BAB V PEMBAHASAN
A. Analisis Nilai-Nilai Pendidikan Akhlaq dalam Kitab Alaalaa
5. Keutamaan Ilmu Fiqh
ذصبل ُيذػأٚ ٜٛمّزٌاٚ ّشجٌا ٌٝا ۞ ٍذئبل ًُعفأ َٗمفٌا ّْبف َّٗمفر
ذئاذّشٌا غ١ّج ِٓ ِٝجُْٕ٠ ُٓ ْصِذٌا ٛ٘ ۞ َٜذٌُٙا َٕٓع ٌٝا ِٜدبٌْٙا ٍُُؼٌا ٛ٘
ِْبَطْ١َّشٌا ٍََٝػُّذَشَا ۞ بـــــــــًػِّسََٛزُِاًذـــِداَٚ بــًْٙ١ِمَف َِّْبـــَف
ذثبػ ِفٌَْا ِِْٓ
Ngajio fiqh kerono unggule kang nuduhake [] Maring bagus lan wedi Allah luwih jejeke.
Ilmu fiqh kang nuduhake dalan pituduh [] Hiyo benteng kang nyelametake sekabehe pekewuh.
Wong alim fiqh siji tur kang ngadohe haram [] Luweh abot timbang `abid sewu mungguh syaiton.
“Belajarlah ilmu fiqh, karena fiqh adalah ilmu yang lebih utama dalam memberikan tuntunan kebajikan dan ketaqwaan, serta ilmu yang lebih menegakkan kebenaran (keadilan). Ilmu fiqh adalah ilmu
benteng yang dapat menyelamatkan dari segala kesengsaraan (kebodohan). Sesungguhnya seorang ahli fiqh yang bisa menjauhi perkara haram, bagi syetan lebih berat dari seribu orang yang ahli
beribadah (tanpa didasari ilmu fiqh)”.
Secara sederhana dapat dikatakan fiqih adalah kesimpulan hukum-hukum bersifat baku hasil ijtihad ulama yang bersumber dari Al-Qur`an, sunnah, ijma`, qiyas, dan dalil-dalil yang ada.126 Yang mana di dalamnya membahas hukum-hukum syariat bidang amaliyah (perbuatan nyata) yang diambil dari dalil-dalil secara rinci.
Ilmu fiqh adalah ilmu yang penting di samping ilmu tauhid dan ilmu akhlaq. Tanpa ilmu fiqh, kita tidak dapat beribadah dengan benar dan berdampak pada sah tidaknya ibadah yang kita lakukan. Jika tidak dapat beribadah dengan benar, maka sama halnya kita tidak menggunakan akhlaq kita saat beribadah kepada Allah. Tanpa ilmu fiqh, kita dapat melakukan perbuatan-perbuatan maksiat tanpa kita sadari. Karena, segala perbuatan yang kita lakukan harus didasari oleh hukum syariat. Maka dari itu, wajib bagi kita untuk mempelajari ilmu fiqh. Agar setiap ibadah maupun muamalah yang kita lakukan sesuai dengan hukum yang ditetapkan oleh Allah SWT.
Maka dapat dikatakan, bahwa ahli fiqh lebih utama dibanding ahli ibadah yang tanpa didasari ilmu fiqh. Sebagaimana syair tersebut di atas dikatakan bahwa, „Seorang ahli fiqh, lebih berat bagi syetan
126 Ahmad Sarwat, Seri Fiqih Kehidupan (1); Ilmu Fiqih, (Jakarta: DU Publishing, 2011), hlm. 32
dibandingkan 1000 ahli ibadah (tanpa didasari ilmu fiqh)‟. Karena seorang ahli fiqh atau ahli ilmu akan senantiasa memberi manfaat dengan mengamalkan ilmunya kepada orang-orang di sekeliling. Dengan begitu semakin banyak orang-orang di sekelilingnya yang akan sangat terbantu dalam mengamalkan syariat Islam, yang mana hal ini sangat dibenci oleh syetan –laknatullah alaih–. Sebaliknya, 1000 ahli ibadah yang tanpa didasari ilmu, maka ibadah yang ia kerjakan akan sia-sia. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa ibadah yang ia kerjakan tidak sesuai dengan syariat yang ditetapkan Allah dan justru dapat mendatangkan murkaNya.
Ilmu fiqh adalah ilmu yang sangat penting bagi kehidupan manusia serta memiliki banyak keistimewaan atau keutamaan diantaranya:127
a. Bersumber dari wahyu
Ilmu fiqh adalah ilmu yang sudah ada di masa Rasulullah SAW. Pada dasarnya, ilmu fiqh lahir dan berkembang bersama dengan perjalanan dakwah Rasulullah beserta sahabat. Ilmu fiqh juga bukan bersumber dari otak dan logika manusia belaka. Tetapi sumbernya murni dari Al-Qur`an dan As-Sunnah. Karena ilmu fiqh bersumber dari wahyu Allah, maka ia sangat sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan manusia secara keseluruhan. Sebab Allah
adalah Pencipta manusia yang mengetahui seluk beluk ciptaannya sendiri baik yang lahir maupun batin.
b. Mencakup semua aspek kehidupan
Dibanding dengan hukum-hukum yang lain, fiqh memiliki keistimewaan tersendiri. Yaitu ia mencakup tiga hubungan manusia; hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan dirinya sendiri, hubungan manusia dengan masyarakat. Karena fiqh ini adalah untuk kepentingan dunia akhirat, agama, Negara, dan seluruh manusia hingga hari kiamat. Hukum-hukum fiqh adalah perpaduan kuat antara aqidah, ibadah, akhlaq, dan muamalat. Dari kesadaran jiwa, merasa diawasi Allah dalam segala kondisi, perasaan tanggung jawab, ketenangan, kebahagiaan, keimanan, dan kehidupan sosial yang teratur.
c. Konsep halal haram
Segala perbuatan, sikap, dan juga tindakan sosial, selalu terdapat konsep agama tentang halal dan haram di dalam fiqh. Dalam hal ini terdapat dua bentuk hukum muamalat; 1) Hukum duniawi, yang diambil berdasarkan indikasi tindakan dan bukti lahir dan tidak ada hubungannya dengan batin; seperti hukum pengadilan (karena hakim memberi vonis sesuai dengan bukti yang ada semampunya). 2) Hukum ukhrowi, yang didasarkan kepada sesuatu yang sebenarnya (hakikat sesuatu baik yang lahir maupun yang batin). Hal ini berlaku antara seseorang dengan Allah.
d. Berlandaskan kaidah paten tapi fleksibel
Landasan tersebut adalah Al Qur`an dan As Sunnah. Teks-teks pada kedua sumber ini bersifat suci dan sakral yang mengandung hukum-hukum global dan tidak terinci. Dengan ini, memungkinkan para ahli fiqh melakukan ijtihad, menyimpulkan hukum secara terinci sesuai kondisi dan realitas di lapangan. Walau demikian, tetap ada batasan yang dijaga oleh para mujtahid. Yang kemudian muncullah kaidah-kaidah fiqh yang dijadikan pegangan dalam pengambilan hukum.
e. Prinsip memberi kemudahan
Fiqh memberikan kemudahan dan keringanan kepada manusia. Islam hanya mewajibkan shalat 5 waktu dalam sehari. Jika tidak mampu dilakukan dengan berdiri bisa dilakukan dengan duduk, jika tidak mampu lagi, dapat dilakukan dengan berbaring. Termasuk keringanan lain terkait tayamum, shalat qasar, jamak, qadla dan lain sebagainya.
f. Fiqh adalah khazanah Islam yang luas
Sepanjang sejarah, tidak ada referensi maupun karangan yang sarat dengan khazanah ilmu dan pemikiran melebihi fiqh. Di dalamnya akan ditemukan berbagai macam pandangan ulama dari berbagai mazhab dan aliran.
Fiqh memiliki kaidah yang tidak akan berubah hingga akhir zaman, seperti; transaksi harus dilakukan dengan saling ridha, pemberantasan kriminal, pemeliharaan hak-hak, dan lain sebagainya. Sedangkan fiqh yang didasarkan atas qiyas, maslahal mursalah, dan adat istiadat dapat berubah sesuai dengan kebutuhan zaman serta kemaslahatan umat manusia, dengan batasan yang tidak bertentangan dengan syariat.