TERHADAP BIAYA PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI
F. KINERJA RICE TRANSPLANTER
Secara teknis, pengoperasian rice transplanter relatif mudah dan sederhana. Jumlah tenaga yang terlibat secara langsung hanya 3 orang terdiri dari satu orang operator atau yang mengoperasionalkan rice transplanter, satu orang penyedia/pengangkut bibit dan satu orang penyulam rumpun yang kosong. Kapasitas kerja rice transplanter dipengaruhi oleh kondisi lahan (luas petakan, kedalaman lumpur dan keterampilan operator). Ditinjau dari aspek tenaga kerja, produktivitas dan kualitas tanam menunjukkan bahwa kinerja rice transplanter lebih baik dibandingkan dengan cara tanam manual/konvensional (Tabel 9). Penggunaan rice transplanter lebih efisien dibandingkan dengan cara konvensional (Dinpertan TPH Provinsi Jawa Tengah, 2012).
Tabel 9. Kinerja rice transplanter dibandingkan cara tanam manual.
Parameter Rice Transplanter Manual
Jumlah tenaga kerja 3 orang 10 – 15 orang Produktivitas 6-7 jam/ha 8-10 jam/ha Kualitas tanam konsisten kurang konsisten Kontrol tenaga kerja mudah sulit
Beberapa keunggulan rice transplanter sistem tanam tegel antara lain (1) produktivitas tanam cukup tinggi 6 - 7 jam/ha, (2) jarak tanam dalam barisan dapat diatur dengan ukuran 12, 14, 16, 18, 21 cm, (3) penanaman yang presisi (akurat), (4) tingkat kedalaman tanam dapat diatur dari 0,7 - 3,7 cm (5 level kedalaman), (5) jumlah tanaman dalam satu lubang berkisar 2 – 4 tanaman per lubang dan (6) jarak dan kedalaman tanam seragam sehingga pertumbuhan dapat optimal dan seragam. Sedangkan keunggulan rice transplanter sistem tanam jajar legowo 2:1 relatif sama dengan rice transplanter sistem tanam tegel, perbedaan terdapat pada jarak tanam yaitu 20 x 10/13/15 x 40 cm untuk rice transplanter sistem tanam jajar legowo 2:1 dan 30 x 12/14/16/18/21 cm untuk rice transplanter sistem tanam tegel. Disamping keunggulan, rice transplanter mempunyai beberapa kelemahan diantaranya (1) jarak tanam antar barisan 30 cm untuk rice transplanter sistem tanam tegel dan jarak antar barisan 20 cm dan legowo 40 cm untuk rice transplanter sistem tanam jajar legowo 2:1 tidak dapat diubah, (2) tidak bisa dioperasionalkan pada kedalaman sawah lebih dari 40 cm, (3) untuk membawa mesin ke sawah atau ke tempat lain diperlukan alat angkut, (4) perlu bibit dengan persyaratan khusus dan (5) harga masih relatif mahal sehingga belum terjangkau petani.
G. PENUTUP
1. Kehadiran rice transplanter pada kondisi lahan sawah datar, petakan cukup luas dan kedalaman lumpur kurang dari 40 cm dapat membantu memecahkan masalah kekurangan tenaga kerja tanam pindah bibit padi.
2. Tanam menggunakan rice transplanter memerlukan 3 orang tenaga kerja yaitu satu orang operator (yang mengoperasikan rice transplanter), satu orang untuk
mengangkut dan menyediakan bibit serta satu orang untuk menyulam tanaman/rumpun yang kosong.
3. Penerapan rice transplanter dapat (i) meningkatkan efisiensi penggunaan tenaga kerja tanam, (ii) mempercepat dan mengefisiensikan proses/waktu tanam, (iii) menekan biaya tanam, (iv) meningkatkan kualitas hasil tanam, (v) meningkatkan hasil panen dan (vi) meningkatkan pendapatan usahatani padi.
H. DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, D.R dan Haryono. 2007. Peluang Usaha Jasa Penanganan Padi secara Mekanis dengan Mendukung Industri Persemaian. Prosiding Seminar Nasional Apresiasi Hasil Penelitian Padi 2007. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. hlm.919 - 932.
Dinas Pertanian TPH Provinsi Jawa Tengah. 2012. Pembangunan Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura di Jawa Tengah. Dinas Pertanian dan TPH Provinsi Jawa Tengah. 86 pp.
Kushartanti, E., dan T. Suhendrata, 2013. Prospek Penggunaan Mesin Tanam Pindah Bibit Padi (Rice Transplanter) untuk Mengatasi Kelangkaan Tenaga Kerja Tanam Padi di Jawa Tengah dalam D. Purnomo, M. Harisudin, D. Praseptiangga, A. Magna, Rahayu, Widiyanto, R. Indreswari, Y. Yanti dan B.S. Hertanto (Ed.). Prosiding Seminar Nasional Akselerasi Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Menuju Kemandirian Pangan dan Energi, Solo, 17 April 2013. Fakultas Pertanian UNS. hlm.53-59.
Kushartanti, E., T. Suhendrata, D. Sahara, S.C. Setyaningrum, Chanifah, Ngadimin dan Budiman. 2012. Pengkajian Model Percepatan Pemasyarakatan dan Sistem Pengelolaan Mesin Tanam Pindah Bibit Padi (Transplanter) di Jawa Tengah. Laporan Akhir Kegiatan. BPTP Jawa Tengah. 50 pp.
Kuswanto, E. 2012. Profil UPJA “Setia Dadi Desa Bojong Kecamatan Kawunganten Kabupaten Cilacap. Bahan Diskusi Terfokus. Solo, 13 Desember 2012. 10 pp.
Malian, A.H., 2004. Analisis Ekonomi dan Kelayakan Finansial Teknologi pada Skala Pengkajian. Makalah disampaikan pada Pelatihan Analisa Finansial dan Ekonomi bagi Pengembangan Sistem dan Usahatani Agribisnis Wilayah, Bogor, 29 November – 9 Desember 2004. 27 pp.
Permana, S. 1995. Teknologi Usahatani Mina Padi Azolla dengan Cara Tanam Jajar Legowo. Mimbar sarasehan Sistem Usahatani Berbasis Padi di Jawa Tengah. BPTP Ungaran.
Suhendrata, T., T. Sudaryono, E. Kushartanti. S. Jauhari, Ngadimin dan Budiman. 2012. Pengkajian Intesifikasi Padi pada Lahan Sawah Tadah Hujan Melalui Perbaikan Teknologi Budidaya dalam Rangka Peningkatan Produktivitas dan Pendapatan Petani di Jawa Tengah. Laporan Akhir Kegiatan. BPTP Jawa Tengah. 43 pp.
Suhendrata, T. 2013. Prospek Pengembangan Mesin Tanam Pindah Bibit Padi (Rice Transplanter) dalam Rangka Mengatasi Kelangkaan Tenaga Kerja Tanam Bibit Padi. Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian dan Agribisnis (SEPA) Fakultas Pertanian UNS Surakarta Vol. 10 (1): 97 - 102.
Suhendrata, T., dan E. Kushartanti, 2013. Pengaruh Penggunaan Mesin Tanam Pindah Bibit Padi (Transplanter) terhadap Produktivitas dan Pendapatan Petani di Desa Tangkil Kecamatan/Kabupaten Sragen dalam D. Purnomo, M. Harisudin, D. Praseptiangga, A. Magna, Rahayu, Widiyanto, R. Indreswari, Y. Yanti dan B.S. Hertanto (Ed.). Prosiding Seminar Nasional Akselerasi Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Menuju Kemandirian Pangan dan Energi, Solo, 17 April 2013. Fakultas Pertanian UNS. hlm 60 – 66.
Suhendrata, Ekaningtyas Kushartanti, dan Budiman. 2013. Peningkatan Produktivitas Padi pada Lahan Sawah Tadah Hujan melalui Perbaikan Teknologi Budidaya. Hlm 72-77. Dalam R. Hendayana, D. M. Arsyad, M. Arifin, E. Ananto, S. Bustaman, A. Djauhari, R. S. H. Mulyandari (Ed.) Prosiding Seminar Nasional Inovasi Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi, Kendari, 21 – 22 November 2013. BBP2TP. Bogor.
Suhendrata, T. 2014a. Penerapan Mesin Tanam Bibit Padi Jajar Legowo 2:1 (Rice Transplanter Jajar Legowo 2:1) pada Lahan Sawah Irigasi di Kabupaten Sragen. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Hasil-Hasil Penelitian Bidang Pertanian 2014 dengan tema “Pengembangan dan Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk Kedaulatan Pangan” diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian UGM dalam rangka Dies Natalis Faperta UGM ke 68. Yogyakarta, 13 September 2014.
Suhendrata, T., 2014b. Teknologi Mekanisasi Pertanian untuk Mendukung Kedaulatan Pangan. Makalah disampaikan pada Lokakarya Teknologi Sistem Jajar Legowo dan Mekanisasi Pertanian untuk Kedaulatan Pangan (Beras) Berkelanjutan, di UKSW Salatiga 12 Agustus 2014. 18 pp.
Suhendrata, T., E. Kushartanti, D. Nugraheni, R. Endrasari, Ridwan M. Setiawan Sutari, Budiman, dan Ngadimin, 2014a. Kajian Pemanfaatan Mesin Tanam Pindah Bibit Padi Sawah Sistem Legowo (Jarwo Transplanter) di Provinsi Jawa Tengah. Laporan Akhir Kegiatan kerjasama BBP Mektan Serpong – BPTP Jawa Tengah. 47 pp.
Suhendrata, T., E. Kushartanti, S. Karyaningsih, A. Sutanto, D. Dini, Budiman, dan Ngadimin, 2014b. Pengkajian Efektivitas dan Efisiensi Mesin Tanam (Indo Jarwo Transplanter) dan Panen Padi (Combine Harvester). Laporan Akhir Kegiatan. BPTP Jawa Tengah. 47 pp.
Tambunan, A. H. dan E. N. Sembiring. 2007. Kajian Kebijakan Alat dan Mesin Pertanian. Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 21 (4).
Taufik. 2010. Alsin Transplanter untuk Pilot Project UPJA Center Efisiensikan Waktu Tanam. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Selatan.
Unadi, A. dan Suparlan. 2011. Dukungan Teknologi Pertanian untuk Industrialisasi Agribisnis Pedesaan. Makalah Seminar Nasional Penyuluhan Pertanian pada kegiatan Soropadan Agro Expo tanggal 2 Juli 2011. Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian.