PROVINSI DI INDONESIA
1) Keyboard accessible, yaitu mengupayakan agar seluruh fungsi tersedia melalui keyboard,
2) Waktu yang cukup, yaitu menyediakan cukup waktu bagi pengguna untuk membaca dan menggunakan konten,
3) Seizure, yaitu tidak merancang konten menggunakan cara yang dapat mengakibatkan seizures, dan
4) Mudah dinavigasi: Menyediakan cara yang membantu pengguna menavigasi, menemukan konten, dan menemukan dimana mereka berada.
3. Prinsip Understandable
Prinsip ini memiliki arti bahwa setiap antarmuka pengguna dapat dimengerti dengan mudah oleh para pengguna. Prinsip understandable memiliki panduan sebagai berikut:
1) Mudah dibaca, yaitu mengupayakan agar konten lebih mudah dibaca dan dimengerti,
2) Mudah diprediksi, yaitu mengupayakan agar halaman-halaman situs web muncul dan beroperasi dengan cara-cara yang mudah diprediksi, dan
3) Asistensi input, yaitu membantu pengguna dalam menghindari dan mengoreksi kesalahan.
4. Prinsip Robust
Prinsip ini memiliki arti bahwa konten situs web harus cukup tahan sehingga dapat diinterpretasikan dengan reliable dalam suatu keragaman yang luas kepada agen pengguna, termasuk teknologi bantuan. Prinsip robust memiliki satu panduan, yaitu Kompatibel atau memaksimalkan kompatibilitas dengan agen pengguna terkini dan yang akan datang, termasuk teknologi bantuan.
Penelitian ini menggunakan suatu alat atau tool untuk mengevaluasi situs web pemerintah provinsi dalam hal accessibility, yaitu AChecker yang dapat
digunakan secara online dengan mengakses alamat URL
http://achecker.ca/checker/index.php, yang disebut dengan Public AChecker. Tool tersebut juga dapat diunduh aplikasinya yang tersedia secara open source dan
dapat digunakan untuk membuat versi AChecker sendiri sesuai kebutuhan pengguna. Tool tersebut digunakan pada penelitian ini karena beberapa alasan berikut:
a. Memiliki cukup banyak jenis panduan seperti Web Content Accessibility Guidelines (WCAG) 1.0 (standar Internasional), WCAG 2.0 (standar Internasional), BITV 1.0 (standar Jerman), Section 508 (standar Amerika Serikat) dan Stanca Act (standar Italia). Adapun panduan WCAG 2.0 tersebut dibutuhkan dalam penelitian ini dan merupakan panduan yang masih jarang dimiliki oleh tool sejenis lainnya.
b. Menghasilkan laporan dalam bentuk PDF, EARL, CSV, dan HTML yang dapat dipilih sesuai kebutuhan dokumentasi. Penelitian ini memerlukan laporan dalam bentuk PDF dikarenakan dapat disimpan dan digunakan kapanpun jika dibutuhkan.
Hasil evaluasi accessibility menggunakan AChecker menghasilkan laporan dalam bentuk PDF yang memaparkan baris dan kolom source code situs web provinsi yang memiliki masalah pengaksesan. Pemberian skor yang dilakukan ialah memberikan skor 1, 3 atau 5 untuk setiap success criteria (kriteria kesuksesan) yang berhasil dipenuhi oleh situs web. Untuk memperoleh skor, dilakukan penjumlahan skor terhadap success criteria pada Level AAA, AA dan A pada masing-masing situs web provinsi.
Dalam hal pemberian skor, success criteria pada Level AAA yang dipenuhi oleh situs web provinsi dikalikan dengan angka 5 dikarenakan prioritasnya yang paling tinggi dan kriterianya paling sulit untuk dipenuhi, success criteria pada Level AA dikalikan dengan angka 3 dikarenakan prioritasnya pada tingkat menengah, sedangkan success criteria pada Level A dikalikan dengan angka 1 dikarenakan prioritasnya yang paling rendah dan kriterianya cukup mudah dipenuhi. Ketiga nilai tersebut selanjutnya diakumulasikan untuk memperoleh skor evaluasi accessibility.
Bahan dan Alat
Perangkat lunak dan tool yang digunakan pada evaluasi accessibility ialah AChecker Tool dan Microsoft Office 2007 untuk mengolah data dan mempresentasikan hasil. Adapun perangkat keras yang digunakan antara lain komputer jinjing yang dilengkapi modem sebagai penyedia jaringan Internet.
Hasil dan Pembahasan
Pengembangan Framework untuk Evaluasi Accessibility
Framework (kerangka kerja) yang diterapkan pada evaluasi accessibility situs web provinsi lebih ditekankan terhadap analisis laporan hasil evaluasi menggunakan alat pengukur accessibility berdasarkan standar internasional. Sasaran dari peningkatan kinerja accessibility situs web adalah masyarakat dengan keterbatasan fisik atau different abilities (diffable). Namun demikian, penelitian ini mengambil objek situs web pemerintah provinsi yang setelah dilakukan proses observasi sejak bulan Agustus 2011 hingga Februari 2012 belum seluruhnya memiliki fasilitas untuk masyarakat dengan keterbatasan fisik. Salah satu contoh situs web yang memiliki fasilitas accessibility adalah situs web Provinsi Gorontalo yang memiliki fasilitas untuk memperbesar atau memperkecil ukuran huruf pada situs web hanya dengan mengklik satu tombol yang terletak pada pojok kanan atas (Gambar 35).
Gambar 35 Fasilitas memperbesar atau memperkecil ukuran huruf situs web Provinsi Gorontalo.
Alat pengukur accessibility lebih dipilih daripada mengobservasi para pengguna dengan keterbatasan fisik (misalkan penderita tuna netra, penderita mata rabun, orang lanjut usia, dan lain-lain) dikarenakan standar internasional yang digunakan, yaitu Web Content Accessibility Guidelines (WCAG) 2.0, memiliki banyak kriteria kesuksesan yang perlu diujikan. Dengan mengembangkan kuesioner yang memiliki banyak item penilaian, diduga akan
menyulitkan responden dengan keterbatasan fisik serta membutuhkan waktu yang cukup lama.
Dalam menganalisis hasil laporan alat ukur accessibility, diperlukan kerangka kerja yang dijadikan sebagai acuan. Dikarenakan standar yang digunakan adalah standar internasional, maka diprediksi terdapat beberapa kriteria penilaian yang tidak diaplikasikan oleh situs web provinsi yang diteliti. Oleh karena itu, perlu ditampilkan kriteria mana saja yang diaplikasikan pada sebagian besar situs web, baik secara sukses ataupun tidak. Kriteria yang sukses diberi skor 0 sedangkan yang tidak sukses diberikan skor berupa angka. Hal ini dikarenakan standar WCAG 2.0 memiliki tingkat permasalahan yang berbeda-beda, sehingga pemberian skor angka dimaksudkan untuk membedakan tingkatan tersebut. Selain menampilkan kriteria penilaian accessibility, pada penelitian ini juga ditampilkan jumlah permasalahan yang dialami oleh setiap situs web provinsi untuk kemudian dibandingkan satu sama lain.
Evaluasi Accessibility
Tool yang digunakan pada penelitian ini untuk mengevaluasi accessibility adalah AChecker. AChecker tool dapat diakses secara online dan open source, serta menghasilkan laporan dalam bentuk PDF (Gambar 36). Laporan tersebut berisi baris dan kolom source code situs web yang memiliki masalah pada success criteria Level A, AA dan AAA pada Web Content Accessibility Guideline (WCAG) 2.0. Laporan tersebut selanjutnya dianalisis untuk memperoleh skor evaluasi accessibility.
Gambar 36 Antarmuka AChecker tool.
Pemberian skor untuk masing-masing provinsi didasarkan pada level success criteria yang dipenuhi oleh situs web. Situs web yang memenuhi success criteria level A diberi skor 1, level AA diberi skor 3, level AAA diberi skor 5. Skor yang diperoleh dari penjumlahan skor level A – AAA, kemudian diurutkan dengan skor terkecil berada di peringkat teratas dan skor terbesar berada di peringkat terbawah. Berikut ini disajikan Tabel 12 yang menampilkan skor masing-masing provinsi yang dievaluasi, diurutkan berdasarkan skor tertinggi hingga skor terendah. Nilai minimum yang mungkin ada pada evaluasi accessibility adalah 0, sedangkan nilai maksimumnya yang mungkin dicapai adalah 156 dan berasal dari penjumlahan skor Level A – AAA jika 57 success criteria terpenuhi. Berdasarkan hasil evaluasi accessibility, Provinsi Jawa Timur dan DI Yoyakarta memiliki skor tertinggi (skor 15) dan memenuhi 9 dari 57 success criteria, sedangkan Provinsi Sumatera Utara dan Sumatera Barat memiliki skor accessibility terendah (skor 0) dengan sama sekali tidak memenuhi seluruh success criteria pada standar WCAG 2.0.
Tabel 12 Skor evaluasi accessibility
No. Nama Provinsi
Skor Level A (Skor x 1) Skor Level AA (Skor x 3) Skor Level AAA (Skor x 5) Skor 1. Jawa Timur 7 3 5 15 2. DI Yogyakarta 7 3 5 15
3. Nusa Tenggara Timur 6 3 5 14
4. Gorontalo 3 3 5 11 5. Bali 2 3 5 10 6. Banten 3 0 5 8 7. Kalimantan Selatan 5 3 0 8 8. Maluku 3 0 5 8 9. Lampung 6 0 0 6 10. Kepulauan Bangka Belitung 6 0 0 6 11. Kepulauan Riau 1 0 5 6 12. Jawa Barat 1 0 5 6 13. Sulawesi Selatan 1 0 5 6 14. Papua 3 3 0 6 15. Bengkulu 2 3 0 5 16. Jawa Tengah 5 0 0 5 17. Kalimantan Timur 5 0 0 5 18. Sulawesi Tengah 5 0 0 5 19. Kalimantan Barat 4 0 0 4 20. Maluku Utara 4 0 0 4 21. Riau 3 0 0 3 22. Jambi 3 0 0 3 23. DKI Jakarta 3 0 0 3
24. Nusa Tenggara Barat 3 0 0 3
25. Papua Barat 3 0 0 3 26. Sulawesi Barat 2 0 0 2 27. Nanggroe Aceh Darussalam 1 0 0 1 28. Sumatera Selatan 1 0 0 1 29. Kalimantan Tengah 1 0 0 1 30. Sumatera Utara 0 0 0 0 31. Sumatera Barat 0 0 0 0 Keterangan:
Skor Level A = Dikalikan dengan 1 Skor Level AA = Dikalikan dengan 3 Skor Level AAA = Dikalikan dengan 5
Penilaian pada tabel di atas dilakukan dengan memperhatikan success criteria yang dapat dipenuhi oleh masing-masing situs web pada level A, AA dan AAA. Success criteria pada level A merupakan kriteria yang harus dipenuhi oleh pengembang situs web. Jika tidak terpenuhi, maka satu atau beberapa kelompok
masyarakat tidak mungkin mengakses informasi dokumen, dan pemenuhan kriteria tersebut merupakan persyaratan dasar bagi beberapa kelompok masyarakat untuk dapat menggunakan situs web. Adapun kriteria pada level AA adalah kriteria yang sebaiknya dipenuhi oleh pengembang situs web, dan pemenuhan kriteria tersebut dapat menghilangkan rintangan signifikan untuk mengakses situs web. Kriteria level AAA adalah kriteria yang boleh dipenuhi oleh para pengembang situs web, di mana pemenuhan kriteria tersebut dapat meningkatkan akses terhadap situs web. Tabel 13 menampilkan 10 success criteria yang ditampilkan pada AChecker Tool.
Tabel 13 Success criteria situs-situs web provinsi di Indonesia yang ditampilkan pada AChecker tool
No. Poin Success Criteria Level Prioritas
1. 1.1.1 Konten yang bukan teks memiliki alternatif teks yang melayani tujuan sejenis.
A Perceivable
2. 1.3.1 Informasi, struktur, dan hubungan disampaikan melalui presentasi yang dapat ditentukan secara programatis atau tersedia dalam bentuk teks.
A Perceivable
3. 1.4.4 Kecuali untuk captions dan gambar dari teks, teks dapat diperbesar atau diperkecil tanpa teknologi bantuan sampai 200% tanpa kehilangan konten atau fungsi.
AA Perceivable
4. 1.4.6 Presentasi visual pada teks dan gambar teks memiliki rasio kontras minimal 7:1.
AAA Perceivable
5. 2.1.1 Seluruh fungsi pada konten dapat
dioperasikan menggunakan
antarmuka keyboard.
A Operable
6. 2.2.2 Untuk menggerakkan,
mengedipkan, menggulung, atau meng-update informasi secara otomatis, tersedia opsi untuk
menghentikan sementara,
menghentikan total, atau menyembunyikan pergerakan.
No. Poin Success Criteria Level Prioritas 7. 2.4.4 Tujuan dari setiap tautan dapat
ditentukan dari teks pada tautan itu sendiri atau dari teks tautan bersama dengan konteks tautan
yang ditentukan secara
programatis.
A Operable
8. 3.1.1 Bahasa manusia yang tersedia (default) untuk setiap halaman web dapat ditentukan secara programatis.
A Understandable
9. 3.3.2 Tersedia label atau instruksi pada saat konten membutuhkan input pengguna.
A Understandable
10. 4.1.1 Elemen konten memiliki penanda mulai dan akhir yang lengkap, elemen dikelompokan menurut spesifikasinya, elemen tidak
mengandung sifat yang
terduplikasi, dan seluruh ID-nya unik.
A Robust
AChecker tool menghasilkan laporan dalam bentuk PDF yang memuat baris dan kolom source code situs web provinsi yang memiliki masalah accessibility. Jumlah masalah accessibility untuk masing-masing poin di atas pada setiap situs web provinsi ditampilkan pada Lampiran 21. Provinsi Kalimantan Tengah memiliki masalah accessibility terbanyak pada poin 1.1.1, 2.1.1, dan 1.4.4, masing-masing dengan 200, 84, dan 222 masalah. Provinsi Sumatera Barat memiliki masalah terbanyak untuk poin 1.3.1, 3.3.2, dan 4.1.1, yaitu 18, 11 dan 2 masalah secara berturut-turut.
Situs web yang memiliki masalah terbanyak pada poin 1.4.6 adalah situs web Provinsi Sumatera Selatan, yaitu sebanyak 302 masalah. Situs web yang memiliki masalah terbanyak pada poin 2.2.2 adalah situs web Provinsi Sumatera Utara, Jawa Barat dan Papua Barat, yaitu sebanyak 2 masalah. Provinsi Sulawesi Selatan memiliki masalah accessibility terbanyak pada poin 2.4.4, yaitu sebanyak 4 masalah. Situs web yang memiliki masalah terbanyak pada poin 3.1.1 adalah situs web Provinsi Sumatera Utara dan Jawa Timur, yaitu sebanyak 4 masalah.
Hasil evaluasi accessibility menggunakan AChecker tool menunjukkan bahwa situs web yang memiliki masalah paling banyak adalah situs web Provinsi Kalimantan Tengah dengan 544 masalah.
Dari seluruh poin success criteria, poin yang paling banyak dipenuhi oleh situs web provinsi adalah poin 2.2.2 (untuk menggerakkan, mengedipkan, menggulung, atau meng-update informasi secara otomatis, tersedia opsi untuk menghentikan sementara, menghentikan total, atau menyembunyikan pergerakan). Poin 2.2.2 berada pada level A dan dipenuhi oleh 19 dari 31 situs web provinsi yang dievaluasi.
Sebagai perbandingan, dilakukan evaluasi accessibility terhadap situs web World Wide Web Consortium (W3C) dengan alamat www.w3c.org yang dapat digolongkan sebagai situs web dengan performa accessibility tinggi. Berdasarkan hasil evaluasi menggunakan AChecker Tool, diperoleh hasil bahwa situs web W3C selaku penerbit standar WCAG 2.0 hanya memiliki 1 (satu) kesalahan, yaitu pada success criteria 1.3.1 level A (informasi, struktur, dan hubungan disampaikan melalui presentasi yang dapat ditentukan secara programatis atau tersedia dalam bentuk teks). Adapun skor accessibility untuk situs web W3C adalah 155 dari total skor 156 untuk level A – AAA dengan 57 success criteria apabila seluruhnya terpenuhi.
Apabila dilakukan perbandingan antara situs-situs web provinsi di Indonesia yang paling tinggi skornya adalah 15 dengan 11 success criteria dengan situs web W3C, maka terlihat perbedaan yang sangat jauh dalam hal performa accessibility dimana situs web W3C telah memenuhi 96% success criteria level A, 100% success criteria level AA, dan 100% success criteria level AAA.
Pemenuhan success criteria pada situs-situs web provinsi di Indonesia, ditampilkan pada Tabel 14. Pada tabel tersebut dapat dilihat bahwa sepuluh dari 31 situs web provinsi atau hanya 32% yang memenuhi satu poin success criteria pada level AAA dari 20 poin yang tersedia, dimana level AAA merupakan level yang paling sulit untuk dipenuhi. Untuk level AA, terdapat delapan dari 31 situs web provinsi atau hanya 26% yang memenuhi satu poin success criteria dari 12 poin yang tersedia, sedangkan pada level A, terdapat 29 dari 31 situs web provinsi atau 94% yang memenuhi 1 – 7 poin success criteria dari 25 poin yang tersedia.
Tabel 14 Jumlah success criteria yang dipenuhi pada evaluasi accessibility
No. Nama Provinsi
Jumlah Success Criteria (Persentase per Level) Level AAA (20 success criteria) Level AA (12 success criteria) Level A (25 success criteria) 1. Jawa Timur 1 (5%) 1 (8.3%) 7 (28%) 2. DI Yogyakarta 1 (5%) 1 (8.3%) 7 (28%)
3. Nusa Tenggara Timur 1 (5%) 1 (8.3%) 6 (24%)
4. Gorontalo 1 (5%) 1 (8.3%) 3 (12%) 5. Bali 1 (5%) 1 (8.3%) 2 (8%) 6. Banten 1 (5%) 0 3 (12%) 7. Maluku 1 (5%) 0 3 (12%) 8. Kepulauan Riau 1 (5%) 0 1 (4%) 9. Jawa Barat 1 (5%) 0 1 (4%) 10. Sulawesi Selatan 1 (5%) 0 1 (4%) 11. Kalimantan Selatan 0 1 (8.3%) 5 (20%) 12. Papua 0 1 (8.3%) 3 (12%) 13. Bengkulu 0 1 (8.3%) 2 (8%) 14. Lampung 0 0 6 (24%)
15. Kepulauan Bangka Belitung 0 0 6 (24%)
16. Jawa Tengah 0 0 5 (20%) 17. Kalimantan Timur 0 0 5 (20%) 18. Sulawesi Tengah 0 0 5 (20%) 19. Kalimantan Barat 0 0 4 (16%) 20. Maluku Utara 0 0 4 (16%) 21. Riau 0 0 3 (12%) 22. Jambi 0 0 3 (12%) 23. DKI Jakarta 0 0 3 (12%)
24. Nusa Tenggara Barat 0 0 3 (12%)
25. Papua Barat 0 0 3 (12%)
26. Sulawesi Barat 0 0 2 (8%)
27. Nanggroe Aceh Darussalam 0 0 1 (4%)
28. Sumatera Selatan 0 0 1 (4%)
29. Kalimantan Tengah 0 0 1 (4%)
30. Sumatera Utara 0 0 0
31. Sumatera Barat 0 0 0
Berdasarkan hal-hal di atas, dapat disimpulkan bahwa seluruh situs web provinsi di Indonesia sangat sedikit memenuhi kriteria accessibility dengan standar internasional seperti yang telah ditetapkan oleh W3C melalui WCAG 2.0. Oleh karena itu, pemerintah provinsi setempat perlu meningkatkan kinerja situs webnya dalam hal accessibility, agar dapat digunakan oleh masyarakat yang lebih banyak seperti orang-orang dengan keterbatasan fisik. Dengan demikian, situs
web pemerintah provinsi dapat dijadikan sebagai role model oleh situs-situs web kota dan kabupaten di bawahnya dengan tetap memperhatikan kebutuhan dan hak masyarakat dengan keterbatasan fisik sebagai bagian dari warga negara Republik Indonesia.
Rekomendasi Peningkatan Performa Accessibility
Untuk meningkatkan performa accessibility situs web pemerintah provinsi, direkomendasikan untuk menambah atau memperbaiki fasilitas pada poin-poin success criteria berdasarkan standar WCAG 2.0 yang belum terpenuhi berdasarkan evaluasi accessibility. Hal ini penting untuk dilakukan mengingat situs web Provinsi Jawa Timur dan DI Yogyakarta yang memperoleh skor accessibility tertinggi berdasarkan AChecker tool, baru sembilan dari 57 poin success criteria atau 16% saja pada standar WCAG 2.0 yang dapat dipenuhi, adapun totalnya hanya 19% poin yang dipenuhi seluruh situs web yang diteliti. Rekomendasi berdasarkan poin yang belum terpenuhi secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 25.
Simpulan dan Saran Simpulan
Simpulan yang dapat diambil pada penelitian ini antara lain:
Terdapat 11 success criteria yang ditampilkan pada sebagian besar laporan evaluasi accessibility menggunakan AChecker Tool. Success criteria yang paling banyak terpenuhi adalah success criteria poin 2.2.2 yang dapat dipenuhi oleh 19 dari 31 situs web provinsi.
Provinsi Jawa Timur dan DI Yogyakarta memiliki skor accessibility tertinggi dan memenuhi 9 dari 57 success criteria, sedangkan Provinsi Sumatera Utara dan Sumatera Barat memiliki skor accessibility terendah dengan sama sekali tidak memenuhi seluruh success criteria pada standar WCAG 2.0.
Seluruh situs web provinsi di Indonesia sangat sedikit memenuhi kriteria accessibility dengan standar internasional seperti yang telah ditetapkan oleh W3C melalui WCAG 2.0.
Saran
Hal yang dapat disarankan berdasarkan hasil penelitian ini, yaitu evaluasi accessibility selanjutnya dapat melibatkan responden yang benar-benar merupakan orang-orang berketerbatasan fisik (tuna netra, rabun, atau lanjut usia) agar evaluasi menghasilkan rekomendasi sesuai kebutuhan pengguna situs web yang benar-benar berketerbatasan fisik.