BB AWAL BB AKHIR SELISIH PBBH
4.6. Kinerja Ekonomi
Dalam kegiatan demonstrasi formulasi pakan lokal berkualitas untuk sapi yang dilakukan di Kabupaten Maros nampak bahwa dengan formulasi pakan lokal ini memberikan keuntungan yang lebih besar (Rp. 8.822.221 per bulan) dibandingkan dengan pola petani (kontrol) (Rp. 159.038 per bulan). Secara detail dituangkan dalam Tabel 14.
Analisis finansial usaha penggemukan sapi yang akan diuraikan berikut ini terdiri dari beberapa input antara lain : (1) Biaya sarana produksi yang terdiri dari pakan hijauan, pakan konsentrat dan obat-obatan ; (2) Biaya tenaga kerja. Untuk mengetahui besarnya biaya yang dikeluarkan dan pendapatan serta keuntungan yang diperoleh. Adapun biaya produksi yang dikeluarkan,
30 penadapatan yang diperoleh dan keuntungan yang bisa diraup, secara rinci disajikan dalam tabel berikut ini
Tabel 14. Analisis Usahatani pada Ujicoba/Demonstrasi Plot Teknologi Formulasi Pakan Lokal Berkualitas untuk Sapi di Kab. Maros, 2011
ANALISIS PENDAPATAN PENGGEMUKAN SAPI (SKALA 5 EKOR SAPI)
No
. Uraian
Teknologi Introduksi Teknologi Petani Volume Harga Sat.
(Rp)
Nilai Volume Harga Sat. (Rp) Nilai (Kg) (Rp) (Kg) (Rp) A. Biaya Produksi 1 Pakan Hijauan Rumput Gajah 1.333,33 800 1.066.664,00 800,00 800 640.000,00 Jerami 666,67 800 533.336,00 300,00 800 240.000,00 2 Pakan Konsentrat Jerami 81 800 64.800,00 Kulit Buah kakao 81 800 64.800,00 Tongkol Jagung 81 800 64.800,00 Kulit Kacang Tanah 81 800 64.800,00 Dedak Padi 129,67 800,00 103.736,00 Tepung Ikan 81 5.000,00 405.000,00 Pikuten 5,3 40.000,00 212.000,00 Total Biaya 2.579.936,00 880.000,00 B. Penerimaan 1 PBBH 0,463 39.000,00 18.057,00 0,042 39.000,00 1.638,00 2 Rata-Rata BB Akhir/ekor 41,7 39.000,00 1.626.300,00 3,8 39.000,00 148.200,00 3 Nilai 6 ekor 6 1.626.300,0 0 9.757.800,00 6 148.200,0 0 889.200,00 Total Penerimaan 11.402.157,0 0 1.039.038,0 0 C. Keuntungan (B-A) 8.822.221,00 159.038,00
Sumber : Analisis Data Primer
Dari tabel diatas menunjukkan bahwa total biaya yang dikeluarkan petani kooperator yaitu Rp.2.579.963,- sedangkan pada petani non kooperator sebesar
31 Rp. 880.000,-, dengan selisih Rp. 1.699.936,- Dengan selisih pendapatan yang signifikan yaitu Rp.10.363.119,-.,. Demikian juga dengan keuntungan yang diperoleh terdapat selisih sebesar Rp.8.663.183,-.
Suatu teknologi baru dengan penerimaan yang tinggi biasanya memerlukan penambahan penggunaan input dan pencurahan tenaga kerja yang mungkin akan mempengaruhi keuntungan. Untuk itu dapat dilakukan pengujian lebih lanjut dengan menggunakan tolok ukur rasio marjinal penerimaan kotor dan biaya. Alat ini juga digunakan untuk mengevaluasi teknologi pilihan yang mungkin dapat menggantikan teknologi yang lama yang diuraikan di bawah ini.
Dari hasil MBCR yang diperoleh sebesar 6,096 menunjukkan bahwa dengan menerapkan teknologi penggemukan yang diintroduksi akan memberikan penambahan pendapatan sebesar Rp.6,096,- dengan penambahan biaya input sebesar Rp.1,-. Angka ini juga memberikan keyakinan kepada petani bahwa dengan teknologi ini akan memberikan peningkatan pendapatan dan keuntungan. Selanjutnya apabila suatu usaha penggemukan akan dikembangkan dalam skala yang lebih besar sangat layak dengan referensi MBCR tersebut.
MBCR : Penerimaan Kotor (B) – Penerimaan Kotor (P)
Total Biaya (B) – Total Biaya (P) MBCR : 11.402.157 – 1.039.08 2.579.936 – 880.000,- MBCR : 10.363.119 1.699.936 MBCR : 6.096
32 4.7. Analisis Respon Petani
Analisis ini digunakan untuk mengetahui respon/tanggapan petani terhadap teknologi yang diujicobakan/demonstasikan dalam Penggemukan sapi. Gambaran respon petani menunjukkan sangat baik dan mengharapkan dilakukan di beberapa lokasi petani lainnya khususnya di Kecamatan Camba. Secara detail pembahasan tentang respon petani tentang teknologi Penggemukan sapi antara lain (1) pakan hijauan; (2) dedak padi; (3) tepung ikan; (4) kulit kacang tanah; (5) kulit buah kakao; (6) tongkol jagung; dan (7) mineral (pikuten).
Tabel 15. Respon Petani terhadap Penerapan Komponen Teknologi UjiCoba/DemonstrasiTeknologi Formulasi Pakan Lokal Berkualitas untuk Sapi di Kab. Maros , 2011
No Komponen Teknologi
Prosentase Respon Petani (N=30)
Menolak Ragu-Ragu Menerima Menerapkan Akan Alasan
1. Pemberian Pakan Hijauan (jerami segar/rumput gajah)
0 0 100 100 Pakan yang
dibutuhkan ternak sapi dalam proses bertumbuh 2 Pemberian Pakan
Konsentrat (Dedak, kulit kacang tanah, kulit buah kakao, jerami kering, tongkol jagung, tepung ikan, dan mineral pikuten)
0 20 80 60 Kandungan gizi dari
pakan konsentrat yang diformulasikan sangat baik Pakan konsentrat adalah pakan penguat untuk pertumbuhan ternak sapi Menjadi solusi
untuk sapi yang dikandangkan Menjadi solusi atas
kesulitan pakan jika musim kemarau tiba
3 Pemberian obat-obatan antibiotik (Obat cacing)
0 30 70 60 Obat cacing harus
diberikan diawal kegiatan karena akan menghambat pertumbuhan dan pertambahan BB Sapi
4 Sanitasi Kandang 0 0 100 20 Dilaksanakan
setiap hari untuk menghindari
33
penyakit yang menyerang
Sumber : Data primer setelah diolah, 2011
Grafik 5. Respon petani terhadap komponen teknologi introduksi
Melalui teknologi yang diaplikasikan dalam kegiatan ini, menunjukkan bahwa antusias petani dalam mempelajari pembuatan, pencampuran pakan konsentrat sangat tinggi sehingga memberikan efek yang baik terhadap pertambahan bobot badan harian sapi yang digemukkan.
Dari tabel dan grafik di atas menunjukkan bahwa respon atau tanggapan petani/peternak cukup baik karena bahan-bahan yang ada, banyak tersedia di lokasi untuk pakan konsentrat seperti dedak padi, jerami, tongkol jagung, kulit kacang, kulit buah kakao, tepung ikan dan mineral (pikuten). Hal tersebut
34 sangat bermanfaatkan karena kandungan gizinya cukup tinggi untuk dimanfaatkan sebagai potensi lokal untuk pakan konsentrat.
Ada beberapa yang diintroduksi mendapat respon sangat baik, dan sudah menunjukkan adanya opini yang terbentuk melalui prosentase responnya. Opini secara umum yang tersirat memberi anggapan bahwa dengan manajemen yang baik dalam penggemukan sapi akan memberikan manfaat secara ekonomi bagi petani, keluarganya dan usahatani secara holistik.
Sementara respon yang ditunjukkan oleh petani non kooperator sudah cukup baik juga karena mereka baru pada tahapan mengenali, mendengar dan melihat saja tapi sudah mampu memberi tanggapan positif terhadap teknologi penggemukan sapi yang di introduksi. Tindak lanjut yang cukup efektif yang lebih memungkinkan adalah memberikan informasi teknologi melalui media, sehingga pencarian petani sebagai pengguna tidak berhenti pada keterlibatannya sebagai partisipan dalam kegiatan demonstrasi plot.
Dari respon yang ditunjukkan, hasil analisis menunjukkan bahwa kemampuan secara teknis dapat petani raih apabila diikuti oleh kemauan keras untuk berubah dan komitmen tinggi dalam menerapkan aturan-aturan teknis suatu teknologi. Kedisiplinan tersebut perlu disepakati khusus dalam penggunaan ternak sapi yang sedang dalam proses penggemukan.
Komunikasi dan interaksi yang berlangsung sangat ditentukan oleh peran sumber teknologi untuk mempelajari dan berusaha melakukan penyesuaian karakteristik program dan kebutuhan petani dengan pelayanan jasa penelitian dan penyuluhan menjadi suatu keharusan dan dikembangkan sebagai suatu
35 strategi pemberdayaan petani dan keluarganya pada masa yang akan datang. Selain karena sifatnya yang dinamis, juga sebagai konsekuensi terhadap penyediaan jasa penelitian dan penyuluhan sebagai solusi. Seberapa besar peluang terjadinya konflik dan dinamika konflik yang terjadi dari interaksi dan komunikasi yang dilakukan secara cermat perlu dilakukan. Sehingga perlu dilakukan kajian khusus mengeksplorasi kebutuhan petani secara riel dan mendetail.
Hal lain yang menjadi sorotan petani dalam kaitannya introduksi teknologi dengan kesesuaian kebutuhan petani adalah materi penyuluhan, dimana penyesuaian yang dilakukan tidak terlepas dari kondisi internal dan eksternal sasaran. Penyesuaian materi penyuluhan dengan kebutuhan petani sangat penting karena perbedaan persepsi dan interpretasi simbol sangat menentukan kualitas interaksi dan komunikasi yang dilakukan yang dapat mengarah pada kerjasama atau konflik
KESIMPULAN
1. Rata-rata BB akhir sapi yang diamati adalah 253,0 kg, dengan rata-rata PBBH sebesar 0,463 kg.
2. Rata-rata BB akhir sapi kontrol adalah 213 kg, dengan rata-rata PBBH sebesar 0,038 kg.
3. Total biaya penggemukan sapi yang dikeluarkan petani kooperator yaitu Dari tabel diatas menunjukkan bahwa total biaya yang dikeluarkan petani kooperator yaitu Rp. 2.579.936,- sedangkan pada petani non kooperator sebesar Rp. 880.000,-, dengan selisih Rp. 1.699.936,- Dengan selisih
36 pendapatan yang signifikan yaitu Rp.11.402.157,-. Demikian juga dengan keuntungan yang diperoleh terdapat selisih sebesar Rp.8.663.183,-. 4. Nilai MBCR Penggemukan sapi yang diperoleh sebesar 6,096
menunjukkan bahwa dengan menerapkan teknologi penggemukan yang diintroduksi akan memberikan penambahan pendapatan sebesar Rp.6,096,- dengan penambahan biaya input sebesar Rp.1,-.