• Tidak ada hasil yang ditemukan

KH. Ahmad Zainuri dan Pergerakannya dalam

BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN JEMBER

B. KH. Ahmad Zainuri dan Pergerakannya dalam

KH. Ahmad Zainuri selama hidupnya adalah seseorang yang pantang menyerah dan tidak mengenal kata lelah. Selalu gigih dalam melakukan apapun yang digelutinya. Tertulis dalam catatan perjalanan KH. Ahmad Zainuri, pertama menjadi pengajar di Madrasah namun karena sekolah-sekolah ditutup oleh pemerintahan Jepang maka tidak memliki pekerjaan kemudian beralih menjadi pedagang kain batik, sayangnya usaha tersebut tidak berhasil. Kemudian KH. Ahmad Zainuri bekerja di jawatan penerangan.

Hal diatas membuktikan kepribadian KH. Ahmad Zainuri yang ulet, mau mencoba hal-hal baru dan gigih.

Pada tahun 1999 KH. Ahmad Zainuri menginjak usia 82 tahun dan mengalami penurunan kondisi kesehatan. Atas kesepakatan keluarga KH.

Ahmad Zainuri dirawat di Rumah Sakit Dr. Soebandi Jember. Selama dirawat di rumah sakit KH. Ahmad Zainuri masih tetap gigih melaksanakan shalat lima waktu, bahkan sepanjang malam terbangun untuk melakukan shalat malam. Tepat jam 02.30 dini hari pada tanggal 11 Maret 1999 KH. Ahmad Zainuri dinyatakan tutup usia.

B. KH. Ahmad Zainuri dan Pergerakannya dalam Organisasi

perintah dan ajaran serta meninggalkan sesuatu yang dilarang oleh-Nya.35 Muhammadiyah dalam kehidupan beragama dan bersosialisasi dengan masyarakat menyesuaikan sebagaimana pribadi Nabi Muhammad saw sebagai poros utama.

Kegelisahan terhadap moral masyarakat Indonesia menjadi tombak berdirinya sebuah organisasi Islam yang bernama Muhammadiyah. Kondisi masyarakat Indonesia diperparah dengan semakin merebaknya praktik keagamaan yang dianggap KH. Ahmad Dahlan sebagai perbuatan yang menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya.36 Musthafa Kemal Pasha dan Ahmad Adaby Darban menyatakan bahwa secara garis besar berdirinya Muhammadiyah dilatarbelakangi oleh dua faktor, yaitu: 37

1. Faktor Subjektif

Faktor utama berdirinya Muhammadiyah adalah pemikiran dan pendalaman KH. Ahmad Dahlan setelah mengkaji isi kandungan Al-Qur‟an surat Ali-Imran ayat 104. Yang mengakibatkan KH. Ahmad Dahlan tergerak hatinya untuk mendirikan sebuah persyarikatan teratur dan berkhidmat melaksanakan misi dakwah Islam amar ma‟ruf nahi munkar di tengah-tengah masyarakat. 38

35 Paryanto, Format Theologi, Gerakan Dakwah Muhammadiyah dan Transformasinya Untuk Reformasi Sosial 1912-1914 (Yogyakarta: Fakultas Da‟wah Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga, 1999), 50.

36 Suyuthi Pulungan, Sejarah Perdaban Islam di Indonesia (Jakarta: Amzah, 2019), 296.

37 Musthafa Kemal Pasha dan Ahmad Adaby Darban, Muhammadiyah dalam Gerakan Islam: Dalam Perspektif Historis dan Ideologis, (Yogyakarta: LIPI, 2003), 211.

38 Arti ayat termaksud adalah: “Dan hendaklah ada diantara kamu sekalian segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat ma‟ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung”.

2. Faktor Objektif

Faktor ini dibagi dalam dua faktor penyebab berdirinya Muhamamdiyah, yaitu: faktor eksternal dan internal. Faktor yang bersifat eksternal diantaranya, 1) semakin meningkatnya gerakan kristenisasi di Indonesia, 2) Penetrasi yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa terhadap bangsa Indonesia. Faktor yang bersifat internal diantaranya, 1) Ketidakmurnian amalan Islam akibat tidak dijadikannya Al-Qur‟an dan al-Sunnah sebagai rujukan oleh umat Islam di Indonesia, 2) Lembaga pendidikan yang kurang mendukung bagi generasi muda umat Islam yang siap mengemban misi selaku khalifah di muka bumi.

Muhammadiyah berdiri atas dasar untuk pemurnian ajaran dan akidah umat Islam di Indonesia yang sudah mulai tercemar oleh berbagai sebab, diantaranya: umat Islam tidak memahami ajarannya dari sumber yang autentik. Filter akidah yang mulai melemah untuk menepis unsur-unsur kepercayaan yang datang dari kepercayaan luar. Maksud dan tujuan Muhammadiyah didirikan tertuang dalam Anggaran Dasar (Bab III Pasal 6), yaitu: “menegakkan agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”.39 Dalam bingkai itu Muhammadiyah mengambil beberapa langkah strategis salah satunya membentuk mubaligh-mubalighat untuk mendakwahkan ajaran Islam yang sebenar-benarnya.

Persiapan menjelang pembentukan organisasi dilakukan secara intens pada bulan-bulan akhir tahun 1912. Budi Utomo membantu jalannya

39 Musthafa Kemal Pasha dan Ahmad Adaby Darban, Muhammadiyah dalam Gerakan, 298

pendirian organisasi serta membantu dalam hal formalitas dengan pemerintah Hindia Belanda. KH. Ahcmad Dahlan mengumpulkan enam orang dari kampung Kauman, diantaranya: Sarkawi, Abdulgani, Syuja, M.

Hisyam, M. Fahkruddin dan M. Tamin sebagai tokoh-tokoh Budi Utomo yang mendukung secara formal dalam proses pengakuan dari pemerintah Hindia Belanda. Setelah proses surat menyurat selama dua puluh bulan Muhamamadiyah telah resmi diakui pemerintah Hindia Belanda sebagai badan hukum yang tertuang dalam Gouverment Besluit pada tanggal 22 Agustus 1914.40 Muhammadiyah perlahan-lahan mengalami perkembangan, yang dibagi menjadi dua sudut; perkembangan vertikal dan horizontal.

Perkembangan secara vertikal, Muhammadiyah telah menyebar ke seluruh penjuru tanah air, meski tidak mudah mengajak masyarakat meninggalkan adat-istiadat yang telah mendarah daging. Secara horizontal, amal usaha Muhammadiyah mengalami banyak perkembangan di berbagai aspek bidang seperti, pendidikan (sekolah-sekolah Muhammadiyah), keagamaan (terbentuknya Majelis Tarjih) dan kesehatan (rumah sakit) yang didirikan oleh Muhammadiyah.

Setelah izin diberikan untuk mengubah wilayah gerak Muhammadiyah hingga seluruh Hindia Belanda, Cabang-Cabang Muhammadiyah bermunculan di seluruh Indonesia, termasuk Garut, Solo, Surabaya, Pekalongan, Jakarta, Blitar, Padang Panjang, dan Banjarmasin,

40Hery Sucipto, KH. Ahmad Dahlan Sang Pencerah, 295.

Makassar, dll. Tahun 1920-1922 KH. Ahmad Dahlan berhasil menabur benih Muhammadiyah di Jawa Timur. 41

Sudah menjadi kelaziman KH. Ahmad Dahlan melakukan tabligh sambil berdagang batik. hingga masuk wilayah Jawa Timur dan mendapat sambutan baik dari masyarakat karena banyak pedagang batik yang berasal dari Yogyakarta melakukan aktivitas perdagangan serupa di daerah Ponorogo, Blitar, Malang khususnya Sumberpucung dan Kepanjen, kemudian Pasuruan, Jember dan Banyuwangi. Para pedagang yang tertarik pada figur KH. Ahmad Dahlan nantinya ikut mengikuti tabligh, dan merintis pendirian Muhammadiyah di daerah-daerah tersebut diatas. Usaha penyebaran Islam yang dilakukan KH. Ahmad Dahlan tampaknya tersamarkan dengan profesinya sebagai pedagang dan penasehat Central Sarikat Islam.

Pada tahun 1916 KH. Ahmad Dahlan menginjakkan kaki di kota Surabaya dan disaksikan oleh kedua tokoh pergerakan nasional, yaitu:

Soekarno dan Roeslan Abdulgani. Tidak hanya sampai disitu mereka juga mengikuti tabligh yang diisi oleh KH. Ahmad Dahlan di langgar peneleh dekat dengan KH. Mas Mansur dikawasan Ampel.42 KH. Mas Mansur merupakan tokoh yang mendirikan Muhammadiyah pertamakali di Surabaya. Setelah mengadakan pertemuan cukup lama di Yogyakarta akhirnya pada 1 November 1921 oleh surat ketetapan HB Muhammadiyah

41 Tim Redaksi, “Proses Lahirnya Persyarikatan Daerah Malang” dalam http://malang.

Muhammadiyah.or.id/content-3-sdet-sejarah.html (diakses pada 8 Juli 2022)

42 Tim Redaksi, “Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur” dalam http://jatim.

Muhammadiyah.or.id/content-3-sdet-sejarah.html (diakses pada 28 Juli 2022)

N0 4/1921, Muhammadiyah Surabaya resmi berstatus Cabang yang diketuai oleh KH. Mas Mansur.

Pada tahun 1923 dikirim seorang tokoh Muhammadiyah bernama Toyyib untuk mengajar salah satu mata pelajaran agama Islam di Normalschool, hal itu menjadi cikal bakal bentuk dakwah Muhammadiyah di Kabupaten Jember. Pada saat itu Muhammadiyah di Kabupaten Jember masih belum membentuk ranting tetapi masih bergabung dibawah naungan Cabang Besuki. Lebih dari itu berdirinya Muhammadiyah Cabang Jember berkat peran Soermo Soerdja, seorang guru di vorvols school Jember yang bertempat di pusat kota Jember. Pusat kegiatan yang dilakukan Soermo di surau dekat jembatan kembar. Dari sinilah lantas Soermo Soerdjo dan Ahmad Sugito pada tahun 1925 membentuk Cabang Muhammadiyah Jember atas pengarahan Noovd Bosture (Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta)43

Abdul Manan, seorang alumni Madrasah Muallimin Muhammadiyah pada tahun 1930 diutus secara intens mengembangkan Muhammadiyah di Kabupaten Jember. Hal pertama yang dilakukan adalah mengadakan pengajian rutin satu minggi sekali, pengabdian Abdul Manan dibuktikan dengan keputusannya untuk menetap dan berkeluarga di Jember sampai wafat.

Lebih dari itu tokoh yang turut mengembangkan Muhammadiyah di wilayah Jember yaitu KH. Ahmad Zainuri. Pada tahun 1936 KH. Ahmad

43 Wawancara dengan Sudahri di Universitas Muhammadiyah Jember pada tanggal 11 April 2022

Zainuriresmi menjadi anggota Muhammadiyah dikarenakan sekolah miliknya bergabung dengan Muhammadiyah. Secara spontan masuk 11 orang jadi anggota Muhammadiyah dan menjadi cikal bakal lahirnya Ranting Muhammadiyah watukebo. KH. Ahmad Zainuri dilantik sebagai ketua Ranting Muhammadiyah Watukebo. Selama menjabat menjadi ketua Ranting KH. Ahmad Zainuri merasa tidak puas dengan progresivitas Muhammadiyah Cabang Jember. Tepat pada tahun 1946 Muhammadiyah Cabang Jember mengalami stagnansi akibat mayoritas anggotanya bekerja sebagai pegawai PJAK dan sering mengalami rotasi. Hal itu menjadi latar belakang KH. Ahmad Zainuri mengirim surat permohonan kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah agar dapat mendirikan Cabang Muhammadiyah sendiri. Permohonannya dikabulkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan dibentuklah Cabang Muhammadiyah Ambulu yang menaungi se-daerah Jember Selatan, diantaranya: Ranting Muhammadiyah Cakru, Ranting Muhammadiyah Kencong, Ranting Muhammadiyah Puger, Ranting Muhammadiyah Kasian, Ranting Muhammadiyah Balung, Ranting Muhammadiyah Gumelar, Ranting Muhammadiyah Wuluhan, Ranting Muhammadiyah Ambulu dan Ranting Muhammadiyah Watukebo. Pada saat itu Muhammadiyah Cabang Jember masih dalam naungan Muhammadiyah wilayah Besuki yang mencakup Kabupaten Jember, Lumajang, Banyuwangi, Situbondo dan Bondowoso.

Pada tahun 1950-an KH. Ahmad Zainuri selaku ketua Ranting Watukebo memberikan pemahaman dan pembinaan kepada masyrakat

sekitar tentang pentingnya zakat. Masyarakat dihimpun untuk mengumpulkan dana sosial untuk warga yang kurang mampu. Untuk anggota Muhammadiyah Watukebo diwajibkan untuk menguumpulkan dana. Kesadaran pentingnya beramal mulai tumbuh pada masyarakat Watukebo. Selain dana sosial Muhammadiyah juga menghimpun zakat fitri yang dilakukan pada saat bulan Ramadlan. Semula zakat fitri diberikan pada panitia pengumpul zakat dan masyarakat tidak mampu. Setelah ada pembinaan dari pengurus Muhammadiyah zakat fitri diberikan hanya pada masyarakat tidak mampu yang berhak menerima. Pengurus Ranting Muhammadiyah Watukebo membentuk „amil zakat untuk menghimpun zakat fitrah terutama.44

Pada tahun 1965 diselenggarakan Mukhtamar Muhammadiyah ke-36 di Bandung, menghasilkan keputusan perubahan susunan Muhammadiyah daerah kerasidenan menjadi per-Kabupaten. Berdasarkan Anggaran Dasar Muhammadiyah Pasal 8 syarat pendirian Muhammadiyah daerah sebagai berikut45:

a. Daerah adalah kesatuan Cabang di Kabupaten/Kota yang terdiri atas sekurang-kurangnya tiga Cabang yang berfungsi:

1) Melakukan pembinaan, pemberdayaan, dan koordinasi Cabang;

2) Penyelenggaraan, pembinaan, dan pengawasan pengelolaan Muhammadiyah;

3) Penyelenggaraan, pembinaan, dan pengawasan amal usaha;

44 Wawancancara dengan Subagiodikediaman Subagio pada 8 juni 2022

45 Tim redaksi, “Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah” dalam https://Muhammadiyah.

or.id/anggaran-rumah-tangga/ (diakses pada 28 Juli 2022)

4) Perencanaan program dan kegiatan.

b. Syarat pendirian Daerah sekurang-kurangnya mempunyai:

1) Pengajian umum dan pengajian anggota Pimpinan Daerah sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan;

2) Pengajian/kursus muballigh/muballighat tingkat Daerah sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan;

3) Pembahasan masalah agama dan pengembangan pemikiran Islam;

4) Korps muballigh/muballighat Daerah, sekurangkurangnya 20 orang;

5) Kursus kader Pimpinan tingkat Daerah;

6) Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama/Madrasah Tsanawiyah;

7) Amal Usaha dalam bidang sosial, ekonomi, dan kesehatan;

8) Kantor.

c. Pengesahan pendirian Daerah ditetapkan oleh Pimpinan Pusat atas usul Cabang setelah memperhatikan pertimbangan Pimpinan Wilayah.

d. Pendirian suatu Daerah yang merupakan pemisahan dari Daerah yang telah ada dilakukan melalui dan atas keputusan Musyawarah Daerah/Musyawarah Pimpinan tingkat Daerah.

Berdasarkan syarat pendirian Muhammadiyah Daerah yang termaktub dalam anggaran dasar diatas didirikanlah Muhammadiyah Kabupaten Jember. Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Jember menaungi beberapa Cabang diantaranya: Muhammadiyah Cabang Ambulu, Muhammadiyah Cabang Cakru, Muhammadiyah Cabang Kencong, Muhammadiyah Cabang Wuluhan, Muhammadiyah Cabang Gumelar,

Muhammadiyah Cabang Kalisat, Muhammadiyah Cabang Kasiyan, Muhammadiyah Cabang Balung, Muhammadiyah Cabang Bangsalsari, Muhammadiyah Cabang Semboro, Muhammadiyah Cabang Rambipuji, Muhammadiyah Cabang Watukebo, dan Muhammadiyah Cabang Sukowono. Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Jember resmi didirikan pada 5 september 1971 berdasarkan Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jatim NoA-1/66/71 tgl. 2- Sept. 1971. diketuai oleh KH. Ahmad Zainuri. 46 Kepemimpinan KH. Ahmad sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten jember untuk periode 1971-1974. Kembali terpilih hingga tahun 1991 periode Mukhtamar ke-42 di jogja serta berkahirnya kepemimpinan KH. Ahmad Zainurisebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Jember.

Sejak tahun 1960-1980 KH. Ahmad Zainuri memiliki program pribadi untuk berdakwah di daerah Banyuwangi, serta memperkenalkan Muhammadiyah kepada masyarakat khususnya simpatisan Muhammadiyah Banyuwangi berbasis organisasi dan gerakan. Agenda bulanan KH. Ahmad Zainuri di beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi tersebut ditempuh dengan mengendarai sepeda onthel. Perjalanannya dapat ditempuh seharian atau bahkan lebih, namun dalam melakukan rutinitas dakwahnya KH. Ahmad Zainuri tidak melibatkan orang lain, karena tidak ingin terkesan memkasa dalam kegiatan dakwah tersebut.47

46 Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muhammadijah No.L.25/D-25/71.

47 Tim Majelis Pustaka dan Informasi, KH. Ahmad Zainuri Terlahir, 87

Dokumen terkait