• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1.3 Kinerja Pengelolaan Dana

Pengukuran kinerja birokrasi publik tidak cukup hanya dilakukan dengan menggunakan indikator-indikator yang melekat pada birokrasi seperti efisiensi dan efektivitas, tetapi harus dilihat juga dari indikator-indikator yang melekat pada pengguna jasa seperti kepuasan pengguna jasa, akuntabilitas, dan resposivitas (Dwiyanto, 2003). Oleh karenanya ada beberapa indikator yang dapat digunakan untuk menilai kinerja birokrasi publik yaitu: produktivitas, kualitas layanan, responsivitas, responsibilitas dan akuntabilitas. Kinerja Organisasi pada dasarnya merupakan keseluruhan capaian atau hasil-hasil selama pelaksanaan otonomi daerah. Untuk mencapai tingkat kinerja seperti yang diharapkan tentunya perlu dirumuskan rencana kinerja yang memuat penjabaran sasaran dan program yang telah ditetapkan dalam rencana strategik Organisasi. Berdasarkan rencana strategik tersebut maka dapat diukur sejauhmana Pemda telah mampu mencapai sasaran atau target-target (kinerja) yang telah ditetapkan baik dengan indikator kuantitatif maupun kualitatif.

Adapun memajukan perekonomian yang dimaksud adalah dengan menciptakan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sumber-sumber daya daerah sehingga memberikan dampak peningkatan aspek financial. Dengan demikian, keberhasilan penyelenggaraan otonomi daerah dapat diukur berdasarkan pencapaian tujuan sebagaimana ditetapkan.

Dalam pengertian yang umum, efisiensi berarti organisasi mampu menyelenggarakan pelayanan dan kegiatan-kegiatan pembangunan di daerah dengan lebih murah, mampu menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat dan mampu

bekerja dengan lebih cepat. Organisasi mampu menghasilkan output yang sama dengan biaya yang lebih sedikit, atau menghasilkan output yang lebih besar dengan biaya yang relatif sama, serta mampu menghasilkan output yang sama dengan biaya sama namun waktu yang lebih cepat (Mardiasmo, 2002). Efisiensi dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu efisiensi internal dan efisiensi eksternal (Aswin, 2006). Efisiensi internal (biasanya diukur dengan biaya – efektivitas) menunjuk kepada hubungan antara output anggaran dan input anggaran (sumber daya) yang digunakan untuk memproses atau menghasilkan output anggaran. Sedangkan efisiensi eksternal (biasanya diukur dengan biaya – manfaat) adalah hubungan antara biaya yang digunakan untuk menghasilkan pelayanan dan pembangunan dan keuntungan kumulatif (individual, sosial, ekonomi, dan non-ekonomi) yang diperoleh masyarakat. Dilain aspek, efektivitas digunakan untuk mengukur sejauhmana organisasi mampu bekerja lebih baik dan lebih inovatif untuk menghasilkan sejumlah output yang sama dengan biaya dan waktu yang relatif sama, namun dengan standar kualitas layanan yang lebih baik. Selain itu efektivitas juga dimaknai sebagai kemampuan Pemerintah (Daerah) untuk menangkap aspirasi masyarakat yang dilayaninya dengan memberikan pilihan alternatif sesuai dengan kondisi dan kemampuan masyarakat tersebut (Campo, dkk, 2002).

2.2. Reviu Peneliti Terdahulu

Yaya dan Shofiani (2009) menemukan tidak ada pengaruh antara tingkat penerapan instrumen manajemen terhadap efisiensi dan efektivitas institusi. Renny

(2008), menemukan partisipasi dalam penyusunan anggaran berpengaruh terhadap kinerja manajerial. Hal ini sejalan dengan penelitian Sinambela (2003) yang menemukan partisipasi penyusunan anggaran mempunyai pengaruh yang positif terhadap kinerja manajerial.

Indriantoro dan Supomo (1998) menemukan partisipasi dalam penyusunan anggaran akan meningkatkan kinerja manajerial. Selain itu mereka menemukan ada pengaruh positif budaya organisasi yang berorientasi pada orang dan pengaruh negatif pada budaya organisasi yang berorientasi pada pekerjaan terhadap keefektifan anggaran partisipatif dalam peningkatan kinerja manajerial. Pengaruh positif berarti bahwa budaya organisasi yang berorientasi pada orang cenderung tidak akan menimbulkan kesenjangan anggaran rendah dan sebaliknya, jika budaya organisasi yang berorientasi pekerjaan, akan menimbulkan kesenjangan anggaran tinggi.

Wirjono dan Raharjono (2007) menemukan bahwa interaksi antara kebutuhan akan independensi dalam penyusunan anggaran memiliki pengaruh terhadap kinerja manajerial. Sumarno (2005) menemukan adanya pengaruh dan hubungan negatif yang kuat antara partisipasi anggaran dan kinerja manajerial.

Sedangkan Riyadi (2000), menemukan hubungan pengaruh yang negatif antara motivasi anggaran dengan kinerja manajerial.

Lebih rinci reviu peneliti terdahulu seperti terlihat pada Tabel 2.1 sebagai berikut:

Tabel 2.1. Reviu Peneliti Terdahulu

No

Nama Peneliti/

Tahun

Judul Penelitian Variabel Penelitian Hasil Penelitian 1 Rizal Yaya, Prima Shofiani (2009) Pengaruh pengunaan instrumen manajemen terhadap kinerja Puskesmas (studi empiris di Kabupaten Sleman).

1. Variabel independen:

self assessed tingkat penerapan

manajemen, efektivitas penggunaan instrumen manajemen.

2. Variabel kontrol:

Kualitas manajerial, sumber daya, budaya organisasi. 3. Variabel dependen:

Self assessed kinerja dinas-

dinas di lingkungan Pemda.

Instrumen manajemen tidak berpengaruh terhadap efisiensi, efektivitas Institusi. 2 Maisyaroh Renny (2008) Pengaruh partisipasi penyusunan anggaran terhadap kinerja manajerial dengan komunikasi dan komitmen sebagai variabel moderating pada PDAM Provinsi Sumatera Utara.

1. Variabel independen:

Partisipasi dalam penyusunan anggaran.

2. Variabel moderating:

Komunikasi dan komitmen organisasi.

3. Variabel dependen: Kinerja manajerial.

Partisipasi dalam penyusunan anggaran berpengaruh terhadap kinerja manajerial. 3 Endang Raino Wirjono dan Agus Budi Raharjono (2007) Pengaruh karakteristik personalitas manajer terhadap hubungan partisipasi dalam penyusunan anggaran dengan kinerja manajerial.

1. Variabel independen:

Partsipasi dalam penyusunan anggaran.

2. Variabel moderating: -Kebutuhan akan independensi. - Otoritas.

3. Variabel dependen: Kinerja manajerial.

Interaksi antara kebutuhan akan independensi dengan partisipasi dalam penyusunan anggaran memiliki pengaruh terhadap kinerja manajerial; dan interaksi antara kebutuhan akan otoritas dengan partisipasi dalam penyusunan anggaran memiliki pengaruh terhadap kinerja manajerial. 4 J. Sumarno

(2005)

Pengaruh komitment organisasi dan gaya kepemimpinan terhadap hubungan atara partisipasi anggaran dan kinerja manajerial. 1. Variabel independen: Partisipasi anggaran. 2. Variabel moderating: - Komitmen organisasi. - Gaya kepemimpinan. 3. Variabel dependen: Kinerja manajerial.

Terdapat pengaruh dan hubungan negatif yang kuat antara partisipasi anggaran dan kinerja manajerial; pengaruh komitment organisasi terhadap hubungan partisipasi anggaran dan kinerja manajerial adalah positif dan signifikan; pengaruh gaya kepemimpinan terhadap hubungan antara partisipasi anggaran dan kinerja manajerial adalah tidak signifikan.

5 Sinambela (2003) Pengaruh partisipasi penyusunan anggaran terhadap kinerja manajerial. 1. Variabel independen: Partisipasi penyusuanan anggaran. 2. Variabel dependen: Kinerja manajerial.

Partisipasi penyusunan anggaran mempunyai pengaruh yang positif terhadap kinerja manajerial.

6 Riyadi (2000)

Pengaruh Motivasi dan Pelimpahan wewenang sebagai variabel

moderating dalam

hubungan antara partisipasi penyusunan anggaran dan kinerja manajerial.

1. Variabel independen: 2. Partisipasi Anggaran 3. Variabel moderating:

Motivasi dan Pelimpahan Wewenang.

4. Variabel dependen: Kinerja Manajerial.

Motivasi berpengaru negatif terhadap hubungan anggaran dengan kinerja manajerial.

7 Supomo dan Indriantoro (1998)

Pengaruh struktur dan kultur organisasi terhadap keefektifan partisipasi anggaran dalam peningkatan kinerja manajerial. 1. Variabel independen: Partisipasi anggaran. 2. Variabel moderating:

Struktur dan kultur organisasi. 3. Variabel dependen:

Kinerja manajerial.

Partisipasi dalam penyusunan anggaran akan meningkatkan kinerja manajerial.

Dokumen terkait