19. Kantor Perwakilan Jakarta
2.8 Kinerja Usaha Terkini Sawit Sawit
2.8 Kinerja Usaha Terkini Sawit
Realisasi pembelian TBS tahun 2018 mengalami penurunan sebesar 144.794 ton atau 71,24%, yaitu dari 203.259 ton di tahun 2017 menjadi 58.466 ton di tahun 2018. Penurunan jumlah pembelian dipengaruhi oleh semakin tingginya tingkat persaingan harga dan rendahnya pasokan TBS dari pihak ketiga. Realisasi produksi Tandan Buah Segar Kebun Sendiri tahun 2018 meningkat sebesar 59.362 ton atau 2,50% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2017, yaitu 2.371.786 ton di tahun 2017 menjadi 2.431.148 ton di tahun 2018. Capaian produksi Minyak Sawit dan Inti Sawit yang digabungkan terjadi peningkatan sebanyak 6.227 ton atau 0,94% dibandingkan dengan tahun 2017, yaitu dari 662.353 ton di tahun 2017 menjadi 668.580 ton di tahun 2018.
19
Gambar 2.4 Tabel Produksi Sawit Sumber: Laporan tahunan PTPN IV 2018
Searah dengan peningkatan produksi Tandan Buah Segar, pada tahun 2018 produktivitas TBS/ha meningkat sebesar 2,61% dibandingkan periode tahun sebelumnya, yaitu dari 20,37 ton TBS/ha di tahun 2017 menjadi 20,90 ton TBS/ha di tahun 2018. Produktivitas minyak sawit juga meningkat 6,11%, yaitu dari 4,49 ton MS/ha di tahun 2017 menjadi 4,76 ton MS/ha di tahun 2018 dan produktivitas inti sawit meningkat 2,54%, yaitu dari 0,79 ton IS/ha di tahun 2017 menjadi 0,82 ton IS/ha di tahun 2018.
Gambar 2.5 Tabel Produktivitas TBS, Minyak Sawit, dan Inti Sawit Sumber: Laporan tahunan PTPN IV 2018
Teh
Produktivitas Daun Teh Basah (DTB) tahun 2018 berada di bawah produktivitas tahun 2017 sebesar 738 ton atau 7,66%, yaitu dari 9,633 ton/ha di tahun 2017 menjadi 8,895 ton/ha di tahun 2018. Realisasi produksi Daun Teh Basah Kebun Sendiri tahun 2018 menghadapi pengurangan sebesar 2.881 ton atau 7,66% dibandingkan tahun 2017, yaitu dari 37.607 ton di tahun 2017 menjadi 34.726 ton di tahun 2018. Demikian
Gambar 2.6 Tabel Produksi Teh Basah Sumber: Laporan Tahunan PTPN IV 2018
Searah dengan menurunnya produksi Daun Teh Basah, produksi teh jadi juga terjadi penurunan sebanyak 439 ton atau 5,21% daripada tahun 2017, yaitu dari 8.426 ton di tahun 2017 menjadi 7.987 ton di tahun 2018. Produktivitas teh jadi tahun 2018 juga berada dibawah produktivitas tahun 2017 sebesar 5,45%, yaitu dari 2,05 ton/ha di tahun 2017 menjadi 1,94 ton/ha di tahun 2018. Pada tahun 2018, produk teh jadi melingkupi teh jadi grade pertama sebanyak 5.078 ton, grade kedua sebanyak 2.420 ton dan grade ketiga sebanyak 490 ton.
21
Gambar 2.7 Tabel Produksi Teh Jadi Sumber: Laporan Tahunan PTPN IV 2018 2.9 Rencana Kegiatan Kerja
Dengan melihat keadaan internal dan eksternal yang masih mempunyai pengaruh untuk perlambatan ekonomi global, serta pencapaian kinerja tahun 2018, maka PTPN IV menetapkan target tahun 2019 yang dicurahkan pada Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan 2019 sebagai berikut:
1. PTPN IV menetapkan total produksi TBS di tahun 2019 sebesar 2.995.496 ton, naik 20,32% dibandingkan tahun 2018. Produksi TBS bersumber dari Kebun Sendiri sebesar 2.713.500 ton, dan pembelian sebesar 281.996 ton. Produksi inti sawit ditargetkan sebesar 133.387 ton naik 37,09%, produksi minyak sawit ditargetkan sebesar 698.653 ton naik 22,30%, produksi PKM ditargetkan sebesar 60.112 ton naik 41,10% dibandingkan realisasi tahun 2018 dan produksi PKO ditargetkan sebesar 49.758 ton naik 56,39%.
2. Volume penjualan minyak sawit ditetapkan sebesar 698.653 ton naik 20,14% dengan nilai penjualan sebesar Rp5.220.857,01 miliar naik
23,15% dibandingkan realisasi tahun 2018. Volume penjualan PKO ditargetkan sebesar 49.758 ton, naik 54,71%, dengan nilai penjualan ditargetkan sebesar Rp605.554,86 miliar, naik 50,94% dibandingkan realisasi tahun 2018. Volume penjualan inti sawit ditetapkan sebesar 17.486 ton, turun 0,26%, dengan nilai penjualan ditargetkan sebesar Rp100.021,87 miliar, naik 26,27% dibandingkan realisasi tahun 2018.Volume penjualan PKM ditetapkan sebesar 60.112 ton, naik 41,51%, dengan nilai penjualan ditetapkan sebesar Rp77.845,04 miliar, naik 50,89% dibandingkan realisasi tahun 2018.
3. PTPN IV menetapkan total produksi teh jadi ditargetkan sebesar 10.919 ton, naik 36,70% dibandingkan realisasi tahun 2018. . Volume penjualan teh jadi ditargetkan sebesar 10.919 ton, naik 38,21%, dengan nilai penjualan sebesar Rp250.504,44 miliar, naik 49,35%
dibandingkan realisasi tahun 2018. Total produksi Daun Teh Basah di tahun 2019 sebesar 50.318 ton, naik 37,36% dibandingkan realisasi tahun 2018. Produksi Daun Teh Basah bersumber dari Kebun Sendiri sebesar 48.118 ton, dan pembelian sebesar 2.200 ton
Dari sisi keuangan, PTPN IV mematokan target tahun 2019 yang dicurahkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan 2019 sebagai berikut:
1. Penjualan total sebesar Rp 6.277.047,80 miliar, naik 27,70%
dibandingkan realisasi tahun 2018. Peningkatan penjualan akan diantisipasikan berasal dari peningkatan volume penjualan komoditas kelapa sawit dan teh sejalan dengan meningkatnya produksi dan
23
produktivitas, serta membaiknya harga jual komoditas kelapa sawit di tahun 2019.
2. Laba usaha sebesar Rp1.285.719,62 miliar, naik 20,20% dibandingkan realisasi tahun 2018, searah dengan meningkatnya nilai penjualan dan pengelolaan harga pokok produksi yang bertambah efektif dan efisien.
Laba bersih tahun berjalan diantisipasi sebesar Rp 730.335,95 miliar meningkat 25,84% dibandingkan realisasi tahun 2018.
BAB III PEMBAHASAN 3.1 Kinerja Keuangan
3.1.1 Pengertian Kinerja Keuangan
Terdapat beberapa pengertian kinerja keuangan menurut para ahli diantaranya, Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia (2007) “Kinerja keuangan adalah kemampuan suatu perusahaan saat mengelola dan mengendalikan sumber daya yang dimiliki.” Sedangkan Menurut Fahmi (2012:2) “Kinerja keuangan adalah gambaran tentang sebuah kesuksesan perusahaan yang telah dicapai berkat berbagai kegiatan yang telah dilakukan. Kinerja keuangan merupakan suatu analisis untuk menilai sejauh mana suatu perusahaan telah melakukan kegiatan sesuai dengan semua aturan pelaksanaan keuangan." Dan Menurut Rudianto (2013:189) “Kinerja keuangan adalah hasil yang dapat dicapai oleh manajemen perusahaan dalam mengatur aset perusahaan secara efektif selama periode tertentu. Kinerja keuangan amat diperlukan oleh perusahaan berdasarkan aktivitas keuangan yang telah dijalankan”.
Dari pengertian yang dijabarkan diatas disimpulkan bahwa kinerja keuangan adalah hasil gambaran yang menunjukan bagaimana perusahaan memiliki kemampuan untuk mengelola aktivitas keuangan dan sumber daya secara efektif sesuai dengan aturan pelaksanan keuangan dalam suatu periode tertentu. Kinerja keuangan diperlukan untuk melihat keadaan perusahaan diperiode yang akan datang. Perusahaan dapat dianggap berhasil jika telah menyelesaikan rencana dan tujuan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
25
3.1.2 Pengukuran Kinerja Keuangan
Pengukuran kinerja keuangan dibutuhkan untuk perbaikan suatu kegiatan operasional perusahaan sehingga dapat bersaing dengan perusahaan lainnya.
Pengukuran kinerja keuangan memiliki beberapa tujuan, seperti yang diutarakan oleh Munawir (2001:31) tujuan pengukuran kinerja keuangan adalah sebagai berikut;
1. Agar memahami keberhasilan pengelolaan keuangan perusahaan dalam kewajiban keuangan yang harus segara dibayar atau kesanggupan perusahaan menyelesaikan kewajiban keuangan saat ditagih.
2. Agar memahami tingkat solvabilitas yaitu kemahiran perusahaan dalam menyelesaikan semua kewajiban jangka pendek maupun jangka panjang.
3. Agar memahami stabilitas usaha yaitu kemahiran perusahaan dalam melaksanakan usahanya dengan stabil dan memikirkan kesanggupan perusahaan dalam membayar deviden secara berkala.
4. Agar memahami rentabilitas yaitu kemahiran perusahaan dalam mendapatkan laba dalam periode tertentu.
Dari penjelasan yang telah dijabarkan diatas maka dapat diambil kesimpulan mengenai tujuan pengukuran kinerja keuangan yaitu untuk mengerti bagaimana kesuksesan suatu perusahaan dalam mendapatkan laba juga membayar kewajiban serta mengelola stabilitas keuangan perusahaan.
Ditemukan beberapa perangkat analisis yang bisa dipakai untuk melakukan pengukuran kinerja keuangan. Menurut Jumingan (2006:242) Menurut metodenya, analisis keuangan bisa dibagi menjadi 8 jenis;
1. Analisis perbandingan Laporan Keuangan yaitu metode analisis dengan aturan yang melakukan perbandingan laporan keuangan dalam dua periode atau lebih dengan memperlihatkan perubahan, baik dalam jumlah (absolut) maupun presentase (relatif).
2. Analisis Tren yaitu metode analisis agar mengerti kecenderungan keadaan keuangan apakah menunjukan kenaikan atau penurunan.
3. Analisis Persentase per-Komponen yaitu tmetode analisis agar mengerti presentase investasi pada masing-masing aktiva terhadap kelengkapan atau total aktiva maupun utang.
4. Analisis Sumber dan Penggunaan Kas yaitu metode analisis agar mengerti keadaan kas beserta penyebab adanya perubahan kas dalam suatu periode tertentu.
5. Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja yaitu metode analisis agar mengerti banyaknya sumber dan penggunaan modal kerja dengan menyelusuri perbandingan antara dua periode waktu.
6. Analisis Rasio Keuangan yaitu metode analisis keuangan agar mengetahui hubungan diantara pos khusus yang terdapat di laporan posisi keuangan serta di laporan laba dan rugi baik secara sendiri maupun secara bersama- sama.
27
7. Analisis Break Even yaitu metode analisis agar mengerti peningkatan penjualan yang wajib didapat supaya perusahaan tidak menemui kerugian.
8. Analisis Perubahan Laba Kotor yaitu metode analisis untuk mengetahui posisi laba dan sebab-sebab terjadinya perubahan laba.