• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kinerja jaringan dari sistem irigasi tetes dengan microspray meliputi debit yang keluar dari micro spray, koefisien variasi penetes (v), koefisien penyebaran (EU), dan efisiensi irigasi. Pengukuran debit emitter irigasi tetes dilakukan pada saat pengoperasian jaringan irigasi tetes berlangsung.

Titik pengamatan berjumlah 24 emitter setiap bloknya dan pada 4 bedengan dimana 1 bedengan terdiri dari 2 lateral dengan tipe lateral line- source. Blok Ciheuleut, yaitu pada bedengan 1, bedengan 4, bedengan 10, dan bedengan 13. Blok Tajur yaitu pada bedengan 1, bedengan 3, bedengan 7, dan bedengan 10. Blok Pakuan yaitu pada bedengan 1, bedengan 3, bedengan 5, dan bedengan 8. Blok Ciawi yaitu pada bedengan 1, bedengan 4, bedengan 7, dan bedengan 10. Pengukuran debit emitter lateral line-source seluruhnya berjumlah 96 emitter.

Air dari sumber air untuk lahan di pompa dengan pompa jenis

submersible yang ditempatkan 20 m dari sumur bor sedalam 100 m. Air dari sumber tersebut di salurkan dengan pipa galvanis 3 inch yang ditahan oleh kran utama lalu dialirkan dengan menggunakan pipa galvanis 2 inch menuju 3 tempat, yaitu ke tempat penampungan air untuk kantor, ke lokasi penelitian (Tajur II), dan Tajur I.

Pipa utama menggunakan pipa galvanis 2 inch. Pipa sub utama menggunakan pipa PVC berukuran 2 inch, pipa manifold menggunakan pipa PVC yang berukuran ¾ inch. Setiap 1 buah manifold akan membagi air untuk 2 lateral jenis Polyethilen yang berukuran ½ inch.. Detail aliran air irigasi dapat dilihat pada Gambar 7.

Emitter yang dipergunakan untuk jaringan irigasi ini adalah jenis

micro spray dengan tipe orbitor kit dengan kapasitas 55 l/jam pada tekanan 1- 2 atm. Dari hasil pengukuran didapatkan nilai debit minimum sebesar 26.64 l/jam, debit maksimum yang keluar sebesar 30.24 l/jam. Debit rata-rata

emitter, nilai koefisien variasi penetes, dan nilai keseragaman penyebaran (EU) tiap blok dapat dilihat pada Tabel 12.

Gambar 7. Detail Aliran Air Irigasi di Lokasi Penelitian Sumur Bor 100 m Pipa Sub Utama PVC 2’’

bedengan Penampungan Air Pompa Pipa Galvanis 3’’ kran Keterangan : : Aliran air irigasi

Tabel 12. Debit Rata-rata emitter, Nilai Koefisien Variasi Ppenetes, dan Nilai Keseragaman Penyebaran (EU)Tiap Blok

Blok Debit Rata-rata (l/jam) Koefisien variasi Keseragaman penyebaran (%) Ciheuleut 28.41 0.04 83.67 Pakuan 28.66 0.036 85.25 Tajur 28.73 0.031 86.78 Ciawi 28.85 0.035 85.37

Nilai koefisien variasi penetes (v) irigasi tetes di lokasi penelitian berkisar antara 0.031-0.040. Data lengkap perhitungan nilai koefisien variasi penetes (v) Blok Ciheuleut, Blok Tajur, Blok Pakuan dan Blok Ciawi disajikan pada Lampiran 6a sampai Lampiran 6d.

Nilai rata-rata koefisien variasi penetes (v) pada lateral line-source

jaringan irigasi tetes di lokasi penelitian sebesar 0.035. Berdasarkan data tersebut, maka jika nilai koefisien variasi penetes (v) jaringan irigasi tetes di lokasi penelitian 0.035 berarti variasi debit spray yang keluar berkualitas baik karena nilai v < 0.05. Nilai ini berpengaruh kepada keseragaman penyebaran (EU) dimana semakin besar nilai koefisien penetes maka nilai keseragaman penyebaran semakin kecil. Lateral line-source berada diatas bedengan. Detail bedengan dapat dilihat pada Gambar 8. Detail lateral di lokasi penelitian dapat dilihat pada Gambar 9.

1.5 m Pipa Lateral (PE 13 mm) Manifold (PVC ¾’’) Katup bedengan

Gambar 9. Detail Lateral di Lokasi Penelitian

Hasil perhitungan nilai keseragaman penyebaran (EU) irigasi tetes pada lokasi penelitian, Blok Ciheuleut nilainya sebesar 83.67%, Blok Tajur nilainya sebesar 85.25%, Blok Pakuan nilainya sebesar 86.78%, dan Blok Ciawi nilainya sebesar 85.37%. Nilai rata-rata keseragaman penyebaran (EU) sebesar 85.26%, hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa nilai keseragaman (EU) kurang dari 90%-95% untuk irigasi tetes dengan menggunakan micro spray.

Menurut Nakayama dan Bucks (1986) di dalam Prastowo (2002), jika nilai keseragaman penyebaran (EU) dibawah 95 % maka desain harus diubah, misalnya dengan memperpendek pipa atau memperbesar diameter pipa. Kecilnya keseragaman penyebaran (EU) dapat disebabkan karena posisi pipa lateral yang tidak datar, banyak terjadi kerusakan pada jaringan perpipaan. Nilai untuk kebutuhan leaching sebesar nol karena tidak ada nutrisi yang diberikan bersamaan dengan air irigasi sehingga nilai efisiensi irigasi (Es) sama dengan nilai keseragaman penyebaran (EU) yaitu sebesar 85.26 %.

F. JADWAL IRIGASI

Kebutuhan air irigasi tanaman dapat diberikan dengan optimal pada saat penentuan interval irigasi dan penentuan waktu irigasi yang dibutuhkan untuk mengairi seluruh lahan tepat. Pemberian air irigasi yang diberikan pada tanaman melon berubah-ubah tergantung keadaan cuaca tempat budidaya tanaman melon. Pemberian air irigasi yang diberikan di lapangan untuk tiap tahap pertumbuhan pada tanaman melon dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Rencana Jadwal Operasi Jaringan Irigasi Tetes

Tahap Pertumbuhan Waktu (hspt) Satuan Kebutuhan Air (mm/hari) Jumlah Air yang Diberikan (mm/hari) Kelebihan Air (mm/hari) Vegetatif 16-40 1.98 4.12 2.14 Pembungaan 41-50 2.80 8.23 5.43 Pembentukan Buah 51-70 3.03 9.07 6.04 Pematangan 71-75 1.62 3.82 2.20

38 Pada Tabel 13 dapat dilihat pada tahap vegetatif sampai tahap pematangan terjadi kelebihan dalam pemberian air irigasi. Pada tahap vegetatif terjadi kelebihan pemberian air sebesar 2.14 mm/hari. Pada tahap pembungaan terjadi kelebihan pemberian air sebesar 5.43 mm/hari. Pada tahap pembentukan buah terjadi kelebihan pemberian air 6.04 mm/hari. Dan pada tahap pematangan terjadi kelebihan pemberian air 2.20 mm/hari.

Kebutuhan air tanaman meningkat seiring pertumbuhan tanaman, pada tanaman melon kebutuhan paling besar terjadi pada tahap pembentukan buah, lalu menurun pada tahap pematangan. Oleh karena itu diperlukan pemenuhan kebutuhan air pada proses budidaya tersebut. Namun jika pemberian air dilakukan secara berlebihan maka akan merangsang pertumbuhan beberapa tanaman pengganggu yang mengakibatkan terjadinya penurunan buah, juga dapat mengakibatkan kualitas buah menurun.

Kelebihan mengakibatkan pemborosan penggunaan air. Oleh karena itu diperlukan penentuan jadwal irigasi yang tepat berdasarkan jadwal tanam secara tepat. Interval dan lama irigasi yang diterapkan di lokasi penelitian dapat dilihat pada Tabel 14. Dan perhitungan kedalaman bersih air irigasi, kedalaman kotor air irigasi, interval, volume kotor air irigasi dan waktu aplikasi tiap tahap pertumbuhan tanaman dapat dilihat pada Tabel 15. Sedangkan perencanaan jadwal operasi irigasi dapat dilihat pada Lampiran 8. Tabel 14. Interval dan Lama Irigasi yang Diterapkan di Lokasi Penelitian

Tahap Pertumbuhan Waktu (hspt) Interval (hari) Waktu Aplikasi (jam/hari) Volume penyiraman (mm/aplikasi) Vegetatif 16-40 1 2 4.12 Pembungaan 41-50 1 3 8.23 Pembentukan Buah 51-70 1 3 9.07 Pematangan 71-75 1 2 3.82

Di lokasi penelitian dilakukan pemberian air irigasi dengan interval waktu 1 hari dan waktu aplikasi pada masa vegetatif 2 jam/hari, pada masa pembungaan dan pembentukan buah 3 jam/hari dan pada masa pematangan 2 jam/hari. Dengan waktu penjadwalan ini, maka terjadi kelebihan pemberian air pada setiap tahap pertumbuhan tanaman.

Tabel 15. Penentuan Interval Irigasi yang Disarankan Parameter Satuan Tahap Pertumbuhan Vegetatif Pembu- ngaan Pembentu- kan Buah Pemata- ngan Kedalaman bersih irigasi, dx mm 16.4 16.4 16.4 16.4 Interval irigasi, fx hari 8.3 5.9 5.4 10.1 Interval irigasi aktual,f hari 8 5 5 10 Kedalaman bersih irigasi baru,dn mm 15.8 14.0 15.2 16.2 Kedalaman kotor irigasi,d mm 18.6 16.4 17.8 19 Volume kotor irigasi,G l/hari 16.2 14.3 15.5 16.5

Waktu Aplikasi Jam/hari 0.6 0.5 0.5 0.6

Dari Tabel 15. dapat dilihat kedalaman bersih untuk seluruh lahan sebesar 16.4 mm. Interval irigasi yang dipilih pada masa vegetatif 8 hari, pada masa pembungaan 5 hari, pada masa pembentukan buah 5 hari dan pada masa pematangan 10 hari. Kedalaman kotor irigasi berkisar antara 16.4 mm – 19 mm. Waktu aplikasi pemberian air irigasi berkisar antara 0.5 jam/hari – 0.6 jam/hari. Terlihat bahwa semakin besar jumlah air irigasi (kotor) maka waktu aplikasi irigasi semakin lama.

Penentuan jadwal pemberian irigasi dilakukan untuk meningkatkan efisiensi irigasi tetes. Hal ini didasarkan pada pertimbangan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman dengan tepat dan untuk menghindari kelebihan air irigasi, sehingga tanaman menjadi layu serta dapat pula menyebabkan limpasan. Untuk mempertahankan dan meningkatkan efisiensi irigasi tetes dengan menggunakan micro spray maka diperlukan penerapan jadwal irigasi secara tepat.

Dokumen terkait