• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Kinerja Mengajar Guru 1. Konsep Kinerja

3. Kinerja Mengajar Guru

Yangesti Insani Kusumah, 2012

Pengaruh Supervisi Klinis Oleh Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Mengajar Guru Di Sma Al-Ma’soem Jatinangor

Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu

Pemahaman tentang kinerja tenaga pendidikan menurut, Gaffar (1987:159) dalam Musfah (2011: 44) mengemukakan bahwa performance based teacher, yaitu:

Memerlukan penguasaan content knowledge, behavior skills and human relation skills. Content knowledge merupakan penguasaan materi pengetahuan yang akan diajarkan pada peserta didik. Behaviour skills merupakan keterampilan perilaku yang berkaitan dengan penguasaan metodologis yang bersifat padagogis maupun andragogis. Human relation skills merupakan keterampilan untuk melakukan hubungan baik dengan unsur manusia yang terlibat dalam proses pendidikan.

Casteter dalam Davis, E. (2005:224) mengemukakan, bahwa kinerja guru dapat disimpulkan “Mengarah pada tiga fokus: a) kualitas personal guru, b) unjuk kerja yang menjadi tanggung jawab guru, c) pemaknaan hasil kerja atau prestasi kerja”

Berkaitan dengan kinerja guru, selanjutnya Johnson (Zainal Aqib, 2002: 80) memaparkan tiga aspek kinerja, yaitu :

1) Kemampuan profesional mencakup penguasaan pelajaran yang terdiri atas penguasaan materi yang harus diajarkan, dan konsep-konsep dasar keilmuan dari materi yang diajarkan tersebut.

2) Kemampuan sosial mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntunan kerja lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya sebagai guru.

3) Kemampuan personal guru, mencakup kemampuan: a) Penampilan sikap positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru dan terhadap keseluruhan situasi pendidik beserta unsur-unsurnya, b) Kepribadian, nilai, sikap hidup, penampilan dan upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para siswa.

Yangesti Insani Kusumah, 2012

Pengaruh Supervisi Klinis Oleh Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Mengajar Guru Di Sma Al-Ma’soem Jatinangor

Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu

Kinerja guru dapat dilihat saat dia melaksanakan interaksi belajar-mengajar di kelas termasuk persiapannya baik dalam bentuk program semester maupun persiapan mengajar.Guru merupakan pengembang kurikulum bagi kelasnya, yang akan menterjemahkan, menjabarkan dan mentransformasikan nilai-nilai yang terdapat dalan kurikulum kepada peserta didik.

Tugas guru tidak hanya mentransfer pengetahuan (transfer of knowledge) akan tetapi lebih dari itu, yaitu membelajarkan anak supaya dapat berpikir kreatif dan komprehensif, untuk membentuk kompetensi dan pencapaian makna yang tertinggi. Kegiatan tersebut bukan hanya berwujud pembelajaran di kelas tetapi dapat berwujud kegiatan lain, seperti bimbingan belajar kepada peserta didik.

Menurut Dasman Darmawan (2006:45) mengemukakan bahwa: Kinerja mengajar guru ditampilkan oleh beberapa indikator, yaitu: penguasaan terhadap kurikulum dan perangkat pengajarannnya, penguasaan materi pelajaran, penguasaan metode dan teknik penilaian, komitmen atau kecintaan guru terhadap tugasnya dan disiplin.

Secara umum menurut Syaiful Sagala (2010: 226), ada tiga pokok dalam strategi mengajar, yakni: “tahapperencanaan pembelajaran, tahap kegiatan pembelajaran, dan tahap penilaian hasil pembelajaran”.

Gambar 2.1 Tahapan Mengajar 1 2 3 Tahap Perencanaan Pembelajaran Tahap Pembelajaran Tahap Penilaian

Yangesti Insani Kusumah, 2012

Pengaruh Supervisi Klinis Oleh Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Mengajar Guru Di Sma Al-Ma’soem Jatinangor

Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu

Ketiga tahapan ini harus ditempuh pada setiap saat melaksanakan pengajaran. Jika, satu tahapan tersebut ditinggalkan, maka sebenarnya tidak dapat dikatakan telah terjadi proses pengajaran.

Berdasarkan uraian di atas dapat dikemukakan bahwa kinerja mengajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah unjuk kerja guru dalam melaksanakan tugas mengajar mulai dari perencanaan untuk persiapan pembelajaran, pelaksanaan pembelajarandan penilaian hasil pembelajaran.

a. Perencanaan Pembelajaran

Perencanaan merupakan suatu bentuk dari pengambilan keputusan (decision making). Sehubungan dengan itu persiapan mengajar yang dikembangkan oleh guru menurut Ornstein (Darmadi, 2009:126), keputusannya akan dipengaruhi oleh 2 (dua) area, yaitu :

1) Pengetahuan guru terhadap bidang studi (subject matter knowledge), yang ditekankan pada organisasi dan penyajian materi, pengetahuan akan pemahaman peserta didik terhadap materi dan pengetahuan tentang bagaimana mengajarkan materi tersebut;

2) Pengetahuan guru terhadap system tindakan (action system knowledge), yang ditekankan pada kativitas guru seperti: mendiagnosis, mengelompokkan, mengatur dan mengevaluasi peserta didik serta mengimplementasikan aktivitas pembelajaran dan pengalaman belajar. Kedua pengetahuan tersebut diperlakukan guru dalam mengembangkan persiapan mengajar yang efektif.

Perencanaan pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan sebelum proses belajar mengajar dilaksanakan dengan tujuan agar

Yangesti Insani Kusumah, 2012

Pengaruh Supervisi Klinis Oleh Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Mengajar Guru Di Sma Al-Ma’soem Jatinangor

Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu

kegiatan belajar mengajar dapat dilaksanakan dengan baik dan tujuan pembelajaran dapat dicapai. Syaiful Sagala (2010:107) mengemukakan bahwa :

Secara administratif rencana pembelajaran tertuang dalam silabus sebagai acuan pengembangan RPP sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya kemudian RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) dan merupakan skenario pembelajaran yang harus dilakukan oleh guru dalam interval waktu yang ditentukan.

RPP(Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) ini akan dijadikan pegangan bagi guru dalam menyiapkan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan belajar mengajar. Implementasi kemampuan guru dalam merencanakan proses belajar mengajar meliputi: menyusun administrasi mengajar, merencanakan materi pelajaran, merencanakan strategi kegiatan belajar mengajar, merencanakan media pembelajaran serta merencanakan evaluasi pembelajaran.

Dengan demikian pengembangan persiapan belajar berkaitan erat dengan kegiatan pembelajaran dan pelaksanaan bimbingan, karena isi kurikulum bukan hanya yang ada dalam mata pelajarannya saja, tetapi mencakup hal lain di luar mata pelajaran sejauh masih menjadi tanggung jawab sekolah untuk memberikan kepada peserta didik, seperti kerja keras, disiplin, kebiasaan belajar yang baik, dan jujur dalam belajar.

Yangesti Insani Kusumah, 2012

Pengaruh Supervisi Klinis Oleh Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Mengajar Guru Di Sma Al-Ma’soem Jatinangor

Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu

Salah satu komponen yang menjadi sasaran peningkatan kualitas pendidikan adalah sistem pembelajaran dikelas. Proses pembelajaran ini merupakan tanggung jawab guru dalam mengembangkan segala potensi yang ada pada siswa. Tujuan pokok proses pembelajaran adalah untuk mengubah tingkah laku siswa berdasarkan tujuan yang telah direncanakan dan disusun oleh guru sebelum proses kegiatan pembelajaran berlangusng.

“Perubahan tingkah laku itu mencakup aspek intelektual, emosional, dan fisik” (Glickman, 2002:8). Ketika proses pembelajaran dipandang sebagai proses perubahan tingkah laku siswa, peran penilaian dalam proses pembelajaran menjadi sangat penting. Gronlund dan Linn (Glickman, 2002: 10) “Penilaian dalam proses pembelajaran merupakan suatu proses untuk mengumpulkan, menganalisa dan menginterprestasi informasi untuk mengetahui tingkat pencapaian tujuan pembelajaran”. Marsh (Glickman, 2002:10) mengemukakan “Kemampuan profesional merupakan kemampuan yang relevan dengan jabatan profesional yaitu memiliki pengetahuan, kesanggupan, kemampuan, keterampilan dan sikap.

Implementasi kemampuan profesional guru dalam pembelajaran menurut Glickman (2002:11), mengemukakan bahwa:

Mencakup kemampuan dalam melaksanakan program pembelajaran, melaksanakan metode pembelajaran sesuai, dengan yang telah direncanakan, mampu mengelola kelas, mampu menggunakan media, mampu menyajikan materi dan berkomunikasi dengan siswa, mampu menggunakan sumber belajar yang ada, mampu memanfaatkan waktu dengan baik,

Yangesti Insani Kusumah, 2012

Pengaruh Supervisi Klinis Oleh Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Mengajar Guru Di Sma Al-Ma’soem Jatinangor

Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu

mampu melaksanakan strategi dan teknik pembelajaran dengan tepat, serta mampu melaksanakan evaluasi pembelajaran.

Syaiful Sagala (2010: 144) mengemukakan bahwa: “...tahap kedua adalah tahap pengajaran atau tahap inti yang didalamnya termasuk kegiatan membuka pembelajaran, kegiatan pelaksanaan pembelajaran dan kegiatan akhir proses pembelajaran”.

Yakni tahapan kedua atau tahap inti dalam kegiatan proses belajar mengajar di kelas yang telah disusun guru sebelumnya dalam RPP. Secara umum menurut Syaiful Sagala (2010:145) dapat diidentifikasi beberapa kegiatan sebagai berikut:

1) Kegiatan Membuka Pembelajaran

Memberikan apersepsi seperti mengajukan pertanyaan kepada siswa dikelas tentang bahan pelajaran yang akan diberikan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sampai dimana pemahaman materi yang akan diberikan.

2) Kegiatan Melaksanakan Pembelajaran

a) Guru dapat mengelola kelas dengan mengkondisikan lingkungan belajar sedemikian rupa sehingga siswa siap untuk belajar.

b) Menjelaskan pada siswa tujuan pengajaran yang harus di capai siswa. Informasi tujuan penting diberikan kepada siswa, sebab tujuan tersebut untuk siswa dan harus dicapai setelah pengajaran selesai agar dapat dipahami oleh semua siswa. Berdasarkan pengamatan, masih banyak guru yang tidak melaksanakan ini.

c) Materi yang akan dibahas hari itu diambil dari buku sumber yang telah disiapkan sebelumnya sesuai silabus dan tujuan pengajaran, sebab materi bersumber dari tujuan.

d) Pertama pembahasan dimulai dari gambaran umum materi pengajaran cara ini akan lebih efektif sebab siswa diberikan gambaran keseluruhan materi, sehingga siswa tahu arah bahan pengajaran yang akan dibahas selanjutnya. Pembahasan tidak harus oleh guru tapi lebih baik lagi dibahas oleh siswa.

e) Pada setiap pokok materi yang dibahas sebaiknya diberikan contoh-contoh soal yang mudah terlebih dahulu.

Yangesti Insani Kusumah, 2012

Pengaruh Supervisi Klinis Oleh Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Mengajar Guru Di Sma Al-Ma’soem Jatinangor

Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu

Pada saat pengajaran berlangsung, harus diperhatikan bahwa siswa harus banyak terlibat dalam memahas pokok materi.

f) Penggunaan pendekatan dan metode belajar siswa yang sesuai dengan langkah-langkah proses belajar siswa dan dapat diterima oleh siswa sesuai kemampuan dan potensi siswa. Harus diperhatikan bahwa kegiatan yang ditempuh dalam instruksional, sebaiknya dititikberatkan pada siswa yang harus lebih efektif melakukan kegiatan belajar. Untuk itu maka haruslah dipilih pendekatan mengajar yang berorientasi kepada cara belajar siswa aktif.

g) Menggunakan media pembelajaran untuk memperjelas pembahasan setiap pokok materi sangat diperlukan. Media pembelajaran seperti alat peraga grafis, model atau alat peraga yang diproyeksikan harus sudah disiapkan sebelumnya.

3) Kegiatan Akhir Pembelajaran

a) Pada kegiatan ini siswa diberi kesempatan untuk berkonsultasi berkaitan dengan apa yang telah disampaikan.

b) Refleksi/evaluasi belajar guru mendorong siswa untuk memberikan kesimpulan terhadap materi yang telah disampaikan, contohnya dengan cara mendiskusikan dalam kelompok.

c) Guru menutup kegiatan akhir pelajaran dengan memberikan kesimpulan materi yang diajarkan.

Selanjutnya tahapan yang ketiga atau yang terakhir, adalah tahap evaluasi atau penilaian kegiatan pembelajaran. Tujuan tahapan ini, ialah untuk mengetahui tingkat keberhasilan daritahapan kedua (instruksional).

c. Evaluasi/ Penilaian Pembelajaran

Menurut Mangkunegara (2001: 54) “Penilaian adalah proses sistematis yang meliputi pengumpulan informasi (angka atau deskripsi verbal), analisis dan interpertasi untuk mengambil keputusan”.

Yangesti Insani Kusumah, 2012

Pengaruh Supervisi Klinis Oleh Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Mengajar Guru Di Sma Al-Ma’soem Jatinangor

Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu

Sedangkan menurut Syaiful Sagala (2010:99) penilaian pendidikan adalah :

Proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik, untuk itu diperlukan data sebagai informasi yang diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan, dalam hal ini keputusan berhubungan dengan sudah atau belum berhasilnya peserta didik dalam mencapai suatu kompetensi.

Selanjutnya menurut Wijaya (2002: 110) mengemukakan penilaian, bahwa:

Proses yang dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, penyusunan alat penilaian, pengumpulan informasi melalui sejumlah bukti yang menunjukan pencapaian hasil belajar peserta didik, pengolahan dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik.

Syaiful Sagala (2009:228) mengemukakan kegiatan penilaian pembelajaran dilakukan setelah tahap kegiatan inti, yaitu:

...setelah mengakhiri pelajaran guru melakukan penilaian kemudian mengadministrasikan dan memanfaatkan hasil evaluasi belajar siswa untuk memperbaikan proses belajar mengajar selanjutnya.

Penilaian hasil belajar baik formal ataupun informal diadakan dalam suasana yang menyenangkan, sehingga memungkinkan peserta didik menunjukkan apa yang dipahami dam mampu dikerjakannya. Hasil belajar seorang peserta didik tidak dianjurkan untuk dibandingkan dengan peserta didik yang lainnya, tetapi dibandingkan dengan hasil yang dimiliki peserta didik sebelumnya, dengan demikian peserta didik tidak merasa dihakimi oleh guru tetapi dibantu untuk mencapai apa yang diharapkan.

Yangesti Insani Kusumah, 2012

Pengaruh Supervisi Klinis Oleh Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Mengajar Guru Di Sma Al-Ma’soem Jatinangor

Universitas Pendidikan Indonesia | Repository.Upi.Edu

Ketiga tahap yang telah dibahas, merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang terpadu, tidak terpisahkan satu sama lain. Selanjutnya sesuai dengan pendapat Danim (2004:67) mengemukakan bahwa:“Guru dituntut untuk mampu dan dapat mengatur waktu dan kegiatan secara fleksibel, sehingga ketiga rangkaian tersebut diterima oleh siswa secara utuh”.

Guru yang memiliki kinerja tinggi akan bernafsu dan berusaha meningkatkan kompetensinya, baik dalam kaitannya dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun penilaian pembelajaran, sehingga diperoleh hasil kerja yang optimal.

Letak keterampilan profesional dari seorang guru dalam melaksanakan strategi mengajar yaitu kemampuan mengajar seperti di lukiskan secara teoritasmudah dikuasai, namun dalam prakteknya tidak semudah seperti digambarkan. Hanya dengan latihan dan kebiasaan yang terencana, kemampuan itu dapat diperoleh.

Dokumen terkait