit rendah, sepatu tumit tinggi tidak stabil dan memperberat masalah pada pusat gravitasi dan lordosis pada punggung,
c) Kompres es pada punggung,
34
e) Pijatan /usapan pada punggung,
f) Pada waktut istirahat atau tidur kasur yang menyokong, posisikan badan dengan menggunakan bantal sebagai pengganjal untuk meluruskan punggung dan meringankan tarikan dan regangan, (Varney, 2007).
g) Anjurkan penggunaan sepatu hak rendah, kompres panas, dan sentuhan therapeutik (Doenges dan Moorhouse, 2007).
12) Edema dependen
Edema dependen dari ekstermitas bawah (edema fisiologis) sering terjadi karena stasis vena akibat vasodilatasi dari aktivitas progesterone, herediter, retensi kelebihan cairan dan tekanan uterus pada pembuluh darah pelvis. Ini meningkatkan trombus vena (Doenges dan Moorhouse, 2001). Edema dependen terjadi akibat karena gangguan sirkulasi vena dan peningkatan tekanan pada vena ekstermitas bagian bawah. Gangguan sirkulasi ini disebabkan oleh tekanan uterus yang membesar pada vena-vena panggul saat wanita hamil duduk/berdiri dan vena cava inferior saat berbaring telentang (Varney, 2007).
Cara mengatasinya, sebagai berikut:
a) Meninggikan kaki, panggul, ke dinding tiga kali sehari selama 20 menit dan membalikan telapak kaki ke atas dalam posisi dorsofleksi bila duduk atau berdiri selama periode lama (Marmi, 2014).
b) Hindari menggunakan pakaian ketat, kaki ditinggikan secara teratur tiap hari, posisi miring kiri saat berbaring, penggunaan penyokong/korset maternal (Varney, 2007).
c) Menggunakan pakaian yang longgar, jaga agar kaki tidak bersilang, hindari berdiri atau duduk terlalu lama (Romauli,2015).
35 13) Kram pada kaki
Ketidaknyamanan berkenaan dengan perubahan kadar kalsium/ ketidakseimbangnya kalsium fosfor atau karena tekanan dari pembesaran uterus pada syaraf yang mensuplai ekstermitas bawah.
Cara mengatasi adalah menganjurkan klien untuk meluruskan kaki, dan mengangkat telapak kaki bagian dalam keposisi dorsofleksi, menurunkan masukan susu, sering mengganti posisi dan menghindari berdiri /duduk lama (Varney, 2007).
14) Parastesia jari kaki dan tangan
Efek postur lordotik ekstrem (yang meregangkan saraf brakial dan menekan akar saraf dan vena femoral), edema, tekanan saraf terowongan/ligamen karpal dan defisiensi pyridoxsin, beberapa sumber melaporkan kontroversi terhadap penggunaan pyridoxin (marmi, 2014).
Cara mengatasinya, antara lain: a) Melepaskan perhiasan yang ketat.
b) Pertahankan masukan vitamin prenatal yang adekuat (mengonsumsi suplemen pyridoxin dengan jus jeruk atau pisang) menggunakan postur yang tepat,
c) Latihan tungkai secara teratur sepanjang hari dan menghindari suhu ekstrem (Marmi,2014).
15) Diaforesis
Peningkatan metabolisme dan suhu tubuh disebabkan oleh aktivitas progesterone sedangkan penambahan berat badan berlebihan dapat membuat klien merasa panas terus menerus dan dapat meningkatkan diaphoresis.
Cara mengatasi: anjurkan untuk berpakaian tipis, sering mandi dan lingkungan dingin (Varney, 2007).
16) Varises
Perubahan ini diakibatkan karena tekanan pada vena ekstermitas bawah. Perubahan ini diakibatkan karena uterus yang
36
membesar pada vena panggul saat duduk/berdiri dan penekanan pada vena cava inferior saat berbaring (Varney, 2007).
Cara mengatasinya, yaitu hindari menggunakan pakaian ketat, hindari berdiri lama, sediakan waktu istirahat dan kaki ditingikan, pertahankan tungkai untuk tidak menyilang saat duduk, pertahankan postur tubuh, sikap tubuh yang baik, kenakan penyokong abdomen/korset maternal, mandi air hangat yang menenangkan (Varney, 2007).
17) Kontraksi Braxton hicks.
Kontraksi ini dapat menciptkan ketidaknyamanan pada multigravida pada trimester kedua maupun ketiga. Primigravida biasanya tidak mengalami ketidaknyamanan ini sampai trimester akhir, saat akhir kehamilan efek perlindungan progesterone pada aktivitas uterus menurun dan kadar oksitosin meningkat, cara mengatasi: Penjelasan tentang fisiologis aktivitas uterus. (Marmi, 2014).