THEORY OF POVERTY
LIBERAL AND NEO LIBERAL
5.1.4. Keuangan daerah
Pengelolaan Keuangan Daerah pada hakekatnya memiliki ruang lingkup dan aspek yang sangat luas, karena meliputi aspek pendapatan/penerimaan daerah dan belanja/ pengeluaran daerah. Pendapatan/ penerimaan daerah dan belanja/pengeluaran daerah secara totalitas termuat dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
APBD Pokok Kabupaten Barru mengalami kemajuan yang signifikan terutama setelah diimplementasikannya otonomi daerah yang dibarengi dengan desentralisasi fiskal. Pada tahun 1990 APBD pokok Kabupaten Barru hanya sebesar Rp. 6.165.775.000. Pada tahun 2000, APBD Kabupaten Barru meningkat menjadi Rp. 48.292.392.300, atau mengalami peningkatan sebesar 683.23 persen. Selanjutnya APBD Pokok Tahun Anggaran 2004 direncanakan sebesar Rp. 209.869.391.665 mengalami penambahan Rp. 7.462.576.251 (3,56%), sehingga APBD Perubahan menjadi sebesar Rp. 217.331.967.916,00 APBD Perubahan Tahun Anggaran 2004 ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Barru Nomor 6 Tahun 2004 tanggal 11 Desember 2004. Namun,
penggunaan APBD pada tahun 2004 hanya terealisasi sebesar Rp. 112.527.659.000,- atau 51.77 persen dari APBD yang direncanakan.
Selanjutnya, pada tahun anggaran 2008 APBD Kabupaten Barru telah mencapai Rp. 464.296.859.000.
Pertumbuhan belanja daerah pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh kemampuan pemerintah daerah dalam mencari dan menghimpun dana sesuai dengan bidang kewenangan yang dimilikinya. Sejalan dengan pelaksanaan Undang-Undang Otonomi Daerah, kemampuan pendanaan/keuangan pemerintah daerah mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan. Namun demikian, kalau dilihat dari sisi penerimaan APBD Kabupaten Barru masih didominasi dari dana perimbangan dari Pemerintah Pusat. Peranan Pendapatan Asli Daerah (PAD) masih sangat rendah dalam alokasi belanja daerah. Pada tahun 1990 kontribusi PAD terhadap APBD total hanya sekitar 5.54 persen.
98 Pada tahun 2008 kontribusi PAD terhadap APBD total Kabupaten Barru justru semakin kecil, yaitu hanya sekitar 3.10 persen. Penurunan kontribusi PAD terhadap APBD pokok Kabupaten Barru disebabkan oleh terjadinya peningkatan dana perimbangan dari pemerintah pusat sejak tahun 2001. Untuk lebih jelasnya, trend APBD dan kontribusi PAD terhadap APBD pokok Kabupaten Barru dapat dijelaskan pada Tabel 13 berikut.
Tabel 13. Tingkat perkembangan APBD, PAD dan Pertumbuhan APBD Kabupaten Barru, Tahun 1990 – 2008 (Realisasi).
Tahun APBD (Rp. 0000) Pertumbuhan APBD (%) PAD (Rp.000) Kontribusi PAD terhadap APBD (%) 1990 6.165.775 0.00 341.877 5.54 1991 9.147.081 48.35 531.682 5.81 1992 14.081.909 53.95 448.352 3.18 1993 18.693.025 32.74 571.755 3.06 1994 15.231.025 -18.52 668.438 4.39 1995 19.094.735 25.37 779.877 4.08 1996 20.129.454 5.42 724.409 3.60 1997 19.358.159 -3.83 921.600 4.76 1998 21.259.750 9.56 1.235.486 5.81 1999 27.209.768 28.29 1.360.725 5.00 2000 42.482.244 56.13 1.943.893 4.57 2001 44.078.550 3.76 2.343.496 5.32 2002 80.355.460 82.30 3.299.408 4.11 2003 119.716.169 48.98 9.000.159 7.52 2004 112.527.659 -6.00 9.563.577 8.50 2005 151.585.041 34.71 10.096.737 6.66 2006 261.611.550 72.58 10.543.300 4.03 2007 329.189.948 25.83 14.389.935 4.37 2008 464.296.859 41.04 14.390.370 3.10
Sumber : Diolah dari Laporan Monitoring Proyek-Proyek Bappeda Kabupaten Barru, Tahun 1990 – 2008.
Dari Tabel 13 di atas, dapat juga dijelaskan bahwa terjadinya lonjakan penerimaan daerah Kabupaten Barru pada tahun 2003 dari Rp. 3.299.408,- menjadi Rp. 9.000.159,- yang disebabkan oleh adanya perbaikan sistem manajemen dan informasi obyek pajak (SISMIOP). Perbaikan sistem ini berdampak pula pada peningkatan kontribusi PAD terhadap belanja daerah yaitu dari 4,11 % pada tahun 2002 menjadi 7,52% pada tahun 2003 yang puncaknya pada tahun 2004 menjadi 8,50%. Namun demikian, perbaikan sistem ini hanya pada obyek pajak bumi dan bangunan (PBB) tidak menciptakan peningkatan yang
99 berkesinambungan yang diindikasikan adanya kecenderungan penurunan selama lima tahun terakhir dalam kontribusinya terhadap APBD Kabupaten Barru.
5.1.5. Sosial Budaya Daerah 5.1.5.1. Kependudukan
Perkembangan penduduk Kabupaten Barru dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2008 tidak menunjukkan perkembangan yang besar dengan rata-rata pertumbuhan 1,24 persen. Jumlah penduduk pada tahun 2000 sebesar 152.101 jiwa mengalami peningkatan menjadi 158.821 jiwa pada tahun 2005 dan pada tahun 2008 hanya mencapai 159.235 jiwa. Dengan jumlah penduduk tersebut, dapat dikategorikan bahwa Kabupaten Barru masih memiliki pertumbuhan penduduk yang stabil dan terkendali dengan kepadatan penduduk pada tahun 2008 yaitu 135.55 jiwa/km2.
Dari total jumlah penduduk yang ada, tenaga kerja produktif (usia 10 tahun ke atas) yang bekerja berjumlah 45.203 jiwa (tahun 2005) dan yang mencari pekerjaan sebesar 1.606 jiwa. Tingkat partisipasi angkatan kerja pada tahun 2005 sebesar 49,14 %, pengangguran terbuka 3,43 %. Sedangkan pada tahun 2008, tingkat partisipasi angkatan kerja mencapai 53.64 %, namun jumlah pengangguran terbuka juga meningkat menjadi 9,50% (BPS Kabupaten Barru, 2009).
5.1.5.2. Kesehatan
Penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang dilaksanakan melalui upaya promotif, preventif dan proaktif yang didukung oleh upaya kuratif dan rehabilitatif telah memberikan dampak positif terhadap meningkatnya derajat kesehatan masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dari beberapa capaian pembangunan kesehatan antara lain:
1) Kematian (Mortality)
Indikator pembangunan kesehatan tidak terlepas dari angka kematian bayi, kematian balita, dan kematian neonatal. Di Kabupaten Barru angka kematian bayi mencapai angka 4.32 per 1000 bayi atau 432 bayi yang mati apabila kelahiran mencapai angka 100.000 kelahiran. Sedangkan angka kematian balita di Kabupaten Barru sebanyak 1,01 per 1000 balita atau 101 per 100.000 balita (Bappeda, 2009). Selanjutnya angka kematian neonatal
100 merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan upaya perbaikan gizi masyarakat dan kesehatan ibu dan anak serta partisipasi masyarakat dalam memanfaatkan pelayaan kesehatan. Angka kematian neonatal mencapai 3,23 per 1.000 kelahiran atau 323 setiap 100.000 kelahiran. Kematian neonatal tertinggi berada di Kecamatan Tanete Riaja mencapai 6,59 per 1.000 kelahiran.
2) Kesakitan (Morbidity) Penyakit Menular
Dari beberapa penyakit menular yang ada, penyakit diare menempati urutan tertinggi menyerang masyarakat Kabupaten Barru pada tahun 2008 yakni 1.075 per 100.000 penduduk, menyusul penyakit ISPA dengan prevalensi 1.058 per 100.000 penduduk, DHF 48 per 100.000 penduduk, Hepatitis 10 per 100.000 penduduk, Campak 6 per 100.000 penduduk, Tetanus 2 per 100.000 penduduk dan Pertusis 1 per 100.000 penduduk.
Penyakit Tidak Menular
Selain penyakit menular, masyarakat juga dihadapkan pada risiko terkena penyakit tidak menular seperti: Hypertensi dengan prevalensi 514 per 100.000 penduduk, Diabetes mellitus 105 per 100.000 penduduk dan gangguan pembuluh darah dan jantung 78 per 100.000 penduduk.
3) Status Gizi
Status gizi masyarakat Kabupaten Barru menunjukkan bahwa masih terdapat bayi yang lahir dengan berat badan rendah yang sangat memungkinkan terserang penyakit menular yang umumnya disebabkan oleh kekurangan zat gizi. Prevalensi bayi yang lahir dengan berat badan rendah sebanyak 19,40 per 1.000 bayi lahir. Kasus ini lebih banyak terjadi pada rumah tangga miskin dan wilayah terpencil di daerah pegunungan.
Sementara gangguan akibat kekurangan Yodium (GAKY) merupakan salah satu indikator status gizi masyarakat. Prevalensi penderita GAKY pada murid SD sebanyak 59,3 per 1.000 murid SD. Selain itu ibu hamil yang
101 menderita KEK sebesar 25,0 per 1.000 ibu hamil dan yang menderita anemia gizi besi sebanyak 22,2 per 1.000 ibu hamil.
5.1.5.3. Pendidikan
Berdasarkan data angka partisipasi kasar (APK) dan angka partisipasi murni untuk tingkat SD/MI menunjukkan adanya peningkatan dari tahun ke tahun tapi bila dibadingkan antara jumlah siswa usia 7-12 tahun dengan jumlah penduduk yang berusia 7-12 tahun, ternyata masih banyak anak usia sekolah SD yang belum menikmati bangku sekolah. Rendahnya pemahaman dan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan menjadi salah satu pemicu masih banyaknya anak usia sekolah SD yang tidak bersekolah. Di samping itu, kejadian ini paling banyak terjadi pada wilayah pegunungan yang masih terpencil dan kurang terjangkau dengan pelayanan pendidikan dasar. Di sisi lain, upaya pemerintah daerah untuk menyediakan pelayanan pendidikan dasar mengalami kemajuan yang sangat pesat, dimana pada tahun 2009, semua desa sudah tersedia dan terjangkau pelayanan pendidikan dasar dengan konsep pendidikan gratis.
Persentase jumlah anak usia 7-12 tahun yang bersekolah meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun ajaran 2000/2001 jumlah anak yang bersekolah sebanyak 76 persen (17.602 siswa) meningkat menjadi 84 persen (19.276 siswa) pada tahun 2004/2005. Sementara itu dari sisi APK dan APM menunjukkan peningkatan secara signifikan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2000, APK dan APM untuk tingkat SD/MI masing-masing sebesar 92,26 persen dan 75,69 persen sementara pada tahun 2005 meningkat menjadi 108,48 persen dan 84,48 persen. Sedangkan pada tahun 2008 APM Kabupaten Barru mencapai 96,75 persen dan 78,72 persen. Angka tersebut bila dibandingkan dengan norma Standar Pelayanan Minimum (SPM) masing-masing sebesar 110 persen dan 90 persen, capaian APK dan APM untuk tingkat SD/MI masih belum optimal.
Pada tingkatan SMP/MTs, persentase jumlah siswa usia 12-15 tahun semakin meningkat, pada tahun ajaran 2000 sebesar 50 persen (5.128 siswa) dan pada tahun ajaran 2004 meningkat menjadi 79 persen (6.854 siswa) dan pada tahun 2008 mencapai angka 80,23 persen. Walaupun demikian, bila dibandingkan dengan total penduduk usia 12-15 tahun menunjukkan bahwa jumlah penduduk
102 yang tidak bersekolah masih relatif besar. Sementara itu, APK dan APM untuk tingkat SMP/MTs. menunjukkan adanya peningkatan dari tahun ajaran 2000 masing-masing sebesar 66,07 dan 50,16 persen menjadi 77,33 dan 62,89 persen pada tahun 2004 serta pada tahun 2008 mengalami penurunan menjadi 73,47 persen. Angka tersebut bila dibandingkan dengan norma Standar Pelayanan Minimum (SPM) masing-masing sebesar 90 persen dan 80 persen, capaian APK dan APM untuk tingkat SMP/MTS masih belum optimal.
Ditinjau dari aspek pemerataan untuk tingkat SD/MI, angka melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs. sebesar 78,37 persen (standar SPM 100 persen); Rasio siswa per guru kelas adalah 16 (norma SPM 30); sedangkan untuk tingkat SMP/MTs angka melanjutkan pendidikan ke SMA/SMK. sebesar 62,92 persen (norma SPM 100 persen); Rasio siswa per guru kelas adalah 28. Sementara pemerataan kesempatan belajar untuk tingkat SD/MI yang dicapai sebesar 1,01 (norma SPM 0,80) dan untuk tingkat SMP/MTs. yang dicapai 0,77 (norma SPM 0,80).
Tingkat penyelesaian sekolah yang dicapai untuk tingkat SD/MI sebesar 95,1 persen (norma SPM 90 persen) dan untuk tingkat SMP/MTs. sebesar 97 persen (norma SPM 90 persen). Angka partisipasi anak perempuan untuk tingkat SD/MI sebesar 1,01 (norma SPM 0,80 ) dan untuk tingkat SMP/MTs. sebesar 0,79 (norma SPM 0,80). Capaian ketersediaan Guru dan Kepala Sekolah untuk SD/MI sebesar 70 persen (norma SPM 90 persen) dan untuk tingkat SMP/MTs. sebesar 93,89 persen (norma SPM 90 persen). Ketersediaan tenaga kependidikan non guru untuk tingkat SD/MI yang dicapai sebesar 25 persen (norma SPM 80 persen) dan untuk tingkat SMP/MTs. sebesar 15 persen (norma SPM 80 persen).
Sementara untuk kelayakan prasarana sekolah, capaian untuk tingkat SD/MI sebesar 85 persen (norma SPM 90 persen) dan untuk tingkat SMP/MTs. sebesar 65 persen (norma SPM 90 persen). Adapun siswa yang mempunyai buku pelajaran lengkap, capaian untuk tingkat SD/MI sebesar 60 persen (norma SPM 90 persen) dan untuk tingkat SMP/MTs. sebesar 65 persen (norma SPM 90 persen). Penerapan manajemen berbasis sekolah (MBS) untuk tingkat SD/MI
103 yang dicapai sebesar 75 persen (norma SPM 90 persen) dan untuk tingkat SMP/MTs. sebesar 90 persen ( norma SPM 90 persen).
Berdasarkan data indikator pendidikan; apabila indikator pemerataan (persentase melanjutkan, rasio siswa per kelas) dan indikator mutu (persentase lulusan, persentase guru layak mengajar, persentase mengulang, persentase putus sekolah), serta indikator keberhasilan yang merupakan gabungan indikator pemerataan dan mutu dijadikan ukuran kemajuan pendidikan, maka dari aspek pemerataan yang terdiri dari; angka melanjutkan lulusan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, rasio siswa per kelas, ternyata untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah belum merata.
Sedangkan dari aspek mutu yang terdiri dari; persentase lulusan, persentase guru layak mengajar, persentase mengulang dan persentase putus sekolah; jenjang pendidikan SD/MI menunjukkan level belum bermutu, sedangkan SMP/MTs. kurang bermutu. Sementara itu dari aspek keberhasilan yang merupakan gabungan dari indikator pemerataan dan mutu menunjukkan bahwa untuk jenjang pendidikan dasar dan SMP/MTs. adalah belum berhasil (Bappeda Kabupaten Barru, 2008).
Permasalahan yang dihadapi di bidang pendidikan adalah masih rendahnya angka partisipasi kasar, masih tingginya guru tidak layak mengajar, masih tingginya peserta didik yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, rendahnya kelayakan prasarana sekolah, rendahnya rasio jumlah siswa dengan jumlah buku pelajaran (Bappeda Kabupaten Barru, 2009). Di samping itu, permasalahan lain yang dihadapi sehingga rendahnya tingkat partisipasi kasar terutama pada tingkat pendidikan SMP dan SMA ke atas, adalah rendahnya aksesibilitas dan kemampuan masyarakat untuk membiayai pendidikan karena tingginya biaya transport sebagai akibat keterisolasian wilayah, terutama pada wilayah pegunungan.
104
5.2. Karakteristik Rumah Tangga Miskin Menurut Wilayah di Kabupaten