• Tidak ada hasil yang ditemukan

E. National Reference Coordinating Committee (NRCC) dan Jejaring Laboratorium

11. Kinerja Lainnya

 HIBAH LUAR NEGERI

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan saat ini sedang melaksanakan beberapa proyek yang didanai oleh beberapa negara donor. Khusus yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Peternakan dan kesehatan hewan antara lain proyek – proyek “ Prevention And Control Of Influenza In The Veterinary Sector” bantuan hibah KfW – Jerman, “ Project on Capacity Development of Animal Health Laboratory and Enhancement of Regional Animal Health Structure Toward Safer Community for Both Animal And Human” bantuan hibah JICA – Jepang dan “ Australian Indonesia Partnership For Emerging Infectious Diseases Animal Health Program – AIP-EID “ bantuan Aus AID. Uraian secara singkat untuk masing-masing proyek sebagai berikut :

1. Prevention And Control Of Influenza In The Veterinary Sector Project  Alokasi dana untuk proyek ini besarnya 3,300,000 EURO dengan proporsi

3,000,000 Euro merupakan bantuan hibah KfW Jerman dan 300,000 Euro merupakan dana pendamping dari Pemerintah Republik Indonesia.

 Bantuan hibah ini didasari oleh Naskah perjanjian Luar negeri (NPHLN) yang ditanda tangani pada tanggal 28 Juni 2009 dan berlaku sampai dengan 30 Desember 2013, terdaftar di kementerian Keuangan dengan Nomor Register 2007 66 105;

 Bantuan ini merupakan hibah langsung, tetapi dana hibah dialokasikan dalam dokumen pelaksanaan anggaran Pemerintah Republik Indonesia, sehingga pelaksanaannya sesuai dengan siklus penganggaran APBN.

 Bantuan hibah ini digunakan untuk pembangunan Laboratorium BSL-3 di BBPMSOH Gunung Sindur – Bogor dalam rangka meningkatkan kemampuan pengujian vaksin untuk penanggulangan penyakit Avian Influenza di Indonesia;

 Proyek ini telah mendapat persetujuan perpanjangan masa berlaku dari negara donor, yang pertama dari tanggal 30 Desember 2013 menjadi 30 Desember 2014 dan yang kedua dari 30 Desember 2014 menjadi 30 Desember 2015, yang dituangkan dalam Amandemen NPHLN;

 Pelaksanaan proyek ini mengalami beberapa hambatan teknis dan non teknis, namun dengan kesepahaman yang sama bahwa bantuan hibah ini harus terserap dan dimanfaatkan secara optimal untuk pembangunan lab. BSL-3 tersebut, maka kedua belah pihak ( Donor dan Ditjen PKH) sepakat untuk memperpanjang masa berlakuknya NPHLN;

43

 Perkembangan terakhir sampai saat ini bahwa pembangunan fisik Laboratorium BSL-3, Pengadaan peralatan Lab. BSL-3 dan Pelatihan-pelatihan telah diselesaikan. Sisa waktu sampai dengan Desember 2015 hanya menyisakan pekerjaan Instalasi Isolator, Commissioning dan Sertifikasi sebelum semua hasil pekerjaan diserah terimakan kepada Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan;

 Untuk memanfaatkan sisa waktu tersebut, maka pihak-pihak terkait yaitu KfW, Ditjen PKH, Kontraktor Pelaksana dan Konsultan secara intensif melakukan koordinasi untuk menyelesaikan semua pekerjaan sebelum berakhirnya masa berlaku NPHLN. Kesepakatan terakhir yang disanggupi oleh kontraktor pelaksana dan konsultan bahwa pada akhir bulan Agustus 2015 dan selambat-lambatnya minggu pertama September 2015 pekerjaan instalasi isolator dan commissioning yang dialnjutkan dengan serah terima tahap pertama dapat diselesaikan.

2. Australian Indonesia Partnership For Emerging Infectious Diseases Animal Health Program – AIP-EID

 Alokasi dana untuk proyek ini besarnya 22,000,000 Aus Dolar merupakan bantuan hibah Aus AID dan tidak ada alokasi dana pendamping dari Pemerintah Republik Indonesia

 Bantuan hibah ini didasari oleh Naskah perjanjian Luar negeri (NPHLN) yang ditanda tangani pada tanggal 18 Januari 2011 dan berlaku sampai dengan Desember 2014 dan diperpanjang menjadi Desember 2015, terdaftar di kementerian Keuangan dengan Nomor Register /Grant ID 71465701/LBAU0023;

 Bantuan ini merupakan hibah langsung, dikelola sendiri oleh negara donor dan danannya tidak dialokasikan dalam dokumen pelaksanaan anggaran Pemerintah Republik Indonesia. namun sesuai dengan ketentuan yang berlaku setiap tahun harus dilaksanakan pengesahan pendapatan hibah dan pengesahan belanja hibah oleh Kementerian Keuangan.

 Bantuan hibah ini digunakan untuk : 1) Strengthening Veterinary Systems Within the MOA; 2) Strengthening InformationManagement, Laboratory and Quarantine Function; 3) Support for Animal Health Services at the Sub-national Level (Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat) dan Program management.  Sampai dengan berakhirnya masa berlaku NPHL ternyata alokasi dana hibah belum terserap secara keseluruhan, sehingga atas kesepakatan kedua belah pihak untuk memanfaatkan sisa dana secara optimal maka masa berlaku NPHL diperpanjang sampai dengan Desember 2015.

 Perkembangan terakhir bahwa sampai akhir bulan Juni 2015 semua kegiatan teknis yang direncanakan dapat diselesaikan dengan baik, dengan demikian sisa waktu dari bulan Juni sampai dengan Desember 2015 akan dimanfaatkan untuk penyelesaian administrasi bantuan hibah. Khususnya penyelesaian pengesahan pendapatan dan belanja hibah tahun 2015.

44

Sedangkan pengesahan pendapatan dan belanja hibah tahun sebelumnya adalah :

Tahun 2014 sebesar AUD $ 860,813 Rp. 59.704.043.422,- Tahun 2013 sebesar AUD $ 6,014,699 Rp. 64.606.708.867,- Tahun 2012 sebesar AUD $ 4,534,718 Rp. 42.345.514.114,-  Berdasarkan pemantauan dilapangan diketahui bahwa kegiatan-kegiatan

yang dilaksanakan proyek ini mendapat respon positif dari para petugas di daerah dan masyarakat dengan harapan proyek ini bisa diperpanjang lagi bahkan perlu di replikasi lagi ke daerah – daerah lain. Untuk itu masih dilakukan pembahasan – pembahasan lebih lanjut dengan pihak Aus AID tentang kemungkinan perpanjangan proyek ini.

3. Project on Capacity Development of Animal Health Laboratory and Enhancement of Regional Animal Health Structure Toward Safer Community for Both Animal And Human” .

 Alokasi dana untuk proyek ini besarnya 250,026,000 Yen Jepang merupakan bantuan hibah langsung dari JICA Jepang ditambah dengan alokasi dana pendamping sebesar Rp. 2.600.000 untuk 4 tahun anggaran.

 Bantuan hibah ini didasari oleh Naskah perjanjian Luar negeri (NPHLN) yang ditanda tangani pada tanggal 4 Juli 2011 dan berlaku sampai dengan Juni 2015, terdaftar di kementerian Keuangan dengan Nomor Register 71723301;

Bantuan ini merupakan hibah langsung, dikelola sendiri oleh negara donor dan danannya tidak dialokasikan dalam dokumen pelaksanaan anggaran Pemerintah Republik Indonesia. namun sesuai dengan ketentuan yang berlaku setiap tahun harus dilaksanakan pengesahan pendapatan hibah dan pengesahan belanja hibah oleh Kementerian Keuangan. Untuk pengesahan tahun 2014 dan 2015 masih dalam proses, sedangkan tahun 2012 dan 2013 telah diselesaiakan pengesahan pendapatan dan belanja hibah di Kementerian Keuangan.Dalam rangka mendukung program pemerintah memberantas penyakit hewan menular strategis yang bersifat zoonosis seperti Avian Influenza, Brucellosis, Anthrax, Rabies, Leptospira dan lainnya, BBPMSOH telah dilengkapi 2 unit laboratorium BSL-3 dan 2 unit laboratorium ABSL-4 agar dapat melakukan pengujian vaksin-vaksin zoonosis. Keberadaan laboratorium ini sangat mendukung dalam menjamin mutu produk vaksin hewan zoonosis sehingga vaksin yang beredar di Indonesia terjamin mutunya, aman dan berkhasiat.

45 12. Akuntabilitas Keuangan

Alokasi Anggaran

Anggaran kegiatan fungsi kesehatan hewan TA. 2015 dialokasikan sebesar Rp. 400.432.801.000,- baik untuk pusat, Unit Pelaksanan Teknis Lingkup Kesehatan Hewan maupun dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan.

Realisasi Keuangan

Realisasi anggaran kegiatan fungsi kesehatan hewan TA. 2015 sampai dengan tanggal 31 Desember 2015 adalah sebesar Rp 319.962.866.569 atau 79,90 % dari total anggaran Rp 400.432.801.000. Realisasi anggaran per Unit Kerja, Jenis Belanja adalah sebagai berikut :

(1) Realisasi Per Kewenangan

Berdasarkan kewenangan realisasi anggarannya sebagai berikut : realisasi kantor pusat sebesar Rp. 59.149.487.487 atau tercapai 89,54% dari pagu Rp. 66.062.651.000; Kantor daerah sebesar Rp. 260.813.379.082 atau tercapai 78% dari pagu Rp 334.370.150.000.

Dekonsentrasi persatuan kerja sebesar Rp 124.214.044.369 atau tercapai 89,63% dari pagu Rp. 136.858.267.000., yaitu pada Dinas Pertanian Dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Utara, anggaran 569.429.000 Realisasi 273.996.479 atau 48,12%, Dinas Pertanian Dan Peternakan Propinsi Sulawesi Barat anggaran 1.691.500.000 Realisasi 1.563.645.119 atau 92,44%, Dinas Peternakan Dan Kesehatan Hewan Provinsi Papua Barat anggaran 736.340.000 Realisasi 736.280.000 atau 99,99%, Dinas Pertanian, Kehutanan, Dan Peternakan Provinsi Kepulauan Riau anggaran 823.445.000 realisasi 623.448.200 atau 75,71%, Dinas Perkebunan Dan Peternakan Provinsi Gorontalo anggaran 1.350.829.000 realisasi 1.332.653.250 atau 98,65%, Dinas Pertanian, Dinas Pertanian, Perkebunan Dan Peternakan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung anggaran 1.029.820.000 realisasi 991.548.050 atau 96,28%, Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Banten anggaran 1.869.865.000 realisasi 1.672.779.200 atau 89,46%, Dinas Pertanian Provinsi Maluku Utara anggaran 2.022.530.000 realisasi 2.012.205.500 atau 99,49%, Dinas Peternakan Dan Kesehatan Hewan Provinsi Bengkulu anggaran 4.909.630.000 realisasi 4.463.197.978 atau 90,91%, Dinas Peternakan Dan Kesehatan Hewan Provinsi Papua anggaran 953.590.000 realisasi 946.445.815 atau 99,25%; Dinas Peternakan Prov. Nusa Tenggara Timur anggaran 14.466.330.000 realisasi 14.267.821.429 atau 98,63%; Dinas Peternakan Dan Kesehatan Hewan Provinsi Nusa Tenggara Barat anggaran 4.489.369.000 realisasi 4.173.867.201 atau 92,97%; Dinas Kelautan Dan Pertanian Provinsi Dki Jakarta anggaran 1.240.590.000 realisasi 1.164.839.349 atau 93,89%; Dinas Peternakan Provinsi Jawa

46

Barat anggaran 4.921.380.000 realisasi 3.297.753.240 atau 67,01%; Dinas Peternakan Dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah anggaran 4.184.720.000 realisasi 3.814.880.624 atau 91,16%; Dinas Pertanian Provinsi D.I. Yogyakarta anggaran 2.401.790.000 realisasi 2.269.102.198 atau 94,48%; Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur anggaran 4.973.820.000 realisasi 4.384.029.633 atau 88,14%; Dinas Kesehatan Hewan Dan Peternakan Provinsi Aceh anggaran 5.526.084.000 realisasi 4.394.187.390 atau 79,52%; Dinas Peternakan Dan Kesehatan Hewan Provinsi Sumatera Utara anggaran 5.855.418.000 realisasi 5.179.339.530 atau 88,45%; Dinas Peternakan Dan Kesehatan Hewan Provinsi Sumatera Barat anggaran 3.988.185.000 realisasi 3.740.740.127 atau 93,80%; Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Riau anggaran 2.794.760.000 realisasi 2.494.670.100 atau 89,26%; Dinas Peternakan Dan Kesehatan Hewan Provinsi Jambi anggaran 1.810.677.000 realisasi 1.736.545.800 atau 95,91%; Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Selatan anggaran 1.848.360.000 realisasi 1.793.349.975 atau 97,02%; Dinas Peternakan Dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung anggaran 4.029.620.000 realisasi 3.834.824.175 atau 95,17%; Dinas Peternakan Dan Kesehatan Hewan Propinsi Kalimantan Barat anggaran 1.609.890.000 realisasi 1.497.655.000 atau 93,03%; Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Kalimantan Tengah anggaran 1.934.340.000 realisasi 1.779.238.400 atau 91,98%; Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan anggaran 3.098.840.000 realisasi 1.505.753.892 atau 48,59%; Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Timur anggaran 2.184.370.000 realisasi 2.111.412.070 atau 96,66%; Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara anggaran 5.504.020.000 realisasi 4.920.425.840 atau 89,40%; Dinas Peternakan Dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulawesi Tengah anggaran 4.641.420.000 realisasi 4.171.978.550 atau 89,89%; Dinas Peternakan Dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulawesi Selatan anggaran 10.081.417.000 realisasi 8.953.985.925 atau 88,82%; Dinas Pertanian Dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tenggara anggaran 3.315.920.000 realisasi 3.026.388.200 atau 91,27%; Dinas Pertanian Provinsi Maluku anggaran 2.351.850.000 realisasi 2.281.284.750 atau 97,00%; Dinas Peternakan Dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali anggaran 4.692.420.000 realisasi 4.362.082.750 atau 92,96%; Dinas Peternakan Dan Kesehatan Hewan Provinsi Nusa Tenggara Barat anggaran 4.489.369.000 realisasi 4.173.867.201 atau 92,97%; Dinas Peternakan Prov. Nusa Tenggara Timur anggaran 14.466.330.000 realisasi 14.267.821.429 atau 98,63%.

Dekonsentrasi pada UPT Pusat adalah sebesar Rp. 278.760.763.363 atau tercapai 91.47% dari pagu Rp. 304.908.075.000., yaitu Balai Penyidikan Dan Pengujian Veteriner Subang anggaran 18.678.201.000 realisasi 17.456.350.215 atau 93,46%; Balai Besar Pengujian Mutu Dan Sertifikasi Obat Hewan anggaran 18.384.033.000 realisasi 17.664.541.599 atau

47

96,09%; Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta anggaran 85.207.536.000 realisasi 78.139.801.697 atau 91,71%; Pusat Veteriner Farma Surabaya anggaran 40.140.272.000 realisasi 36.842.143.591 atau 91,78%; Balai Veteriner Medan anggaran 25.354.220.000 realisasi 23.817.215.495 atau 93,94%; Balai Penyidikan Dan Pengujian Veteriner Regional II Bukittinggi anggaran 19.747.632.000 realisasi 17.524.643.249 88,74%; Balai Penyidikan Dan Pengujian Veteriner Regional III Bandar Lampung anggaran 21.060.622.000 realisasi 18.986.456.263 atau 90,15%; Balai Penyidikan Dan Pengujian Veteriner Regional V Banjar Baru anggaran 20.585.342.000 realisasi 18.720.117.559 atau 90,94%; Balai Besar Veteriner Maros, Sulawesi Selatan anggaran 28.016.167.000 realisasi 25.821.266.896 atau 92,17%; Balai Besar Veteriner Denpasar anggaran 27.734.050.000 realisasi 23.788.226.799 atau 85,77%.

(2) Realisasi Per Kegiatan

Realisasi anggaran per kegiatan dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Pengendalian dan penanggulangan rabies

2. Pengendalian dan penanggulangan AI 3. Biosekuriti perunggasan

4. Pengendalian dan penanggulangan Brucellosis 5. Pengendalian dan penanggulangan antrax

6. Pengendalian dan penanggulangan Hog Cholera 7. Pengendalian dan penanggulangan Jembrana

8. Penanggulangan gangguan reproduksi pada sapi dan kerbau 9. Pengendalian dan penanggulangan penyakit parasiter

10. Pengendalian dan penanggulangan penyakit bakterial lainnya 11. Sistem Kesehatan Hewan Nasional

12. Perlindungan Hewan dan Kewaspadaan Penyakit Eksotik 13. Pengamatan Penyakit Hewan

14. Pengawasan Obat Hewan

15. Pembinaan dan Koordinasi Kesehatan Hewan

16. Operasional Pelayanan Kesehatan Hewan di Puskeswan 17. Operasional Pengujian Veteriner di Lab. Veteriner Daerah 18. Hibah dan Bantuan Luar Negeri

48

Pelaksanaan kinerja pembangunan peternakan dan kesehatan hewan tahun 2015 masih banyak mengalami hambatan/kendala, namun secara umum pelaksanaannya dapat diatasi/ ditanggulangi. Hambatan yang dijumpai antara lain:

a. Aspek Manajemen dan Administrasi

1) Revisi anggaran yang disebabkan adanya kebijakan penghematan sehingga proses pelaksanaan kegiatan terlambat;

2) Kebijakan penghematan anggaran, menyebabkan beberapa target kegiatan tidak dapat tercapai;

3) Proses dan mekanisme pengadaan barang dan jasa yang dilaksanakan di daerah (propinsi, kabupaten dan UPT) pada beberapa kegiatan mundur dari jadwal dan tidak dapat dilaksanakan;

4) Proses pelelangan umum untuk pengadaan barang di daerah dilaksanakan melalui pelayanan satu atap, bila terjadi gagal lelang akan memerlukan waktu yang cukup panjang;

5) Persiapan daerah terlambat untuk pelaksanaan kegiatan-kegiatan baik penetapan pengelola keuangan dan pelaksanaan tender.

b. Aspek Teknis P Peenniinnggkkaattaann ssttaattuuss kkeesseehhaattaann hheewwaann,, ppeerrmmaassaallaahhaann uuttaammaa yyaanngg ddii h haaddaappii tteerrkkaaiitt ppeemmbbeebbaassaann wwiillaayyaahh ppeennyyaakkiitt rraabbiieess aannttaarraa llaaiinn mmaassiihh k kuurraannggnnyyaa kkeetteerrsseeddiiaaaann vvaakkssiinn ddii bbeebbeerraappaa wwiillaayyaahh kkaarreennaa k keetteerrllaammbbaattaann kkeetteerrllaammbbaattaann aattaauu ppeennyyeeddiiaaaann vvaakkssiinn ddaann kkuurraannggnnyyaa S SDDMM kkeesseehhaattaann hheewwaann sseerrttaa bbeelluumm tteerrsseeddiiaannyyaa vvaakkssiinn aannttii rraabbiieess y yaannggccuukkuuppbbaaggiippeettuuggaassddeennggaannrreessiikkoottiinnggggiimmaauuppuunnkkoorrbbaann,,kkuuaalliittaass v vaakkssiinn yyaanngg kkuurraanngg bbaaiikk kkaarreennaa bbeelluumm tteerrsseeddiiaannyyaa rraannttaaii ddiinnggiinn yyaanngg s seessuuaaii.. MMaassaallaahh ppeennggaannggggaarraann yyaanngg bbeelluumm tteeppaatt jjuuggaa mmeerruuppaakkaann k keennddaallaa uuttaammaa sseehhiinnggggaa aannttaarraa ppuussaatt ddaann ddaaeerraahh bbeelluumm aaddaa s siinnkkrroonniissaassii.. K Keennddaallaa yyaanngg ddiihhaaddaappaaii ddaallaamm ppeennaannggaannaa ddaann ttiinnddaakk llaannjjuutt tteerrkkaaiitt p peennyyaakkiitt AAvviiaann IInnfflluueennzzaa ((AAII)) yyaaiittuu bbeelluumm ddiitteerraappkkaannnnyyaa ssttrraatteeggii b biioosseeccuurriittii ddaann llaalluu lliinnttaass sseessuuaaii ddeennggaann SSOOPP ddaann ppeerrlluu aaddaannyyaa s suurrvveeiilleennssbbeerrkkeellaannjjuuttaann.. P Peerrmmaassaallaahhaann ddaallaamm kkeeggiiaattaann ppeennaannggaannaann ggaanngggguuaann rreepprroodduukkssii t teerrkkeennddaallaa ppaaddaa kkuurraannggnnyyaa SSDDMM tteekknniiss ddii kkaabbuuppaatteenn// kkoottaa,, mmaassiihh t teerrddaappaattnnyyaa sseebbaaggiiaann uunniitt--uunniitt ppuusskkeesswwaann yyaanngg bbeelluumm aaddaa ddookktteerr h heewwaann ddaannaattaauuppaarraammeeddiikkvveetteerriinneerr.. SSeeddaannggkkaann kkeennddaallaauuttaammaappaaddaa p peenniinnggkkaattaann mmuuttuu oobbaatt hheewwaann yyaaiittuu kkuurraannggnnyyaa aallookkaassii aannggggaarraann bbaaiikk u unnttuukk ppeennggaawwaassaann mmuuttuu,, ppeerreeddaarraann oobbaatt hheewwaann mmaauuppuunn ppaaddaa p peennyyuussuunnaannppeerraattuurraannoobbaatthheewwaann..

49 Upaya dan Tindak Lanjut

Alokasi perjalanan dinas dalam rangka penilaian kelayakan izin usaha obat hewan yang sangat minim, tidak sebanding dengan banyaknya permohonan yang masuk ke Direktorat Kesehatan Hewan

Untuk mengatasi berbagai permasalahan dan kendala sebagaimana diuraikan di atas, akan ditempuh berbagai upaya, antara lain

a. Penanganan dan tindak lanjut permasalahan terkait rabies yaitu:

 Alokasi vaksin rabies stok pusat pada daerah yang memerlukan

 Perlunya monitoring dana dekon yang lebih efektif

 Pelatihan bagi kader/tenaga penyuluh lapangan atau petugas lainnya terkait penanganan rabies

 Perlunya mentoring dan sinkronisasi terhadap penganggaran pusat dan daerah

 Koordinasi dengan kementerian kesehatan/dinas kesehatan terkait penyediaan VAR bagi petugas ataupun sosialisasi tentang perlunya penganggaran pembelian VAR

b. Penanganan dan tindak lanjut permasalahan terkait Avian Influenza (AI) adalah Penerapan strategi biosekuriti rantai pasar unggas dan pengawasan lalu lintas terus dioptimalkan sesuai dengan SOP pengendalian AI. Surveilans penyakit secara berkelanjutan sampai dengan bebas kasus penyakit.

c. Dalam mengatasi permasalahan, maka Direktorat Kesehatan Hewan telah melakukan rekruitmen Tenaga Harian Lepas untuk Medik sejumlah 542 orang dan Paramedik Veteriner sejumlah 457 orang. d. Penanganan dan tindak lanjut permasalahan terkait Pengawasan Obat

Hewan yaitu:

 Melalui usulan RKAKL TA 2016 sudah diusulkan peningkatan anggaran terkait pengawasan mutu dan peredaran obat hewan baik ditingkat pusat maupun daerah.

 Pada tahun 2016 diusulkan untuk percepatan proses pembangunan dan integrasi sistem secara terpadu.

 Melalui revisi anggaran Ditkeswan dan alokasi anggaran oleh Tata Usaha Ditkeswan.

 Dialokasikan dana dekonsentrasi pengawasan obat hewan untuk daerah tahun 2016

50

51

Dokumen terkait