• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

3. Kewenangan Inspektorat Daerah

Sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri Negeri Nomor 51 Tahun 2010 tentang Pedoman Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Tahun 2011 ditegaskan bahwa Pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah dilaksanakan oleh Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP) yang meliputi Inspektorat Jenderal Kementerian, Unit Pengawasan Lembaga Pemerintah Non Kementerian, Inspektorat Provinsi, dan Inspektorat Kabupaten/Kota sesuai fungsi dan kewenangannya.34

Inspektorat Daerah mempunyai tugas pokok melakukan kewenangan kepala daerah (Gubernur/Bupati/Walikota) di bidang pengawasan fungsional terhadap penyelenggaraan Pemerintah Daerah.

33Kamal Hidjaz, op. cit, hlm. 38.

34 Penjelasan Peraturan Menteri Dalam Negeri No.51 Tahun 2010 .

17 Untuk melaksanakan tugas tersebut diatas, Inspektorat Daerah mempunyai kewenangan penyelenggaran fungsi :

1. Pembinaan pelaksanaan tugas Pemerintahan Daerah di bidang pengawasan

2. Pemeriksaan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Daerah 3. Pengusutan atas kebenaran laporan atas pengaduan terhadap

penyimpangan/penyalahgunaan dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah

4. Pelayanan teknis administratif dan fungsional35

Inspektorat Daerah adalah instansi penting dalam bidang pengawasan internal, baik pengawasan keuangan maupun pengawasan pelaksanaan. Seperti halnya pada pengawasan pelaksanaan, Inspektorat Daerah juga memiliki tugas pokok dan fungsi untuk melakukan pengawasan keuangan. Beberapa kewenangan Inspektorat Daerah di bidang pengawasan yang menyangkut pengawasan terhadap keuangan dan aset daerah adalah:

a. Pelaksanaan APBD

b. Penerimaan pendapatan daerah dan Badan Usaha Daerah

c. Pengadaan Barang/Jasa serta Pemeliharaan/Penghapusan Barang/Jasa

d. Penelitian dan penilaian laporan pajak-pajak pribadi

35Handriyas Putra, Pelaksanaan Fungsi Pengawasan Fungsional Di Inspektorat Kota Solok,Padang,2011,dalamhttp://repository.unand.ac.id/17421/1/PELAKSANAAN_FUNG SI_PENGAWASAN_FUNGSIONAL_DI_INSPEKTORAT_KOTA_SOLOK.pdf diakses pada tanggal12 April 2013 pukul 12.00 Wita.

18 e. Penyelesaian ganti rugi

f. Inventarisasi dan penelitian kekayaan pejabat di lingkungan Pemda36

Inspektorat Daerah mempunyai peranan yang sangat penting, karena Inspektorat Daerah ini dibentuk untuk melakukan pengawasan (pengendalian) internal dalam pengelolaan keuangan daerah.37

Salah satu inspektorat daerah adalah Inspektorat Kabupaten/Kota.

Adapun kedudukan inspektorat kabupaten/kota diatur dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Organisasi Dan Tata Kerja Inspektorat Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Pada Pasal 1 ayat (2) dinyatakan bahwa:

“Inspektorat Kabupaten/Kota adalah aparat pengawas fungsional yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada bupati/walikota”

Ketentuan dalam Pasal 2 ayat (2) dinyatakan bahwa:

Inspektorat kabupaten/kota berkedudukan di bawah dan bertanggungjawab kepadabupati/walikota dan secara teknis administratif mendapat pembinaan dari sekretaris daerah kabupaten/kota.”

Inspektorat kabupaten/kota sebagai aparat pengawas intern di daerah kemudian diatur pada PP SPIP38 atau Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Internal Pemerintah Daerah.

36 Ade Cahyat, Artikel dalam Sistem Pemerintahan Daerah Kabupaten, Jurnal Ilmiah ,No.

3-November 2004, diakses pada tanggal 27 Januari 2013.

37 Nur Basuki Minarno, op. cit., hlm. 156.

38 Muhammad Djafar Saidi, Hukum Keuangan Negara Edisi Revisi, Raja Grafindo, Jakarta, 2009, hlm. 78.

19 Berdasarkan ketentuan Pasal 47 PP SPIP dinyatakan:

1) Menteri/pimpinan lembaga, gubernur, dan bupati/walikota bertanggung jawab atas efektivitas penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern di lingkungan masing-masing.

2) Untuk memperkuat dan menunjang efektivitas Sistem Pengendalian Intern sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan:

a. pengawasan intern atas penyelenggaraan tugas dan fungsi Instansi Pemerintah termasuk akuntabilitas keuangan negara;

dan

b. pembinaan penyelenggaraan SPIP.

Pasal 48 ayat (1) menyatakan :

Pengawasan intern sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 ayat (2) huruf a dilakukan oleh aparat pengawasan intern pemerintah.

Kemudian Pasal 49 ayat (1) menegaskan bahwa:

Aparat pengawasan intern pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 ayat (1) terdiri atas:

a. BPKP;

b. Inspektorat Jenderal atau nama lain yang secara fungsional melaksanakan pengawasan intern;

c. Inspektorat Provinsi; dan d. Inspektorat Kabupaten/Kota.

Lebih lanjut di dalam Pasal 49 ayat (6) dinyatakan:

Inspektorat Kabupaten/Kota melakukan pengawasan terhadap seluruh kegiatan dalam rangka penyelenggaraan tugas dan fungsi satuan kerja perangkat kabupaten/kota yang dibiayai dengan anggaran pendapatan dan belanja daerah kabupaten/kota.

Inspektorat kabupaten/kota juga diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (PP No.75 Tahun 2005). Kedudukan inspektorat kabupaten/kota menurut Pasal 24 PP No.

79 Tahun 2005 adalah sebagai berikut:

20 1. Pengawasan terhadap urusan pemerintahan di daerah dilaksanakan oleh aparat pengawas intern pemerintah berdasarkan fungsi dan kewenangannya;

2. Aparat pengawas intern pemerintah adalah inspektorat jenderal kementerian, unit pengawasan lembaga pemerintah nonkementrian, inspektorat provinsi, dan inspektorat daerah;

3. Pelaksanaan pengawasan dilakukan oleh pejabat pengawas pemerintah;

4. Pejabat pengawas pemerintah ditetapkan oleh menteri/menteri negara/pimpinan lembaga pemerintah non kementrian

di tingkat pusat, oleh gubernur di tingkat provinsi, dan bupati/walikota di tingkat kabupaten/kota sesuai dengan peraturan perundang-undangan;

5. Tata cara dan persyaratan pengangkatan, pemindahan, pemberhentian dan peningkatan kapasitas pejabat pengawas pemerintah daerah diatur dengan peraturan menteri.

Sebagaimana yang telah di jelaskan sebelumnya bahwa Inspektorat Kabupaten/Kota sebagai salah satu Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP) maka tugas dan fungsi Inspektorat Kabupaten/kota yaitu membantu pimpinan (Bupati/Walikota) dalam bidang pemeriksaan dan pengendalian di bidang perencanaan program pengawasan, perumusan kebijakan dan fasilitasi pengawasan, pengusutan, pengujian dan penilaian tugas pengawasan.

Berdasarkan hal tersebut, maka kewenangan Inspektorat Kabupaten/Kota dalam pengawasan fungsional adalah melakukan pengawasan dan memeriksa terhadap jalannya pemerintah daerah yang objektif, pengawasan terhadap keuangan daerah, pengawasan meliputi semua dinas yang berada pada lingkungan pemerintah Kabupaten/Kota.

Pelaksanaan/Mekanisme pengawasan penyelenggaraan pemerintahan dilaksanakan berdasarkan pada Program Kerja Pengawasan Tahunan (PKPT), sebagaimana diatur dalam ketentuan

21 Pasal 5 Permendagri Nomor 23 Tahun 2007 tentang Pedoman Tata Cara Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, menyatakan :

(1) Penyusunan rencana pengawasan tahunan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah Kabupaten dan Kota dikoordinasikan oleh Inspektur Provinsi.

(2) Rencana pengawasan tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dalam bentuk Program Kerja Pengawasan Tahunan (PKPT) dengan berpedoman pada kebijakan pengawasan.

(3) Penyusunan PKPT sebagaimana dimaksud pada ayat (2) didasarkan atas prinsip keserasian, keterpaduan, menghindari tumpang tindih dan pemeriksaan berulang-ulang serta memperhatikan efisiensi dan efektifitas dalam penggunaan sumber daya pengawasan.

(4) Rencana pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Keputusan Gubernur.

Penyusunan Program Kerja Pengawasan Tahunan (PKPT), sebagaimana yang diatur dalam ketentuan Pasal 6 Permendagri Nomor 23 tahun 2007, yang menyebutkan :

PKPT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5 meliputi : a. ruang lingkup;

g. laporan hasil pemeriksaan yang diterbitkan.

Kemudian dalam ketentuan Pasal 8 Permendagri 23 tahun 2007, menyatakan :

(1) Pejabat Pengawas Pemerintah melaksanakan pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah berpedoman pada PKPT.

(2) Pejabat Pengawas Pemerintah dalam melaksanakan pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah berkoordinasi dengan Inspektur Provinsi dan Inspektur Kabupaten/Kota.

Pejabat Pengawas Pemerintah, dalam melaksanakan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan dilakukan melalui kegiatan pemeriksaan,

22 monitoring dan evaluasi. Kegiatan pemeriksaan dilaksanakan berpedoman pada Daftar Materi Pemeriksaan (DMP). Berdasarkan ketentuan yang diatur dalam Pasal 10 Permendagri Nomor 23 Tahun 2007, menegaskan :

(1) Kegiatan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, meliputi:

a. Pemeriksaan secara berkala dan komprehensif terhadap kelembagaan, pegawai daerah, keuangan daerah, barang daerah,urusan pemerintahan;

b. Pemeriksaan dana dekonsentrasi;

c. Pemeriksaan tugas pembantuan; dan

d. Pemeriksaan terhadap kebijakan pinjaman dan hibah luar negeri.

(2) Kegiatan pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan Daftar Materi Pemeriksaan.

Sasaran pemeriksaan Rencana Pengawasan Tahunan (RPT) yang dituangkan dalam Program Kerja Pengawasan Tahunan (PKPT), sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 51 Tahun 2010 maka yang menjadi obyek pemeriksaan Inspektorat Kabupaten/Kota meliputi :

1) Semua SKPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten/Kota.

2) Perusahaan Daerah, apabila Kepemilikan/Pengelolaan masih dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.

3) Kecamatan.

4) Desa/Kelurahan.

5) Pelaksanaan Tugas Pembantuan dari APBD Kabupaten/Kota di Desa/Kelurahan.

6) Pelaksanaan Tugas Pembantuan dengan sumber anggaran dari APBN dan/atau APBD Provinsi berdasarkan pelimpahan/Joint Audit.

7) Pengelolaan APBD Kabupaten/Kota dalam rangka Pemilu kada di Kabupaten/Kota.

23 Pelaksanaan kewenangan Kegiatan pemeriksaan sebagai wujud dari pelaksanaan tugas dan fungsi Inspektorat kota Makassar dilakukan melalui cara sebagai berikut:

1. Pemeriksaan berkala adalah pemeriksaan yang dilakukan terhadap setiap instansi/unit kerja di lingkungan pemerintah kota makassar berdasarkan Program Kerja Pemeriksaan Tahunan (PKPT) yang disusun setiap tahun dan ditetapkan dengan Keputusan Walikota.

2. Pemeriksaan insidentil yang dilakukan sewaktu-waktu dan tidak terencana. Pemeriksaan insidentil ada dua macam yaitu:

a) Pemeriksaan khusus adalah pemeriksaan yang dilakukan terhadap oknum aparat pemerintah daerah atas perintah khusus walikota apabila diduga terjadi pelanggaran.

b) Pemeriksaan kasus adalah pemeriksaan yang dilakukan terhadap oknum aparat pemerintah daerah karena adanya pengaduan masyarakat.

Dari Ketentuan Pasal 17 ayat (1) Permendagri Nomor 23 Tahun 2007,

“Hasil pemeriksaan Pejabat Pengawas Pemerintah terhadap pelaksanaan administrasi umum pemerintahan dan urusan pemerintahan, wajib ditindak lanjuti oleh pemerintah daerah sesuai dengan rekomendasi.”

Selanjutnya dalam Pasal 17 ayat (2) kemudian dinyatakan:

“Untuk melaksanakan tindak lanjut tersebut, Wakil Walikota bertanggung jawab mengoordinasikan pelaksanaan tindak lanjut hasil pemeriksaan. mengingat yang melaksanakan urusan pemerintahan daerah adalah lembaga perangkat daerah, maka yang wajib menindaklanjuti laporan hasil pemeriksaan pejabat

24 pengawas pemerintah adalah lembaga perangkat daerah yang telah diperiksa.”

Aparat pengawas daerah melakukan pemeriksaan pengawasan secara horizontal kepada pemerintah daerah dan legislatif daerah, dan secara vertikal melaporkan hasilnya dan memberikan informasi temuannya kepada BPKP. Dengan demikian menurut Arifin P. Soeria Admadja:

“Akan diciptakan mekanisme check and recheck sehingga dapat dihindari atau dikurangi penyelewengan di tingkat daerah, taanpa perlu BPKP terjun terjun langsung dan mencampuri urusan daerah, kecuali dari hasil pemeriksaan laporan Inspektorat/Bawasda provinsi telah terjadi assymmetric-information suatu yang mempunyai indikasi penyimpangan atas penggunaan keuangan daerah.”39

B. Pengawasan

Dokumen terkait