1) Job order costing method atau Job costing method adalah metode pengumpulan kos produk/ jasa yang memperlakukan setiap pesanan sebagai suatu unit keluaran yang unik dan membebankan activity cost ke setiap pesanan pada saat pesanan yang bersangkutan mengkonsumsi aktivitas. 2) Process costing method adalah metode pengumpulan kos produk/ jasa yang memperlakukan sama semua produk/ jasa yang dihasilkan dalam periode waktu tertentu, dan membebankan activity cost ke seluruh produk/ jasa yang dihasilkan dalam periode waktu tertentu.
3) Hybrid costing method adalah merupakan kombinasi antara process costing method dan job order costing method.
2.2.8. KEUNGGULAN ABC SYSTEM DALAM PENENTUAN KOS PRODUK
ABC system menyediakan informasi kos produk/ jasa secara akurat sehingga informasi tersebut dapat digunakan oleh personel sebagai dasar yang dapat diandalkan untuk penetapan kebijakan harga jual produk dan jasa. ABC system menghasilkan informasi kos produk/ jasa lebih cermat dibandingkan dengan informasi kos produk/ jasa yang dihasilkan oleh akuntansi biaya tradisional. Informasi kos produk/ jasa dihasilkan melalui proses ABOC, kecermatan kos produk/jasa yang dihasilkan ABOC diperoleh dari :
1. Hubungan sebab-akibat yang dibangun di antara produk/ jasa, aktivitas, dan sumber daya. Produk/ jasa mengkonsumsi aktivitas, dan aktivitas mengkonsumsi sumber daya.
Hubungan sebab-akibat antara produk/ jasa dengan aktivitas dan hubungan sebab-akibat antara aktivitas dengan sumber daya selalu dibangun dalam proses perhitungan kos produk/ jasa. Dengan demikian, biaya yang dibebankan sebagai kos produk/ jasa dapat ditelusuri dengan jelas dan cermat melalui hubungan sebab-akibat yang senantiasa dibangun dalam proses perhitungan kos produk/jasa, aktivitas, dan sumber daya. Hubungan sebab-akibat yang senantiasa dibangun dalam process perhitungan kos produk/ jasa melalui activity-based process costing dan activity-based object costing inilah yang menghasilkan perhitungan kos produk/ jasa yang cermat.
2. Penggunaan activity driver yang bervariasi sesuai dengan tuntutan konsumsi aktivitas oleh produk/ jasa.
32 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. J enis Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam metode ini adalah pendekatan metode kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Metode studi kasus merupakan pendekatan penelitian yang sesuai apabila pokok pertanyaan dari penelitian berkaitan dengan “bagaimana” atau “mengapa”, bila penelitian hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol peristiwa-peristiwa yang diselidiki, dan bila fokos penelitiannya terletak pada fenomena kontemporer pada konteks kehidupan nyata. Dalam penelitian ini yang akan diamati adalah bagaimana penerapan metode Activity Based Costing pada PT PLN (Persero) distribusi Jawa Timur APJ Bojonegoro. Alasan penulis mengamati penerapan metode Activity Based Costing pada PT PLN (Persero) distribusi Jawa Timur APJ Bojonegoro karena PT PLN APJ Bojonegoro sebagian besar dari pelanggan tarifnya adalah pelanggan dengan tarif rumah tangga.
3.2. Lingkup dan Lokasi Penelitian
Sehubungan dengan luasnya permasalahan yang ada, maka penulis membatasi ruang lingkup penelitian pada perhitungan biaya pokok penyediaan, dengan metode Activity Based Costing untuk meningkatkan keakuratan informasi biaya pokok penyediaan tarif dasar listrik.
Perusahaan yang diteliti adalah PT PLN (Persero) distribusi Jawa Timur APJ Bojonegoro yang bergerak dalam bidang jasa pelayanan listrik karena. Lokasi perusahaan terletak di Jl. Teuku Umar No.3 Bojonegoro.
3.3. Penentuan Infor man
Untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat terhadap data yang diperlukan untuk penelitian, perusahaan telah menunjuk stafnya yang berkaitan dengan kebutuhan dan informasi data-data yang dibutuhkan. Bagian yang berkaitan dengan keperluan data dalam penelitian ini adalah supervisor akuntansi.
3.4. Sumber Data dan J enis Data
Adapun sumber data berasal dari PT PLN (Persero) distribusi Jawa Timur APJ Bojonegoro.
Jenis Data dalam penelitian ini terbagi menjadi dua data: 1. Data Primer
Data yang diperoleh secara langsung dari perusahaan dengan melakukan observasi dan wawancara dengan pihak-pihak yang terkait dalam manajemen maupun produksi.
2. Data Sekunder
Data yang berasal dari hasil penelitian kepustakaan yang didapatkan dari literature kuliah dan penunjang lainnya yang berguna sebagai landasan teori serta dari peninjauan ke perusahaan yang berupa data kualitatif.
3.5. Teknik Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini adalah: 1. Observasi
Merupakan cara pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap obyek penelitian. Data yang terkait adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas perusahaan.
2. Interview (wawancara)
Merupakan cara pengumpulan data melalui komunikasi langsung dengan pihak-pihak yang terkait dengan permasalahan yang diteliti. Data mengenai sejarah berdirinya perusahaan, struktur organisasi perusahaan, data aktivitas, dan data karyawan.
3. Dokumentasi
Merupakan cara pengumpulan data yang dilakukan dengan mempelajari dokumen-dokumen, arsip-arsip, atau catatan-catatan yang dimiliki perusahaan, yang nantinya dianalisis dan dibuat kesimpulan. Data mengenai biaya pokok penyediaan.
4. Studi kepustakaan
Berupa pengumpulan data-data dari literatur yang relevan dengan permasalahan ini dan digunakan sebagai landasan teori. Adapun main research question dan list questionnya dapat dilihat dibawah ini:
3.6. Teknik Analisis
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif, mengikuti konsep yang diberikan Miles dan Huberman. Miles dan Huberman (1992:16), mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus pada setiap tahapan penelitian sehingga sampai tuntas, dan datanya sampai jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu:
1. Data Reduction (Reduksi Data)
Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu perlu dicatat secara teliti dan rinci. Semakin lama peneliti ke lapangan, maka jumlah data akan semakin banyak, komplek dan rumit. Untuk itu perlu segera dilakukan analisis data melalui reduksi data. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.
2. Data Display (Penyajian Data)
Setelah reduksi data, maka langkah selanjutnya adalah menampilkan data, dalam hal ini Miles dan Huberman menyatakan yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalang dengan teks yang bersifat naratif.
3. Menarik Kesimpulan / Verification
Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman adalahpenarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukakan bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila didukung dengan bukti-bukti yang valid dan konsisten, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, namun mungkin juga tidak karena rumusan masalah dala penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti berada di lapangan. Rencananya, kesimpulan dibuat dengan melalui tahap-tahap analisis data sehingga mencapai saran dari peneliti yang berasal dari fakta dilapangan.
3.7. Pengujian Kr edibilitas Data
Pengujian kredibilitas data penelitian akan dilakukan dengan cara: (Sugiyono,2005:122-125)
1. Perpanjangan pengamatan
Perpanjangan pengamatan berarti peneliti kembali ke lapangan, melakukan pengamatan, wawancara lagi dengan sumber data yang pernah ditemui maupun yang baru. Dengan perpanjangan pengamatan ini hubungan berarti hubungan peneliti dengan narasumber akan
semakin terbentuk rapport, semakin akrab, semakin terbuka, saling mempercayai sehingga tidak ada informasi yang disembunyikan lagi. Bila telah terbentuk rapport, maka telah terjadi kewajaran dalam penelitian. Dalam perpanjangan pengamatan untuk menguji kredibilitas data penelitian ini, sebaiknya difokuskan pada pengujian terhadap data yang diperoleh, apakah data yang diperoleh itu setelah dicek kembali ke lapangan benar atau tidak, berubah atau tidak. Bila sudah benar berarti kredibel, maka waktu perpanjangan pengamatan dapat diakhiri.
2.Meningkatkan Ketekunan
Pengujian kredibilitas dengan meningkatkan ketekunan ini dilakukan dengan cara peneliti membaca seluruh catatan hasil penelitian dengan cermat, sehingga dapat diketahui kesalahan dan kekurangannya. Demikian juga dengan meningkatkan ketekunan maka, peneliti dapat memberikan deskripsi data yang akurat dan sistematis tentang apa yang diamati.
Sebagai bekal peneliti untuk meningkatkan ketekunan adalah dengan cara membaca berbagai referensi buku maupun hasil penelitian atau dokumentasi-dokumentasi yang terkait dengan temuan yang diteliti. Dengan membaca ini maka wawasan peneliti akan semakin luas dan tajam, sehingga dapat digunakan untuk memeriksa data yang ditemukan itu benar/ dipercaya atau tidak.
3. Triangulasi
Triangulasi dilakukan dengan cara trianulasi teknik, sumber data dan waktu. Triangulasi teknik dilakukan dengan cara menanyakan hal yang sama dengan teknik yang berbeda, yaitu dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Triangulasi sumber, dilakukan dengan menanyakan hal yang sama melalui sumber yang berbeda, dalam hal ini sumber datanya adalah pemilik dan pegawai penjualan dan bagian keuangan. Triangulasi waktu artinya pengumpulan data dilakukan pada berbagai kesempatan, pagi, siang, dan sore hari. Dengan triangulasi dalam pengumpulan data tersebut, maka dapat diketahui apakah nara sumber memberikan data yang sama atau tidak. Kalau nara sumber memberikan data yang berbeda, maka berarti datanya belum kredibel.
40 4.1. Sejar ah Singkat PT. PLN (PERSERO)
Berawal dari abad ke 19, perkembangan ketenagalistrikan di Indonesia mulai ditingkatkan saat beberapa perusahaan asal Belanda yang bergerak di bidang pabrik gula dan pabrik teh mendirikan pembangkit listrik untuk keperluan sendiri.
Antara tahun 1942-1945 terjadi peralihan pengelolaan perusahaan-perusahaan Belanda tersebut oleh Jepang, setelah Belanda menyerah kepada pasukan tentara Jepang di awal Perang Dunia II. (http//www.pln.co.id diunduh tanggal 12/02/2012)
Proses peralihan kekuasaan kembali terjadi di akhir Perang Dunia II pada Austus 1945, saat Jepang menyerah pada Sekutu. Kesempatan ini digunakan oleh para pemuda dan buruh listrik melalui delegasi Buruh/ Pegawai Listrik dan Gas yang bersama-sama dengan pimpinan KNI Pusat berinisiatif menghadap Presiden Soekarno untuk menyerahkan perusahaan-perusahaan tersebut kepada Pemerintah Republik Indonesia. Pada 27 Oktober 1945, Presiden Soekarno membentuk Jawatan Listrik dan Gas dibawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga dengan kapasitas pembangkit tenaga listrik sebesar 157,5 MW.
Tanggal 1 Januari 1961, Jawatan Listrik dan Gas diubah menjadi BPU-PLN (Badan Pimpinan Umum Perusahaan Listrik Negara) yang bergerak dibidang listrik, gas, dan kokas yang dibubarkan pada tanggal 1 Januari 1965.
Pada saat yang sama, 2 perusahaan negara yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai pengelola tenaga listrik milik Negara dan Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagai pengelola gas diresmikan.
Tahun 1972, sesuai dengan Peraturan Pemerintah No 17, status Perusahaan Listrik Negara (PLN) ditetapakan sebagai Perusahaan Umum Listrik Negara dan sebagai Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan (PKUK) dengan tugas menyediakan tenaga listrik bagi kepentingan umum.
Seiring dengan kebijakan Pemerintah yang memberikan kesempatan kepada sektor swasta untuk bergerak dalam bisnis penyediaan listrik, maka sejak tahun 1994 status PLN beralih dari Perusahaan Umum menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) dan juga sebagai PKUK dalam menyediakan listrik bagi kepentingan umum hingga sekarang. (http//www.pln.co.id diunduh tanggal 12/02/2012)
4.2. Gambar an Umum Per usahaan
PLN Distribusi Jawa Timur APJ Bojonegoro berlokasi di Jl. Teuku Umar no 3 Bojonegoro. PLN Distribusi Jawa Timur APJ Bojonegoro membawahi 8 Unit Pelayanan dan Jaringan (UPJ) dan 1 Unit Jaringan (UJ) yang bertanggungjawab dalam peningkatan pelayanan kepada pelanggan, pengelolaan administrasi pelanggan utuk menjamin pencapaian target pendapatan dan peningkatan kepuasan pelanggan. Unit Pelayanan Jaringan (UPJ) tersebut adalah:
- UPJ Bojonegoro kota - UPJ Sumberjo - UPJ Tuban - UPJ Lamongan - UPJ Babat - UPJ Padangan - UPJ Brondong - UPJ Jatirogo
Unit Jaringan (UJ) tersebut adalah: UJ Bojonegoro kota
4.3. Visi dan Misi Perusahaan Visi dari PT PLN (Persero)
“Diakui sebagai Perusahaan Kelas Dunia yang bertumbuh kembang, Unggul dan terpercaya dengan bertumpu pada potensi insani.”
Misi dari PT. PLN (Persero)
1. Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, berorientasi pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan dan pemegang saham. 2. Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas
kehidupan masyarakat.
3. Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi. 4. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan.
yang Lebih Baik.” Penerapan nilai-nilai: “Saling Percaya, Integritas, Peduli dan Pembelajar.”
4.4. Str uktur Or ganisasi dan Ur aian J abatan
Struktur organisasi merupakan gambaran secara sistematis tentang hubungan orang-orang yang berada dalam suatu wadah atau badan. Dengan kata lain, struktur organisasi merupakan kerangka yang menunjukkan hubungan antara fungsi-fungsi, wewenang dan tanggung jawab anggota organisasi dalam satu sistem kerjasama.
Semakin bertambah luasnya ruang lingkup perusahaan dewasa ini, maka pengawasan tidaklah dapat dilakukan secara pribadi oleh manajemen pelaksana, sehingga perlu dibentuk struktur organisasi yang tepat. Adapun struktur organisasi PT. PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur Area Pelayanan dan Jaringan Bojonegoro merupakan struktur organisasi lini atau garis yaitu organisasi dimana wewenang kekuasaan mengalir dari atas ke bawah atau dari pimpinan langsung ke bawahnya. Adapun struktur organisasi serta penelasan tentang tugas dan wewenang adalah sebagai berikut :
1. Manajer
Memimpin atau mengendalikan seluruh aktivitas yang dilakukan oleh seluruh ranting dan rayon di wilayah Bojonegoro
2. Bagian Pemasaran
Bertanggung jawab dalam kegiatan mengenai riset pasar, wiraniaga dan promosi pelanggan, dan pengelolaan AMR (Automatic Meter Reading).
3. Bagian Niaga
Bertanggung jawab dalam pengelolaan administrasi pelanggan, pembacaan meter, pengelolaan data dan pengolahan piutang.
4. Bagian Distribusi
Bertanggung jawab dalam perencanaan dan konstruksi di dalam penyediaan tenaga listrik dan bangunan sipil, operasi distribusi, mapping, serta peneraan.
5. Bagian Keuangan
Bertanggung jawab dalam pendapatan dan pengakuan aset, perencanaan dan pengendaliaan, anggaran dan pendapatan sesuai dengan prosedur administrasi dan akuntansinya, untuk menjamin pengelolaan anggaran dan pendapatan yang efektif dan efisiensi guna peningkatan kinerja keuangan.
6. Bagian SDM dan Administrasi
Bertanggung jawab dalam pengembangan dan administrasi Sumber Daya Manusia, pengelolaan kegiatan kesekretariatan dan umum untuk menjamin kelancaran operasional, serta melaksanakan kegiatan kehumasan dan Sumber Daya Manusia.
46
5.1. Pener apan Activity Based Costing System d i PT. PLN (Per ser o) Distr ibusi J atim APJ Bojonegor o
PT PLN (Persero) menerapkan metode Activity Based Costing (ABC System), yaitu suatu sistem informasi biaya yang berbasis aktivitas yang didesain untuk memotivasi personel untuk melakukan pengurangan biaya dalam jangka panjang melalui pengelolaan aktivitas.
Sub bab ini merupakan jawaban dari mini research pertama mengenai penerapan Activity Based Costing di PT PLN (Persero) APJ Bojonegoro. Berikut merupakan penjelasan yang dikemukakan oleh Superviser Akuntansi:
“…untuk penerapan Activity Based Costing tahap pertama itu menggolongkan transaksi biaya yang mempengaruhi setiap kegiatan, kedua menghubungkan biaya menggunakan cost driver, ketiga ini alokasi aktivitas. Pokoknya ini aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan kegiatan operasionalnya, trus yang keempat yaitu penggolongan pemicu biayanya, nah terakhir dari pengalokasian biaya-biaya tadi kan akhirnya ketemu BPP nya berapa…”
(Informan Pak Arifin) Hal demikian juga sama seperti yang diungkapkan oleh Staf Junior Akuntansi mengenai penerapan Activity Based Costing di PT PLN (Persero) APJ Bojonegoro:
“…penerapan ABC nya itu yang harus dilakukan dulu ya menggolongkan semua transaksi-transaksi biaya dalam kelompok biaya, lalu menghubungkan biaya-biaya tadi dengan cost driver, trus penggolongan aktivitas-aktivitas, ini mencakup semua kegiatan operasionalnya PLN apa aja, kemudian mengalokasikan biaya yang ada pada aktivitas ke cost object, alokasi ini pake activity driver, udah, ketemu BPP nya…”
(Informan Harpeni Dewi) Dari penjelasan bagian Superviser Akuntansi dan Staf Junior Akuntansi tersebut, tahap-tahap penerapan Activity Based Costing di PT PLN (Persero) APJ Bojonegoro adalah
1. Penggolongan transaksi biaya ke dalam cost pool atau kelompok biaya yang mempengaruhi setiap kegiatan yang ada pada satuan unit operasional yang menyebabkan timbulnya aktivitas biaya pada PT. PLN (Persero) APJ Bojonegoro adalah: pusat aktivitas pemeliharaan, pusat aktivitas kepegawaian, pusat aktivitas penyusutan, pusat aktivitas administrasi dan umum.
2. Menghubungkan biaya dengan aktivitas dengan menggunakan cost driver yang sesuai. Cost driver yang digunakan di PT. PLN (Persero) APJ Bojonegoro adalah:
- Jumlah pegawai merupakan basis yang digunakan untuk mengalokasikan biaya kepegawaian ke aktivitas.
- Nilai aktiva tetap biaya merupakan basis yang digunakan untuk mengalokasikan biaya penyusutan ke aktivitas.
- Prosentase alokasi juga merupakan basis yang digunakan untuk mengalokasikan biaya administrasi dan umum ke aktivitas.
3. S e d a n g k a n aktivitas yang merupakan kegiatan aktual yang dilakukan secara harian yang berkaitan dengan kegiatan operasional pada PT. PLN (Persero) APJ Bojonegoro adalah:
T r a n s f e r Price, Pemeliharaan SR, Pemeliharaan Jaringan, Pemeliharaan Gardu, Pelayanan Gangguan, P2TL, Peneraan, Pendukung.
4. A c t i v i t y driver atau pemicu biaya yang menjadi dasar alokasi biaya yang ada pada suatu aktivitas ke cost object yang digunakan adalah:
- Jumlah pelanggan ditera merupakan basis yang digunakan untuk mengalokasikan biaya aktivitas pemeliharaan SR.
- Panjang jaringan merupakan basis yang digunakan untuk mengalokasikan biaya aktivitas pemeliharaan jaringan.
- Kapasitas gardu digunakan untuk mengalokasikan biaya aktivitas pemeliharaan gardu.
- Panjang jaringan digunakan untuk mengalokasikan biaya aktivitas pelayanan gangguan.
- Jumlah pelanggan ditera digunakan untuk mengalokasikan biaya aktivitas P2TL.
- Penambahan pelanggan digunakan unuk mengalokasikan biaya aktivitas peneraan.
- Jumlah pegawai digunakan untuk mengalokasikan biaya aktivitas pendukung
Berdasarkan pengalokasian biaya-biaya berdasarkan aktivitas biaya tersebut akan dihasilkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) yang merupakan cost object pada PT. PLN (Persero) APJ Bojonegoro yang akan menjadi output data yang akan ditransfer ke unit Retail.
Rerangka proses pengolahan data dalam ABC system di PT. PLN (Persero) Distribusi Jatim APJ Bojonegoro pada segmen distribusi dilukiskan pada gambar 5.1. Sedangkan alokasi biaya di PT. PLN (Persero) Distribusi Jatim APJ Bojonegoro pada segmen distribusi dilukiskan pada tabel 5.1
Gambar 5.1
Pengolahan Data di PT.PLN APJ Bojonegoro
Sumber : PT. PLN (PERSERO)
COST SEGMEN SEGMEN AKTIVITAS COST OBJECT
Pemelihar aan
Kepegawaian
Penyusutan
Adm. & Umum
• Transfer Price • Pemeliharaan SR • Pemeliharaan Jaringan • Pemeliharaan Garuda • P2TL • Peneraan • Pendukung Distribusi Alokasi Biaya Bersama Unit BPP : • Tenggang tinggi • Tenggan menngah • Tenggan rendah Cost Driv er Transfer 3 Price ke Segmen Retail 1) Juml. Pegawal 2) Nilai Aktiva 3) Prosentase Alokasi
1) Juml. Pelanggan Ditera 2) Panjang Jaringan 3) Kapasitas Garuda 4) Penambahan Pelanggan 5) Jumlah prgawai Acti v y D rive r
Tabel 5.1
Alokasi Biaya di Unit Distr ibusi PT. PLN (PERSERO)
Segmen C ost Pool Alokasi ke Aktivitas Alokasi ke Cost Object Cost Dr iver Aktivitas Activity Dr iver Cost Object Distribusi Pemeliharaan Kepegawaian Penyusutan Adm. & Umum - Jml. Pegawai Nilai Ak. Tetap Prosentase alokasi Transfer Price Pemeliharaan SR Pemeliharaan Jaringan Pemeliharaan Gardu Pelayanan Gangguan P2TL - Jumlah Pelanggan Ditera Panjang Jaringan Kapasitas Gardu Panjang Jaringan Jumlah Pelanggan TT TM TR Sumber : PT. PLN (PERSERO)
Dari tabel tersebut terlihat bahwa proses pengolahan data pada PT. PLN (Persero) APJ Bojonegoro pada Unit disribusi yang mengunakan ABC System. Ada 3 tahapan di dalam pengolahan data biaya tersebut, yaitu:
1. Alokasi Biaya
Media data entry yang berfungsi untuk mengalokasikan setiap biaya yang muncul dari hasil input sistem general ledger. Dalam alokasi ini setiap biaya yang muncul harus diidentifikasi kategorinya apakah sebagai biaya langsung/ tidak langsung serta menyebut aktivitas dan cost object yang terkait dengan alokasi biaya tersebut.
2. Alokasi Aktivitas
Media yang berfungsi untuk mendefinisikan nilai-nilai cost driver yang akan dijadikan dasar dalam pengalokasian biaya tidak langsung dari cost pool ke aktivitas. Parameter angka cost driver bersifat konstan dalam satu
kurun waktu periode tahunan. 3. Alokasi Cost Object
Media yang berfungsi untuk mendefinisikan nilai-nilai activity driver yang akan dijadikan dasar dalam pengalokasian biaya tidak langsung dari aktivitas ke costobject. Parameter angka activity driver bersifat konstan dalam satu kurun waktu periode bulanan, oleh karenanya angka ini harus diinput setiap bulannya setelah diperoleh nilai fisik atas driver yang bersangkutan
5.2. Pengolahan Data Biaya ABPC dan ABOC di dalam ABC system
Seperti yang telah dikemukakan dalam batasan masalah di bab I, maka pada pembahasan penelitian ini penulis ingin mengelompokan pengolahan data biaya ke dalam dua tahap pengelompokan data biaya di dalam ABC system yaitu: ABPC dan ABOC dan pada penelitian ini penulis memberikan batasan masalah yaitu mengenai penerapan ABC system sebagai sistem akuntansi biaya yang bertujuan sebagai perhitungan kos produk/ jasa atau Biaya Pokok Penyediaan (BPP) hanya pada lingkup PT. PLN (Persero) Distribusi Jatim APJ Bojonegoro di dalam segmen distribusi.
Berdasarkan wawancara yang saya lakukan dengan bagian Superviser Akuntansi, tentang pengolahan data biaya adalah:
“…untuk pengolahan data biaya di PT PLN (Persero) APJ Bojonegoro ini melalui dua tahap, yaitu ABPC atau Activity Based Proces Costing dan ABOC atau Activity Based Object Costing…” (Informan Pak Arifin)
Sedangkan hasil wawancara saya dengan bagian Staf Junior Akuntansi adalah:
“…disini pengolahan data biayanya ya dari ABPC sama ABPC dek…”
(Informan Harpeni Dewi) Dari kedua hasil wawancara saya dengan bagian Superviser Akuntansi dan Staf Junior Akuntansi tentang pengolahan data biaya di PT PLN (Persero) APJ Bojonegoro adalah melalui dua tahap, yaitu:
1. Activity Based Process Costing (ABPC) 2. Activity Based Object Costing (ABOC)
5.2.1. Pengolahan data dalam Activity-Based Process Costing (ABPC)
Activity-based process costing (ABPC) merupakan tahap pertama dari dua