• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Kinerja BP3 Jawa Tengah dalam Perlindungan Candi-Candi di

Penilaian kinerja organisasi merupakan kegiatan menilai pencapaian hasil kerja suatu organisasi yang berupa produk, jasa, ataupun proses, berdasarkan indikator kinerja yang telah ditetapkan. Dengan melakukan penilaian terhadap kinerja organisasi publik maka dapat diketahui masalah-masalah apa saja yang dihadapi dalam pelaksanakan pelayanan pada masyarakat sehingga langkah perbaikan dapat dilakukan secara lebih terarah dan sistematis.

Pada bagian ini akan dibahas tentang Kinerja BP3 Jawa Tengah dalam perlindungan candi-candi di Jawa Tengah. Penilaian kinerja yang dilakukan menggunakan tiga indikator yaitu produktivitas, responsivitas, dan akuntabilitas. Selain itu juga akan dibahas mengenai faktor pendukung maupun faktor penghambat yang dialami BP3 Jawa Tengah dalam kegiatan perlindungan BCB dan situs.

Pada tinjauan pustaka yang telah penulis bahas di awal, disebutkan bahwa kegiatan perlindungan BCB dan situs dilakukan melalui perizinan, pengamanan, dan penyelamatan. Karena BP3 Jawa Tengah memandang kegiatan perizinan lebih condong ke arah pemanfaatan, maka tentang perizinan tidak penulis bahas di sini. Kinerja BP3 Jawa Tengah dalam perlindungan candi hanya akan penulis nilai dari dua kegiatan perlindungan yang dilaksanakan, yaitu pengamanan dan penyelamatan. Karena kegiatan

commit to user

perlindungan yang dilakukan tiap tahun tidak sama dan kadang bersifat insidentil, maka penulis membatasi penelitian ini pada kegiatan perlindungan candi tahun 2008-2009.

1. Produktivitas

Produktivitas pada umumnya dipahami sebagai rasio antara input dan output, dengan kata lain adalah perbandingan sejauh mana upaya yang dilakukan dengan hasil yang diperoleh dalam kurun waktu tertentu. Dalam penelitian ini, konsep produktivitas dipahami sebagai sejauh mana upaya yang dilakukan BP3 Jawa Tengah dalam perlindungan candi-candi di Jawa Tengah dan bagaimana hasil yang diperoleh.

Produktivitas BP3 Jawa Tengah dalam melaksanakan perlindungan Candi di Jawa Tengah dapat dilihat dari kegiatan-kegiatan dalam rangka melaksanakan pengamanan dan penyelamatan terhadap candi selama tahun 2008-2009 sebagaimana dijabarkan seperti dibawah ini:

a. Pengamanan

Pengamanan merupakan upaya perlindungan benda BCB dan situs dengan cara menjaga, mencegah, dan menanggulangi hal-hal yang ditimbulkan oleh perbuatan manusia dan/atau kondisi alam yang dapat merugikan kelestarian dan kekayaan benda cagar budaya dan situs. Kegiatan pengamanan yang dilakukan BP3 Jawa Tengah selama tahun 2008 sampai dengan 2009 adalah sebagai berikut:

commit to user

1) Memasang Papan Pembudayaan dan Pemasyarakatan

Papan pembudayaan dan pemasyarakatan merupakan papan-papan yang berisi larangan melakukan hal-hal tertentu terhadap candi, serta ajakan untuk ikut serta melestarikan candi. Papan larangan dipasang dengan tujuan agar masyarakat tahu bahwa candi juga merupakan BCB. Oleh karena itu, ada hal-hal yang tidak boleh dilakukan seperti merusak, mengambil, memindahkan, mengubah bentuk dan lain sebagainya sebagaimana terdapat pada UU No.5 Tahun 1992 pasal 15 ayat (1) dan (2). Bagi yang melakukan larangan tersebut akan dikenakan sanksi hukum sebagaimana diatur dalam pasal 26. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan Pak Deny selaku Kasubpokja Pengamanan:

“Papan larangan berisi tentang hal-hal apa saja yang tidak boleh dilakukan pada BCB, serta sanksinya hukum yang berlaku sesuai dengan UU BCB”

(hasil wawancara 21 Maret 2011)

Sedangkan papan apresiasi berisi tentang himbauan-himbauan untuk ikut melestarikan candi, memberikan pengertian pada masyarakat tentang nilai penting candi sehingga masyarakat juga mau untuk melestarikan dan menjaganya. Terkait papan apresiasi, disampaikan oleh Pak Deny sebagai berikut:

“papan apresiasi itu isinya himbauan pada masyarakat bahwa BCB itu warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan...” (hasil wawancara 21 Maret 2011)

commit to user

Tentang petugas yang memasang papan larangan, Sumaryono selaku juru pelihara candi Selogriyo di Magelang memberikan keterangan sebagai berikut:

“nek rusak nggih lapor teng mriko (BP3 Jawa Tengah), mengkeh diparingi terus ken masang”

(hasil wawancara tanggal 23 Maret 2011)

Setelah di konfirmasikan pada BP3 Jawa Tengah, Pak Deny menjelaskan sebagai berikut:

“itu untuk tahun-tahun yang lama mbak. Kalo sekarang ini kita yang kesana, kan sekalian kontrol sama kasih pembinaan ke jupelnya. Paling tidak seminggu itu tiga kali kita kontrol ke daerah-daerah, milihnya secara acak”

(hasil wawancara 5 April 2011)

Dari kedua pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa pemasangan papan larangan pada beberapa tahun yang lalu terkadang masih dikerjakan oleh juru pelihara dengan cara juru pelihara datang ke kantor BP3 Jawa Tengah kemudian membawanya untuk dipasang. Sedangkan tahun-tahun sekarang ini sudah dilakukan oleh BP3 Jawa Tengah sendiri bersamaan dengan dilakukannya kontrol dan pembinaan pada juru pelihara candi setempat.

Papan larangan biasanya di pasang di tempat terbuka yang setiap harinya terkena hujan dan terik matahari yang dapat pengakibatkan pelapukan atau lunturnya tulisan pada papan tersebut. Oleh karena itu selain memasang, BP3 Jawa Tengah juga melakukan

commit to user

penggantian berkala pada papan larangan tersebut. Hal ini seperti disampaikan oleh Pak Deny:

“Setiap 3 sampai 4 tahun sekali akan kita ganti. Itu juga melihat dimana papan itu di pasang, di dataran tinggi, dataran rendah atau pesisir pantai. Kalau di dataran rendah ya bisa awet. Tapi kalau di dataran tinggi yang banyak unsur sulfurnya atau di daerah pesisir yang banyak kandungan garamnya ya baru sebentar saja sudah keropos besinya. Untuk mengatasinya, biasanya untuk daerah-daerah tersebut kita pakai papan dari kayu jati agar lebih awet.”

(hasil wawancara 21 Maret 2011)

Dari pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa lamanya penggantian papan ditentukan oleh dimana papan itu di pasang. BP3 Jawa Tengah juga telah menyesuaikan bahan untuk membuat papan tersebut agar awet. Papan larangan untuk untuk candi yang berada di dataran rendah biasanya memakai bahan besi atau seng. Sedangkan untuk candi yang berada di daerah pesisir atau dataran tinggi yang unsur sulfur atau belerangnya tinggi maka papan dibuat dengan bahan kayu jati.

2) Pemagaran

Kegiatan pemagaran dilakukan dengan tujuan untuk memberi batasan lokasi situs. Selain itu, pagar juga berfungsi untuk mencegah orang masuk sembarangan tanpa ijin. Setelah dilakukan pensertifikatan tanah candi, biasanya akan diikuti dengan kegiatan pemasangan pagar. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan Pak Deny:

“Setelah tanah disertifikatkan, maka akan dilakukan

commit to user

(hasil wawancara 21 Maret 2011)

Sama halnya dengan papan larangan, dalam jangka waktu tertentu pagar juga akan mengalami kerusakan misalnya akibat karat dan mengharuskannya untuk diganti. Oleh karena itu, selain dilakukan kegiatan pemagaran juga dilakukan kegiatan perbaikan pagar.

Kegiatan pemagaran yang dilakukan pada tahun 2008 adalah pemagaran candi Ngawen tahap I. Sedangkan kegiatan perbaikan pagar meliputi perbaikan pagar BRC candi Gondosuli tahap I, perbaikan pagar BRC candi Pendem Sengi, perbaikan pagar BRC candi Selogriyo tahap I.

Untuk tahun 2009, perbaikan pagar meliputi kegiatan perbaikan pagar candi Bongkotan, kegiatan perbaikan pagar candi Gondosuli tahap II, kegiatan perbaikan pagar candi Gunungsari, kegiatan perbaikan pagar candi Karangnongko, kegiatan perbaikan pagar candi Sewu, kegiatan perbaikan pagar candi Sojiwan tahap I.

Dari beberapa candi yang penulis kunjungi, penulis mendapati jenis pagar yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut dapat kita lihat dari gambar IV.2 di bawah ini:

commit to user

Gambar IV.2

Pagar candi Ceto, candi Plaosan Lor, candi Selogriyo

Pagar Candi Ceto Pagar Candi Plaosan Lor

Pagar Candi Selogriyo

Dari gambar diatas, terlihat adanya perbedaan jenis pagar yang dipasang pada candi yang satu dengan candi yang lain. Pagar pada candi Ceto adalah jenis pagar kawat duri. Pagar pada candi Plaosan adalah jenis pagar teralis dan pada candi Selogriyo memakai pagar jenis BRC. Setelah dikonfirmasikan, diperoleh jawaban dari Pak Deny seperti di bawah ini:

“Kalau yang pagar kawat duri dan teralis itu pagar yang lama mbak. Sekarang ini kita pakainya pagar BRC karena lebih

murah, mudah masangnya, dan tidak mengganggu

pemandangan. Kita masang pagar itu selain melihat dari sisi keamanannya juga mempertimbangkan dari sisi estetikanya. Sebisa mungkin pagar itu tidak terlihat dan disamarkan, agar tidak mengganggu pemandangan candi”

commit to user

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa sekarang ini dalam memasang pagar pada candi, BP3 Jawa Tengah cenderung memilih menggunakan pagar BRC karena memiliki beberapa keunggulan yaitu murah, mudah memasangnya, tidak mengganggu pemandangan.

3) Membuat pos jaga

Pos jaga merupakan markas bagi para satpam yang bertugas mengamankan candi dari perbuatan yang dapat membahayakan kelestarian candi. Selain itu, pos jaga juga merupakan sarana untuk mengawasi atau memantau lingkungan candi serta menjadi tempat sementara untuk mengamankan benda-benda temuan.

Pada tahun 2008 dan tahun 2009 tidak dilakukan pembuatan pos jaga, tetapi hanya perbaikan saja. Kegiatan perbaikan pos jaga pada tahun 2008 dilaksanakan di candi Sewu. Sedangkan pada tahun 2009, kegiatan perbaikan pos jaga dilaksanakan di candi Bubrah, candi Dukuh, candi Tengaran, candi Plaosan, candi Gedong I kompleks candi Gedong Songo.

Sampai sekarang ini, belum semua candi di Jawa Tengah memiliki pos jaga. Setelah hal tersebut ditanyakan ke Pokja Pengaman, alasannya adalah seperti disampaikan oleh Pak Deny:

“Kalau candi itu udah ada satpamnya, nanti kita bangun pos jaga. ...Beberapa candi di daerah terpencil memang banyak yang belum ada satpamnya.”

commit to user

Dari hasil wawancara di atas, dapat kita ketahui bahwa hanya candi yang memiliki satpam yang akan diprioritaskan diberi pos jaga, sedangkan candi yang hanya dijaga oleh juru pelihara sejauh ini belum dibangun pos jaga, meskipun ada pengecualian misalnya pada candi Ceto. Candi tersebut memiliki banyak juru pelihara tapi tidak memiliki satpam. Namun begitu, tetap ada pos jaga.

Hal tersebut mungkin karena mempertimbangkan candi Ceto lumayan besar dan memiliki banyak arca dan relief, serta sering dikunjungi wisatawan. Meskipun begitu, tetap saja lebih banyak candi yang berada di daerah terpencil yang belum memiliki pos jaga. Tidak adanya pos jaga beserta satpam mungkin karena kebanyakan candi di lokasi terpencil pada umumnya kecil, minim arca dan relief, serta jarang dikunjungi wisatawan.

Akan tetapi, candi walaupun itu kecil tidak boleh diremehkan karena setiap candi pasti memiliki keistimewaan sendiri dan sudah semestinya untuk tahun yang akan datang pengamanan candi di lokasi terpencil lebih diperhatikan.

Kembali lagi ke permasalahan pos jaga yang apabila dilihat fungsinya sebagai markas para satpam yang bertugas mengamankan candi serta sarana untuk mengawasi atau memantau lingkungan candi, rasanya pos jaga tidak dibutuhkan oleh juru pelihara. Hal tersebut karena melihat tugas juru pelihara adalah membersihkan

commit to user

dan merawat candi, bukan menjaga candi siang dan malam sebagaimana yang dilakukan oleh satpam.

Akan tetapi, pada kenyataan dilapangan penulis menemukan juru pelihara yang merangkap tugas sebagai satpam, salah satunya adalah di candi Selogriyo, sebagaimana penuturan Bapak Sumaryono selaku Juru Pelihara candi Selogriyo:

“Kulo niki jupel (juru pelihara), nggih ngrangkep satpam” (hasil wawancara tanggal 23 Maret 2011)

Maksudnya adalah Bapak Sumaryono sebenarnya adalah juru pelihara candi Selogriyo, tapi juga merangkap tugas sebagai satpam. Tentang juru pelihara yang tugasnya merangkap sebagai satpam memang pernah disinggung oleh Pak Sugeng Widodo selaku Kapokja Perlindungan yakni sebagai berikut:

“Akan tetapi walaupun tidak ada satpam, di sana tetap ditempatkan juru pelihara, biasanya diambil dari penduduk sekitar. Juru pelihara tugasnya merawat, memelihara, melakukan antisipasi dini apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada candi”

(hasil wawancara 7 Februari 2011)

Hal senada juga disampaikan oleh pak Deny:

“Beberapa daerah terpencil memang banyak yang belum ada satpamnya. Tapi meskipun begitu, masih ada jupel (juru pelihara.red) yang merangkap satpam. Jadi selain melakukan pemeliharaan, juga mengamankan candi”

(hasil wawancara 21 Maret 2011)

Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat kita simpulkan bahwa juru pelihara selain bertugas melakukan pemeliharaan ternyata juga bertugas mengamankan candi meskipun porsi tugas

commit to user

pengamanan yang dilakukan tidak seperti satpam. Akan tetapi, melihat tugas pengamanan yang dia kerjakan pastinya dia juga membutuhkan keberadaan pos jaga untuk mendukung pelaksanaan tugasnya. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan Bapak Sumaryono di bawah ini:

“yo sing baku niku nggih pos jaga niku. Nek dalane rodo apek, sore nek niliki mriku (candi) mandeke kan ning pos jaga, mboten teng warung. Mriki niki kan warung”

(hasil wawancara tanggal 23 Maret 2011)

Maksud Bapak Sumaryono di atas adalah yang baku atau penting dan dibutuhkan itu adalah pos jaga. Jadi kalau jalannya bagus dan sore hari ingin menengok keadaan candi, singgahnya di pos jaga, bukan di warung.

Menanggapi hal tersebut, Pak Deny memberikan keterangan sebagai berikut:

“idealnya itu semua candi ada pos jaganya. Jupel yang merangkap satpam pastinya juga butuh karena mereka juga bertugas mengamankan. Tapi kan itu gak bisa langsung karena anggaran kita juga terbatas. Harus dilakukan step by step. Itu sudah kita programkan, jadi untuk kedepannya tetap diupayakan tiap candi itu ada pos jaganya. Kita dalam menyusun kegiatan itu juga melihat skala prioritas”

(hasil wawancara 5 April 2011)

Dari apa yang disampaikan Pak Deny di atas, dapat kita tangkap maksudnya bahwa sebenarnya BP3 juga mengharapkan setiap candi itu memiliki pos jaga agar pengamanan candi dapat berjalan lebih baik. Akan tetapi, dana yang turun dari pusat setiap tahun jumlahnya terbatas dan tidak menutup kemungkinan ada kegiatan

commit to user

lain yang dirasa lebih mendesak untuk dilakukan. Mungkin itulah yang menyebabkan belum semua candi memiliki pos jaga dan meskipun demikian, BP3 Jawa Tengah akan terus mengupayakan keberadaan pos jaga pada setiap candi.

4) Menempatkan Satpam

Satpam merupakan orang yang bertugas khusus untuk mengamankan candi dari hal-hal yang dapat merusak kelestarian candi yang dijaganya. Yang membedakan satpam dengan juru pelihara adalah satpam diwajibkan memiliki kemampuan kesamaptaan polri, sedangkan juru pelihara tidak. Oleh karena itu, satpam yang bekerja di BP3 Jawa Tengah setidaknya pernah mengikuti pendidikan dalam hal pengamanan, sebagaimana disampaikan oleh Bapak Sugeng Widodo:

“Terkait kemampuan satpam, untuk satpam yang lama yakni angkatan 80-an sebagian sudah mengikuti pendidikan. Sedangkan untuk satpam yang baru-baru ini, mereka mengikuti pendidikan sendiri”

(hasil wawancara 7 Februari 2011)

Hal yang sama juga dikatakan oleh Her Dwiyanto, Satpam di candi Plaosan Lor yakni sebagai berikut:

“Pernah mbak, ikut pendidikan di Manggala Pratama Service Security selama 1,5 bulan. Itu ikut sendiri, bukan dari kantor. Selain itu pernah juga dikirim untuk mengikui diklat pengamanan di Prambanan dan Borobudur”

(hasil wawancara 21 Maret 2011)

Dari wawancara di atas, dapat disimpulkan bahwa satpam di BP3 Jawa Tengah memang memiliki kemampuan kesamaptaan dimana

commit to user

kemampuan tersebut didapat dari mengikuti pendidikan serta diklat. Untuk satpam angkatan 80-an pendidikannya masih ditanggung oleh BP3 Jawa Tengah sedangkan untuk satpam yang angkatan baru-baru ini sudah mengikuti pendidikan secara mandiri.

Selain mengikuti pendidikan, satpam juga diberi pembinaan rutin dari Polsek dan Polres setempat setiap bulannya, serta diberi pelatihan beladiri setiap hari Jum’at. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Pak Deny:

“Setiap jum’at kita adakan latihan bela diri bagi satpam-satpam yang baru. Selain itu setiap tanggal 2 juga ada pembinaan dari Polres dan Polsek setempat.”

(hasil wawancara 21 Maret 2011)

Hal yang sama juga dikatakan oleh Her Dwiyanto, satpam candi Plaosan, sebagai berikut:

“Tiap tanggal dua ada pengarahan dari Polsek Prambanan dan Polres Klaten. Isinya ya paling PBB, terus mengingatkan kita agar selalu waspada, diajarkan bela diri Polri juga. ...iya, setiap jum’at juga dilatih bela diri buat satpam baru”

(hasil wawancara 21 Maret 2011)

Selain mengikuti pendidikan serta mendapat pembinaan rutin, satpam juga dilengkapi dengan peralatan pendukung seperti senter dan HT. Karena tugasnya mengamankan candi baik siang maupun malam, maka jumlah satpam yang ada pada satu lokasi candi dibagi menjadi beberapa regu dan kemudian diatur waktu tugasnya untuk berjaga pada shift pagi atau shift malam.

commit to user

Sampai sekarang ini, BP3 Jawa Tengah telah mempekerjakan 99 satpam yang 81 diantaranya bertugas di beberapa candi di Jawa Tengah sebagaimana terlihat pada tabel IV.3 di bawah ini:

Tabel IV.3

Tabel Jumlah Satpam BP3 Jawa Tengah Yang Bertugas di Candi-Candi Seluruh Jawa Tengah

No Nama Candi Alamat Jumlah Satpam

PNS Kontrak 1. Kompleks Candi Dieng - Arjuna - Srikandi - Puntadewa - Sembadra - Semar - Sentyaki - Petruk - Antareja - Nakula Sadewa - Nalagareng - Gatutkaca - Bima - Dwarawati - Pari Kesit

Dieng Kulon, Batur, Banjarnegara 6 1

2. Sukuh Brejo, Ngargoyoso, Karanganyar 2 - 3. Sewu Bener, Bugisan, Prambanan 14 4 4. Plaosan Lor Plaosan, Bugisan, Prambanan 14 4 5. Plaosan Kidul Plaosan, Bugisan, Prambanan 6 - 6. Gana Bener, Bugisan, Prambanan 6 - 7. Sojiwan Sojiwan, Kebondalem Kidul,

Prambanan

9 - 8. Ngawen Ngawen, Muntilan 2 1 9. Mendut Mendut, Mungkid, Magelang 3 2 10. Gunung Wukir Muntilan 2 - 11. Dukuh Rowoboni, Banyubiru, Kab.

Semarang

1 - 12. Kompleks Candi Candi, Ambarawa, Kab. Semarang 2 1

commit to user

Gedong Songo

13. Candi Pringapus Pringapus, Temanggung 1 -

Jumlah 68 13

Sumber: Pokja Perlindungan BP3 Jawa Tengah

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa baru 13 candi saja yang dijaga oleh satpam. Apabila dibandingkan dengan jumlah keseluruhan candi di seluruh Jawa Tengah yang menurut data dari BP3 Jawa Tengah adalah 64 candi (lihat lampiran), maka dapat dikatakan bahwa baru sekitar 20% saja candi di Jawa Tengah yang telah dijaga oleh satpam. Melihat kenyataan di atas, tentu timbul pertanyaan tentang bagaimana tingkat keamanan sebagian besar candi lainnya yang tidak dijaga oleh satpam. Menanggapi hal tersebut, Pak Deny memberikan pernyataan sebagai berikut:

“Beberapa daerah terpencil memang banyak yang belum ada satpamnya. Tapi meskipun begitu, masih ada jupel (juru pelihara.red) yang merangkap satpam. Jadi selain melakukan pemeliharaan, juga mengamankan candi”

(hasil wawancara 21 Maret 2011)

Dari pernyataan Pak Deny di atas dapat diambil kesimpulan bahwa walaupun candi tidak dijaga oleh satpam, masih ada juru pelihara yang juga bertugas merangkap satpam dan berarti tugasnya selain melakukan pemeliharaan adalah mengamankan candi juga.

Akan tetapi, perlu diingat juga bahwa juru pelihara tidak memiliki pengetahuan khusus tentang pengamanan yang setara dengan satpam. Selain itu juru pelihara juga tidak menjaga candi

commit to user

mengikuti pembinaan tiap bulan serta latihan bela diri. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Bapak Sumaryono sebagai berikut:

“Asline niku jam 7.30-15.30. Ning kulo biasane mriki nggih jam-jam 8.00 enjing, wong mangkeh biasane ngantos jam-jam 17.00 sonten. Kadang nggih ngantos jam 18.00. ...nek dalu nggih mboten wonteng sing jogo mbak. Ning kulo kadang nggih tilem mriki, biasane pas hari besar kan wonten dangdutan teng mriki. Nopo kadang pas wonten tiang tilem mriki, kulo nggih mesti tilem mriki. Pokoke nunggoni ngantos tiangipun wangsul. ...Nek sing pemeliharaan niku mboten, tapi nek sing keamanan dididik saking polres nganu to, polsek klaten niko”

(hasil wawancara 23 Maret 2011)

Dari hasil wawancara di atas, dapat diketahui bahwa menurut peraturan juru pelihara bertugas dari pukul 07.30-15.30 WIB. Pada candi Selogriyo, juru peliharanya bekerja sampai dengan pukul 18.00 WIB. Walaupun begitu, setelah jam tersebut tidak ada lagi yang menjaga candi. Kalaupun juru pelihara tidur di candi, itupun hanya pada waktu-waktu tertentu dan sangat jarang. Selain itu, juru pelihara juga tidak diwajibkan mengikuti pembinaan yang diadakan tiap tanggal dua.

Dari hasil wawancara di atas, penulis melihat bahwa waktu malam hari inilah yang menjadi saat paling rawan terhadap kemungkinan terjadinya tindak pencurian. Apalagi melihat banyaknya jumlah candi yang terletak di daerah terpencil dan jauh dari pemukiman warga dan belum dijaga oleh satpam. Oleh karena itu penulis merasa pengamanan pada candi khususnya yang berada di daerah terpencil masih sangat kurang.

commit to user

Terkait banyaknya candi yang belum dijaga oleh satpam, Pak Sugeng Widodo memberikan tanggapan sebagai berikut:

“Belum semua candi dilakukan pengamanan (penempatan satpam.red). Namun untuk kedepannya akan tetap diupayakan pengamanan”

(hasil wawancara 7 Februari 2011)

Terkait upaya untuk menambah jumlah satpam yang bertugas di candi-candi juga disampaikan oleh Pak Deny, yakni sebagai berikut:

“Tiap tahun akan ada penambahan jumlah satpam kontrak yang baru dan akan terus dilakukan sampai tercukupi jumlah yang kami butuhkan”

(hasil wawancara 21 Maret 2011)

Selain mengenai minimnya jumlah candi yang telah dijaga satpam, dari tabel di atas juga dapat dilihat bahwa jumlah satpam yang menjaga candi itu berbeda-beda antara candi yang satu dengan yang lain. Penulis mengamati bahwa candi yang berada di daerah yang dekat dengan kantor BP3 Jawa Tengah yakni Prambanan, cenderung memiliki jumlah satpam yang lebih besar dibanding dengan candi yang berada di daerah yang jauh dari Prambanan.

Ternyata BP3 Jawa Tengah memiliki pertimbangan tersendiri dalam menentukan candi mana saja yang akan mendapat prioritas untuk dijaga satpam dan berapa jumlah satpam yang ditugaskan. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Pak Sugeng Widodo:

“...mempertimbangkan kondisi candi dan tingkat kerawanannya.

Dokumen terkait