• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

E. Rasio Keuangan

1. Pengertian dan Kegunaan Rasio Keuangan

Menurut Susilawati (2005: 59), rasio keuangan adalah perbandingan antara dua elemen laporan keuangan yang menunjukkan suatu indikator kesehatan keuangan pada waktu tertentu. Rasio keuangan yang telah diolah dari laporan keuangan sangat penting dalam melakukan analisis terhadap kondisi keuangan perusahaan oleh beberapa pihak. Laporan keuangan harus dapat menyajikan informasi yang berguna bagi investor, calon investor, kreditor, dan pihak lain yang membutuhkannya dalam rangka mengambil keputusan yang rasional.

Menurut Munawir (1983: 64), rasio menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan (mathematical relationship) antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisa berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan tertutama apabila angka rasio tersebut dibandingkan dengan angka rasio pembanding yang digunakan sebagai standar.

Rasio keuangan digunakan untuk membandingkan risiko dan tingkat imbal hasil dari berbagai perusahaan untuk membantu investor dan kreditor dalam membuat keputusan investasi dan kredit yang baik. Rasio keuangan merupakan salah satu bentuk informasi akuntansi yang penting dalam proses penilaian kinerja perusahaan, sehingga dengan rasio keuangan tersebut dapat

mengungkapkan kondisi keuangan suatu perusahaan maupun kinerja yang telah dicapai perusahaan untuk suatu periode tertentu. Rasio keuangan berguna untuk memprediksi kesulitan keuangan, hasil operasi, kondisi keuangan perusahaan saat ini dan pada masa mendatang, serta pedoman bagi investor mengenai kinerja masa lalu dan masa mendatang.

2. Pengelompokkan Rasio Keuangan

Menurut Sartono (1996: 121), ada 4 kelompok rasio keuangan, yaitu: a. Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial yang berjangka pendek tepat pada waktunya. Jika perusahaan tidak mampu mempertahankan kemampuan membayar hutang jangka pendek, maka pada umumnya perusahaan tersebut tidak akan mampu membayar hutang jangka panjang dan tidak akan mampu memuaskan pemegang saham. Semakin tinggi rasio ini mengindikasikan tingkat likuiditas perusahaan yang semakin baik. Contoh rasio ini adalahcurrent ratio, cash ratiodanquick ratio.

b. Rasio Aktivitas

Rasio aktivitas menunjukkan hubungan antara tingkat operasi perusahaan dengan aset yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan operasi perusahaan tersebut. Semakin tinggi rasio ini mengindikasikan semakin efektif penggunaan aktiva perusahaan. Contoh rasio ini adalah

inventory turnover, fixed asset turnover, accounts payable turnover, account receivable turnoverdantotal asset turnover.

c. RasioLeverage

Rasioleverage menunjukkan kapasitas perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka panjang. Semakin rendah rasio ini menunjukkan semakin rendah risiko yang harus ditanggung perusahaan. Jika rasio perusahaan rendah, maka investor akan tertarik untuk berinvestasi di perusahaan tersebut. Contoh rasio ini adalah debt ratio, long-term debt to total capitalizationdandebt to equity ratio.

d. Rasio Profitabilitas

Rasio ini dapat mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan memperoleh laba baik hubungannya dengan penjualan, aset maupun laba bagi modal sendiri. Dengan kenaikan laba perusahaan, maka akan memicu kenaikan harga pasar saham dan potensi diperoleh capital gain. Semakin tinggi rasio ini menunjukkan semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Contoh rasio ini adalah gross profit margin, operating profit margin, net profit margin, cash return on assets, return on investmentdanreturn on equity.

3. Rasio Keuangan dalam Penelitian

Dari beberapa rasio keuangan yang telah disebutkan di atas, penulis hanya menggunakan beberapa rasio keuangan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut:

a. Current Ratio(CR)

Menurut Faisal (2008: 51), rasio yang paling banyak digunakan untuk mengukur likuiditas perusahaan adalah current ratio. Current ratio

merupakan ukuran yang paling umum terhadap kesanggupan perusahaan membayar hutangnya dalam jangka pendek, sebab rasio tersebut menunjukkan seberapa jauh tagihan para kreditor jangka pendek mampu dipenuhi oleh aktiva yang secara cepat dapat berubah menjadi kas (dalam jangka pendek). Dari sudut pandang investor, semakin tinggi nilai rasio lancar akan memberikan perlindungan terhadap kemungkinan kerugian drastis bila terjadi kegagalan perusahaan. Kelebihan aktiva lancar yang besar atas kewajiban lancar tampaknya membantu melindungi klaim, karena persediaan dapat dicairkan dengan pelelangan atau karena tidak terdapat banyak masalah dalam penagihan piutang usaha. Current ratio

dapat ditulis: Lancar Hutang Lancar Aktiva Ratio Current 

b. Total Asset Turnover(TATO)

Menurut Fraser dan Ormiston (2008: 231), total aseet turnover

menunjukkan efektivitas penggunaan seluruh harta perusahaan dalam rangka menghasilkan penjualan atau menggambarkan berapa rupiah penjualan bersih yang dapat dihasilkan oleh setiap rupiah yang diinvestasikan dalam bentuk harta perusahaan. Jika perputarannya lambat, menunjukkan bahwa aktiva yang dimiliki terlalu besar dibandingkan dengan kemampuan untuk menjual. Dari sudut pandang investor, semakin cepat perputarannya mengindikasikan bahwa penjualan suatu perusahaan akan meningkat. Jika penjualan perusahaan meningkat, maka laba yang diperoleh juga meningkat dan tingkat pengembalian akan meningkat.

Total aseet turnoverdapat ditulis:

Aktiva Total Penjualan Turnover Asset Total 

c. Debt to Equity Ratio(DER)

Menurut Fraser dan Ormiston (2008: 233), debt to equity ratio

mengukur risiko struktur modal dalam hal hubungan antara dana yang dipasok oleh kreditor (hutang) dan investor (ekuitas). Makin tinggi proporsi hutang, maka makin besar tingkat risiko ekuitas karena kreditor harus dipenuhi sebelum pemilik dalam hal kebangkrutan. Menggunakan hutang berkenaan dengan risiko karena hutang menimbulkan komitmen tetap berupa beban bunga dan pelunasan pokok hutang. Namun jika

hutang dapat dikelola dengan baik (jika laba operasi lebih besar dan cukup menutup beban hutang), maka akan memperbesar tingkat pengembalian kepada investor. Debt to equity ratiodapat ditulis:

Sendiri Modal Total Hutang Total Ratio Equity to Debt 

d. Return On Investment(ROI)

Menurut Fraser dan Ormiston (2008: 238),return on investmentatau yang biasa dikenal Return On Asset (ROA) menunjukkan jumlah laba yang diperoleh secara relatif terhadap tingkat investasi dalam total aktiva. Atau dengan kata lain mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan menggunakan total aset yang ada. Jika perusahaan menghasilkan laba yang besar, maka investor akan mendapat tingkat pengembalian yang besar pula.Return on investmentdapat ditulis:

Aktiva Total Bersih Laba Investment On Return 

Dokumen terkait