• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PEMBAHASAN

C. Pemerintah Pekon

5. Kewajiban Kepala Pekon

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, Kepala Pekon berkewajiban:

a. Memegang teguh dan mengamalkan pancasila melaksanakan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta membertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika;

b. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa;

c. Memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat desa; d. Menaati dan menegakan peraturan perundan-undangan; e. Melaksanakan kehidupan demokrasi dan keadilan gender;

transparan, prfesional, efektif dan efisien, bersih, serta bebas dari kolusi, korupsi, dan nepotisme;

g. Menjalin kerja sama dan koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan di desa;

h. Menyelenggarakan administrasi pemerintahan desa yang baik; i. Mengelola keuangan dan aset desa;

j. Melaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan desa;

k. Menyelesaikan perselisihan masyrakat di desa; l. Mengembangkan perekonomian maysarakat desa;

m. Membina dan melestarikan nilai sosial budaya masyarakat desa; n. Memberdayakan masyarakat dan lembaga kemasyarakatan di desa; o. Mengembangkan potensi sumber daya alam dan melestarikan

ligkungan hidup; dan

BAB III

DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Kecamatan Pesisir Tengah

a. Keadaan Umum Wilayah

Kecamatan pesisir tengah dimekarkan pada kwartal 1 tahun 1949 berdasarkan ketetapan Gubernur/Kepala Daerah Sumatera Selatan, Palembang dengan ibukota Pasar Krui (sampai sekarang). Secara geografis Kecamatan Pesisir Tengah terletak antara 103°-104° Bujur Timur dan 5°-6° Lintang Selatan. Luas wilayah seluruhnya 110,01Km2 dengan tofografi 25% adalah daratan pantai Samudra Indonesia dan 75% adalah pegunungan pada daerah Bukit Barisan Selatan yang tersebar pada 19 pekon dan 1 kelurahan. Pesisir Tengah krui mempunyai pembagian tanah yaitu terbagi atas tanah sawah seluas 1.472 ha, tanah kering seluas 15,613 ha, tanah basah/rawa seluas 105 ha, kawasan hutan seluas 9.814 ha, tanah perkebunan seluas 1.700ha, tanah fasilitas umum seluas 170 ha, tanah fasilitas sosial seluas 80 ha, dan tanah tandus/pasir seluas 11.096 ha. Kecamatan Pesisir Tengah berjarak 297 Km menuju ibukota propinsi, 34 Km dari pusat pemerintahan kabupaten, dan 11dari pekon atau kelurahan terjauh.

Pesisir Tengah memiliki batas wilayah sebagai berikut : 1) Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Karya Penggawa 2) Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Pesisir Selatan

3) Sebelah Barat berbatasan dengan Samudera India

4) Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Balik Bukit dan Batu Brak

b. Keadaan Penduduk/Demografis

Penduduk Kecamatan Pesisir Tengah terdiri dari penduduk asli (Lampung) dan penduduk pendatang dari luar daerah seperti Sunda, Jawa, Bali, Madura, Palembang, dan Bengkulu. Jumlah kepala keluarga di wilayah Kecamatan Pesisir Tengah berjumlah 6.386 kk dengan perincian 16291 orang laki-laki dan 15542 orang perempuan.

c. Sarana dan Prasarana

Sarana dan Prasarana yang terdapat di Kecamatan pesisir Tengah terdiri dari sarana dan prasarana perhubungan, pemerintahan, pemasaran, dan social pendidikan. Kecamatan Pesisir Tengah memiliki prasarana perhubungan berupa jalan aspal, jalan diperkeras dan jalan tanah yang semuanya dapat dilalui sepanjang tahun. Sarana perhubungan berupa alat transportasi yang terdiri dari bus, angkot, ojek, dan becak. Prasarana pemerintah yang ada di kecamatan ini berupa balai pekon sebanyak 17 kantor, kantor kelurahan sebanyak 1 kantor, dan 1 kantor kecamatan. Prasarana pemasaran dikecamatan ini berupa pasar yang terletak di pusat kecamatan. Prasarana sosial kecamatan berupa 38 masjid, 27 mushola, 1 kantor pos, 1 puskesmas, 2 rumah bersalin, 1 poliklinik/balai pengobatan, 1 kantor polisi, 1 kantor Telkom, 1 kantor PLN, 2 bank (bank BRI dan bank Lampung). Sedangkan srana pendidikan yang dimiliki adalah 7 TK,

25 SDN, 4 Madrasah, 1 SD swasta, 3 SD swastaIslam, 4SLTPN, 1 SLTP swasta umum, 5 SLTP swastaIslam,1 SMUN, 1 MAN, 1 SMU swasta umum, 2 SMK dan 3 SMU swastaIslam.

2. Pekon Pahmungan a. Sejarah Pahmungan55

Pekon pahmungan adalah tanah subur yang berbukit yang diapit oleh dua aliran sungai yaitu way ngison balak dan way mahnai lunik kemudian batas-batas sebagi berikut:

1) Sebelah barat pasar Krui sampai balai kencana 2) Sebelah timur taman nasional

3) Sebelah utara way ngison balak (marga pedada)

4) Sebelah selatan way mahnai lunik (kecamatan pesisir selatan)

Berdiri lebih kurang 1800 tahun yang lalu berasal dari liba Haji Sumbangsal, di kepalai oleh ratu agung kumala jagat dan anak tertuanya raden mangku dan cucu raden bungkus yang mendapat sertifikat sebagai sai batin dari bengkulen karena kita masih masa keresidenan bengkulen dan berkembang sampai sekarang menjadi 3 sai batin yaitu:

1) Dalom darmas saputra gelar dalom kapitan 2) Dalom zoni ifto gelar dalom sangai agung 3) Dalom al-badawi dalom simbangan

55

Pada tahun 1868 raja muda merah hidio adalah pertain pertama pekon pahumang. Berdiri setelah itu raden bungkus mendapat sertifikat sai batin dari bengkulen. Pekon pahumang sendiri dibagi menjadi 3 pemangku saat ini yang di pimpin oleh kepala pemangku yaitu:

1) Pemangku 1 lumpawai 2) Pemangku 2 pekon tuha

3) Pemangku 3 way ulok megrecek b. Sejarah Pemerintah Pekon56

Sejarah pemerintah pekon dalam hal ini nama-nama peratin yang pernah meminpin wilayah pahmungan kecamatan pesisir tengah kabupaten pesisir barat di sajikan dalam table berikut ini:

Tabel 1. Nama-nama peratin pahmungan

No Periode Nama Peratin Keterangan

1 1868-1888 Raja muda Krui masih keresidenan bengkulen

2 1888-1896 Isa Krui masih keresidenan

bengkulen

3 1896-1900 Jamaludin Krui masih keresidenan bengkulen

4 1900-1910 M. Zainul Krui masih keresidenan bengkulen

5 1910-1911 Dahum Krui masih keresidenan bengkulen

6 1911-1918 Mat Rasul Krui masih keresidenan bengkulen

7 1918-1948 H. Muslim

Penyelesaian tapak batas bagian selatan dengan tenumbang saksi hidup sampai sekarang pertukaran

marga kepada

mentri/pemerintah lampung. 8 1949-1958 Bahsa Kepala negeri/camat khotua

56

9 1959-3 Bulan Belhi Mengundurkan diri dari peratin

10 1959-1960 H. Delimin Saksi hidup sampai sekarang 11 1960-1965 H. Burdadi Peratin jadi Kepala Pekon

12 1966-1996 Rosba Toha

Pahmungan bian barat pisah jadi pekon suka Negara dengan batas masjid sukanegara sekarang dan rawas diminta Kp. Jawa dan sekarang jadi pekon rawas. Tahun 1985 sukanegara minta penambahan wilayah pada pahmungan dengan batas SD negeri pahmungan.

13 1996-1998 H. Delmi

14 1999-2005 Fahmi Kembali dari Kepala Pekon menjadi peratin

15 2005-2007 Herna

Tapal batas pahmungan sukanegara. Pahmungan tenumbang sampai sekarang belum ada kelajutan dari pemda.

16 2008-2015 Andika

Terbentuknya pesisir barat, sebagai wialayh utara pahmungan menjadi bagian wilayah kecamatan way krui

termasuk wilayah

pemukiman.

17 2015 Albadawi Pemulihan kembali atar puan dan atar labuai.

18 2016-2022 Nopan Peratin terpilih tahun 2016

Sumber: Profil Pekon Pahmungan, 2016.

c. Sejarah pembangunan pekon

Secara umum sejarah pembangunan pekon yang telah terlaksanakan di pahmungan kecamatan pesisir tengah kabupaten pesisir barat sejak awal pemekaran hingga saat ini terus membangun baik SDM maupun Inspratuksturnya.

d. Kondisi geografis

1) Letak dan luas wilayah

Pekon atau desa pahmungan merupakan salah satu Pekon di Kecamatan Pesisir Tengah, Kabupaten Lampung Barat yang memiliki luas 2.600ha. Pekon Pahmungan terletak pada 5°LS dan 103°BT dan berjarak 4 Km dari pusat pemerintahan kecamatan, 32 Km dari ibukota kabupaten, dan 287 Km ke ibukota propinsi. Jenis tanah di Pekon Pahmungan umumnya Podsolik Merah Kuning (PMK) dengan curah hujan berkisar 3000-3500 mm pertahun. Sebaran penggunaan lahan di Pekon Pahmungan dapat dilihat dalam Tabel 2.57

Tabel 2. Sebaran penggunaan lahan masyarakat di Pekon Pahmungan.

No Penggunaan Lahan Luas (Ha) Persentase (%) 1. Permukiman Penduduk 25 0,96

2. Hutan Lindung 500 19,23

3. Perkebunan 900 34,62

4. Sawah semi teknis 40 1,54

5. Perbukitan /pegunungan 800 30,77

6. Lain-lain 335 12,88

Jumlah 2600 100,00

Sumber: Profil Pekon pahmungan, 2016.

57

Berdasarkan pada tabel diatas dapat dilihat bahwa pnggunaan lahansebagian besar untuk pertanian khususnya perkebunan damar (34,62 %), hutan lindung(19,23%), lain-lain(12,88%), dan berupa pegunungan(30,77%), sedangkan sebagian kecil digunakan untuk sawah(1,54%) dan permukiman(0,96%).

Pekon pahmungan merupakan salah satu pekon dari 8 pekon diwilayah kecamatan pesisir tengah yang terletak 2 (dua) KM kearah utara dari ibukota kecamatan.

2) Iklim

Iklim pekon pahmungan sebagaimana dengan pekon lain diwilayah Indonesia mempunyai iklim kemarau dan penghujan, hal tersebut mempunyai pengaruh langsung terhadap pola tanam yang ada di pekon pahmungan kecamatan pesisir tengah.

Jumlah Penduduk 1144 Jiwa, yang tersebar dalam 3 pemangku, gambaran jumlah penduduk yang ada dipahmungan dapat dilihat dalam table berikut:

Tabel 3 sebaran penduduk Pahmungan58 No Nama Pemangku Jumlah Penduduk (Jiwa) Laki-laki (Jiwa Perempuan (Jiwa) 1 PMK 1 Lumpak Way 585 254 331 2 PMK 2 Pekon Tuha 306 105 201 3 PMK 3 Way Ulok Megrecek 253 174 79

Sumber: Profil Pekon pahmungan, 2016.

3) Perekonomian Pekon

Dalam menjalankan pembangunan wilayah membutuhkan sumber pendanaan, baik itu berupa pajak, bantuan, swadaya ataupun dari sumber lainnya. Demikian halnya dengan pahmungan, dimana penerimaan berasal dari berbagai sumber. Adapun sumber penerimaan pahmungan dalam 3 tahun terakhir dapat dilihat dalam table berikut:

Tabel 4 Sumber Pendapatan Pekon No Sumber Penerimaan Pekon Tahun 2014 2015 2016 1 ADI V V 2 PPD V 3 PNPM V 4 UMBR V 5 APBD PROV V V 6 APBD KAB V V 7 APBN V V

Sumber: Profil Pekon pahmungan, 2016.

58

4) Keadaan penduduk

Sebagian besar penduduk Pesisir Tengah, Lampung Barat beragama islam dengan jumlah 31.833 jiwa. Pekon Pahmungan memiliki jumlah penduduk sampai 1.176 jiwa, yang terdiri dari 558 orang laki-laki dan 618 orang perempuan dengan 281 jumlah kepala keluarga. Jumlah penduduk enurut golongan usia dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Jumlah penduduk Pekon Pahmungan menurut golongan usia.

Kelompok umur (tahun) Jumlah(orang) Persentase(%)

0-14 329 27,98

15-29 264 22,45

30-44 301 25,6

>45 282 23,98

Total 1176 100

Sumber: Profil Pekon pahmungan, 2016.

Penduduk Pekon Pahmungan mayoritas merupakan penduduk usia produktif (berumur 15-44 tahun), yaitu sebanyak 565 orang (48,11%), dan 329 orang(27,98%) merupakan penduduk dibawah umur.

5) Sarana dan Prasarana

Secara umum, sarana dan prasarana yang ada di Pekon Pahmungan terdiri dari sarana angkutan dan komunikasi, prasarana perhubungan, pemasaran, social. pendidikan dan agama, kemasyarakatan, kesehatan, dan olahraga. Sarana dan prsarana yang ada di Pekon Pahmungan disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Sarana dan Prasarana di Pekon Pahmungan.

No. Prasarana/Sarana Jenis Jumlah

1. Perhubungan Jalan aspal

Jalan tanah Jembatan

2 Km 1Km 2 buah

2. Pemasaran Kios /Warung

Pasar pekon

16 buah 3 buah

3. Sosial dan

pendidikan

Sekolah Dasar 1 buah

4. Kemasyarakatan Masjid/musolla Balai Pekon 3 buah 1 buah 5. Kesehatan dan olahraga Pos Kamling Posyandu MCK umum 3 buah 1 buah 6 unit

6. Sarana angkutan Angkutan

pedesaan Sepeda motor Sepeda Becak Mobil pribadi 3 buah 23 buah 20 buah 3 buah 3 buah

7. Sarana Komunikasi Pesawat TV

Pesawat Telepon Radio Antena parabola 25 buah 15 buah 25 buah 23 buah

3. Visi Pekon Pahmungan59

“Menjadikan Pekon Pahmungan sebagai Pekon yang makmur, aman, bersih dan berwawasan lingkungan”

Rumusan Visi tersebut merupakan suatu ungkapan dari suatu niat yang luhur untuk memperbaiki dalam Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pelaksanaan Pembangunan di Pekon Pahmungan baik secara individu maupun kelembagaan sehingga ke depan Pekon Pahmungan mengalami suatu perubahan yang lebih baik dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dilihat dari segi ekonomi dengan dilandasi semangat kebersamaan dalam Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pelaksanaan Pembangunan.

4. Misi Pekon Pahmungan

a. Bersama masyarakat memperkuat kelembagaan desa yang ada

b. Bersama masyarakat dan kelembagaan desa menyelenggarakan pemerintahan dan melaksanakan pembangunan yang partisipatif. c. Bersama masyarakat dan kelembagaan desa dalam mewujudkan

Pekon Pahmungan yang makmur, aman, tentram dan damai.

d. Bersama masyarakat dan kelembagaan desa memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta peduli terhadap lingkungan.

59

B. Pelaksanaan Perkawinan Sirri di Pekon Pahmungan Kec. Pesisir Tengah Kab. Pesisir Barat

Setelah penulis melakukan penelitian di Pekon Pahmungan Kec. Pesisir Tengah Kab. Pesisir Barat, pelaksanaa perkawinan yang tidak dicatatkan di PPN atau sering disebut dengan kawin Sirri, bahkan setiap kelurahan ada tapi penulis meringkas penelitian ini dengan mengambil satu sample pelaksanaan kawin Sirri di satu kelurahan yaitu Pekon Pahmungan Kec. Pesisir Tengah Kab. Pesisir Barat. Yang berarti terdapat beberapa pasangan yang melakukan perkawinan dibawah tangan atau kawin Sirri. Berdasarkan usia para pelaku perkawinan Sirri yang terjadi pada Pekon

Pahmungan Kec. Pesisir Tengah Kab. Pesisir Barat rata-rata anak-anak dibawah umur yang belum layaknya melakukan perkawinan. Adapun menurut pendidikannya, rata – rata kawin Sirri dilakukan oleh masyarakat yang tidak lulus sekolah dasar (SD) atau biasa disebut dengan patah pensil. Berdasarkan mata pencaharian para informan, perkawinan Sirri dilakukan oleh masyarakat yang kebanyakan bekerja sebagai pabentor dan buruh harian. 1. Profesi Perkawinan Sirri di Pekon Pahmungan Kec. Pesisir Tengah Kab.

Pesisir Barat

Seperti di jelaskan di bab I, bahwa hakekat perkawinan Sirri adalah perkawinan yang dilakukan tampa di catatkan. Fenomena keabsahan kawin Sirri secara hukum di Indonesia serta serata tinjaun HukumIslam, ada upaya mereduksi maraknya kawin Sirri yang ada dalam masyarakat kita, menggunakan dasar hukum yang ada, yaitu UU

Perkawinan (UU No. 1 tahun 74) atau biasa disebut dengan KHI.

Perkawinan Sirri ini pada sebagian masyarakat muslim di Indonesia telah dikenal dengan marak dipraktikkan. Namun sampai saat ini masyarakat masih banyak keragaman pemahaman termynologi dan konsep kawin Sirri. hal ini dapat dipahami bahwa kawin Sirri atau kawin dibawah tangan belum masuk dalam kata baku di Indonesia dan sosialisasinya belum menyeluruh. Demikian juga dengan konsepnya, sebagian ulama dan masyarakat umumnya belum memiliki kejelasan dan kesamaan rumusan. Salah satunya yang terjadi di Pekon Pahmungan Kec. Pesisir Tengah Kab. Pesisir Barat. Jika dilihat dari penduduknya bejumlah 111.444 jiwa dan jumlah pasangan kawin Sirri atau kawin dibawah tangan lebih dari 100 pasangan, dapat dikatakan yang melakukan praktik kawin Sirri di Pekon Pahmungan Kec. Pesisir Tengah Kab. Pesisir Barat sangatlah banyak.

Sebahagian besar menurut persepsi mereka (pasangan kawin Sirri), yaitu kawin di bawah tangan yang mempunyai pengertian bahwa secara legal formal menurut HukumIslam dapat dinyatakan sah. Hal ini di dasarkan pada alasan bahwa pada saat peresmian kawin Sirri semacam itu semua syarat dan rukun yang telah ditentukan telah terpenuhi.

Semua rukun yang dimaksud itu ialah adanya mempelai laki-laki dan perempuan, wali (yang mekawinkan), dua orang saksi, akad ijab Kabul atau transaksi perkawinan, dan mahar. Hal – hal tersebut dianggap oleh kebanyakan pasangan kawin Sirri sebagai keharusan bagi

sah tidaknya suatu perkawinan secaraIslam. Sedangkan berkaitan dengan KUA dan adanyan publikasi yang biasa dilaksanakan dalam bentuk walimah/resepsi, secara subtansial keduanya lebih didasarkan untuk tujuan kemaslahatan serta menghindari kemaksiatan.60

Itulah yang mereka pegang saat ini yang mereka jadikan alasan untuk mengawinkan anak mereka dengan pasangannya dengan cara kawin Sirri. Dan mereka mengesampingkan keabsahan oleh KUA dan Negara atau bias dikatakan timementingkan buku kawin.

Pandangan kyai atau tokoh masyarakat yang mengesahkan kwin bawah tangan didasarkan pada aspek kemaslahatan dari latar belakang pelaku kawin Sirri. Alasan mereka kemukakan setiap kali akan mekawinkan.61 Sedangkan ada juga tokoh masyarakat yang menganggap kawin Sirri tidak sah menurut HukumI s l a m maupun positif, atau dengan kata lain bahwa sahnya suatu akad perkawinan itu apabila telah dilangsungkan menurut ketentuan syariatIslam, di hadapan dan dicatatkan oleh PPN.62

Mengenai pandangan tentang keabsahan kawin Sirri ini, terdapat pendapat yang disampaikan oleh Bapak Karmidin. selaku petugas KUA Kec. Pesisir Tengah Kab. Pesisir Barat, dimana berbeda dengan kedua pendapat diatas, dengan melihat latar belakang

60

Wawancara dengan pasangan yang melakukan kawin Sirri di Pekon Pahmungan Kec. Pesisir Tengah Kab. Pesisir Barat, 13 Agustus 2019.

61

Wawancara dengan tokoh masyarakat yang memperbolehkan kawin Sirri di Pekon Pahmungan Kec. Pesisir Tengah Kab. Pesisir Barat 14 Agustus 2019.

62

Wawancara dengan tokoh masyarakat di Pekon Pahmungan Kec. Pesisir Tengah Kab. Pesisir Barat pada 14 Agustus 2019.

pasangan kawin Sirri, dia menyarankan untuk mengawinkan dibawah tangan. Pendapatnya ini dari satu sisi bertentangan dengan tugasnya sebagai petugas PPN, namun alasan kemaslahatan dan guna menghindari terjadinya perzinaan dan kumpul kebo, dia memperbolehkan kawin dibawah tangan atau kawin Sirri, walaupun saat perkawinan dia tidak menghadirinya.63

Adapun pelaksanaan prosesi perkawinan Sirri di Pekon Pahmungan Kec. Pesisir Tengah Kab. Pesisir Barat ini dihadiri oleh : a. Kedua calon mempelai

b. Dua orang saksi

c. Wali dan keluarga kedua belah pihak

d. disertai ulama setempat yang memimpin prosesi akad kawin.

Menurut KH. Ruhandi yang sering mekawinkan pasangan sebagai suami istri di Pekon Pahmungan Kec. Pesisir Tengah Kab. Pesisir Barat secara bawah tangan atau Sirri, baik tetangga sendiri, keluarga maupun orang luar daerah yakni sebagai berikut :

a. Mencegah terjadinya kumpul kebo (zina). b. Demi kemaslahatan umat.

c. Karna syarat dan rukun telah terpenuhi untik mekawin.64

63

Wawancara dengan petugas PPN pada 15 Agustus 2019.

64

Wawancara dengan KH. Ruhandi selaku yang memimpin akad kawin Sirri pada 15 Agustus 2019

C. Dampak Praktik Perkawinan Sirri Pekon Pahmungan Kec. Pesisir Tengah Kab. Pesisir Barat

Dampaknya yang akan timbul dari perkawinan yang tidak dicatatkan secara Yuridis Formal, antara lain:

1. perkawinan dianggap tidak sah. Meski perkawinan dilakukan menurut agama dan kepercayaan, namun di mata negara perkawinan tersebut dianggap tidak sah jika belum dicatat oleh KUA atau Kantor Catatan Sipil (KCS).

2. anak hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibu dan keluarga ibu, tidak ada hubungan perdata dengan ayahnya. Ini artinya anak tidak dapat menuntut hak-haknya dari ayah. Dengan dilahirkan dalam perkawinan yang tidak dicatatkan, kelahiran anak menjadi tidak tercatatkan pula secara hukum dan hal ini melanggar hak asasi anak (Konvensi Hak Anak). Anak-anak ini berstatus anak di luar perkawinan.

3. akibat lebih jauh dari perkawinan yang tidak tercatat adalah, baik istri maupun anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut tidak berhak menuntut nafkah ataupun warisan dari ayahnya.

Secara garis besar, perkawinan yang tidak dicatatkan sama saja dengan membiarkan adanya hidup bersama di luar perkawinan, dan ini sangat merugikan para pihak yang terlibat (terutama perempuan), terlebih lagi kalau sudah ada anak-anak yang dilahirkan. Mereka yang dilahirkan dari orang tua yang hidup bersama tanpa dicatatkan perkawinannya, adalah anak luar kawin yang hanya mempunyai hubungan hukum dengan ibunya,

dalam arti tidak mempunyai hubungan hukum dengan bapaknya. Dengan perkataan lain secara yuridis tidak mempunyai Bapak. Sebenarnya, tidak ada paksaan bagi masyarakat untuk mencatatkan perkawinan Dalam artian, jika tidak mencatatkan perkawinan, bukan berarti melakukan suatu kejahatan. Namun jelas bahwa hal ini memberikan dampaknya atau konsekuensi hukum tertentu yang khususnya merugikan perempuan dan anak-anaknya.65

Bersinggungan dengan pentingnya pencatatan perkawinan, seperti juga pembuatan KTP atau SIM, sesungguhnya membicarakan pelayanan publik yang menjadi tanggung jawab negara. Sehingga sudah semestinya memperhatikan prinsip good governance, salah satunya adalah menetapkan biaya yang sesuai dengan taraf kehidupan masyarakat dan prosedur yang tidak berbelit-belit. Dengan prosedur yang tidak berbelit-belit dan biaya yang sesuai masyarakat diajak untuk mencatatkan perkawinannya. Pada dasarnya, Nabi saw telah mendorong umatnya untuk menyebarluaskan perkawinan dengan menyelenggarakan walimatul ursy. Anjuran untuk melakukan walimah, walaupun tidak sampai hukumnya wajib akan tetapi Nabi sangat menganjurkan. Banyak hal-hal positif yang dapat diraih seseorang dari penyiaran perkawinan di antaranya adalah: 1. untuk mencegah munculnya fitnah di tengah-tengah masyarakat

2. memudahkan masyarakat untuk memberikan kesaksiannya, jika kelak ada persoalan-persoalan yang menyangkut kedua mempelai

65

Wawancara dengan salahsatu penghulu di KUA Pekon Pahmungan Kec. Pesisir Tengah Kab. Pesisir Barat pada tanggal 15 Agustus 2019.

3. memudahkan untuk mengidentifikasi apakah seseorang sudah mekawin atau belum.

Hal semacam ini tentunya berbeda dengan perkawinan yang tidak disiarkan, atau dirahasiakan (Sirri). Selain akan menyebabkan munculnya fitnah misalnya, jika perempuan yang dikawini Sirri hamil, maka akan muncul dugaan-dugaan negatif dari masyarakat terhadap perempuan tersebut, perkawinan Sirri juga akan menyulitkan pelakunya ketika dimintai persaksian mengenai perkawinannya. Jika ia tidak memiliki dokumen resmi, maka dalam semua kasus yang membutuhkan persaksian, ia harus menghadirkan saksi-saksi perkawinan Sirrinya dan hal ini tentunya akan sangat menyulitkan dirinya. Atas dasar itu, anjuran untuk mencatatkan perkawinan di lembaga pencatatan negara menjadi relevan, demi mewujudkan kemudahan-kemudahan bagi suami istri dan masyarakat serta untuk mencegah adanya fitnah.66

Kawin Sirri apabila dilihat dari segi hukum negara menunjukkan suatu perkawinan yang tidak mempunyai perlindungan hukum karena tidak dilakukan pencatatan oleh PPN, sehingga pasangan tidak memiliki akta perkawinan. Tidak adanya akta perkawinan ini, menyebabkan pasangan tidak memiliki bukti otentik tentang perkawinannya. Hal ini berarti perempuan tidak memiliki perlindungan hukum, sehingga dapat menimbulkan banyak masalah bagi dirinya. Masalahmasalah yang dialami bagi pelaku kawin Sirri. Misalnya, istri

66

Wahyu Pratama, Makalah Spai (Mozilla Firepox 2009), h. 3-5. http://akmapala09.blogspot.com.wahyu.html (16 Agustus 2019)

ditinggal suami mekawin lagi, maka istri tidak dapat meminta pertanggung jawaban suami, apabila terjadi perceraian, maka istri tidak dapat meminta hak-haknya sebagai istri yang diceraikan.

Ternyata kemudahan meninggalkan pasangan, dalam kawin Sirri tidak hanya dilakukan oleh para suami tetapi juga istri, karena bagaimanapun perkawinan tanpa pencatatan formal akan memberikan peluang kepada siapapun, baik suami maupun istri untuk saling mengingkari perkawinannya. Kawin Sirri selain memberikan kemudahan kepada setiap pasangan untuk saling meninggalkan, juga memberikan peluang untuk melakukan poligami dengan mudah. Jika kita mendengar poligami rasanya menjadi hal yang sangat mengerikan. Banyak perempuan yang menderita karena poligami, tetapi sampai saat ini poligami masih terus terjadi bahkan terkesan semakin banyak laki-laki yang melakukannya,

Dokumen terkait