• Tidak ada hasil yang ditemukan

UJI KINERJA MESIN DIESEL BERBAHAN BAKAR BIODIESEL PARTIALLY HYDROGENATED

UJI KINERJA MESIN DIESEL BERBAHAN BAKAR BIODIESEL PARTIALLY HYDROGENATED

A. D. Putra A

1)

, I K. G. Wirawan

2*)

, A. Ghurri

2)

1)Mahasiswa Program Studi Sarjana Teknik Mesin Universitas Udayana, Kampus Bukit Jimbaran Bali

2)Dosen Program Studi Sarjana Teknik Mesin Universitas Udayana, Kampus Bukit Jimbaran Bali

Abstrak

Ketersediaan Bahan bakar minyak (BBM) bumi semakin harinya semakin berkurang, akibat tingkat konsumsi yang semakin meningkat. Dalam mengatasi itu perlu dilakukannya pemakaian bahan bakar alternatif, salah satunya adalah biodiesel dengan bahan baku minyak jelantah. Biodiesel ini memiliki stabilitas oksidasi yang rendah. Oleh karena itu perlu dilakukan proses partially - hydrogenated (PH) agar stabilitas oksidasi lmenjadi ebih baik. Bahan bakar ini digunakan dalam pengujian kinerja mesin dengan menggunakan chassis dynamometer yang meliputi pengujian torsi, daya, serta specific fuel consumption (SFC). Bahan bakar yang digunakan adalah solar (D100), campuran solar 90%-biodiesel 10% v/v ( B10), campuran solar 90%-biodiesel PH 10% v/v (D90PH10), campuran solar biodiesel 20% v/v (B20), campuran solar 80%-biodiesel PH 20% v/v (D80PH20), campuran solar 70%-80%-biodiesel 30% v/v (B30), dan campuran solar 70%-80%-biodiesel PH 30% v/v ( D70PH30). Pengujian ini dilakukan dengan memvariasikan putaran mesin dari terendah yang terbaca oleh sensor sebesarv1500 rpm sampai limit putaran terbaca sensor yakni 4500 rpm, dengan interval kenaikan 100 rpm. Dari hasil pengujian yang dilakukan menunjukan bahwa bahan bakar biodiesel PH sebagian besar memiliki hasil torsi, daya, dan SFC yang lebih baik dibandingkan biodiesel biasa, yang menunjukan lebih hemat bahan bakar dan mampu menghasilkan daya yang lebih besar.

Kata kunci: Biodiesel, Daya, Partially - Hydrogenated, Specific Fuel Consumption (SFC), Torsi.

Abstract

The availability of fuel oil (BBM) from earth's is decreasing day by day, due to the increasing level of consumption. To overcome this, it is necessary to use alternative fuels, one of which is biodiesel with used cooking oil as raw material. This biodiesel has low oxidation stability. Therefore, it is necessary to carry out a partially - hydrogenated (PH) process so that the oxidation stability of l becomes better. This fuel is used in testing engine performance using a chassis dynamometer which includes testing of torque, power, and specific fuel consumption (SFC). The fuels used are diesel (D100), a mixture of 90%

diesel-biodiesel 10% v/v (B10), a mixture of 90% diesel-biodiesel PH 10% v/v (D90PH10), a mixture of 80% diesel-biodiesel 20% v /v (B20), a mixture of 80% diesel-biodiesel PH 20% v/v (D80PH20), a mixture of 70% diesel-biodiesel 30% v/v (B30), and a mixture of 70% diesel-biodiesel PH 30% v/v (D70PH30). This test is carried out by varying the engine speed from the lowest read by the sensor at v1500 rpm to the sensor reading speed limit of 4500 rpm, with an interval of 100 rpm increments.

The results of the tests carried out show that PH biodiesel fuel mostly has better torque, power, and SFC results than ordinary biodiesel, which shows that it is more fuel efficient and capable of producing greater power.

Keywords: Biodiesel, Power, Partially-Hydrogenated, Specific Fuel Consumption (SFC), Torque

1. Pendahuluan

Sumber energi utama yang digunakan di berbagai negara saat ini adalah minyak bumi yang diolah menjadi berbagai jenis bahan bakar, seperti elpiji, bensin, solar, minyak tanah, dan lain-lain. Pemanfaatan sumber energi ini sangat mendapatkan perhatian yang serius dikarenakan minyak bumi dari hari ke hari semakin menipis ketersediaannya. Untuk mengatasi hal tersebut, dibutuhkan pemakaian bahan bakar alternatif sebagai pengganti bahan bakar fosil yang ketersediaannya semakin menipis. Salah satu bahan bakar alternatif yang bisa digunakan adalah biodiesel.

Penulis ingin menguji minyak jelantah sebagai bahan bakar biodiesel, dikarenakan minyak jelantah merupakan salah satu jenis bahan baku biodiesel yang

berpotensi memiliki jumlah barel minyak yang besar di Indonesia. Besar potensi produksi minyak biodiesel dari enam jenis bahan baku biodiesel meliputi jarak pagar 557842 ribu barel minyak biodiesel, kelapa sawit 438876 ribu barel, alga 258867 ribu barel, kelapa 238455 ribu barel, minyak jelantah 45515 ribu barel, dan karet 3989,7 ribu barel [1].

Minyak jelantah tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi dikarenakan mengandung senyawa-senyawa bersifat karsinogenik (zat yang dapat menyebabkan kanker) yang terjadi selama proses penggorengan. Minyak jelantah apabila tetap dikonsumsi dapat menyebabkan berbagai penyakit diantaranya tekanan darah tinggi, kanker dan kecerdasan [2]. Proses penggorengan akan menyebabkan dekomposisi asam lemak pada batas

Putra et al. · Prosiding KNEP XI – 2021 · ISSN 2338-414X 90 tertentu sehingga mengakibatkan minyak menjadi tidak

layak lagi digunakan [3]. Maka dari itu, pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku biodiesel akan sangat berguna serta dapat mengurangi pencemaran lingkungan yang terjadi akibat pembuangan minyak jelantah secara sembarangan.

Salah satu parameter penting dalam kualitas biodiesel adalah stabilitas oksidasi. Stabilitas oksidasi merupakan ketahanan suatu zat untuk tidak mengalami biodegradatif oksidasi. Sebagai bahan bakar yang mengandung oksigen (oxygenated fuel), stabilitas oksidasi pada biodiesel masih lebih rendah dibandingkan dengan minyak solar. Stabilitas oksidasi dipengaruhi oleh jumlah ikatan tak jenuh yang terdapat dalam biodiesel [4]. Untuk mengatasi masalah stabilitas oksidasi pada biodiesel ini, dilakukan metode partial hydrogenation untuk meningkatkan stabilitas oksidasi bahan bakar biodiesel. Proses partial hydrogenation merupakan cara yang baik dalam meningkatkan stabilitas oksidasi dengan memutus ikatan rangkap pada biodiesel. Menurut [5].

Oleh sebab itu, menaikan stabilitas oksidasi biodiesel dengan cara partial hydrogenation diharapkan dapat mengoptimalkan penggunaan biodiesel terhadap kinerja mesin. Selain kualitas biodiesel yang baik, putaran mesin juga akan mempengaruhi kinerja suatu mesin. Dikarenakan, semakin cepat putaran pada mesin maka rpm yang dihasilkan juga semakin besar sehingga daya yang dibutuhkan juga semakin besar.

Penelitian dilakukan dengan menguji kinerja pada mesin yang meliputi torsi dan daya yang dihasilkan dari proses pembakaran yang digunakan untuk memutarkan mesin dengan memvariasikan putaran mesin. Setelah nilai torsi dan daya pada mesin didapatkan, besar SFC (Specific Fuel Comsumption) dapat dihitung yang merupakan banyaknya jumlah konsumsi bahan bakar yang digunakan saat mesin bekerja. Semakin kecil SFC bahan bakar pada suatu mesin maka menunjukan semakin efisien bahan bakar dan mesin tersebut.

2. Metode Penelitian 2.1. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada pengujian kinerja mesin kali ini, yaitu :

Bahan yang digunakan pada pengujian kinerja mesin yaitu: partially-hydrogenated biodiesel dan pengujian kinerja mesin pada chassis dynamometer.

Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam proses partial hydrogenation adalah sebagai berikut [6]

:

1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan seperti yang sudah dijelaskan di atas.

2. Memulai penelitian dengan penimbangan massa bahan sesuai dengan variabel penelitian yang dimasukkan kedalam gelas kimia dan ditimbang di timbangan massa, adapun bahan yang ditimbang, seperti:

a.

Biodiesel sebanyak 350g.

b.

Aquades sebanyak 180g.

c.

Aluminium oksida sebanyak 5% dari massa biodiesel yang digunakan untuk penelitian ini atau sebanyak 17,5g.

d.

Isopropil alcohol sebanyak 180g.

3. Melakukan proses partial hydrogenation pada magnetic stirrer dengan mengatur putaran sebesar 500 rpm dan temperatur sebesar 80°C, dengan lama proses 90 menit.

4. Biodiesel yang sudah melalui proses partial hydrogenation siap untuk diuji.

Proses selajutnya adalah proses uji kinerja mesin pada chassis dynamometer. Adapun prosesnya adalah sebagai berikut:

1. Pastikan peralatan uji sudah siap, lalu posisikan mesin uji di tempat yang aman.

2. Pengujian pertama menggunakan D100 (Solar Murni) dan biodiesel B10, B20, B30, setelah itu menggunakan biodiesel yang sudah melalui proses partial hydrogenation (D90 PH10, D80 PH20, D70 PH30).

3. Siapkan selang dan gelas ukur guna menghitung banyaknya bahan bakar yang terpakai dengan metode by pass dari tangki bahan bakar.

4. Mesin kendaraan dinyalakan terlebih dahulu untuk dipanaskan dalam keadaan tanpa beban (idle) kurang lebih dalam waktu sekitar 10 menit agar mesin bekerja pada temperatur normal.

5. Kendaraan dinaikan ke atas alat pengujian (chassis dynamometer).

6. Roda depan kendaraan diposisikan diatas roller, dan roda belakang pada dyno bagian belakang.

7. Sisi kanan dan kiri kendaraan diikat dengan sabuk pada bagian roda depan dan belakang agar kendaraan seimbang dan meningkatkan keamanan.

8. Persiapkan stopwatch untuk mengukur waktu habisnya pemaikan bahan bakar.

9. Nyalakan mesin uji, dan kondisikan mesin pada gigi 4.

10. Melakukan pengujian pada mesin untuk mendapatkan besar torsi dan daya dengan metode putaran throttle spontan.

11. Pedal gas kendaraan ditekan hingga putaran mesin mencapai limit rpm yang terbaca sensor.

Hasil dari pengujian akan langsung tercatat pada komputer.

12. Melakukan pengujian dengan memperhatikan besarnya konsumsi bahan bakar yang dipakai.

13. Teliti dan catat waktu serta hasil yang sudah didapatkan dari pengujian.

14. Ulangi langkah-langkah di atas saat melakukan pergantian bahan bakar.

Putra et al. · Prosiding KNEP XI – 2021 · ISSN 2338-414X 91 Pada pengujian kinerja mesin, yang diuji

merupakan besar torsi, daya, serta SFC yang dihasilkan dalam penggunaan bahan bakar.

Torsi merupakan kemampuan mesin/motor dalam melakukan kerja. Torsi dapat dihitung dengan :

T = F x s (1)

Dimana : T = torsi (N.m) F = gaya (N) s = jarak (m)

Perbandingan perhitungan daya terhadap bebagai macam motor tergantung pada putaran mesin dan momen putar itu sendiri, semakin cepat putaran mesin, rpm yang dihasilkan akan semakin besar sehingga daya yang dihasilkan juga semakin besar.

P = ଶగǤ௡Ǥ் Specific Fuel Consumption merupakan perhitungan banyaknya bahan bakar yang digunakan mesin untuk menghasilkan daya dalam waktu tertentu.

Semakin besar nilai SFC suatu bahan bakar maka dapat dikatakan bahwa mesin tersebut memerlukan bahan bakar yang banyak untuk menghasilkan daya.

SFC = ୫୤

(3)

Dimana : mf = laju aliran massa (kg/h)

SFC = Konsumsi bahan bakar spesifik (kg/kWh)

P = Daya (kW)

3600 = 1 jam (60 menit = 3600 s)

Sedangkan besarnya mf (laju aliran massa) dapat dihitung sebagai berikut :

mf = ௦௚௙Ǥ௏௙Ǥଵ଴̰ିଷ

௧௙ x 3600 (4) Dimana : mf = Laju aliran massa bahan bakar (kg/h)

Sgf = Spesifik grafity (gr/ml).

Vf = Volume bahan bakar yang diuji (ml).

tf = Lama waktu habisnya bahan bakar (s) Berdasarkan hasil uji laboratorium (ASTM D 1298) D100/solar murni memiliki specific gravity sebesar 0,852 [7], sedangkan untuk biodiesel berdasarkan Baku Mutu (SNI 04-7128-2006) memiliki specific gravity sebesar 0,8624 [8].

Untuk bahan bakar yang merupakan campuran D100 dan biodiesel, nilai sgf dapat digitung menggunakan rumus berikut :

Sgf (%) = (A x 0,852) + (B x 0,8624) (5)

Dimana : A = presentase kandungan D100 B = presentase kandungan biodiesel 3. Hasil dan Pembahasan

3.1. Daya dan Torsi

Pada hasil daya dan torsi menggunakan bahan bakar D100 (solar murni) dilihat bahwa hasil daya terbsesar yang bisa dihasilkan terdapat pada putaran 3000 rpm, yaitu 47.49 HP (35.34 kW) dan torsi terbesar pada putaran 1900 rpm, yaitu 104.78 ft.lbs (142.06 N.m) seperti yang terlihat pada grafik di bawah ini.

Gambar 1. Grafik Hasil Daya dan Torsi D100 Untuk hasil daya dan torsi dalam penggunaan bahan bakar B10, didapat daya terbesar terdapat pada putaran 3000 rpm 49.47 HP (36.89 kW) dan torsi terbesar pada putaran 2100 rpm 107.67 ft.lbs (145.98 N.m).

Gambar 2. Grafik Hasil Daya dan Torsi B10 Pada penggunaan bahan bakar D90 PH10, didapat daya terbesar yang dihasilkan terdapat pada putaran 3300 rpm 51.3 HP (38.25 kW) dan torsi terbesar pada 2000 rpm 106.37 ft.lbs (144.22 N.m).

.

Gambar 3. Grafik Hasil Daya dan Torsi D90 PH10 0

50 100 150

1500 1700 1900 2100 2300 2500 2700 2900 3100 3300 3500 3700 3900 4100 4300 4500

Max Power= 47.39 HP @3000(RPM) , Max Torque= 104.78 ft.lbs @1900(RPM)

1500 1700 1900 2100 2300 2500 2700 2900 3100 3300 3500 3700 3900 4100 4300 4500

Max Power= 49.47 HP @3000(RPM) , Max Torque= 107.67 ft.lbs @2100(RPM)

1500 1700 1900 2100 2300 2500 2700 2900 3100 3300 3500 3700 3900 4100 4300 4500

Max Power= 51.3 HP @3300(RPM) , Max Torque= 106.37 ft.lbs @2000(RPM)

Power (HP) Torque (ft.lbs)

Putra et al. · Prosiding KNEP XI – 2021 · ISSN 2338-414X 92 Untuk hasil daya dan torsi dalam penggunaan

bahan bakar B20, didapat daya terbesar terdapat pada putaran 3200 rpm 51.06 HP (38.08 kW) dan torsi terbesar pada 2000 rpm 108.75 ft.lbs (147.45 N.m).

Gambar 4. Grafik Hasil Daya dan Torsi B20 Pada penggunaan bahan bakar D80 PH20, didapat daya terbesar yang dihasilkan terdapat pada putaran 3200 rpm 49.51 HP (36.92 kW) dan torsi terbesar pada 2200 rpm 102. 46 ft.lbs (138.92 N.m).

Gambar 5. Grafik Hasil Daya dan Torsi D80 PH20 Untuk hasil daya dan torsi dalam penggunaan bahan bakar B30, didapat daya terbesar terdapat pada putaran 3100 rpm 50.78 HP (37.87 kW) dan torsi terbesar pada 2100 rpm 106.42 ft.lbs (144.29 N.m).

Gambar 6. Grafik Hasil Daya dan Torsi B30 Pada penggunaan bahan bakar D70 PH30, didapat daya terbesar yang dihasilkan terdapat pada putaran 3200 rpm 50.85 HP (37.92 kW) dan torsi terbesar pada 2100 rpm 105.45 ft.lbs (142.97 N.m).

Gambar 7. Grafik Hasil Daya dan Torsi D70 PH30 Jika dilihat dari keseluruhan hasil daya dan torsi pada penggunaan seluruh bahan bakar di setiap putaran rpm, seiring dengan bertambahnya putaran mesin untuk setiap bahan bakar mengalami kenaikan dan penurunan daya serta torsi yang dihasilkan. Untuk daya cenderung naik dan mencapai titik maksimum pada putaran 3000 rpm – 3300 rpm, dan setelah itu mengalami penurunan. Untuk torsi sendiri mengalami kenaikan dan mencapai titik maksimumnya pada putaran 1900 rpm – 2200 rpm, dan setelah itu mengalami penurunan juga.

Gambar 8. Grafik Daya Seluruh Bahan Bakar

Gambar 9. Grafik Torsi Seluruh Bahan Bakar 3.2. SFC (Specific Fuel Consumption)

0 50 100 150

1500 1700 1900 2100 2300 2500 2700 2900 3100 3300 3500 3700 3900 4100 4300 4500

Max Power= 51.06 HP @3200(RPM) , Max Torque= 108.75 ft.lbs @2000(RPM)

Power (HP) Torque (ft.lbs)

0 50 100 150

1500 1700 1900 2100 2300 2500 2700 2900 3100 3300 3500 3700 3900 4100 4300 4500

Max Power= 49.51 HP @3200(RPM) , Max Torque= 102.46 ft.lbs @2200(RPM)

Power (HP) Torque (ft.lbs)

0 50 100 150

1500 1700 1900 2100 2300 2500 2700 2900 3100 3300 3500 3700 3900 4100 4300 4500

Max Power= 50.78 HP @3100(RPM) , Max Torque= 106.42 ft.lbs @2100(RPM)

Power (HP) Torque (ft.lbs)

0 50 100 150

1500 1700 1900 2100 2300 2500 2700 2900 3100 3300 3500 3700 3900 4100 4300 4500

Max Power= 50.85 HP @3200(RPM) , Max Torque= 105.45 ft.lbs @2100(RPM)

Power (HP) Torque (ft.lbs)

0,00 50,00 100,00 150,00 200,00

1500 1700 1900 2100 2300 2500 2700 2900 3100 3300 3500 3700 3900 4100 4300 4500

Torsi (N.m)

D100 B10 D90 PH10

B20 D80 PH20 B30

D70 PH30 0,00

10,00 20,00 30,00 40,00 50,00

1500 1700 1900 2100 2300 2500 2700 2900 3100 3300 3500 3700 3900 4100 4300 4500

Daya (kW)

D100 B10 D90 PH10

B20 D80 PH20 B30

D70 PH30

Putra et al. · Prosiding KNEP XI – 2021 · ISSN 2338-414X 93

Tabel 1. Hasil Perhitungan SFC (Specific Fuel Consumption)

Rpm SFC (kg/kWh)

D100 B10 D90 PH10 B20 D80 PH20 B30 D70 PH30

1500 0.2854 - - 6.6839 37.5773 - -

1600 0.3041 2.7380 1.8456 5.5315 2.2245 - -

1700 0.2281 0.4375 0.3303 0.5919 1.2408 1.1939 1.1098

1800 0.2005 0.3236 0.2393 0.2886 1.0617 0.2039 0.2696

1900 0.1884 0.2240 0.1864 0.2175 0.4207 0.1433 0.1635

2000 0.1800 0.1890 0.1690 0.1937 0.2993 0.1163 0.1284

2100 0.1729 0.1768 0.1619 0.1847 0.2586 0.1072 0.1174

2200 0.1674 0.1715 0.1562 0.1790 0.2451 0.1033 0.1134

2300 0.1634 0.1673 0.1510 0.1739 0.2385 0.1005 0.1103

2400 0.1602 0.1640 0.1469 0.1700 0.2329 0.0980 0.1075

2500 0.1575 0.1615 0.1438 0.1669 0.2285 0.0960 0.1050

2600 0.1552 0.1593 0.1413 0.1643 0.2242 0.0941 0.1029

2700 0.1536 0.1572 0.1391 0.1619 0.2201 0.0925 0.1011

2800 0.1524 0.1551 0.1373 0.1599 0.2170 0.0912 0.0995

2900 0.1515 0.1541 0.1362 0.1584 0.2153 0.0903 0.0985

3000 0.1507 0.1539 0.1352 0.1576 0.2143 0.0898 0.0979

3100 0.1508 0.1540 0.1343 0.1572 0.2133 0.0898 0.0975

3200 0.1515 0.1540 0.1336 0.1571 0.2125 0.0901 0.0973

3300 0.1516 0.1540 0.1335 0.1575 0.2126 0.0903 0.0974

3400 0.1525 0.1542 0.1341 0.1584 0.2139 0.0907 0.0979

3500 0.1545 0.1557 0.1353 0.1605 0.2162 0.0920 0.0990

3600 0.1569 0.1594 0.1370 0.1644 0.2196 0.0936 0.1004

3700 0.1609 0.1646 0.1394 0.1686 0.2249 0.0951 0.1019

3800 0.1658 0.1694 0.1426 0.1727 0.2321 0.0970 0.1042

3900 0.1714 0.1727 0.1464 0.1771 0.2389 0.0994 0.1069

4000 0.1779 0.1784 0.1508 0.1825 0.2459 0.1026 0.1103

4100 0.1858 0.1878 0.1577 0.1911 0.2566 0.1071 0.1158

4200 0.1981 0.2042 0.1670 0.2028 0.2727 0.1123 0.1225

4300 0.2139 0.1987 0.1788 0.2217 0.2964 0.1192 0.1308

4400 0.2775 0.2200 0.1979 - 0.3343 0.1289 0.1425

4500 - - - - - 0.1601 0.1749

Rata-rata 0.1813 0.2745 0.2175 0.6019 1.6170 0.1444 0.1526

Dari yang terlihat pada tabel 1, sebagian besar nilai SFC (Specific Fuel Consumption) pada setiap putaran untuk bahan bakar non partially-hydrogenated rata-rata selalu lebih rendah dibandingkan bahan bakar partially-hydrogenated, kecuali untuk bahan bakar B10. Pada bahan bakar B10, nilai SFC-nya sebagian besar lebih rendah di setiap putaran pada bahan bakar partially-hyrogenated dengan menghasilkan SFC terendah sebesar 0,1335 (kg/kWh).

Jika dibandingkan dengan bahan bakar lain, pada B30 dan D70 PH30 (Partially-Hydrogenated) memiliki rata-rata nilai SFC terendah, yaitu sebesar 0,1444 (kg/kWh) dan 0,1526 (kg/kWh). Bahan bakar B30 dan D70 PH30 (Partially-Hydrogenated) juga menghasilkan nilai SFC yang terkecil sebesar 0,0898 (kg/kWh) dan

0,0973 (kg/kWh) yang menunjukan bahwa bahan bakar B30 memiliki SFC terbaik diantara bahan bakar lainnya dengan menghasilkan daya maksimum sebesar 37,87 (kW) dan 37,92 (kW). Bahan bakar yang menghasilkan nilai rata-rata SFC tertinggi di setiap putaran diantara bahan bakar lainnya adalah bahan bakar D80 PH20 dengan nilai 1,6170 (kg/kWh). Nilai SFC terendah dari D80 PH20 yaitu 0,2125 (kg/kWh) dengan menghasilkan daya maksimum sebesar 36,92 (kW).

Namun, jika dilihat dari besarnya rata-rata daya tertinggi yang dihasilkan pada setiap bahan bakar di setiap putarannya, D90 PH10 (Partially-Hydrogenated) menghasilkan rata-rata daya paling besar dengan nilai 32,30 (kW) dan memperoleh daya maksimum sebesar 38,20 (kW). Bahan bakar ini juga memiliki rata-rata nilai

Putra et al. · Prosiding KNEP XI – 2021 · ISSN 2338-414X 94 SFC terendah setelah B30, D70 PH30, dan D100 yaitu

sebesar 0,2175 (kg/kWh). Berdasarkan hal tersebut, maka bisa dibilang bahan bakar D90 PH10 (Partially-Hydrogenated) mampu menghasilkan daya paling besar diantara bahan bakar lainnya dengan memiliki nilai SFC yang cukup rendah.

4. Simpulan

Berdasarkan hasil pengujian kinerja mesin diesel pada uji dynamometer test di atas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Bahan bakar yang memiliki rata-rata torsi terbesar di antara bahan bakar lainnya terdapat pada bahan bakar D90 PH10 dengan nilai 106,79 (N.m). Pada pengujian di atas, nilai torsi yang dihasilkan setiap bahan bakar tidak menunjukan perbedaan yang signifikan. Kecuali untuk bahan bakar D80 PH20 yang memiliki rata-rata nilai torsi hanya sebesar 93,81 (N.m).

2. Daya terbesar yang dihasilkan terdapat pada bahan bakar D90 PH10 dengan nilai 38,20 (kW), bahan bakar D90 PH10 juga memiliki rata-rata nilai daya terbesar diantara bahan bakar lainnya dengan nilai 32,30 (kW).

3. Rata-rata nilai SFC untuk bahan bakar non partially-hydrogenated selalu lebih rendah dibandingkan bahan bakar partially-hydrogenated.

Kecuali untuk bahan bakar B10, dimana D90 PH10 memiliki rata-rata nilai SFC lebih rendah dibandingkan B10 biasa, yaitu sebesar 0,2175 (kg/kWh).

4.

Nilai SFC terendah terdapat pada bahan bakar B30 dan D70 PH30 yaitu sebesar 0,0898 (kg/kWh) dan 0,0973 (kg/kWh) dengan rata-rata nilai SFC sebesar 0,1444 (kg/kWh) dan 0,1526 (kg/kWh) . Serta bahan bakar yang memiliki rata-rata nilai SFC tertinggi terdapat pada bahan bakar D80 PH20 dengan nilai 1,6170 (kg/kWh

).

Ucapan Terima Kasih

Terimakasih saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan ini dengan baik dan lancar.

Dalam penyusunan laporan ini penulis tidak sedikit mendapat bantuan dari berbagai pihak, untuk itu saya mengucapkan termakasih banyak kepada:

1. Bapak Dr. Ir. I Wayan Bandem Adnyana, M.Erg., selaku Koordinator Program Studi Teknik Mesin Universitas Udayana.

2. Bapak Dr. Ir. I Ketut Gede Wirawan, MT selaku Dosen Pembimbing I yang telah memberikan kritik, saran dan waktunya selama penyusunan laporan ini.

3. Bapak Ainul Ghurri, ST,MT,Ph.D., selaku Dosen Pembimbing II serta sebagai Dosen Pembimbing Akademik.

4. Bapak/Ibu dosen serta staf pegawai Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Udayana.

5. Kedua Orang Tua dan seluruh keluarga saya yang telah memberikan dukungan baik moral maupun spiritual sehingga Skripsi ini bisa diselesaikan dengan baik.

6. Dan kepada seluruh pihak yang tidak dapat penulis

sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa laporan ini tentu masih kurang dari kata sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran sangat diharapkan dari berbagai pihak, guna memperbaiki kesalahan dan kekeliruan kedepannya.

Penulis mohon maaf apabila ada kekurangan ataupun kesalahan dalam penulisan laporan ini.

Daftar Pustaka

[1] Priyohadi Kuncahyo, Aguk Zuhdi M. Fathallah, Semin, 2013, ‘Analisa Prediksi Potensi Bahan Baku Biodiesel Sebagai Suplemen Bahan Bakar Motor Diesel Di Indonesia’, Vol. 2, No. 1, Halaman:

B-62.

[2] Dising, Julianus 2006. ‘Optimasi Proses Pembuatan Biodiesel dari Minyak Jelantah’.

Makassar : Jurusan Teknik Kimia UKI Paulus.

[3] Rukmini, Ambar, 2007, ‘Regenerasi Minyak Goreng Bekas Dengan Arang Sekam Menekan Kerusakan Organ Tubuh’, Halaman : A-2.

[4] Maharani Dewi, 2 Mei 2017, ‘Biodiesel Berkualitas dengan Uji Stabilitas Oksidasi‘, (Balai Teknologi Bahan Bakar Dan Rekayasa Disain), Available:

https://btbrd.bppt.go.id/component/content/article/

28-articles/194-biodiesel-berkualitas-dengan-uji-stabilitas-oksidasi?Itemid=101, Accessed: (25 November 2020).

[5] O’Brien, R. D. 2004, “Fats and oils: formulating and processing for applications”, New York, 1–

574. https://doi.org/10.1002/9781118827123.

[6] Wisnu, Ilham Ari, (2020), ‘Pengaruh Variasi Waktu Dan Massa Hidrogen Donor Pada Proses Partial Hydrogenation Biodiesel Minyak Jelantah Terhadap Nilai Stabilitas Oksidasi’, Skripsi Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Udayana, Bali.

[7] Nurtanto, Muhammad, 2017, ‘Karakteristik Dan Konsumsi Bahan Bakar Minyak Solar Dengan Minyak Kemijen Pada Motor Diesel’, Vol 1, No.2 Halaman : 117-124.

[8] Priatni, A, Adiningsih, Y, Fitriani, 2014,

‘karakterisasi sifat fisik kimia biodiesel dari Transesterifikasi enzimatis dan pengaruhnya terhadap emisi gas buang’, Vol. 8, No. 15, Halaman : 27-36.

Putra et al. · Prosiding KNEP XI – 2021 · ISSN 2338-414X 95 Alan Dharma Putra Afandhi

menyelesaikan pendidikan SMA di SMA Negeri 2 Mengwi pada tahun 2017. Saat ini berstatus sebagai mahasiswa semester 8 di Program Studi Teknik Mesin, Universitas Udayana.

I Ketut Gede Wirawan menyelesaikan Pendidikan S1 Teknik Mesin di Universitas Brawijaya. Memperoleh gelar Master of Engineering di Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya pada tahun 2000. Gelar doktor diperoleh di Universitas Brawijaya tahun 2014.

Ainul Ghurri menyelesaikan pendidikan S1 Teknik Mesin di Universitas Brawijaya pada tahun 1995. Pendidikan magister Teknik Mesin diselesaikan di Universitas Indonesia pada tahun 1998 dengan area riset tentang computational fluid dynamics. Pada tahun 2012 ia menyelesaikan pendidikan doktoral di Chonbuk National University, Korea Selatan. Saat ini ia bekerja sebagai dosen di Jurusan Teknik Mesin Uinversitas Udayana.

Bidang penelitian utama yang digeluti adalah fuel spray, spray technology, internal combustion engine, dan CFD.

Prosiding Konferensi Nasional Engineering Perhotelan XI, Universitas Udayana - 2021 ISSN 2338-414X

*Korespondensi: Tel./Fax.: 082213460901 / - E-mail: [email protected] ÓTeknik Mesin Universitas Udayana 2021

Unjuk Kerja Variasi Diameter Nozzle Terhadap Distribusi Temperatur Nyala