• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teori

2.1.1 Kinerja Bendahara Pengeluaran

Kinerja merupakan prestasi yang diperoleh seseorang dalam melaksanakan tugasnya. Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang akan atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas yang terukur (Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005).

Permendagri Nomor 21 Tahun 2011 Pasal 1 ayat 37 kinerja adalah hasil dari kegiatan yang akan atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas terukur. Menurut Gibson, et al (2003), job performance adalah hasil dari pekerjaan yang terkait dengan tujuan organisasi, efisiensi dan kinerja kefektifan kinerja lainnya.

Kinerja merupakan suatu fungsi dari motivasi dan kemampuan.Untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan, seseorang harus memiliki derajat kesediaan dan tingkat kemampuan tertentu. Kesediaan dan keterampilan seseorang tidaklah cukup efektif untuk mengerjakan sesuatu tanpa pemahaman yang jelas tentang apa yang dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya (Hersey and Blancard, 1993).

Kinerja merujuk kepada tingkat keberhasilan dalam tugas yang telah ditetapkan.

Kinerja dinyatakan baik dan sukses jika tujuan yang diinginkan dapat tercapai dengan baik (Gibson et al, 1998)

Mangkunegara (2005), pengertian kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggungjawab yang diberikan kepadanya.Prestasi kerja adalah hasil kerja seseorang selama periode tertentu dibandingkan dengan berbagai kemungkinan seperti standar, target atau criteria yang telah disiapkan sebelumnya. Berdasarkan pengertian diatas yang menjadi indikator penilaian prestasi kerja adalah: (a) Ketelitian, (b) Kerapian, (c) Ketuntasan, (d) Bekerja cepat sesuai target, (e) Konsistensi hasil kerja, (f) Keinginan untuk memperoleh tugas tambahan, (g) Kesiapan untuk memikul tanggungjawab yang lebih besar, (h) Paham dalam pekerjaan, (i) Terampil dalam bekerja, (j) Menerapkan tehnik yang dikuasai, (k) Mampu menggunakan perangkat yang tersedia, (l) Andal dalam menuntaskan tugas secara mandiri, (m) Mampu merampungkan tugas tepat waktu dengan pengawasan minimum, (n) Kedatangan tepat waktu, (o) Istirahat tepat waktu, (p) Pulang kerja tepat waktu.

(Sanusi, 2011).

Menurut Sedarmayanti (2001), indikator-indikator dari kinerja adalah sebagai berikut: (a) Kualitas kerja, yakni kualitas kerja dicapai berdasarkan syarat-syarat kesesuaian dan kesiapan yang tinggi pada gilirannya mampu memberikan penghargaan dan kemajuan serta perkembangan organisasi dengan carameningkatkan pengetahuan dan keterampilan secara sistematis sesuai dengan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin berkembang pesat, (b) ketetapan waktu, yakni berkaitan dengan sesuai atau tidaknya waktu dalam penyelesaian pekerjaan dengan target waktu yang telah direncanakan. Setiap tugas diusahakan untuk selesai sesuai dengan rencana supaya tidak mengganggu pada

pekerjaan yang lain, (c) Inisiatif, yakni mempunyai kesadaran diri untuk melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawab. Pegawai harus melaksanakan tugas tanpa bergantung kepada atasan secara terus menerus. (d) kemampuan, yakni diantara beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang, ternyata yang dapat diterapi melalui pendidikan dan latihan adalah faktor kemampuan yang dapat dikembangkan, (e) Komunikasi, yakni interaksi yang dilakukan atasan kepada bawahan untuk mengemukakan saran dan pendapat dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Komunikasi dapat menimbulkan kerjasama yang lebih baik dan akan terjadi hubungan yang semakin harmonis diantara para pegawai dan para atasan serta dapat menimbulkan perasaan senasib sepenanggungan.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan kualitas dan kuantitas dari suatu hasil kerja (output) individu maupun kelompok dalam suatu aktivitas tertentu yang diakibatkan oleh kemampuan alami atau kemampuan yang diperoleh dari proses belajar serta keinginan untuk berprestasi.

Bendahara Pengeluaran adalah pejabat fungsional yang ditunjuk menerima, menyimpan, membayarkan, menatausahakan, dan mempertanggungjawabkan uang untuk keperluan belanja daerah dalam rangka pelaksanaan APBD pada SKPD. Bendahara pengeluaran juga merupakan sebagai wajib pungut pajak penghasilan (PPh) dan pajak lainnya, wajib menyetorkan seluruh penerimaan potongan dan pajak yang dipungutnya ke rekening kas negara pada bank yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan sebagai bank persepsi atau pos giro dalam jangka waktu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara Pasal 21 butir yang keenam (6) menyatakan bahwa

“Bendahara Pengeluaran bertanggung jawab secara pribadi atas pembayaran yang dilaksanakannya”. Dalam rangka pelaksanaan tugas bendahara pengeluaran SKPD berwenang:

1. Mengajukan permintaan pembayaran menggunakan SPP UP/GU/TU dan SPP-LS;

2. Menerima dan menyimpan uang persediaan;

3. Melaksanakan pembayaran dari uang persediaan yang dikelolanya;

4. Menolak perintah bayar dari Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan;

5. Meneliti kelengkapan dokumen pendukung SPP-LS yang diberikan oleh PPTK;

6. Mengembalikan dokumen pendukung SPP-LS yang diberikan oleh PPTK, apabila dokumen tersebut tidak memenuhi syarat dan/atau tidak lengkap.

Belanja daerah adalah semua pengeluaran pemerintah daerah pada suatu periode anggaran Halim (2002). Pengalokasian dana dan realisasi anggaran terhadap program maupun kegiatan yang dibiayai akan memberikan manfaat yang besar dalam hal pemenuhan kebutuhan bila anggaran yang dikelola oleh pemerintah daerah tersebut berorientasi pada kepentingan kesejahteraan masyarakat.Anggaran yang tidak efektif dan tidak berorientasi akan dapat menggagalkan perencanaan yang telah disusun. Oleh karena itu, diperlukan kinerja dari seorang bendahara dalam mengelola keuangan daerah secara efektif dan efisien.

Kinerja bendahara pengeluaran berkaitan dengan kualitas berupa ketelitian penyusunan laporan harian, kualitas pencatatan secara tertib, kuantitas pemungutan dan penyetoran PPh, melakukan pengeluaran uang yang dilakukan bendahara sudah sesuai dengan SP2D dan syarat-syarat yang berlaku, dan bersedia bertanggung jawab atas uang-uang yang ada di dalam pengurusannya kepada kepala daerah mengenai hal terjadinya kerugian.

Untuk dapat mengetahui kinerja bendahara dalam melaksanakan tugasnya, dibutuhkan suatu penilaian kinerja. Penilaian kinerja dapat diartikan sebagai prosedur yang meliputi penilaian kinerja aktual terhadap prosedur yang telah ditetapkan, penetapan standar kinerja, dan umpan balik kepada pegawai dengan maksud memotivasi orang tersebut agar menghasilkan kinerja yang lebih baik/tinggi (Dessler, 2009). Penilaian dapat membantu tujuan administratif dan dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh pimpinan, diantaranya kepemimpinan inisiatif, kualitas pekerjaan, pengetahuan tentang pekerjaan, kerjasama, mengambil keputusan, kreatif, dapat diandalkan, perencanaan, pemecahan masalah, pendelegasian, komunikasi, sikap, usaha, motivasi, dan organisasi

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa kinerja pelaksanaan tugas kebendaharaan merupakan hasil kerja bendahara secara keseluruhan untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan dengan derajat kesediaan dan tingkat kemampuan tertentu dengan pemahaman yang jelas tentang apa yang akan dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya. Kinerja bendahara pengeluaran dapat dilihat dari kemampuannya melaksanakan semua tugas pokok dan fungsinya dengan baik.

Dokumen terkait