• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Memahami Sistem Agroforestri

3. Klasifikasi Agroforestri

57

3. Klasifikasi Agroforestri

Sistem agroforsetri dapat dilihat dari perbedaan klasifikasi. Pengklaifikasian sistem agroforestri yang paling umum dan menadasar adalah dapat dilihat dari unsur agroforestri itu sendiri yaitu ketiga unsur utamanya kehutanan, pertanian, dan/atau peternakan. Dari tiga unsur tersebut agroforestri dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Agrisilvikultur (agrisilvilcultural systems)

Sistem agrisilvikutur adalah penggabungan dua unsur kehutanan dan pertanian, sistem ini menggunakan metode tumpang sari antara pepohonan berkayu dan tumbahan pertanian musiman yang dikelola secara bersama seperti pertanian jagung di kawasan hutan pinus yang tanam secara sengaca guna untuk mendapatkan hasil hutan dan hasil pertanian.

Gambar 2.1:

Pola Agroforestri Agrisilvikultur

Sumber: Bahan Sosialisasi Program Iklim Batam Oleh Eko Prasondita

Agrisilvikultur adalah sistem yang mengkombinasikan komponen kehutanan (atau tanaman berkayu/woody plants) dengan komponen pertanian (atau tanaman non-kayu). Tanaman berkayu dimaksudkan yang berdaur panjang (tree crops) dan tanaman non-kayu dari tamanan jenis semusim (annual crops)40. Sistem

40 Mustafa Agung Sardjono, dkk, Klasifikasi dan Pola Kombinasi Komponen Agroforestri, (Bogor: Word Agroforestry Center (ICRAF), 2003) hal 2

58

seperti ini sengaja dibuat agar lahan-lahan atau tanah yang belum tetutup dapat tertup olah tumbuhan-tumbahan musiman sehingga tanah permukaan dapat terikat dan tidak terjadi pengikisan tanah dari air jatuh dipermukaan tanah atau erosi.

Agrisilvikultur merupakan konsep pengelolaan kawasaan hutan dengan mengembangkan pertanian yang ada disekitarnya. Sistem agrisilvikultur mebuatan wilayah kawasan hutan agar tetap hijau dan tidak ada lahan kosong yang membuat tanah menajadi semakin tandus. Sistem ini juga bisa disebut simbiosis mutualisme yaitu hubungan yang saling menguntungkan, diantara tenaman-tanaman tersebut saling mendukung dalam upaya konservasi tanah dan mengembalikan tanah menjadi subur, karena tanah mengalami peneduhan dan pengelolaan secara sengaja olah petani hutan.

b. Silvopostura (Silvopostura Systems)

Sistem silvopostura merupakan penggabungan pengelolaan kehutanan dan peternakan. Sistem ini menggabungkan sistem berternak di area wilayah hutan terkendali menggunakan metode penanaman pepohanan berkayu dengan pengelolaan hewan ternak di sekitar pepohan kayu tersebut seperti; pemanfaatan dedaunan yang berada dikayu untuk kebutuhan pakan ternak

Gambar 2.2:

Pola Agroforestri Silfopostura

Sumber: Olahan Hasil dari Peneliti dari Bahan Sosialisasi Program Iklim Batam Oleh Eko Prasondita

59

Sistem agroforestri yang meliputi komponen kehutanan (atau tanaman berkayu) dengan komponen peternakan (atau binatang ternak/posture) disebut sistem silvopostura seperti; produksi terpadu antara ternak dan produksi kayu (integrated production of animals and wood products)41. Sistem silvopostura tidak hanya dijumpai pada penggabungan kehutanan dan peternakan dalam satu ruang dan waktu, namun bisa dilihat dengan ruang dan waktu yang berbeda seperti misal penanaman rumput hijau di tengah-tengah tegakan pohon pinus, sehingga hasil dari tanaman rumput hijau dapat membantu pakat ternak.

Silvopostura juga masuk ke dalam sistem agrofotesri karena sistem ini dapat mengabungkan kehutanan dengan peternakan. Bukan harus diartikan beternak di hutan tapi mengarah kepada pengelolaan hutan dengan memanfaatkan hasil hutang untuk kebutuhan pakan ternak, dan bahkan juga pengelolaan kawasan hutan dengan penanaman pakan serbaguna. Hubangan antara kehutanan dengan peternakan bisa disebut dengan simbiosis mutualisme yakni hubungan sama-sama menguntungkan, dari sisi peternakan dapat membantu mencukupi kebutuhan pakan ternak, sedangkan dari sisi kehutanan kawasannya terus dikelala dengan tetap melaksanakan penanaman tumbuhan berkayu dan tumbuhan rumput pakan. Sistem ini juga berdampak terjaganya hutan karena terkelola, dari peternakan sendiri berdampak tercukupnya kebutuhan ternak bagi masyarakat, dan secara lingkungan dapat mengembalikan kekuatan tanah.

c. Agrosilvopostura (agrosilvoposura System)

60

Sistem agrosivopostura juga salah satu konsep klasifikasi agroforestri dengan menggabungkan ketiga unsur komponen (kehutanan, pertanian, dan peternakan) digabung menjadi satu. Metode ini menggabungkan pepohohan berkayu (kehutanan) dengan pertanian (tanaman semusim) dan juga menggabungkan peternakan/ hewan ternak. Penggabungan ketiga komponen ini tidak harus dilakukan dengan satu ruang yang sama namun juga bisa ke dalam ruang dan waktu yang berbeda seperti penanaman pohon mahoni sekaligus dengan menaman jagung di sekitar mahoni, hasil dari mahoni dan jagung tersebut dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan ternak.

Gambar 2.3:

Pola Agroforestri Agrosilfopostura

Sumber: Olahan Hasil dari Peneliti dari Bahan Sosialisasi Program Iklim Batam Oleh Eko Prasondita

Sistem agrosilvopostura adalah sistem pengombinasian kompenen berkayu (kehutanan) dengan pertanian (semusim) dan sekaligus peternakan/binatang pada wilayah yang sama. Tegakan hutan alam bukan merupakan sistem agrosilvopostura, walaupun ketiga komponen pendukungnya juga bisa dijumpai dalam ekosistem dimaksud. Pengombinasian dalam agrosilvopostura dilakukan secara terencana untuk mengoptimalkan fungsi produksi dan jasa (khususnya komponen berkayu/kehutanan) kepada manusia/masyarakat. Tidak ternutup

61

kemungkinan bahwa kombinasi dimaksud juga didukung oleh permudaan alam dan satwa liar. Interaksi komponen agroforestri secara alami mudah diidentifikasikan. Interkasi paling sederhana sebagai contoh adalah peranan tegakan bagi penyediaan pakan satwa liar (buah-buahan untuk berbagi jenis burung), dan sebaliknya fungsi satwa liar bagi proses penyerbukan atau regenerasi tegakan, serta sumber protein hewani bagi petani pemilik lahan.42

Agroforestri yang masuk ke dalam klasifikasi jenis agrosilvopostura dengan sitem menggabungan antara pepohan berkayu (kehutanan) dengan tumbuhan-tumbuhan semusim sekaligus juga mengelola ternak mengelola ternak dapan memberikan manfaat antara komponen satu dengan komponen yang lainnya, sekaligus berguna bagi ekologi keseimbangan lingkungan dan pemenuhan kebutuhan manusia. Semua komponen agrofoestri dikombinasikan ke dalam satu pengelolaan yang terpadu dengan model pengelolan secara kolektif. Sistem agrosilvopostura juga bisa disebut simbiosis mutualisme yaitu hubungan timbal balik yang saling menguntungkan seperti; pengelolan sistem tumpang sari hutan lantoro dengan ubi-ubian, sekaligus juga menaman rumput gajah/odot di ruang yang belum tertanami, sehingga pengelolaan ini dapat bermanfaat pada konservasi tanah, pengurangan lahan kritis, peningkatan pendapatan masyarakat melalui hasil pertanian, dan memenuhi kebutuhan pakan ternak tanpa merusak pohon berkayu. Sedangkan dari peternakan sendiri juga dapat membantu perhutanan dan pertanian dengan mengolah limbah ternak yang dapat memenuhi kebutuhan pupuk dan pengembalian unsur hara tanah untuk kebutuhan tanaman.

62