• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ketika proses pemeriksaan perkara di pengadilan antara hakim dan jaksa memiliki kewenangan masing-masing. Secara umum telah kita ketahui bahwasanya

40 Dinas Syari’at Islam Aceh, Hukum Jinayah dan Hukum Acara Jinayah (Banda Aceh: Naskah Aceh, 2015), hlm. 21-24.

.

kewenangan hakim adalah sebagai pengadil, pemeriksa, pemutus perkara dan kadang kala hakim juga berwenang sebagai penemu hukum atau yang dikenal dengan istilah

rechtsvinding jikalau aturan hukumnya tidak ada.

Sedangkan kewenangan jaksa jika diamati pada Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, Kejaksaan sebagai pengemban kekuasaan negara di bidang penuntutan makadiberi wewenang oleh undang-undang ini untuk bertindak sebagai penuntut umum serta melaksanakan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap (Pasal 1 butir 6 (a) KUHAP).41

2.3.1.Kewenangan Hakim Menurut Hukum Positif dan Hukum Islam

Landasan utama eksistensi hakim dalam memeriksa dan memutus perkara yang diajukan ke pengadilan dan kekuasaan kehakiman yang bebas, tercantum dalam Pasal 24 Ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi, “Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan”. Dari pasal tersebut, guna penegakkan hukum(law

enforcement) dan keadilan, sehingga diselenggarakannya peradilan sebagai media

untuk mengeksistensikan penegakan hukum dan keadilan.42

Dalam menyelenggarakan peradilan, hakim diberikan wewenang untuk memeriksa dan memutus perkara yang diajukan ke pengadilan. Ketentuan Pasal 1 Ayat (5) UU No. 48 Tahun 2009 tentang kekuasaan kehakiman menyebutkan:

“Hakim adalah hakim pada Mahkamah Agung dan hakim pada badan

peradilan yang berada dibawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan

41 KUHP dan KUHAP (Permata Press, 2007), hlm. 193.

42 Immanuel Christophel Liwe, Kewenangan Hakim dalam Memeriksa dan Memutus Perkara

Pidana yang Diajukan ke Pengadilan, Lex Crimen, 2014, 133-134. Diakses Melalui:

https://Ejournal.Unsrat.Ac.Id/Index.Php/Lexcrimen/Index, tanggal 18 Juni 2017.

peradilan tata usaha negara, dan hakim pada pengadilan khusus yang berada dalam lingkungan peradilan tersebut”.

Berdasarkan ketentuan tersebut, hakim adalah pelaku kekuasaan negara yang bebas dari intervensi dalam bentuk apapun untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, demi terselenggaranya Negara Hukum Indonesia yang diberikan kewenangan untuk memeriksa dan memutus perkara yang diajukan ke pengadilan pada Mahkamah Agung dan pada badan peradilan yang berada dibawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan pada pengadilan khusus yang berada dalam lingkungan peradilan tersebut.

Wewenang untuk memeriksa dan memutus perkara yang diajukan ke pengadilan pada Mahkamah Agung dan peradilan yang berada dibawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara dan pada pengadilan khusus, hakimdiwajibkan menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan keadilan yang hidup dalam masyarakat. Sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 5 Ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009 tentang kekuasaan kehakiman menyebutkan bahwa,

“Hakim dan hakim konstitusi wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.”

Penjelasan dari Pasal 5 Ayat (1) tersebut menyatakan, “ketentuan ini dimaksudkan agar putusan hakim dan hakim konstitusi sesuai dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat.

Dari penjelasan tersebut dapatlah dipahami tujuan dibuatnya ketentuan Pasal 5 Ayat (1) tersebut, dimana agar supaya putusan hakim sesuai dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut maka ditetapkanlah dasar kewenangan hakim dalam menjalankan tugasnya untuk mengadili, diwajibkan untuk menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.

Proses pemeriksaan perkara di pengadilan hakim selaku pemutus perkara memiliki berbagai wewenang, antara lain:

1. Wewenang Hakim a. Melakukan Penahanan

Untuk kepentingan pemeriksaan Hakim di sidang pengadilan dengan penetapannya berwenang melakukan penahanan (vide Pasal 20 ayat (3) jo. Pasal 26).

b. Pengalihan jenis penahanan

Penyidik atau penuntut umum atau hakim berwenang mengalihkan jenis penahanan yang satu ke jenis penahan yang lain (vide Pasal 23 ayat (1) jo. Pasal 22).

2. Wewenang Hakim Ketua Sidang

Wewenang hakim ketua sidang antara lain:

a. Menentukan bahwa anak yang belum berusia 17 (tujuh belas) tahun tidak diperkenankan menghadiri sidang.

b. Memerintahkan supaya terdakwa dipanggil masuk dan jika ia dalam tahanan, ia dihadapkan dalam keadaan bebas.

c. Kewenangan-kewenangan lain yang berhubungan dengan kelancaran dan tertib persidangan, misalnya berhubungan dengan terdakwa, saksi, barang bukti, Penuntut Umum, dan Penasihat Hukum.

Diluar uraian di atas dikenal pula Hakim pengawas dan pengamat (Pasal 277- Pasal 283) yang antara lain mempunyai wewenang mengadakan pengawasan guna memperoleh kepastian bahwa putusan pengadilan dilaksanakan sebagaimana mestinya.43

Hakim juga berwenang memberikan putusan yang berisikan suatu peraturan sendiri, berdasarkan wewenang yang diberikan oleh Pasal 22 A.B ( Algemene Bapalingen van Wetgeving voor Indonesia). Putusan ini dibuat oleh hakim apabila undang-undang ataupun kebiasaan tidak memberi peraturan yang dapat dipakainya untuk menyelesaikan perkara itu. Keputusan hakim yang demikian disebut dengan hukum Jurisprudensi. Hakim yang kemudian dapat mengikuti ataupun berpedoman pada keputusan hakim terdahulu apabila menangani kasus yang sama.

Untuk menjalankan semua kewenangan yang telah diberikan,hakim dibolehkan menjatuhkan sanksi kepada seseorang apabila sudah terpenuhi sekurang kurangnya dua alat bukti yang sah ditambah dengan satu keyakinan hakim. Alat bukti yang sah menurut Pasal 184 KUHAP adalah: keterangan saksi, keterangan ahli, alat bukti surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa.

43 Bambang Waluyo, Pidana dan Pemidanaan (Jakarta: Sinar Grafika, 2004), hlm. 80-81

Sedangkan kewenangan hakim menurut pandangan hukum Islam hakim berwenang untuk menerima, memeriksa, mengadili, dan menyelesaikan perkara tertentu dengan adil dan benar antara orang Islam dan yang non Islam yang berada di wilayah hukumnya untuk mengakkan hukum dan keadilan berdasarkan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasulullah dalam Alquran dan hadis.

Mengenai hal wewenang hakim ini, Ibnu Khaldun mengatakan bahwa, “kedudukan peradilan, seorang hakim selain dari menyelesaikan perkara-perkara sengketa, bertugas juga memelihara hak-hak umum, memperhatikan keadaan anak-anak di bawah umur, orang yang tak cakap bertindak secara hukum, seperti anak-anak yatim, orang gila, orang failit dan sebagainya dan mengurus juga harta-harta wasiat, wakaf, mejadi wali bagi wanita-wanita yang tidak berwali dan memperhatikan kemaslahatan-kemaslahatan lalu lintas, pembangunan-pembangunan, dan mememeriksa keadaan saksi, agar dapat diketahui mana saksi yang adil dan yang tidak adil”.44

Berdasarkan wewenang tersebut, hakim juga berwenang untuk mengadili perkara-perkara yang terjadi antara kepala negara dengan orang-orang yang mengadukannya, meskipun kedudukan hakim tersebut adalah sebagai wakil dari Kepala Negara.

Menurut hukum Islam dalam tindak pidana hudud, kewenangan hakim hanya mengadili perkara yang telah dibuktikan, dan hakim berwenang menjalankan hukuman yang telah ditetapkan, tanpa menambah, mengurangi, menghapus ataupun menunda pelaksanaannya. Jika dalam tindak pidana kisas, kekuasaan dan

44Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Peradilan dan Hukum Acara

Pidana(Semarang: Pustaka Riski Putra, 2001), hlm. 25.

kewenangan hakim bergantung pada sikap korban dalam memafkan. Sedangkan dalam tindak pidana takzir, disini hakim diberikan kewenangan dan kekuasaan yang bebas dalam memutuskan perkara berdasarkan keyakinannya.45

Peradilan Islam memberikan kewenangan dan kebolehan bagi hakim dalam menjatuhkan putusan berdasarkan bukti persangkaan atau firasat yang terambil dari indikasi-indikasi.46 Hal ini dibolehkan bagi hakim menurut firman Allah Swt dalam surat Yusuf ayat 26, yaitu:

ﻦﱢﻣ ٌﺪِﻫﺎَﺷ َﺪِﻬَﺷَو

ۡ◌

ﻩَأ

ۡ◌

ﺎَِﳍ

ٓ◌

ُﻪُﺼﻴِﻤَﻗ َنﺎَﻛ نِإ

ۥ

ُﺐُﻘﻨِﻣ ﱠﺪُﻗ ٍل

ﺖَﻗَﺪَﺼَﻓ

ۡ◌

لٱ َﻦِﻣ َﻮُﻫَو

ۡ◌

َﲔِﺑِﺬَٰﻛ

۲٦

Artinya: ”Dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksiannya: "Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan Yusuf termasuk orang-orang yang dusta.” (Q.S Yusuf: 26).

Jika terhadap kasus yang alat buktinya tidak jelas maupun tidak lengkap hakim boleh membebaskan terdakwa sebab bukti yang tidak jelas. Hal ini berlandaskan sebagaimana keputusan Ali bin Abi Thalib dalam membebaskan seorang pembunuh dari hukuman mati, yang mengakui perbuatannya demi kehidupan nyawa seseorang yang awalnya diduga sebagai pembunuh sebelum laki-laki tersebut mengakuinya, dan karena tidak adanya saksi yang melihatnya secara langsung ataupun bukti lain yang dapat dijadikan petunjuk terhadap perbuatannya.47

Terhadap suatu perkara yang belum ada dibahas dalam Alquran dan hadis, hakim dibolehkan untuk berijtihad bersungguh-sungguh menemukan hukum

45 Abdul Qadir Audah, Eksiklopedi Hukum Pidana Islam (Bogor:Kharisma Ilmu, 2007), hlm. 102.103.

` 46Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Al-Thuruq al-Khukmiyyah fi Siyasah al-Syar’iyyah (terj. Adnan Qohar dan Anshoruddin) (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hlm. 1-2.

47Ibid.,. hlm. 101-103.

berdasarkan pengetahuannya untuk memutuskan suatu perkara yang belum ada dibahas dalam Alqurandan hadis dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan yang matang.48

Para penganut mazhab Daud Zahiri berpendapat, bahwa suatu keharusan bagi sang hakim untuk mengambil keputusan hukum berdasarkan persaksiannya sendiri dalam perkara-perkara yang menyangkut pembunuhan (pertumpahan darah), kisas, perdata, perzinaan dan perkara pidana lainnya, baik persaksiannya itu ada sebelum dia menjadi hakim maupun sesudahnya.49 Pendapat tersebut di dasarkan atas firman Allah Swt dalam Alquran Surat An-Nisa Ayat 135 yaitu:

َٰي

ٓ◌

لﭑِﺑ َﲔِﻣٰﱠﻮَـﻗ ْاﻮُﻧﻮُﻛ ْاﻮُﻨَﻣاَء َﻦﻳِﺬﱠﻟٱ ﺎَﻬﱡـﻳَأ

ۡ◌

ﺲِﻗ

ۡ◌

اَﺪَﻬُﺷ ِط

ٓ◌

ِﻪﱠﻠِﻟ َء

...

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah...”(Q.S. An-Nisa’:

135)

Maka jelaslah bahwa hakim memiliki kewenangan yang bebas dalam memutus perkara, tidak adil jika dia membiarkan orang yang membuat zhalim terus-menerus dalam kezalimannya.

Jika dilihat dalam Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2013 tentang Hukum Acara Jinayah, Bab XVI, Pemeriksaan di Sidang Mahkamah, Bagian Ketiga, Acara Pemeriksaan Biasa, Pasal 178 butir ke 7 menjelaskan bahwa, Majelis hakim

48

Al-Imam –Asy Syafi’i, R.A, Al-Umm (Kitab Induk) (Kuala Lumpur: Victory Agencie, 1992), hlm. 275

49 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah jilid 9-11(Bandung: Al-Ma’arif, 2001), hlm. 118-119.

boleh menjatuhkan jenis hukuman yang berbeda dari yang dimita oleh penuntut umum, jika uqubat jarimah bersifat alternatif (pengganti).50

2.3.2. Kewenangan Jaksa Menurut Hukum Positif dan Hukum Islam

Sedangkan kewenangan jaksa jika diamati pada KUHAP, Kejaksaan sebagai pengemban kekuasaan negara di bidang penuntutan maka Kejaksaan melakukan penuntutan terhadap perkara pidana dan perkara jinayah di Indonesia khususnya di Aceh.

Berdasarkan Pasal 2 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004, ditegaskan bahwa kejaksaan melaksanakan tugasnya secara merdeka, artinya bebas dan terlepas dari pengaruh kekuasaan lainnya.

Undang-Undang No. 16 Tahun 2004, tentang Kejaksaan RI, mengatur tugas dan wewenang Jaksa, yang rinciannya sebagai berikut:

1. Pasal 30 Ayat 1: Bidang Pidana, Kejaksaan mempunyai tugas dan wewenang: a. Melakukan penuntutan

b. Melaksanakan penetapan Hakim dan putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap

c. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pidana bersyarat, putusan pidana pengawasan, dan keputusan lepas bersyarat

d. Melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan Undang-undang.

e. Melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan pemeriksaan tambahan sebelum dilimpahkan ke Pengadilan yang dalam pelaksanaannya dikoordinasikan dengan penyidik.

50 Dinas Syari’at Islam Aceh, Qanun Aceh nomor 7 tahun 2013 tentang Hukum Acara

Jinayah( Banda Aceh:Dinas Syari’at Islam Aceh, 2015), hlm. 147.

2. Pasal 30 Ayat 2: Di bidang Perdata dan Tata Usaha Negara, Kejaksaan dengan kuasa khusus dapat bertindak baik di dalam maupun di luar Pengadilan untuk dan atas nama negara atau pemerintah.

3. Pasal 30 Ayat 3: Dalam bidang Ketertiban dan Ketenteraman Umum, Kejaksaan turut menyelenggarakan kegiatan:

a. Peningkatan kesadaran hukum masyarakat. b. Pengamanan kebijakan penegakan hukum. c. Pengamanan peredaran barang cetakan.

d. Pengawasan aliran kepercayaan yang dapat membahayakan masyarakat dan Negara.

e. Pencegahan penyalahgunaan dan atau penodaan Agama. f. Penelitian dan pengembangan hukum serta statistik kriminal.”

4. Pasal 32: Di samping tugas dan wewenang tersebut dalam undang-undang ini, Kejaksaan dapat diserahi tugas dan wewenang lain berdasarkan Undang-Undang.

5. Pasal 33: Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, Kejaksaan membina hubungan kerja sama dengan badan penegak hukum dan keadilan serta badan Negara atau instansi lainnya.

6. Pasal 34: Kejaksaan dapat memberikan pertimbangan dalam bidang hukum kepada instansi pemerintah lainnya.51

Peran jaksa sebagai penuntut umum yang mewakili kepentingan umum bertindak untuk dan atas nama Negara dalam menangani perkara merupakan wujud penegakan ketertiban dan perlindungan terhadap kepentingan hukum seperti yang tertera dalam UU No. 5 Tahun 1991, UU No. 16 Tahun 2004, jo Kepres No. 55 Tahun 1991.

51 Marwan Effendy, Kejaksaan RI, Posisi dan Fungsinya dari Persfektif Hukum (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005), hlm. 128-130

Tugas dan wewenang lain di antaranya: menempatkan terdakwa di rumah sakit, atau tempat lain yang layak, memberi pertimbangan hukum pada instansi-instansi, pembinaan hubungan sesama aparat penegak hukum.52

Jika dilihat dalam pandangan hukum Islam tidak adanya istilah jaksa dalam menanganai suatu perkara di bidang penuntutan, yang ada hanyalah penggugat atau pihak korban yang dirugikan dan tergugat atau pihak pelaku. Namun jika dilihat dalam suatu wilayah yang mejalankan hukum Islam terhadap kasus tertentu seperti halnya Aceh, maka dalam Qanun Aceh Nomor 7 Tahun 2013 tentang Hukum Acara Jinayahmenjelaskan bahwa jaksa atau penuntut umum berwenang:

1. Menerima dan memeriksa berkas perkara Penyidikan dari Penyidik atau Penyidik Pembantu

2. Mengadakan pra penuntutan apabila ada kekurangan pada kekurangan penyidikan, dengan memberi petunjuk dalam rangka penyempurnaan Penyidikan dari Penyidik sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan, 3. Memberikan perpanjangan penahanan, melakukan penahanan atau penahanan

lanjutan dan/ atau mengubah status tahanan lanjutan dan/ atau mengubah status tahanan setelah perkaranya dilimpahkan oleh penyidik

4. Membuat surat dakwaan

5. Melimpahkan perkara ke Mahkamah

6. Menyampaikan pemberitahuan kepada terdakwa dan saksi tentang ketentuan hari dan waktu perkara disidangkan yang disertai surat panggilan untuk datang pada sidang yang telah ditentukan.

52 Leden Marpaung, Proses Penanganan Perkara Pidana (Penyelidikan dan Penyidikan) (Jakarta:Sinar Grafika, 2009), hlm. 193-194

7. Melakukan penuntutan

8. Mengadakan tindakan lain dalam lingkup tugas dan tanggung jawab sebagai penuntut umum menurut ketentuan qanun ini dan/ atau peraturan Perundang-uandang lainnya, dan

BAB TIGA

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB HAKIM MENJATUHKAN

SANKSI BERBEDA DENGAN TUNTUTAN JAKSA DALAM

PUTUSAN NOMOR 53/JN/2016/MS.BNA

3.1.Kasus Posisi

Berdasarkan putusan hakim dalam surat putusan Nomor 53/JN/2016/MS. Bna, Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh Kelas 1-A yang telah memeriksa dan mengadili perkara Jinayah dengan acara pemeriksaan biasa pada peradilan tingkat pertama telah menjatuhkan putusan terdahap para terdakwa.

Menyatakan identitas terdakwa bahwa, ZF bin ZA, tempat tanggal lahir, Tanoh Abee 18 Maret 1997, umur 19 tahun, agama Islam, jenis kelamin laki-laki, pekerjaan pelajar/mahasiswa, pendidikan SMA tamat, kebangsaan/ kewarganegaraan Indonesia, tempat tinggal Gampong Bak Seutui Kecamatan Seulimum Kabupaten Aceh Besar, domisili di Gampong Bandar Baru Kecamatan Kuta Alam Banda Aceh, sebagai terdakwa I.

RZ binti NB, tempat tanggal lahir, Seunebok28 Januari 1997, umur 19 tahun, agama Islam, pekerjaan pelajar/mahasiswi, pendidikan SMA tamat, jenis kelamin perempuan, kebangsaan/ kewarganegaraan Indonesia, tempat tinggal Gampong Seunebok Kecamatan Seulimum Kabupaten Aceh Besar, domisili Gampong Beurawe Kecamatan Kuta Alam Kota Banda Aceh, sebagai terdakwa II.

Berdasarkan penangkapan oleh saudara MN bin BY dengan saudaranya dan dan dibantu oleh beberapa warga lainnya, menyatakan kronologis kejadian bahwa:

Terdakwa I ZF bin ZA dan terdakwa II RF binti NB pada hari Jum’at Tanggal 30 September 2016 sekira Pukul 18.20 WIB, bertempat di sebuah kamar rumah kos yang berlokasi di Gampong Beurawe Kecamatan Kuta Alam Kota Banda Aceh atau setidak-tidaknya pada suatu tempat lain masih dalam wilayah hukum Mahkamah Syar’iyah Kota Banda Aceh yang berwenang mengadili perkara ini, perbuatan tersebut dilakukan oleh terdakwa dengan cara sebagai berikut:

- Bahwa Terdakwa II RF binti NB pada hari Jum’at Tanggal 30 September 2016 sekitar Pukul 16.30 WIB menjemput terdakwa I ZF bin ZA di kostnya yang beralamat di Gampong Bandar Baru kecamatan Kuta Alam Kota Banda Aceh dengan menggunakan sepeda motor milik terdakwa II.

- Kemudian sekitar Pukul 18.30 WIB terdakwa I dan Terdakwa II pulang menuju rumah kos kakak kandung terdakwa II yang bernama Putri Nahrisa yang berlokasi di Gampong Beurawe Kecamatan Kuta Alam Kota Banda Aceh, setiba di rumah kos tersebut kemudian terdakwa II masuk ke dalam rumah kos sedangkan terdakwa I menunggu di luar. Selanjutnya terdakwa II memasukkan sepeda motornya ke dalam rumah tersebut.

- Bahwa kemudian kedua terdakwa masuk ke dalam kamar kos milik kakak kandung terdakwa II, dan mengunci pintu. Selanjutnya kedua terdakwa duduk-duduk berdua sambil ngobrol, pada saat itu terdakwa I ZF bin ZA

mengirim beberapa video porno ke HP terdakwa II RF binti NB, lalu mereka menonton bersama dan keduanya bermesra-mesraan hingga ketika azankemudian keduanya pergi shalat maghrib.

- Bahwa setelah selesai shalat maghrib sekira Pukul 19.15 WIB kedua terdakwa kembali berdua duduk di atas kasur, lalu terdakwa I mengambil Hand Phone Terdakwa II dan membuka video porno yang sudah terdakwa I kirim sebelum shalat maghrib, kemudian keduanya menonton video tersebut bersama lagi hingga mereka melakukan hubungan badan layaknya suami istri.

- Bahwa kemudian sekira Pukul 20.00 WIB saudara MN bin BY dengan saudaranya dan remaja mesjid serta dibantu oleh beberapa warga lainnya, mendatangi rumah kos yang diduga terjadinya perbuatan ikhtilath untuk melakukan penggerebekan dan kemudian dilihatnya terdakwa I berada di samping pintu belakang dalam keadaan tanpa pakaian, dan terdakwa II berada di dalam kamar menggunakan handuk warna biru.

- Kemudian warga mendobrak dan menangkap serta mengamankan kedua terdakwa, kemudian keduanya diintrogasi dan diajukan beberapa pertanyaan, diantara pertanyaan tersebut keduanya mengakui telah melakukan hubungan suami istri di rumah kamar kos tersebut.

- Kemudian sekitar Pukul 21.00 WIB datang anggota Wilayatul Hisbah Kota Banda Aceh, kedua terdakwa diserahkan oleh warga, kemudian keduanya dibawa ke kantor satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah Kota Banda Aceh untuk proses lebih lanjut.

Berdasarkan surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum tertanggal 03 November 2016 Nomor Registrasi Perkara PDM-174/B.Aceh/11/2016 yang dilimpahkan ke Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh dengan surat pelimpahan Perkara Acara Pemeriksaan Biasa Nomor B-2903/N.1. 10/Euh./2/11/ 2016 Tanggal 14 November 2016 dan telah terdaftar di kepaniteraan Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh dengan Register Nomor 53/JN/2016/Ms. Bna, maka terdakwa I dan terdakwa II telah didakwakan oleh Penuntut Umum dengan dakwaan Primair, melanggar ketentuan Pasal 25 ayat (1) Jo Pasal 1 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Hukum Jinayahdan atau dakwaan subsidair, melanggar ketentuan Pasal 23 ayat (1) Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayah. Oleh karena itu, berdasarkan dakwaannya Jaksa Penuntut Umum menuntutterdakwa I ZF bin ZA dengan ‘uqubat cambuk di depan umum Sebanyak 25 kali cambuk dipotong masa tahanan yang telah dijalani dengan perintah terdakwa tetap berada di dalam tahanan. Dan menuntut terdakwa II RF binti NB dengan ‘uqubat cambuk di depan Umum 25 kali cambuk dipotong masa tahanan yang telah dijalani dengan perintah terdakwa tetap berada di dalam tahanan. Menetapkan agar masing-masing terdakwa membayar biaya perkara sebesar Rp. 2000,- (dua ribu rupiah).

Kemudian Penuntut Umum bahwa untuk menguatkan dalil-dalil apa yang dikemukakan dalam surat dakwaannya, Penuntut Umum telah menghadapkan 1 orang saksi di persidangan yaitu MN bin BY yang telah memberikan keterangan di bawah sumpah di depan persidangan. Kemudian Jaksa Penuntut Umum menetapkan barang bukti berupa, 1 buah celana pendek warna biru merk Adidas,

1 buah baju kaos laki-laki warna hitam, 1 lembar celana dalam laki-laki warna coklat merk Polo, 1 pasang pakaian dalam wanita, 2 lembar tisu, 1 buah handuk warna biru merk Pente Artous, 1 buah rok warna hitam, 1 buah kaos perempuan lengan panjang warna merah.

Atas keterangan saksi-saksi, para terdakwa tidak keberatan dan membenarkannya, bahwa di persidangan terdakwa I dan terdakwa II telah memberikan keterangan bahwa para terdakwa dalam keadaan sehat jasmani dan rohani, bahwa para terdakwa belum pernah dihukum atau terlibat suatu tindak pidana sebelumnya dan terdakwa tidak perlu didampingi oleh Penasihat Hukum atau Pengacara. Bahwa yang pada intinya para terdakwa menjelaskan sekira pukul 18.20 WIB, pada saat itu setelah shalat maghrib para terdakwa menonton film porno kemudian keduanya bermesra-mesraan hingga melakukan hubungan layaknya suami istri. Berselang 15 menit setelah hubungan pertama dilakukan mereka mangulangi kembali melakukan hubungan suami istri untuk yang kedua kalinya di kamar kos tersebut.

Bahwa terdakwa II menjelaskan pada saat para terdakwa melakukan hubungan ikhtilath situasi dalam kamar kos dalam keadaan sepi dan tempatnya dalam keadaan terang dan pintu kamar terkunci dan pada saat melakukan hubungan badan yang kedua kalinya di kamar kos tersebut saudara ZF bin ZA mematikan lampu. Kemudian sekira pukul 20.00 WIB tiba-tiba warga mendobrak pintu kamar dan warga menangkap mengamankan dan mengintrogasi keduanya. Kemudian sekitar pukul 21.00 WIB datang anggota Wilayatul Hisbah dan membawa mereka para terdakwa ke kantor Satuan Polisi Pamong Praja dan

Wilayatul Hisbah kota Banda Aceh. Dan para terdakwa juga menjelaskan bahwa sebelumnya pernah melakukan hubungan badan, yang pertama kali mereka lakukan di salah satu hotel kawasan Peunayong kota Banda Aceh, pada saat sebelum bulan Ramadhan tahun 2016.

Menimbang, berdasarkan fakta hukum diatas, Majelis Hakim tidak sependapat dengan dakwaan Penuntut Umum yang menuntut para terdakwa

Dokumen terkait