• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kisah Petani dan Entomologis I : Penyerbukan

Dalam dokumen Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta (Halaman 44-46)

Ramadhani Eka Putra

Mahasiswa S2 Laboratorium Ekologi Universitas Kanazawa, Ishikawa

[email protected] ; [email protected]

Sekitar 4 tahun yang lalu pada saat saya sedang berlibur di rumah orang tua saya ada seorang petani kopi yang bertanya kepada saya. Sebut saja namanya Pak Ahmad. Pertanyaan yang ia tanyakan kepada saya, dalam bahasa teknis, adalah :“Saya sudah melakukan manajemen terhadap tingkat kesuburan tanah, manajeman air pada sistem pertanian, dan pengendalian hama, tetapi mengapa hasil pertanian saya susah untuk meningkat dalam hal kualitas dan kuantitas, malah semakin lama semakin menurun?”. Sebagai seorang entomologis (profesi aneh dimana seseorang harus bekerja dengan serangga) hanya ada satu kata yang terbersit di benak saya yaitu

Penyerbukan

Perkembangan kebudayaan manusia tidak dapat dilepaskan dari proses penyerbukan seperti yang terdapat pada

sejarah kebudayaan-kebudayaan. Masyarakat pra pertanian pada daerah

sekitar Timur Tengah, menemukan proses pertanian setelah mengamati kemampuan tumbuhan untuk menghasilkan biji dan berkembang biak dengan menggunakan struktur tersebut. Sejarah mencatat bahwa ketertarikan manusia akan pengetahuan ini sudah ada sejak 1500 SM berdasar ukiran yang menggambarkan usaha dari masyarakat Assyria untuk menyerbuki buah kurma,

Phoenix dactylifera, dengan mengunakan makhluk bersayap yang memiliki bentuk seperti manusia dan kepala elang.

Sebelum kita melangkah lebih jauh ada pertanyaan dasar yang harus dijawab Apa itu penyerbukan ? Untuk menjawab pertanyaan ini kita pertama harus melihat ke lingkungan sekitar kita. Hampir seluruh tumbuhan yang dapat kita temukan memiliki suatu struktur khas yang dikenal sebagai bunga. Bunga tidak hanya cantik dilihat akan tetapi merupakan salah satu struktur

terpenting pada tumbuhan tersebut. Bunga merupakan alat reproduksi pada tumbuhan dan seperti semua makhluk hidup pada umumnya terdapat struktur jantan (serbuk sari) dan betina (putik). Pada saat pihak jantan dan betina bertemu maka terjadilah proses penyerbukan. Karena tumbuhan tidak memiliki alat gerak yang memungkinkan kedua pihak ini untuk bertemu maka tumbuhan menggunakan pihak ketiga untuk menolong proses ini. Pihak tersebut dapat berupa angin, air, atau hewan yang sangat mempengaruhi bentuk dan sifat dari pihak jantan dan betina dari bunga.

Pada bunga yang menggunakan angin sebagai alat bantuk maka cenderung memiliki serbuk sari dalam jumlah besar, berukuran kecil, dan sangat ringan dengan struktur putik dengan yang besar dan lengket. Bunga yang menggunakan air sebagai alat bantu cenderung memiliki serbuk sari yang ringan dan dilindungi oleh selaput untuk mengatasi tekanan air. Sementara bunga yang dibantu oleh hewan dalam proses penyerbukannya memiliki serbuk sari yang lengket dan pada umumnya memiliki mekanisme pemikat baik dalam bentuk pemberian “uang jasa” dalam bentuk nektar, serbuk sari, dan minyak. Penyerbukan dengan bantuan hewan merupakan sistem penyerbukan terbaik, sebab : Pertama, hewan bergerak aktif mencari bunga dan memiliki jarak angkut lebih jauh daripada angina yang meningkatkan kemungkinan terjadinya proses penyerbukan. Kedua, proses penyerbukan ini dapat berlangsung pada lokasi dimana hanya terdapat angin dalam jumlah sangat minim.

Ketiga, tumbuhan dapat mengalokasikan energi lebih sedikit untuk menghasilkan serbuk sari walaupun tidak dapat dipungkiri diperlukan juga energi yang tidak sedikit untuk menghasilkan nektar dan mekanisme penarik. Terdapat tiga macam hewan yang berperan dalam proses penyerbukan, yaitu burung, kelelawar, dan serangga yang

merupakan hewan yang dominan dalam proses ini (dan anak kecil yang memanjat pohon dan secara tidak sengaja menggoyangkan bunga sehingga terjadi proses penyerbukan diusulkan untuk dimasukkan sebagai salah satu agen penyerbukan).

Setelah kita sedikit mengetahui tentang penyerbukan sekarang bagaimana kita dapat menjawab pertanyaan dari Pak Ahmad yang mungkin merupakan masalah dari banyak petani buah-buahan.

Buah merupakan hasil akhir dari proses penyerbukan dan proses ini memerlukan ambang batas tertentu dalam hal jumlah serbuk sari dari individu lain untuk menjamin terjadinya penyerbukan silang. Penyerbukan silang merupakan inti dari buah yang baik. Para petani pada umumnya menganggap bahwa angin dapat mengemban berlangsungnya proses penyerbukan, suatu pendapat yang tidak salah sebab angin dapat membantu proses penyerbukan dalam radius yang sangat terbatas. Alam sudah menyediakan jawaban terhadap masalah ini, yaitu dengan kembali menggunakan jasa hewan-hewan kecil yang beterbangan sebagai agen pembantu manusia. Pola-pola pertanian yang ada sekarang cenderung tidak bersahabat kepada hewan-hewan kecil ini. Pemakaian insektisida yang kurang bijaksana (yang cenderung menggerogoti kantung petani dan menggemukkan kantung agen penjual), pengendalian tumbuhan penutup tanah yang tidak terkendali dengan asumsi seluruh tumbuhan tersebut merupakan gulma, laju pengalihfungsian lahan yang tidak terencana, dan sistem pertanian yang hanya terfokus pada satu hasil merupakan faktor- faktor yang menyebabkan hilangnya salah satu sahabat terbaik manusia ini.

Berdasarkan pengetahuan yang saya miliki maka jawaban yang saya berikan kepada Pak Ahmad adalah :

1. Mengurangi pemakaian insektisida dan mulai merubah penjadwalan dalam penggunakan insektisida. Insektisida hanya digunakan pada saat ada serangga hama yang ditemukan. Dengan melakukan hal ini pengeluaran Pak Ahmad pada pos insektisida dapat ditekan hingga 40%. Di ilmu entomologi metoda ini dikenal sebagai pengendalian hama terpadu

yang mengandalkan kepada ambang kerugian ekonomi dan nilai ekonomi dari hasil pertanian.

2. Cari tetangga yang beternak lebah madu atau memiliki kemampuan untuk menangkap koloni lebah madu liar. Koloni lebah madu tersebut selanjutnya ditempatkan di kebun kopi tersebut dari pertengahan musim berbunga untuk memberikan kesempatan kepada serangga- serangga lokal melakukan proses penyerbukan. Satu koloni lebah madu untuk areal seluas ¼ hektar.

3. Kurangi pembabatan tanaman

penutup tanah 2 minggu sebelum musim berbunga. Dengan demikian serangga-serangga yang menyerbuki untuk memperoleh makanan sementara sebelum bunga kopi mekar dan siap untuk diserbuki.

4. Sebagian lahan yang tidak terpakai disekeliling kebun kopi dapat digunakan sebagai kebun kacang- kacangan, labu, semangka yang menghasilkan bunga yang menarik kedatangan lebah-lebah soliter yang merupakan serangga-serangga dengan kemampuan menyerbuki yang luar biasa (hingga 80%).

Pak Ahmad hanya mangut-mangut sambil menahan kantuk mendengar ceramah saya sehingga saya menuliskan jawaban saya tersebut pada secarik kertas sebelum ia pulang. Saya tidak tahu apakah Pak Ahmad melakukan saran saya atau tidak sebab saya harus kembali lagi ke habitat saya di laboratorium entomologi.

Dalam dokumen Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta (Halaman 44-46)