Berdasarkan 4.23 diketahui bahwa kinerja pendidik dari sekolah yang menjadi objek amatan berada pada katogori sangat baik dan baik. SDN Rata-rata kinerja pendidik SDN Kategori I dan II adalah 78, 48 dan 81,33. Hal ini dapat diartikan sebagai kualitas dan kuantitas telah melaksanakan tanggung jawab, kejujuran, kerjasama dan prakarsa, yang tercermin di dalam pelaksanaan pembelajaran yang meliputi penyusunan program, penyajian program, pelaksanaan evalusasi, analisis hasil evaluasi, dan perbaikan dan pengayaan. Dapat dimaknai bahwa secara kelompok telah mencapai sasaran organisasi dan dalam memenuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya, sehingga membuahkan tindakan dan hasil yang diinginkan oleh organisasi. Kondisi tersebut berbeda dengan SDN Kategori III, dimana rata-rata
kinerja pendidik 59,07 pada kategori baik. Meskipun dalam kategori baik, hal ini belum sepenuhnya mencerminkan pencapaian sasaran organisasi.
G.Pembahasan
Pada bagian ini data dan temuan penelitian dibahas untuk menemukan makna yang mendasari hasil penelitian dan dianalisis dengan mendasarkan pada teori-teori yang telah ada. Teori yang dimaksud adalah makna MBS ditinjau dari tujuan MBS secara
umum yaitu untuk meningkatkan kinerja sekolah
melalui pemberian kewenangan dan tanggungjawab yang lebih besar kepada sekolah yang dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola sekolah yang baik, yakni peningkatan partisipasi, transparansi dan akuntabilitas ( Depdiknas 2006:13). Proses manajemen diawali dengan penyusunan program sebagai acuan melaksanakan kegiatan dengan melaksanakan fungsi-fungsi manajemen yang terdiri dari proses Perencana-an, PengorganisasiPerencana-an, pengarahPerencana-an, peman-tauPerencana-an, dan penilaian (Sagala 2009:56)
Berdasarkan paparan hasil penelitian, diketahui bahwa secara umum, kepala sekolah telah berusaha melaksanakan MBS sesuai dengan kondisi yang ada di sekolah. Pelaksanaan transparansi manajemen MBS di SDN Kategori I belum dilaksanakan secara maksimal. Kemudahan memperoleh informasi penyelenggaraan sekolah masih terbatas di dalam lingkungan sekolah, belum didukung media informasi yang mudah diketahui oleh masyarakat luas. Belum tersedianya
media bagi masyarakat luas, mungkin disebabkan masih adanya sikap keengganan sekolah untuk lebih terbuka belum dilaksanakannya fungsi-fungsi manaje-men dengan baik. Akuntabilitas dilaksanakan baik dengan adanya laporan penyelenggaraan sekolah kepada pihak terkait. Bentuk akuntabilitas adalah adanya prestasi yang dicapai oleh sekolah. Partisipasi masyarakat berjalan cukup baik, namun peranserta unsur-unsur masyarakat seperti DIDU, Karang Taruna, PKK belum ada. Pada sisi lain, rata-rata Kinerja Pendidik diperoleh angka 78,48 % dalam kategori sangat baik. Hal ini kemungkinan bukan semata-mata merupakan dampak dari pelaksanaan MBS, akan tetapi bisa karena SDN Kategori I adalah SD Inti.
Sejalan dengan sasaran MBS sebagaimana dimaksudkan oleh Depdiknas (2006), bahwa tujuan
MBS secara umum yaitu untuk meningkatkan kinerja
sekolah melalui pemberian kewenangan dan
tanggungjawab yang lebih besar kepada sekolah yang dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip tata kelola sekolah yang baik, prinsip partisipasi, dan akunta-bilitas telah sesuai dengan teori tersebut. Akan tetapi prinsip transparansi belum bisa dilaksanakan dengan baik. Dalam perencanaan, sekolah belum melaksana-kan prinsip manajemen. Hal ini belum sesuai dengan apa yang disebutkan oleh Sagala Sagala (2009) bahwa Peningkatan kinerja sekolah merupakan realisasi dari proses manajemen yang dimulai dengan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pemantauan, dan penilaian.
Pada SDN Kategori II proses transparansi manajemen, akuntabilitas, dan partisipasi masyarakat telah dilaksanakan dengan adanya beberapa indikator yang dicapai. Transparansi manajemen dilaksanakan lebih baik ditandai dengan adanya kemudahan berbagai pihak memperoleh informasi penyelenggaraan sekolah dengan adanya media informasi di dalam sekolah dan di luar sekolah, meskipun masih terbatas pada informasi penyelenggaran PBM. Akuntabilitas berjalan dengan baik dengan adanya budaya mutu. Terbukti dalam kurun waktu lima tahun berjalan, telah banyak prestasi yang dicapai sekolah. Partisipasi masyarakat berjalan baik dengan adanya dukungan dalam bentuk pemikiran, finansial dan barang. Adanya larangan penarikan SPI tidak meyurutkan sekolah dan komite untuk mancari upaya yang terbaik bagi pengembangan sekolah. Hal ini sesuai dengan tujuan
MBS secara umum yaitu untuk meningkatkan kinerja
sekolah melalui pemberian kewenangan dan tanggung-jawab yang lebih besar kepada sekolah yang dilaksana-kan berdasardilaksana-kan prinsip-prinsip tata kelola sekolah yang baik, yakni peningkatan partisipasi, transparansi dan akuntabilitas ( Depdiknas 2006:13).
Peningkatan kinerja sekolah dapat diketahui dengan cukup banyaknya prestasi yang diperoleh SDN Kategori II. Dari rata-rata kinerja Pendidik diketahui sebesar 81,33 % (kategori sangat baik). Peningkatan kinerja sekolah merupakan realisasi dari proses manajemen yang dimulai dengan perencanaan, pengor-ganisasian, pengarahan, pemantauan, dan penilaian
sebagaimana teori yang disampaikan oleh Sagala (2009).
Pelaksanaan MBS di SDN Kategori III menunjuk-kan hasil yang berbeda. Kepala sekolah belum menerapkan fungsi-fungsi manajemen sepenuhnya dalam penyelenggaraan sekolah . Prinsip transparansi manajemen, belum dapat berjalan dengan baik. Keterlibatan stakeholders dalam proses penyusunan program sekolah, serta kemudahan pihak terkait dalam memperoleh informasi tentang proses penyelenggaraan sekolah masih sangat terbatas sekali. Pada prinsip akuntabilitas, sekolah belum memiliki budaya mutu sehingga sekolah belum dapat memberikan hasil yang diharapkan. Partisipasi masyarakat telah berjalan meskipun belum maksimal dengan belum adanya keterlibtan unsur-unsur masyarakat seperti PKK, Karang Taruna, DIDU, danTokoh Masyarakat. Hal ini belum sesuai dengan apa yang di sebutkan oleh Sagala (2009), bahwa proses manajemen diawali dengan penyusunan program sebagai acuan melaksanakan kegiatan dengan melaksanakan fungsi-fungsi manaje-men yang terdiri dari proses Perencanaan, Pengorga-nisasian, pengarahan, pemantauan, dan penilaian. Selanjutnya, rata-rata kinerja pendidik sebesar 59,07 % (kategori baik) belum dapat mewujudkan prestasi sekolah. Hal ini berarti bahwa tujuan MBS untuk meningkatkan kinerja sekolah sebagaimana diharapkan Depdiknas (2006), belum dapat tercapai.