HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
6) Kewajiban Peserta Program Pensiun
a) Membayar iuran sebesar 4,75% dari penghasilan sebulan yang terdiri dari gaji pokok + tunjangan Istri + tunjangan anak kepada PT. Taspen (Persero) sewaktu masih aktif bekerja.
b) Menyampaikan laporan perubahan data peserta dan keluarga.
B. Program Tabungan Hari Tua
Adalah suatu program Asuransi Dwiguna yang dikaitkan dengan usia pensiun ditambah dengan Asuransi Kematian.
1) Asuransi Dwiguna
Adalah suatu program asuransi yang memberikan jaminan keuangan bagi peserta, berupa pembayaran sekaligus kepada peserta pada waktu mencapai usia pensiun atau kepada ahli warisnya pada waktu peserta meninggal dunia sebelum mencapai usia pensiun. Bagi peserta yang berhenti bekerja sebelum mencapai usia pensiun atau bukan karena meninggal dunia akan memperoleh pembayaran sekaligus dalam bentuk uang tunai.
Disamping itu peserta program Asuransi Dwiguna juga akan memperoleh Asuransi Kematian tanpa harus menambah iuran. Program Asuransi Kematian adalah asuransi seumur hidup bagi peserta dan istri/suami, serta merupakan asuransi berjangka bagi anak peserta yang belum mencapai usia 21 tahun atau 25 tahun bagi yang belum menikah dan masih sekolah/kuliah.
2) Peserta Program Tabungan Hari Tua:
a) Pegawai Negeri Sipil kecuali Pegawai Negeri Sipil departement Hankam.
c) Pegawai BUMN
3) Hak-hak Peserta Program THT:
a) Manfaat THT dibayarkan apabila peserta berhenti sebagai Pegawai Negeri Sipil karena pensiun atau meninggal dunia.
b) Manfaat Nilai Tunai dibayarkan apabila peserta berhenti bukan karena pensiun atau meninggal dunia (keluar).
c) Manfaat Asuransi Kematian dibayarkan apabila peserta, suami/istri dan anak peserta meninggal.
4) Kewajiban Peserta Program THT:
a) Membayar iuran sebesar 3,25% dari penghasilan sebulan yang terdiri dari gaji + tunjangan Istri + tunjangan anak kepada PT. Taspen (Persero) sewaktu masih aktif bekerja.
b) Menyampaikan laporan perubahan data penghasilan atau perubahan data diri dan keluarga.
c) Memberikan data diri dan keluarganya 2. Ketentuan Dalam Mengelola Dana Pensiun
a. Investasi dalam bentuk penempatan Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) hanya dapat ditempatkan pada SBPU yang diterbitkan oleh badan hukum yang bukan pendiri dan mitra pendiri dari Dana Pensiun termasuk afiliasinya.
b. Penyertaan langsung pada saham dan surat pengakuan hutang yang berjangka waktu lebih dari 1 tahun tidak boleh melebihi 15% dari jumlah investasi.
investasi.
d. Penempatan investasi pada satu pihak (perusahaan, asosiasi) tidak boleh melebihi 10% dari jumlah investasi.
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 511/KMK.06/2002 telah memberi keleluasaan bagi dana pensiun untuk berinvestasi pada 13 instrumen, yaitu:
1. deposito berjangka di bank, 2. deposit on call di bank, 3. sertifikat deposito di bank,
4. saham yang tercatat di bursa efek, 5. obligasi yang tercacat di bursa efek,
6. penempatan langsung saham badan hukum Indonesia, 7. surat pengakuan hutang badan hukum Indonesia, 8. tanah di Indonesia,
9. bangunan di Indonesia,
10. tanah dan bangunan di Indonesia, 11. unit penyertaan reksadana, 12. sertifikat Bank Indonesia (SBI),
13. surat berharga yang diterbitkan Pemerintah Indonesia.
d) Proses pengelolaan data peserta secara umum
berarti tanpa kendali. Sebab masih ada ketentuan yang membatasi penepatan dana di sejumlah instrumen seperti tersebut di atas. Bagaimanapun, dana pensiun adalah mengemban amanat yang harus berhati-hati dan penuh kontrol dalam menjalankan bisnisnya.
Dalam pengelolaan data peserta taspen dituntut untuk senantiasa dapat mengikuti perubahan yang terjadi dan secara terus-menerus melakukan peremajaan data. Agar database perserta senantiasa dapat menyesuaikan data terhadap perubahan maka SDM dibidang data peserta dituntut untuk benar-benar mengetahui perilaku dan karakteristik data peserta, sehingga pengelolaannya dapat dilakukan secara optimal, sehubungan dengan itu untuk menunjang SDM dalam menguasai kegiatan pengelolaan data peserta dipandang perlu untuk menyusun suatu standar pengelolaan data peserta yang dapat menjadi panduan bagi SDM dalam mengelola data peserta.
Langkah ini sangat tepat dan strategis sebagai salah satu dasar atau landasan dalam pengelolaan data peserta.
Dalam memperoleh sumber data peserta taspen sangat tergantung dengan pihak eksternal seperti pemda, satuan kerja, badan kepegawaian Negara. Direktorat jendral perbendaharaan pada dirktorat sistem perbendahara disisi sumber data tersebut sangat diperlukan untuk proses pengelolaan dan penyajian data sehingga dapat menghasilkan data yang akurat dan terkini untuk proses pelayanan pada peserta.
Dalam pengelolaan data pada kondisi internal masih terdapat beberapa permasalahan yang mempengaruhi kualitas data seperti kebijakan pengelolaan data, kekurangan sumber daya manusia, kesalahan proses, belum tertibnya petugas
terkini.
Untuk dapat menjaga tingkat akurasi dan kemukatahiran data peserta taspen maka data harus diperoleh dari:
a. Sumber Data Utama
1) Program asuransi : satuan kerja (SATKER) terkecil yang memiliki bendaharawan gaji pada suatu instansi peserta.
2) Program pensiun : instansi penerbit SKEP, instansi penerbit SKPP dan penerimaan pensiun.
3) Sumber data pengunjung : sebagai sumber data yang digunakan untuk pembandingan terhadap keabsahan dan keakuratan data peserta.
4) Sumber data penunjang antara lain : BKN, Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara, Kementrian Dalam Negara, Instansi Peserta, Direktorat Sistem Perbendaharaan Kementrian Keuangan, KPPN, Bendahara Umum Daerah, Kantor KA Staf Angkatan dan POLRI, Sekretariar Negara.
b. Jenis Dokumen yang Dikumpulkan
1) Surat keputusan pengangkatan pertama, SK kenaikan pangkat, kenaikan gaji berkala, mutasi pindah dan SK kepegawaian lainnya yang sejenis dapat diperoleh dari instansi peserta, pemda, KPPN, BKN, Setneg.
2) SKEP pensiun dan SK keluarga dapat diperoleh dari PDW.
3) SKEP untuk peserta PNS yang akan pensiun diperoleh dari KPPN, Pemda untuk peserta pegawai BUMN diperoleh dari instansi BUMN,
bayar diperoleh dan kantor cabang asal.
4) Daftar gaji dan rekap daftar gaji diperoleh dari satker peserta. KPPN Bendaharawan Pemda dan BUMN peserta yang berupa softcopy.
5) Untuk data tertentu dapat diperoleh dari direktorat sistem perbendaharaan, kementrian Keuangan, Pemda dan lain sebagainya.
4. Pengelolaan Data Peserta Pensiun PT. Taspen (Persero) Cabang Makassar Dalam pengelolaan data peserta pensiun di PT. Taspen ada salah satu kekurangan yang sering terjadi yaitu pada pengumpulan dan pemeliharaan data, yang mana data peserta taspen selalu menumpuk, sehingga perlu waktu lama untuk menginput semua data peserta kedalam sistem atau aplikasi Taspen itu sendiri.
Pada sistem penginputan data sering terjadi kendala dalam hal sistem jaringan online yang dimiliki Taspen. Yang mana jaringan seluruh PT. Taspen yang ada di Indonesia terhubung ke Taspen Pusat. Sehingga jika ada trouble di kantor pusat maka seluruh komputer karyawan Taspen yang ada di kantor cabang akan terhenti pekerjaannya. Ini sangat berpengaruh pada pekerjaan karyawan yang rutin dilakukan setiap hari. Begitu juga dengan penginputan data. Sistem input data ini akan blank secara otomatis.
Pada pengisian fomulir data peserta Taspen, banyak data yang ditemukan tidak lengkap, sehingga membuat karyawan Taspen kesulitan dalam menginput data ke sistem aplikasi Taspen. Yang mana pihak Taspen berharap data peserta Taspen itu sesuai dengan apa yang telah dimintak dalam formulir data peserta Taspen. Agar data yang masuk ke sistem komputer Taspen itu valid dan tidak ada kekiliruan.
banyak yang belum tersusun dengan rapi. Jumlah karyawan pada bidang data ini tidak sebanding dengan banyaknya data yang akan di input. Sehingga karyawan tersebut kesulitan dengan pekerjaannya yang mengakibatkan data selalu menumpuk setiap tahun. Kearena dalam peraturan Taspen ini setiap tahun ada pemeriksaan keakuratan data. Dan data yang telah valid nantiknya akan di simpan sebagai Arsip/ Dokumen rahasia Taspen.
Oleh karena itu manajemen mutu database dirancang sesuai dengan kebutuhan perusahaan agar menghasilkan output dengan benar. Dan dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam menunjang perusahaan di dalam berbagai aspek kegiatannya. Supaya tidak terjadi lagi permasalahan maka harus dilakukan pengelolaan data peserta secara terstruktur.
Pengelolaan data terstruktur merupakan penyajian informasi data peserta dan pendistribusiannya kepada pengguna dilakukan secara rutin dan terjadwal dapat dilakukan sebagai berikut:
a. Rekapitulasi jumlah peserta program asuransi dan pensiun.
b. Daftar potongan iuran/ premi.
c. Daftar mutasi tambahan, kurang dan ubah.
d. Daftar pembayaran pensiun (DAPEM).
e. Rekap penerimaan pensiun per kantor juru bayar.
f. Rekap penerimaan pensiun per bendaharawan pensiun.
g. Rekap penerima pensiun per kelompok pensiun dan jenis pembayaran tunai/
rekening.
i. Rekapitulasi pembayaran pensiun dana.
Penelolaan data juga bisa dilakukan dengan cara tidak terstruktur dimana data tersebut bersifat insidentil, antara lain:
a. Penyajian data untuk manajemen.
b. Penyajian data untuk permintaan lembaga eksternal.