• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab II Kedekatan Turki dengan Azerbaijan

II.4. Keuntungan dalam Ekonomi Perdagangan yang Didapat

Dikkaya dan Özyakışır (2008: 100), menyebutkan bahwa sejak pemilu 2002, Turki mendapatkan manfaat ekonomi yang relatif penting dan menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang besar. Perdagangan antara Turki dan Azerbaijan juga mengalami peningkatan sejak 2002, yakni ketika AKP menjadi partai yang memerintah (Akkoyunlu, 2005: 64).

Pada masa krisis yang menyebabkan ekonomi Turki mengalami fluktuasi pada 1994 hingga 2001, Turki tidak berhasil menjadi kekuatan regional. Sejak November 2002, perekonomian negara lebih stabil, tingkat inflasi terus mengalami penurunan, dan terjadi percepatan dalam proses integrasi Uni Eropa dengan adanya perundingan aksesi pada 3 Oktober 2005 (Cinar, 2006, dalam Dikkaya dan Özyakışır 2008: 100). Dengan bantuan pemulihan ekonomi dan proyek-proyek regional (terutama melalui jalur energi), Turki telah muncul sebagai kekuatan regional yang absolut di Eurasia dalam lima tahun (Dikkaya dan Özyakışır 2008: 100).

Tabel II.2. Tabel Perkembangan Perekonomian Turki dari 2001 sampai 2006 2001 2002 2003 2004 2005 2006 FDI.net inflows (BoP,

million US$)

3352 1137 1752 2883 9801 20070 GDP (current US$) 145594 184331 240955 302678 363369 402710 GDP growth (annual %) -7 8 6 9 7 6 GNI per capita, PPP

(current int, $)

5510 5960 6350 7100 7770 8410 Agriculture,value added

(% of GDP)

13 12 12 12 11 10

Industry, value added (% of GDP)

27 26 26 26 27 27

Services, etc., value added (% of GDP) 61 62 62 62 63 63 Inflation, GDP deflator (annual %) 55 44 23 10 5 11 Population, total 4,6 4,6 4,6 4,5 4,5 4,4 Sumber: http://www.worldbank.org (30.07.2008) dalam Dikkaya dan Özyakışır

(2008: 100)

Setelah proyek-proyek regional ini, hubungan perdagangan Turki di kawasan meningkat. Antara tahun 2000 hingga 2006, data perdagangan menunjukkan bahwa ekspor Turki ke pasar Azerbaijan (dan juga Georgia) meningkat tiga kali lipat. Impor Turki dengan kedua negara ini juga meningkat dengan pasti, dengan perbandingan ekspor yang lebih besar (lihat tabel). Meskipun angka ini tidak menunjukkan keseluruhan perdagangan Turki, namun Turki menjadi mitra dagang terbesar bagi Azerbaijan dan Georgia (Dikkaya dan Özyakışır, 2008: 100).

Tabel II.3. Aliran Perdagangan Turki ke Azerbaijan dan Georgia pada 2000- 2006, dalam juta dollar

Az (1) Geo (2) (3) 2000 Eks 230 19,6 131 18,5 1,3 Imp 96 5,5 155 48,0 0,5 2001 Eks 225 15,7 144 19,1 1,2 Imp 78 3,4 127 39,9 0,5 2002 Eks 227 13,6 103 12,9 0,9 Imp 63 2,9 138 39,9 0,4 2003 Eks 316 12,0 155 13,6 1,0 Imp 123 4,7 274 59,4 0,6 2004 Eks 404 11,5 200 10,8 1,0 Imp 136 3,8 307 47,4 0,5 2005 Eks 528 10,0 272 10,9 1,1 Imp 272 6,3 303 35,0 0,5 2006 Eks 695 13,2 408 11,1 1,3 Imp 333 5,2 342 34,4 0,5

Penjelasan: AZ: Azerbaijan, GEO: Georgia, Eks: Ekspor, Im: Impor;

(1): Jumlah persentasi keseluruhan ekspor/impor Azerbaijan (2) Jumlah persentasi keseluruhan ekspor/impor Georgia (3) Jumlah persentasi keseluruhan ekspor/impor Turki, termasuk dari kedua negara dari kedua negara.

Sumber: Central Asia-Caucasus Institute & Silk Road Studies Program (CACI- SRSP) dalam Dikkaya dan Özyakışır (2008: 100).

Pada 2007 volume perdagangan ke Azerbaijan meningkat AS$ 1,2 milyar dan membuat Turki menjadi mitra dagang terbesar bagi Azerbaijan. Turki juga menjadi investor terbesar di Azerbaijan dalam bidang non-migas. Investasi Turki dalam bidang non-migas ke Azerbaijan pada 2007 mencapai AS$2,5 milyar, dan jika digabung dengan investasi di bidang migas keseluruhannya mencapai AS$ 5 milyar. Peningkatan pada 2007 ini kemudian ditindaklanjuti dengan diselenggarakannya pertemuan lain antara Turki dan Azerbaijan di Baku pada Oktober 2007 yang membahas hubungan ekonomi dan untuk memperpanjang kerjasama antara Turki dan

Azerbaijan. Kepala Kamar Dagang Ankara menyatakan bahwa ada 3000 perusahaan Turki yang bekerja di Azerbaijan (APA, 2007, dalam Güney dan Ŏzdemir, 2011: 10).

Perusahaan Turki bergerak dalam berbagai bidang di Azerbaijan, mulai dari perusahaan telekomunikasi, transportasi, pakaian jadi, pemasaran, mebel, perbankan, sampai perusahaan konstruksi. Rekatnya hubungan kedua negara menarik individu- individu Azerbaijan untuk berbisnis di Turki, seperti Mubariz Mansinov, pengusaha perkapalan Azerbaijan yang memindahkan kantor pusat perusahaannya ke Turki setelah resmi menjadi warga negara Turki (Aydin, 2010: 193).

II.5. Hubungan Sosial, Politik, dan Kultural antara Turki dan Azerbaijan

Turki memiliki posisi yang lebih menguntungkan secara ekonomi dan politik dari negara lain di kawasan untuk melakukan integrasi kawasan dan mengeksploitasi potensi-potensi yang ada di kawasan. Selain itu pendekatan terhadap kawasan ini dilakukan Turki berdasarkan adanya kedekatan kultural dan hubungan kemiripan bahasa (Akkoyunlu, 2005: 42).

Kerjasama Turki dengan Azerbaijan dalam bidang energi dan ekonomi juga memberikan dampak pada semakin dekatnya hubungan kedua negara. Dengan mendekatnya Turki pada Azerbaijan, Turki juga memberikan prioritas bagi Azerbaijan dalam kebijakan luar negerinya. Boliikbasi (1997, dalam Cornell, 2001: 281) berusaha menggarisbawahi prioritas kebijakan luar negeri Turki terhadap Azerbaijan sebagai berikut:

2. Mendukung kedaulatan Azerbaijan atas Nagoro-Karabakh

3. Mencegah atau membatasi pengaruh Rusia di kawasan Transkaukasus 4. Berpartisipasi dalam produksi minyak di Azerbaijan, dan membantu

ekspor minyak ini ke Turki dalam jumlah yang signifikan. 5. Memelihara hubungan baik dengan pemerintahan Azerbaijan.

Hubungan bilateral antara Turki dan Azerbaijan mengarah pada perkembangan yang semakin baik ketika presiden Azerbaijan Heydar Aliyev pada 6 Mei 1997 mengekspresikan rasa optimisnya terhadap hubungan kedua negara dengan menyatakan bahwa Turki dan Azerbaijan merupakan ‘one nation but two states’. Aliyev sendiri, melalui kebijakannya terhadap Turki, melihat bahwa tidak hanya Azerbaijan saja yang membutuhkan Turki, namun juga Turki membutuhkan Azerbaijan (Cornell, 2001: 283).

Dalam kerangka hubungan bilateral kedua negara, Turki mengadakan beberapa perjanjian ekonomi dan komersial dengan Azerbaijan, seperti menyiarkan saluran televisi milik negara ke Azerbaijan, yang kemudian disusul oleh saluran-saluran televisi swasta dan juga koran milik Turki dengan akses yang mudah. Saluran televisi Turki juga mendapatkan sambutan yang luas di Azerbaijan. Selain itu, Turki juga menawarkan bantuan pada Azerbaijan untuk mulai menggunakan alfabet Latin dengan mengirimkan buku-buku dan mesin ketik ke Azerbaijan (Cornell, 2001: 283).

Menurut Cornell (2001: 281) pengaruh Turki secara substansial terhadap negara-negara Asia Tengah bergantung pada pengaruhnya di kawasan Kaukasus. Di dalam kawasan Kaukasus sendiri, Azerbaijan merupakan negara yang memiliki nilai

paling penting secara strategis, tidak hanya bagi Turki, namun juga oleh Iran, dan juga Amerika Serikat.

Hubungan bilateral antara Turki dan Azerbaijan juga berkembang dalam bidang pendidikan dan budaya. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya orang-orang Azerbaijan yang datang ke Turki untuk kepentingan edukasi. Selain itu diplomat-diplomat muda Azerbaijan juga menerima pelatihan di Turki, melalui program yang dicanangkan oleh Kementerian Luar Negeri Turki. Turki juga memberikan kontribusi dan inestasi langsung dalam bidang pendidikan di Azerbaijan yang kemudian menghasilkan dibangunnya 15 sekolah menengah, 11 sekolah tinggi dan juga universitas di Azerbaijan (Aydin, 2010: 190). Bentuk-bentuk hubungan ini membuat hubungan antar masyarakat kedua negara menjadi semakin dekat yang juga memberikan kontribusi pada hubungan politik antara Turki dan Azerbaijan.

Hubungan antara Turki dan Azerbaijan sangatlah dekat dengan adanya berbagai kerjasama dalam berbagai bidang. Hal ini membuat kedua negara tersebut saling membutuhkan satu sama lain. Lebih jauh lagi, banyaknya program kerjasama menciptakan solidaritas dari Turki terhadap Azerbaijan. Solidaritas yang terjadi antara Turki dan Azerbaijan juga banyak dipengaruhi oleh kedekatan etnisitas di antara keduanya. Lebih dekatnya Turki pada Azerbaijan tidak hanya didasarkan pada kebutuhan-kebutuhan akan sumber daya alam maupun kepentingan-kepentingan ekonomi, namun juga oleh adanya kedekatan identitas, serta peran pendefinisian identitas ke-Turki-an yang dilakukan Republik Turki pada masa awal berdirinya, yang juga dipengaruhi oleh identitas partai AKP sejak partai tersebut berkuasa pada

2002. Bab selanjutnya akan banyak membahas identitas Turki dan bagaimana politik domestik di Turki mempengaruhi identitas tersebut dalam memandang identitas- identitas lain di kawasan Asia Tengah.

BAB III

Peran Pembentukan Identitas Turki dalam Pengaruhnya terhadap Kedekatan Hubungan Turki dengan Azerbaijan

III.1. Kedekatan Identitas antara Turki dan Azerbaijan

Turki merupakan negara yang lahir dari sebuah revolusi yang terjadi dengan runtuhnya Kekaisaran Ottoman yang berpusat di Turki. Kekaisaran Ottoman merupakan sebuah monarki yang berlandaskan identitas ke-Islaman. Sejak berubah menjadi Republik Turki, identitas ke-Islaman ini digantikan oleh identitas kultural Turki. Dengan dominannya identitas kultural Turki, Republik Turki menciptakan pembagian identitas antara masyarakat Turki dengan yang bukan etnis Turki, menjadikan Turki sebagai kelompok etnis utama dalam Republik Turki (Cagaptay, 2006). Menurut Gokalp (dalam Cagaptay, 2006: 93), term kebudayaan Turki dituangkan dalam kebijakan imigrasi (resettlement policies). Turki merunut pada warisan akan kesamaan sejarah, tradisi, sistem kepercayaan, nilai, dan adat istiadat Muslim Turki Ottoman. Identitas sebagai Muslim Turki Ottoman perlu mendapatkan perhatian khusus, yakni bahwa komunitas etno-relijius lain seperti minoritas Armenia dan Yahudi, yang dahulu tercakup dalam Kekaisaran Ottoman, tidak dapat dimasukkan dalam kebudayaan Turki.

Dalam undang-undang imigrasi juga tersirat kedekatan identitas Turkic antara Republik Turki dengan negara-negara etnis Turki lain dengan mengijinkan imigrasi yang dilakukan oleh individu-individu yang berasal dari etnis Turki, baik yang

berdiam maupun nomaden, untuk dapat diterima oleh Republik Turki. Undang- undang ini merunut pada komunitas etnis Turki yang berdiam di daerah Balkan, Ciprus, dan Decodanese yang di dalamnya terdapat masyarakat Azeri (Azerbaijan), Balkar, Karacay, Karapapak, Tatar, Terekeme, Turkmen, dan juga etnis Turki lain yang tersebar di sekitar Turki. Undang-undang ini juga mengijinkan individu yang berdiam dan memiliki kebudayaan Turki, yakni kaum Muslim Balkan non-Turki, untuk diterima oleh Republik Turki. Undang-undang ini mengijinkan individu non- Muslim, hanya bagi yang berasal dari etnis Turki, yang dapat dikategorikan masuk dalam kebudayaan Turki (Cagaptay, 2006: 94).

Kedekatan Azerbaijan secara kultural dengan Turki muncul seiring dengan perkembangan dan persebaran kebudayaan Islam. Pada abad-7 sampai abad-11, Azerbaijan dikuasai oleh bangsa Arab. Berkuasanya bangsa Arab membawa kebudayaan Islam di Azerbaijan. Hingga pada pertengahan abad-11, kelompok- kelompok bangsa Turki berdatangan, seperti suku Oghuz yang berasal dari Dinasti Turki Seljuk. Kedatangan Turki Seljuk ini mengakhiri kekuasaan bangsa Arab atas Azerbaijan dan Asia Tengah. Dari Dinasti Turki Seljuk inilah kemudian yang membawa bahasa dan kebudayaan Turki ke Azerbaijan (U.S. Federal Research Division, n.d.: 33). Setelah itu berturut-turut Azerbaijan sempat dikuasai oleh bangsa Mongol dan Dinasti Safavid Persia. Dinasti Safavid ini merupakan dinasti yang berasal dari bangsa Turki, namun memiliki pusat pemerintahan di Persia (Iran saat ini). Dinasti Safavid di Persia dan Dinasti Ottoman di Turki memperebutkan dan bergantian menguasai Azerbaijan sebelum akhirnya Azerbaijan dan kawasan

Kaukasus secara keseluruhan dikuasai oleh Kekaisaran Rusia pada 1860 (Kaeter, 2004: 18).

Walaupun Kekaisaran Rusia menguasai Azerbaijan sejak 1860, hingga revolusi Rusia mengubah Kekaisaran Rusia menjadi Uni Soviet, dan akhirnya Azerbaijan mendeklarasikan kemerdekaannya pada 30 Agustus 1991, Rusia tidak banyak memberikan pengaruh terhadap kebudayaan dan identitas masyarakat Azerbaijan. Hal ini dikarenakan Kekaisaran Rusia yang lebih banyak mengeksploitasi sumber daya alam Azerbaijan selama masa kolonialisasi. Masyarakat Rusia yang datang ke Azerbaijan hanya untuk berbisnis minyak tanpa membentuk interaksi dengan masyarakat Azerbaijan (Kaeter, 2004: 23-24).

Azerbaijan pada dasarnya dimasukkan ke dalam kawasan Transkaukasus, namun Azerbaijan lebih memiliki kedekatan kultural dengan negara-negara Asia Tengah yang berada di sebelah timur Laut Kaspia. Negara-negara Asia Tengah ini didominasi oleh komunitas etnis Turki yang juga memiliki kebudayaan Turki. Istilah Transkaukasus, berakar dari kata bahasa Rusia Zakaykaz dan secara harfiah berarti daratan di luar Pegunungan Kaukasus. Transkaukasus menyiratkan sudut pandang Rusia terhadap kawasan ini. Istilah yang lebih netral dari kawasan ini adalah Kaukasus Selatan. Secara politis, kawasan Kaukasus Selatan terdiri dari tiga negara merdeka, yakni Armenia, Azerbaijan, dan Georgia (Cornell, 2001: 4).

III.2. Kedekatan Republik Turki dengan Azerbaijan pasca Perang Dingin

Turki pada masa pasca Perang Dunia II mendapatkan ancaman dari Uni Soviet, dengan klaim Soviet secara terbuka terhadap penguasaan Selat Turki. Ancaman inilah yang kemudian membuat Turki menawarkan diri dalam keanggotaan NATO. Dengan adanya ikatan dengan NATO, Turki dicegah untuk melakukan kebijakan luar negeri secara independen yang berkaitan dengan Uni Soviet (Cornell, 2001: 278).

Pada masa pasca Perang Dunia II, Turki dapat dikatakan memiliki banyak masalah dalam hubungan luar negeri (terkait dengan Perang Dingin) dan juga dalam politik domestiknya, sehingga tidak dapat mengalokasikan waktu, usaha, dan juga sumber daya untuk melakukan kebijakan yang lebih aktif dalam hubungannya dengan orang-orang Turkic di selatan Soviet (atau sekarang disebut dengan Kaukasus Selatan atau Asia Tengah) (Cornell, 2001: 278).

Sejak runtuhnya Uni Soviet, dan dengan merdekanya negara-negara Asia Tengah, membuat keterlibatan Turki menjadi signifikan di kawasan tersebut. Keruntuhan Uni Soviet mempermudah Turki untuk melakukan perluasan ikatan politik dan ekonomi dengan negara-negara Asia Tengah pada awal dekade 1990-an (Bozdaglioglu, 2003: 98). Kedekatan Turki dengan negara-negara Asia Tengah ini pada awalnya lebih didasarkan pada meningkatnya nasionalisme Turki yang dengannya juga menggali kembali kedekatan etnis antara Turki dengan negara-negara di kawasan tersebut. Asia Tengah merupakan kawasan yang pernah dihuni oleh nenek moyang bangsa Turkic, dimana sejarah dan kebudayaan mereka berasal. Secara psikologis, munculnya negara-negara merdeka di Asia Tengah ini membangkitkan

kebanggaan sebagai masyarakat Turki sebagai bagian dari entitas etno-kultural yang lebih luas (Bozdaglioglu, 2003: 98).

Adanya peningkatan rasa nasionalis di Turki pasca-Perang Dingin ini mendorong para pemimpin politik Turki dan masyarakat sama-sama berpikir menuju terciptanya solidaritas dan persaudaraan Turki (Winrow, dalam, Bozdaglioglu, 2003: 96). Masyarakat Turki menjadi merasa bahwa mereka bukanlah komunitas yang hidup sendirian di dunia dan bahwa dengan merangkul Turki lainnya, akan berimplikasi penting secara politis dalam politik regional dan global karena hubungan budaya dan etnis dengan kawasan Asia Tengah. Erdal Inonu, kepala Partai Rakyat Sosial Demokrat (SDPP) dan menteri negara dalam pemerintah koalisi, berpendapat bahwa:

“The profound changes in our northern neighbor will have very important consequences on the Turkic republics as well as on Turkey. Despite all the uncertainties, these new developments are bringing new opportunities and visions to our foreign policy. These changes are also ushering in a new period in which Turkey’s role and political weight will be increased dramatically in the region and in the world (dalam, Bozdaglioglu, 2003: 97).”

Dengan runtuhnya Uni Soviet, Turki mulai memperluas hubungan politik dan ekonomi dengan republik-republik baru. Yasemin Celik (1999, dalam, Bozdaglioglu, 2003: 97) menyatakan bahwa Ankara ingin menentukan peran barunya pada periode pasca-perang dingin, dengan menggunakan koneksi dengan wilayah tersebut.

Walaupun kedekatan Turki dengan negara-negara Asia Tengah—termasuk Azerbaijan—tidak membuat Turki menjadi pengatur kawasan tersebut, kawasan Asia

Tengah dapat membawa Turki menjadi terkemuka di dunia (Bozdaglioglu, 2003: 98). Dan dengan adanya peningkatan hubungan dengan negara-negara Turkic ini, Turki membuka pusat-pusat budaya dan sekolah di sebagian besar negara-negara Asia Tengah dan menyediakan pelatihan dan memberikan pengarahan teknis pada ribuan pelajar Asia Tengah. Selain itu Turki juga melebarkan penyiaran televisinya untuk memperkuat pengaruhnya di Asia Tengah (Larrabee, dalam Kilinç, 2001: 74).

Keterlibatannya dalam kawasan di Asia Tengah dimulai Turki dengan serangkaian kunjungan diplomatik intensif yang mengakibatkan penandatanganan kerjasama ekonomi, perjanjian komersial maupun pertukaran budaya. Pada masa pasca-Perang Dingin itu muncul gagasan Pan-Turkisme yang juga kerap dipromosikan secara aktif oleh beberapa kementerian Turki dan Partai Aksi Nasionalis (Rouleau, 1993 dalam, Bozdaglioglu, 2003: 98). Turki bercita-cita untuk menjadi Mekah secara kultural bagi kawasan yang dihuni negara-negara berbahasa Turki. Dan untuk mencapai hal itu Turki banyak mengirimkan jurnal, buku, dan juga melebarkan program televisinya ke republik-republik baru yang berada di kawasan Asia Tengah (Winrow, dalam, Bozdaglioglu, 2003: 96). Selain itu, walaupun Turki dikenal sebagai negara sekuler yang militan, Turki mengirim sekitar dua puluh ribu eksemplar kitab Al-Quran dan juga mengirimkan pemuka-pemuka agama ke republik-republik tersebut untuk mendapatkan pengaruh yang lebih melalui pendekatan agama (Yetkin, 1992, dalam, Bozdaglioglu, 2003: 96).

Pendekatan Turki pada republik-republik Asia Tengah selama periode 1989- 1993 ini menunjukkan bahwa banyak keputusan-keputusan kebijakan luar negeri

mengenai peran Turki di kawasan tersebut dibentuk dengan tujuan menciptakan “solidaritas etnis". Perdana Menteri Turki saat itu, Suleyman Demirel mengunjungi semua republik-republik Turkic di kawasan tersebut (Bozdaglioglu, 2003: 98). Demirel dalam kunjungannya juga menyatakan: “tidak ada yang salah bila Turki menyatakan bahwa Asia Tengah adalah tanah nenek moyang mereka dengan budaya mereka dan sejarah berasal dari sana" (Winrow, dalam Bozdaglioglu, 2003: 98) Demirel dalam hal ini merunut pada visi bahwa Asia Tengah dan Azerbaijan sebagai sebuah komunitas baru , yakni 'Eurasia,' yang dihuni oleh orang-orang beretnis Turki.

Di Azerbaijan sendiri, banyak aktivis misionaris Islam yang masuk ke Azerbaijan. Sejak itu, Dewan Pengurus Masalah Agama Turki (Diyanet ˙Is¸leri

Bas¸kanlıˇgı) yang bergerak di bawah Perdana Menteri Turki menjadi sangat aktif di Azerbaijan. Pada 1992 dewan tersebut bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Azerbaijan dan memberi bantuan dalam pemebentukan Departemen Teologi di Universitas Negeri Baku. Selain itu, dewan tersebut juga mendanai pembangunan beberapa masjid dan juga memberikan beasiswa pada ratusan siswa untuk belajar di Turki. Selain itu, kelompok-kelompok aktivis Islam lain seperti kelompok Nurcu dan Naqshbandiyya juga aktif di Azerbaijan (Bedford, dalam Gammer 2008: 205).

Hubungan Turki dengan negara-negara Asia Tengah ini menjadi alternatif lain ketika Turki tidak kunjung mendapatkan kesempatan bergabung dengan Uni Eropa. Keengganan Uni Eropa untuk menerima Turki tidak lepas karena adanya perbedaan identitas. Karena permasalahan identitas ini kemudian Turki sejak awal dekade 1990- an melihat negara-negara Asia Tengah, khususnya Azerbaijan untuk menggalang

solidaritas dan kerjasama dari negara-negara Asia Tengah yang secara mayoritas dihuni oleh bangsa Turki. Dari negara-negara bangsa Turki tersebut, Republik Turki merupakan yang paling maju secara ekonomi dan politik, sehingga peluang untuk menjadi pemain utama dalam kawasan tersebut menjadi lebih besar. Pada masa itu, persaudaraan dan solidaritas bangsa Turki, antara Republik Turki dengan negara- negara di Asia Tengah merupakan wacana utama dalam kebijakan luar negeri Turki (Bozdaglioglu, 2003: 99-100).

Namun politik luar negeri Turki terhadap Azerbaijan tidak selalu merunut pada ikatan etnis. Hal ini dapat dilihat melalui kecenderungan Presiden Turgut Ozal pada tengah awal dekade 1990-an yang lebih menekankan pada ikatan agama dalam hubungan Turki dengan Azerbaijan, dimana kedua negara ini dikenal sebagai negara- negara yang dihuni mayoritas muslim (Cornell, 2001: 279).

III.3. Pengaruh Islam dalam Identitas Turki, Gerakan Islamis di Turki, dan Hubungannya dengan Kedekatan Turki dengan Azerbaijan

Pada 1930-an, Rezim Kemalis Tinggi (High Kemalist) menggunakan etnisitas dan ras, dan juga agama dalam mengidentifikasi identitas bangsa Turki. Pendefinisian identitas ini juga dilakukan para cendekiawan Turki dan disebarkan dalam buku-buku teks sekolah. Di dalamnya dijelaskan bahwa ras mempunyai keterikatan penting dalam hubungan pemerintah Turki dengan warga negaranya. Namun penekanan pada ras ini bukan semata-mata menunjukkan kesamaan karakteristik biologis secara genetis, melainkan untuk menunjukkan etnisitas melalui kesamaan bahasa. Etnisitas

Turki sendiri, seperti diutarakan Cagaptay sama dengan Islam Balkan-Anatolia (Cagaptay, 2006: 157).

Di masa awal sekularisme Turki pada 1930-an, agama membuat batasan etno- nasional Turki antara Muslim Ottoman dengan entitas-entitas lainnya. Seiring dengan adanya batasan etno-nasional tersebut kemudian muncul kebijakan imigrasi, yakni Republik Turki melarang bangsa Armenia (yang merupakan komunitas Kristen) bekas Ottoman untuk masuk ke Turki. Pemerintahan Turki saat itu memang memarjinalkan komunitas Kristen yang berasal dari bekas kekuasaan Ottoman, terutama yang berasal dari Armenia. Sistem millet, yakni sistem yang menyatukan komunitas relijius Islam di Turki, menjadikan paham Kemalis dalam melihat kaum Muslim yang berada di Balkan, Anatolia, dan Laut Hitam sebagai satu komunitas sebagai orang-orang Turki (Cagaptay, 2006: 159).

Kaum Kemalis di Turki mempunyai pandangan negatif terhadap Kristenitas, yang membuat adanya eksklusi terhadap warga Kristen, terutama Kristen Armenia. Antagonisme Turki terhadap Kristenitas ini bukan berasal dari intoleransi keagamaan, namun lebih pada rasa nasionalisme Turki. Paham Kemalisme Tinggi (High Kemalism) memandang Kristenitas sebagai penghinaan terhadap bangsa Turki, yang membuat banyak masyarakat Turki pada masa sekarang memandang Kristenitas sebagai tantangan terhadap identitas nasional mereka. Kristenitas dianggap sebagai tantangan terhadap identitas Islami bangsa Turki (Cagaptay, 2006: 139).

Setelah sekularisasi Kemalis Turki dilaksanakan, identitas nominal Islam Turki dan juga warisan budaya dari komunitas Muslim yang ada sebelumnya (millet)

menjadi penting dalam mendefinisikan identitas ke-Turki-an. Hal ini terbukti dengan praktek keseharian di Turki, yang memandang kaum Muslim di negara tersebut sebagai masyarakat Turki, dan kaum Kristen sebagai orang asing di Turki (Cagaptay, 2006: 156).

Karena adanya tatanan identitas yang dirumuskan sejak awal berdirinya Republik Turki, dalam menghadapi isu Nagorno-Karabakh antara Azerbaijan dengan Armenia, Turki menjadi sulit untuk berposisi netral dalam konflik tersebut. Kecenderungan untuk mendukung Azerbaijan juga terjadi karena opini publik Turki yang dengan kuat mendukung Azerbaijan. Media juga mendukung hal tersebut dengan menampilkan gambar-gambar yang menunjukkan banyaknya pengungsi- pengungsi Azerbaijan (Cornell, 2001: 183).

Turki juga menggunakan afiliasinya dengan negara-negara baru ini di Asia Tengah sebagai keuntungan yang dapat bermanfaat bagi hubungannya dengan Eropa. Perubahan kebijakan ini dapat dilihat pada pernyataan menteri luar negeri Turki Ismail Cem pada 1999:

“…the post cold-war political framework witnessed the appearance or the confirmation of several independent states. Out of the multitude of those “new” states, almost all –in the Balkans, in the Caucasus or in Central Asia- are those with whom Turkey shares a common history or a common language and cultural affinity. This provides Turkey with a new international environment of historical, political and economic dimensions. Turkey thus becomes a “center” for the emerging Eurasian reality and constitutes Western Europe’s major historical, cultural and economic

Dokumen terkait