Profil Perusahaan Tata Kelola Keberlanjutan Kinerja Ekonomi Keberlanjutan Kinerja Lingkungan Berkelanjutan Kinerja Sosial Keberlanjutan
52
PT BUKIT ASAM (PERSERO) TBKKinerja Ekonomi Keberlanjutan
Sejalan dengan kenaikan laba, maka Beban Pajak Penghasilan (bersih) yang dibayarkan oleh Perseroan juga meningkat, Pada 2015, PTBA membayar pajak sebesar Rp626,685 miliar atau naik 14% apabila dibandingkan dengan tahun 2014, yang tercatat sebesar Rp550.171 miliar, Adapun pembayaran royalti pada tercatat tahun 2015 sebesar Rp810,82 miliar naik 6% dibanding tahun 2014 sebesar Rp765,42 miliar.
Adanya peningkatan pembayaran pajak dan royalti, otomatis kian menggerakkan ekonomi lokal, terutama di wilayah operasi utama Perseroan, yakni di Kabupaten Muara Enim, Propinsi Sumatera Selatan, Kegiatan ekonomi di daerah juga tumbuh oleh investasi yang dilakukan Perseroan di daerah-daerah operasi, termasuk untuk keperluan infrastruktur, perumahan karyawan, Rumah Sakit PTBA, dan fasilitas sosial dan umum bagi karyawan PTBA. G4-EC8
Pada 2015, PTBA membagikan dividen sebesar Rp705,7 miliar, atau 35% dari total Laba Tahun Berjalan Perseroan pada 2014 sebesar Rp2,02 triliun. Angka itu lebih kecil apabila dibandingkan dengan pembagian dividen tahun sebelumnya, yakni sebesar Rp1 triliun, atau 55% dari Laba Bersih tahun 2013 sebesar Rp1,83 triliun.
Sementara itu, volume produksi pada 2015 naik 18% menjadi 19,28 juta ton dibanding tahun 2014, yang mencapai 16,36 juta ton. Sedangkan penjualan domestik dan ekspor pada 2015 tercatat sebesar 19,04 juta ton, atau naik 6% apabila dibandingkan dengan tahun 2014, yang tercatat sebesar 17,96 juta ton.
Berkaitan dengan energi listrik, sejak 2005, Perseroan memasuki ranah bisnis baru, yaitu bisnis pembangkitan listrik untuk tujuan dipakai sendiri dan menjual kelebihannya ke PLN, Pada November 2015, PLTU Mulut Tambang Banjarsari 2 X 110 MW (Sumsel 8) resmi beroperasi, Per 31 Desember 2015, terdapat sebanyak 3 (tiga) PLTU yang beroperasi dengan total daya 266 MW, yakni PLTU Banjarsari 220 MW, PLTU Tanjung Enim 3 X 10 MW, dan PLTU Pelabuhan Banjarsari 2 X 8 MW, plus satu PLTU tenaga biomassa dengan kapasitas 1,5 MW yang beroperasi di Tanjung Enim.
PLTU Mulut Tambang Banjarsari sudah tersambung dengan jaringan interkoneksi Sumatera Bagian Selatan milik PT PLN, yang kemudian disalurkan ke perumahan warga, pada tahun
In line with the increase of profit, Income Tax Expense (net) paid by the Company was also increasing. In 2015, PTBA paid taxes amounting to Rp626.685 billion, or up 14% when compared with 2014, which was recorded at Rp550,117 billion. As for the payment of royalties in 2015 was recorded Rp810.82 billion, up 6% compared to 2014 amounting to Rp765.42 billion.
An increase in tax and royalty payments automatically stimulated the local economy more, especially around the Company’s main area of operations, namely Muara Enim, South Sumatra Province. Economic activities in other regions also grew by investments made by the Company in its operating areas, including for infrastructure purposes, employee housing, PTBA hospital, and social and public facilities for PTBA employees. G4-EC8
In 2015, PTBA distributed dividend of Rp705.7 billion, or 35% of the total Company’s Income for the Year in 2014 amounted to Rp2.02 trillion. That figure was smaller compared to the dividend of the previous year, which amounted to Rp1 trillion, or 55% of the net profit in 2013 amounted to Rp1.83 trillion.
Meanwhile, production volume in 2015 rose 18% to 19.28 million tons compared to 2014, reaching 16.36 million tons. While domestic sales and exports in 2015 totaled 19.04 million tons, an increase of 6% when compared to 2014, which recorded at 17.96 million tons.
Related with electrical energy, since 2005, the Company entered the realm of new businesses, namely power generation business for the purposes of their own use and sell the surplus to PLN. In November 2015, Mine Mouth Coal-Fired Power Plant Banjarsari 2 x 110 MW (Sumsel 8) was officially operating. As of 31 December 2015, there are 3 (three) Coal-Fired Power Plant (PLTU) that operates with total power of 266 MW, PLTU Banjarsari 220 MW, PLTU Tanjung Enim 3 X 10 MW, PLTU Banjarsari Port 2 X 8 MW, plus a biomass coal-fired power plant with capacity of 1.5 MW operating in Tanjung Enim.
Banjarsari Mine Mouth Power Plant had been connected to the interconnected network of Southern Sumatra owned by PT PLN, which was then channeled into housing residents. In
Kinerja Ekonomi Keberlanjutan
2015 PTBA telah menjual kelebihan Listrik dari PLTU milik sendiri ke PLN sebesar 121.172.692,82 KWH.
Keberhasilan PTBA meningkatkan laba, produksi dan penjualan pada 2015 tak lepas dari ketepatan dalam memilih strategi, yakni:
• Pengendalian Biaya Produksi
PTBA melakukan upaya pengendalian biaya produksi dengan berbagai cara, yakni:
• Menghemat dengan cara mengoptimalkan penggunaan alat tambang berpenggerak listrik seperti BWE dan belt conveyor, spreader dan stacker reclamer.
• Meningkatkan kehandalan peralatan produksi dan peralatan penunjang.
• Menekan biaya listrik dengan memaksimalkan suplai listrik dari PLTU mulut tambang milik sendiri dengan bahan bakar batubara limbah.
• Memaksimalkan produksi batubara secara swakelola dengan mengoptimalkan penggunaan
Bucket Wheel Excavator System (BWE System) dan melakukan inovasi operasi penambangan dengan memperpendek jarak angkut. G4-EN7
Perseroan juga melakukan intensifikasi penggunaan suku cadang produksi dalam negeri dan mengoptimalkan
refurbishment mandiri, Untuk menjamin bahwa kualitas suku cadang dalam negeri sesuai dengan peralatan yang dioperasikan, PTBA melakukan sejumlah langkah, untuk
refurbishment mandiri, Perseroan berupaya untuk terus meningkatkan kompetensi karyawan di bidang perbaikan dan perawatan peralatan utama, apabila ada alat utama yang rusak dapat diperbaiki sendiri, dan tetap dapat berfungsi dengan baik dan aman bagi operator.
Program peningkatkan kompetensi di bidang perbaikan dan perawatan peralatan utama juga disinergikan dengan kegiatan CSR Perseroan, yaitu Program Kemitraan dengan mendorong dan mengembangkan usaha kecil di sekitar wilayah operasi, PTBA mengembangkan usaha perbengkelan di klaster-klaster usaha yang dapat mendukung kebutuhan
2015, PTBA has been selling surplus electricity from its own power plants to PLN amounted to 121,172,692.82 KWH. The success PTBA in increasing profit, production and sales in 2015 could not be separated from the accuracy in selecting strategies, namely:
• Production Cost Control
PTBA attempted to control production costs in various ways, namely:
• Saving by optimizing the use of electricity-powered mining equipment like BWE and belt conveyor, spreader and stacker reclamer.
• Improving reliability of production equipment and supporting equipment.
• Reducing electricity cost by maximizing the electricity supply from self-owned Mine Mouth Coal-Fired Power Plant with waste coal as its fuel. • Maximizing self-managed coal production by
optimizing the use of Bucket Wheel Excavator System (BWE System) and the mining operation innovation by cutting down transport distance.
G4-EN7
The Company also intensified the use of spare parts produced by domestic industry and optimizing the self-reliance refurbishment program. To ensure that the quality of domestic spare parts are suitable with the operating equipments, PTBA perform several actions, for self-reliance refurbishment, the Company seeks to continuously improve the competency of employee in the field of repair and maintenance of major equipment. Any damages of major equipment can be repaired by themselves, yet still can function properly and safely for its operators.
Programs improving the competence in the field of repair and maintenance of major equipment also synergized with the Company’s CSR activities, which is a partnership program that encourage and develop small businesses around the area of operation. PTBA developed repair workshops at business clusters that can support the needs of the Company.
Kinerja Ekonomi Keberlanjutan
Profil Perusahaan Tata Kelola Keberlanjutan Kinerja Ekonomi Keberlanjutan Kinerja Lingkungan Berkelanjutan Kinerja Sosial Keberlanjutan
54
PT BUKIT ASAM (PERSERO) TBKKinerja Ekonomi Keberlanjutan
Kebutuhan suku cadang peralatan semaksimal mungkin dipenuhi dari industri dalam negeri. Beberapa komponen suku cadang yang intensitas penggantiannya cukup tinggi (fast moving) telah menggunakan produk dalam negeri seperti komponen belt dan bearing conveyor, blade bucket
dan sejenisnya.
Sementara itu, program refurbishment mandiri diyakini dapat menekan biaya pengadaan dan perawatan secara signifikan, Perseroan memaksimalkan utilisasi Bengkel Utama Tanjung Enim yang memiliki perlengkapan memadai dan kompetensi pegawai di bidang rancang bangun peralatan untuk melakukan perbaikan sarana dan prasarana Coal Handling Facilities (CHF), Sebelumnya, perbaikan dan pengadaan berbagai sarana CHF harus dilakukan atau dipesan kepada pihak ketiga dengan waktu pengiriman yang lama dan harga yang cukup mahal.
• Peningkatan Efisiensi Operasional
Efisiensi operasional penambangan dilakukan PTBA dengan berbagai cara. Pada 2015, penghematan yang pantas dicatat, antara lain, keberhasilan tim Bengkel Utama Unit Pertambangan Tanjung Enim membuat mesin pemilah batu pack dari batubara.
Upaya efisiensi juga dilakukan Perseroan dengan memilih moda angkutan yang tepat untuk mengangkut batubara, yakni kereta api, Untuk pengangkutan, PTBA melanjutkan kerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) membangun rel ganda yang akan mengangkut batubara dari Unit Pertambangan Tanjung Enim (UPTE) ke pelabuhan batubara Tarahan dan Kertapati, Panjang jalur ini adalah 307 kilometer, Pada 2015, proyek rel ganda dari Stasiun Prabumulih hingga Tanjung Enim sudah bisa dirampungkan, dan beroperasi penuh sejak September 2015, G4-34
Dengan rampungnya pembangunan rel jalur ganda ini, kapasitas angkut batubara dengan kereta meningkat menjadi 22,7 juta ton per tahun, Hingga 31 Desember 2015, angkutan kereta api batu bara rangkaian panjang (babaranjang) terealisasi sebanyak 15,72 juta ton, naik 6% apabila dibandingkan dengan tahun 2014, yang mencapai sebanyak 14,85 juta ton.
The need of spare parts was supplied as many as possible by domestic industry. Some component parts with fast moving replacement have already used domestic products such as bearing belt conveyor, bucket blade and others.
Meanwhile, the self-reliance refurbishment program is assuredly able to reduce the procurement and maintenance costs significantly. The Company optimized the Top Shop Tanjung Enim, which possesses adequate equipment and qualified employees in equipment construction design to repair facilities and infrastructure of Coal Handling Facilities (CHF). Previously, repair and procurement of various CHF facilities should be done or ordered to a third party with longer delivery time and at high cost.
• Operational Efficiency Improvement
The Efficiency of mining operations was carried out with various actions. In 2015, a noteworthy cost-saving effort, among other things, was the success of a team of Top Shop Tanjung Enim Mining Unit in making a tool to remove or sort pack stone from coal.
The Company’s efficiency efforts also done by selecting the appropriate mode of transport for coal transportation, which was the railway. For transportation, the PTBA continues working with PT Kereta Api Indonesia (Persero) to build double track railway that will transport coal from Tanjung Enim Mining Unit (UPTE) to the Tarahan and Kertapati coal port. The length of this track is 307 kilometers. In 2015, the double track project from Tanjung Enim to Prabumulih stations was already completed and has operated fully since September 2015. G4-34
With the completion of this double track railway, capacity of coal transported by train increased to 22.7 million tons per year. Until 31 December 2015, coal freight railways with long carriages (babaranjang) was realized as much as 15.72 million tons, up 6% compared to 2014, which reached as much as 14.85 million tons.