• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PERMASALAHAN DAN POTENSI SENGKETA

F. Umpan Balik Dan Tindak Lanjut

Apabila anda telah memahami Bab II dan dapat mengerjakan latihan serta evaluasi dengan benar, silahkan anda lanjut ke pembahasan di Bab III, namun bila anda belum dapat menyelesaikan latihan dan evaluasi dengan benar silahkan pelajari lagi Bab II agar anda dapat memahaminya dengan benar.

BAB III

SOMASI ATAU PENGADUAN MASYARAKAT

Indikator Hasil Belajar

Setelah mempelajari bab ini, peserta dapat mengklasifikasi bahan dan data terkait somasi atau pengaduan masyarakat dan selain itu peserta diharapkan dapat menyusun kerangka somasi dan kerangka jawaban

somasi atau materi tanggapan

Dalam bab ini akan membahas identifikasi somasi atau pengaduan masyarakat, klasifikasi bahan dan data terkait somasi atau pengaduan, menyusun kerangka somasi dan menyusun kerangka jawaban somasi atau materi tanggapan. Diharapkan dari materi dalam bab ini Analis Hukum Ahli Pertama mampu menangani dan menjawab permasalahan-permasalahan hukum yang dihadapi pada instansi-instansi pemerintah khususnya permasalahan hukum terkait somasi atau pengaduan masyarakat.

A. IDENTIFIKASI SOMASI ATAU PENGADUAN MASYARAKAT Dalam menjalankan tugas dan fungsinya instansi pemerintah sering kali dihadapkan dengan permasalahan hukum dalam hal ini somasi, selain somasi instansi pemerintah juga dihadapkan dengan pengaduan masyarakat. Somasi berasal dari kata somatie atau legal notice, yaitu peringatan dari pihak tertentu (penggugat) kepada calon tergugat. Somasi sendiri dapat dimaknai sebagai peringatan yang diberikan terhadap pihak calon tergugat yang berada pada jalur atau proses hukum.

Somasi diberikan dengan maksud sebagai kesempatan yang diberikan kepada calon tergugat, agar dapat menghentikan perbuatannya atau melakukan sesuatu sebagaimana yang dituntut oleh pihak penggugat. Dalam yurisprudensi istilah somasi biasanya sering digunakan untuk menyebut suatu teguran atau perintah.

1. Identifikasi Somasi

Pengaturan terkait somasi banyak dijumpai dalam kasus-kasus perdata, misalnya saja dalam Pasal 1238 KUH Perdata menyebutkan bahwa: “Si berutang adalah lalai, apabila ia dengan surat perintah atau dengan sebuah akta sejenis itu telah dinyatakan lalai, atau demi perikatannya sendiri, ialah jika ini menetapkan, bahwa si berutang akan harus dianggap lalai dengan lewatnya waktu ditemukan”.

Dari Pasal 1243 KUH Perdata tersebut, dapat disimpulkan bahwa jika debitur dikatakan wanprestasi setelah debitur disomasi dengan benar, debitur tanpa alasan yang dibenarkan tetap tidak berprestasi sebagaimana mestinya. Oleh karena itu dalam prakteknya somasi adalah sebuah kewajiban prosedural sebelum mengajukan gugatan perdata.

Selain Pasal 1238 KUH Perdata, sumber hukum lain yang mengatur tentang somasi untuk kasus perdata ada pada beberapa putusan Mahkamah Agung, yang pada intinya mensyaratkan somasi terlebih dahulu sebelum mengajukan gugatan ke pengadilan, diantaranya38:

38 http://repository.uki.ac.id/2639/2/bukuputusanMARI.pdf. (diunduh tanggal 29 Juli Pukul 17.25 WIB)

a. Yurisprudensi Mahkamah Agung Rl Nomor: 117 K/Sip/1956 tanggal 12 Juni 1957, “Bahwa karena tergugat asli tidak ditegur lebih dulu maka gugat tidak dapat diterima”.

b. Yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor: 852/K/Sip/1972 tanggal 12 September 1973, yang menyatakan “Bahwa untuk menyatakan seseorang telah melakukan wanprestasi terlebih dahulu harus dilakukan penagihan resmi oleh juru sita (somasi). Oleh karena somasi dalam perkara ini belum dilakukan, maka pengadilan belum dapat menghukum para tergugat/pembanding telah melakukan wanprestasi, oleh sebab itu gugatan penggugat/terbanding harus dinyatakan tidak dapat diterima”.

Dari uraian tersebut diatas, dapat dimaknai bahwa lazimnya somasi dilakukan sebelum mengajukan gugatan ke pengadilan.

Terkait dengan hal tersebut kelaziman ini juga berlaku jika instansi pemerintah dalam menghadapi somasi dari masyarakat ataupun sebaliknya jika pemerintah mensomasi.

Secara umum pengaturan terkait somasi kepada instansi pemerintah berbeda dengan pengaturan somasi yang ada di KUH Perdata, salah satu perbedaanya adalah objek dari somasi tersebut. Dalam KUH Perdata terjadinya somasi lebih pada kondisi dimana kreditur melakukan penuntutan ganti rugi kepada debitur serta debitur melakukan sebuah kekeliruan prestasi dan terjadinya dilakukan dengan niat yang baik (dalam hal ini perjanjian yang tidak dipenuhi sesuai waktu yang ditetapkan dimana debitur masih bersedia untuk memenuhi apa yang menjadi prestasinya namun terlambat melakukannya).

Sementara kondisi dimana instansi pemerintah disomasi terjadi saat instansi pemerintah (Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan) karena kewenangannya bertindak dalam ranah hukum publik yang menimbulkan sengketa akibat dikeluarkannya keputusan dan/atau tindakan yang merugikan kepentingan masyarakat. Hal ini penting mengingat penggunaan kekuasaan negara terhadap masyarakat bukanlah tanpa persyaratan. Masyarakat tidak dapat diperlakukan secara sewenang-wenang sebagai objek.

Keputusan dan/atau tindakan terhadap masyarakat harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan asas-asas umum pemerintahan yang baik.

Lebih lanjut pembahasan pada sub bab ini akan fokus pada bagaimana analis hukum dapat mengenali, memahami, memisahkan (identifikasi) somasi yang ditangani oleh instansi pemerintah, mengingat pembahasan terkait identifikasi sudah diuraikan pada bab diatas. Secara umum identifikasi somasi yang ditangani oleh instansi pemerintah dapat dibagi kedalam dua kondisi, yaitu:

a. Kondisi Jika Pemerintah Disomasi. Kondisi ini tidak lepas dari tugas pemerintahan untuk mewujudkan tujuan negara sebagaimana dirumuskan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan tugas tersebut merupakan tugas yang sangat luas, terlebih khusus pengawasan terhadap keputusan dan/atau tindakan dari badan dan/atau pejabat pemerintahan yang merupakan pengujian terhadap perlakuan kepada masyarakat yang terlibat, telah diperlakukan sesuai dengan hukum serta memperhatikan prinsip-prinsip perlindungan hukum yang secara efektif.

Terkait dengan hal tersebut, permasalahan hukum yang timbul dalam pelaksanaan tugas dan fungsi instansi pemerintah diakibatkan dari pihak luar maupun pihak internal. Permasalahan hukum tersebut dapat berbentuk subjektif maupun objektif. Bentuk subjektif yang dimaksud apabila permasalahan hukum tersebut berasal dari tindakan hukum para pihak yang disebutkan terhadap pelaksanaan wewenang dari administrator, pimpinan maupun bagian organisasi di instansi pemerintah. Tindakan hukum tersebut dapat berdampak hukum tertentu kepada pribadi maupun kelembagaan, sehingga penting untuk ditangani secara kelembagaan.

Tindakan hukum yang dimaksud tentunya berupa perkara hukum dalam bentuk tuntutan dari satu ataupun beberapa pihak, kepada kelembagaan kementerian, kelembagaan dibawah kementrian ataupun kepada lembaga negara dan pemerintah daerah. Tuntutan tersebut dilaku oleh pihak-pihak tertentu terhadap pribadi seorang administrator yang terkait pelaksanaan tugasnya dan dapat juga perkara hukum yang berasal dari tuntutan para pihak kepada seseorang ataupun badan hukum di instansi pemerintah yang terkait dengan putusan maupun hubungan kerja dengan instansi pemerintah tersebut.

Untuk memahami mengapa sebuah permasalahan hukum berupa perkara hukum muncul, dapat dilihat dari bagaimana permasalahan hukum hadir di ruang lingkup ilmu administrasi negara. Permasalahan hukum yang dimaksud dalam bentuk objektif dapat berasal dari

peraturan perundang-undangan itu sendiri39. Untuk melihat permasalahan hukum yang muncul dalam pelaksanaan tugas dan fungsi, pertama kita harus melihat aturan perundang-undangan pelaksanaan wewenang pemerintah harus memenuhi beberapa syarat, yaitu40:

1) Undang-undang harus menetapkan asas yang tidak dapat dijabarkan atau diinterpretasikan lebih lanjut.

2) Pendelegasian ditentukan dengan tegas dengan menetapkan dalam pasal yang bersangkutan hal yang dapat didelegasikan dan menetapkan dalam pasal undang-undang yang bersangkutan semacam suatu pedoman untuk pejabat administrasi negara.

3) Mensyaratkan dengan undang-undang agar sebelumnya diadakan studi/ penelitian yang cukup.

4) Undang-undang menetapkan jenis dan beratnya sanksi hukum bagi pelanggaran peraturan.

5) Pelimpahan hanya dilakukan kepada pejabat administrasi negara.

6) Undang-undang menetapkan diadakannya badan untuk menampung keluhan, pengaduan atau gugatan.

Dari syarat diatas, apabila peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pelaksanaan wewenang dari seorang administrator maupun pimpinan pemerintahan, dapat mengakibatkan celah untuk terjadinya perkara hukum

39 Kebijakan Penanganan Gugatan Hukum Tata Usaha Negara Pada Kementerian Hukum Dan Ham, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Hukum Dan Hak Asasi Manusia Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, 2020. hlm. 15.

40 Safri Nugraha, dkk., Hukum Administrasi Negara, (Depok: Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2007).hlm.32.

terhadap pelaksana kebijakan. Celah tersebut kemudian dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk diperkarakan baik di lingkup pengadilan perdata, maupun di lingkup pengadilan tata usaha negara41.

Dalam perjalanannya instansi pemerintah pernah disomasi oleh masyarakat, hal ini tentu menjadi hal yang lumrah di era demokrasi saat ini. Sebagai contoh somasi terbuka yang pernah diajukan oleh masyarakat kepada Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman. Pada pokoknya somasi tersebut dibuat agar pemerintah menjalankan Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta (PTUN Jakarta) Nomor 193/G/LH/2015/PTUN-JKT. Pengadilan TUN Jakarta telah memutuskan menyatakan batal atau tidak sah Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 2238 Tahun 2014 tentang Pemberian Izin Pelaksanaan Reklamasi Pulau G kepada PT Muara Wisesa Samudra42.

Dari penjelasan diatas, beberapa hal perlu dilakukan oleh analis hukum ahli pertama jika instansi pemerintah mendapat somasi. Beberapa hal tersebut yaitu informasi utama yang dalam surat somasi, antara lain, identitas yang pengirim somasi, identitas pihak yang disomasi (apakah yang disomasi adalah lembaga pemerintah dalam hal ini kementerian/lembaga negara dan pemerintah daerah atau pejabat pemerintah), isi somasi, batas waktu pemenuhan tuntutan somasi, upaya hukum lanjutan yang akan ditempuh

41 Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Hukum Dan Hak Asasi Manusia.

Op.Cit.hlm.16

42 https://www.solidaritasperempuan.org/somasi-terbuka. (diakses tanggal 30 Juli Pukul 19.00 WIB).

jika somasi tidak diindahkan dan tanda tangan pengirim somasi.

b. Kondisi Jika Pemerintah Yang Mensomasi. Dalam kondisi ini biro hukum dapat bertindak sebagai kuasa hukum instansi pemerintah. Terkait dengan konsep kuasa hukum pada intinya subjek pemberian kuasa terdiri dari pihak yang memberikan kuasa atau pemberi kuasa (lastgever) dan penerima kuasa (lastheber). Pemberi kuasa mewakilkan kepentingan hukumnya kepada penerima kuasa sesuai dengan fungsi hak dan kewenangan dalam surat kuasa.

Untuk dan atas nama pemberi kuasa, penerima kuasa dapat mewakili kepentingan hukum pemberi kuasa dalam berhubungan dengan pihak ketiga.

Oleh sebab itu, pemberi kuasa bertanggung jawab penuh terhadap tindakan penerima kuasa, sepanjang tidak melebihi apa yang dikuasakan. Sesuai dengan kewenangannya itu berdasarkan surat kuasa, tindakan penerima kuasa sebagai pihak formil memiliki otoritas untuk langsung mengikat di pemberi kuasa sebagai pihak materiil43.

Istilah lastgeving yang dimaksud dalam Pasal 1792 KUH Perdata, diterjemahkan dengan istilah “pemberian kuasa”

oleh R Subekti dan R Tjitrosudibio, yaitu: Pemberian kuasa adalah suatu persetujuan dengan mana seorang memberikan kekuasaan kepada seorang lain, yang

43 Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Hukum Dan Hak Asasi Manusia.

Op.Cit.hlm.11.

menerimanya untuk dan atas namanya, menyelenggarakan suatu urusan.

Kata “persetujuan” menunjukkan pemberian kuasa menganut konsep sebagai perjanjian (lastgeving), di mana ketentuan syarat-syarat sahnya suatu perjanjian dan asas-asas hukum yang fundamental, yaitu asas-asas konsensualisme, asas kebebasan berkontrak dan asas kekuatan mengikat, berlaku bagi perjanjian pemberian kuasa. Kata “untuk dan atas nama” ditafsirkan bahwa dalam perjanjian pemberian kuasa, selalu melahirkan perwakilan, yang membawa akibat bahwa ketentuan lastgeving berlaku bagi pemberian kuasa yang melahirkan perwakilan (volmacht)44.

Kuasa yang diatur dalam undang-undang, yang dapat dipergunakan di depan sidang pengadilan yakni Kuasa Umum Kuasa umum diatur dalam Pasal 1795 KUH Perdata, di mana kuasa umum bertujuan untuk memberi kuasa kepada seseorang untuk mengurus kepentingan pemberi kuasa mengenai pengurusan, yang disebut berharder untuk mengatur kepentingan pemberi kuasa, yaitu45:

1) Melakukan tindakan pengurusan harta kekayaan pemberi kuasa.

2) Pengurusan itu meliputi segala sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan pemberi kuasa atas harta kekayaannya.

3) Dengan demikian titik berat kuasa umum, hanya meliputi perbuatan atau tindakan pengurusan kepentingan pemberi kuasa.

44 Ibid. hlm.12.

45 R. Soeroso, Tata Cara dan proses Persidangan, (Jakarta: Sinar Grafika, 2009). hlm.24.

Lebih lanjut dikenal pula suatu jenis kuasa yang bersifat khusus yang merupakan kuasa yang dibuat untuk satu perkara tertentu, untuk satu tingkatan pengadilan pada lingkup badan peradilan tertentu dan menciptakan ketentuan dalam hal pemahaman terhadap surat kuasa khusus yang diajukan oleh para pihak berperkara kepada Badan-badan Peradilan, antara lain46:

1) Surat Kuasa Khusus. Adapun pengaturan mengenai surat kuasa khusus diatur dalam Pasal 1975 BW, yaitu mengenai pemberian kuasa mengenai satu kepentingan tertentu atau lebih. Agar bentuk kuasa yang disebut dalam pasal ini sah sebagai surat kuasa khusus di depan pengadilan, kuasa tersebut harus disempurnakan terlebih dahulu dengan syarat-syarat yang disebutkan dalam Pasal 123 HIR.

2) Surat Kuasa Istimewa. Kuasa istimewa diatur dalam pasal 1796 BW yang berbunyi pemberian kuasa yang dirumuskan dalam kata-kata umum, hanya meliputi perbuatan-perbuatan pengurusan, dikaitkan dengan Pasal 157 HIR atau Pasal 184 RBg. Dalam surat kuasa itu ditegaskan dengan kata-kata yang jelas, mengenai tindakan apa yang hendak dilakukan kuasa.

mendapatkan surat kuasa dari klien nya, jika penerima kuasa yang sudah diberikan surat kuasa kemudian menguasakan kembali kepada advokat lain, maka diperlukan surat kuasa substitusi.

3) Surat Kuasa Substitusi. Surat kuasa Substitusi masuk kepada surat kuasa khusus yang dimana Surat kuasa

46 Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Hukum Dan Hak Asasi Manusia.

Op.Cit.hlm.13.

khusus ialah surat kuasa yang dibuat untuk satu perkara tertentu dan untuk satu tingkatan pengadilan pada lingkup badan peradilan tertentu.

4) Surat Kuasa Insidentil. Kuasa insidentil dapat diartikan kemampuan atau kesanggupan seseorang untuk melakukan peristiwa yang terjadi, dilakukan hanya pada kesempatan pada waktu-waktu tertentu. Surat kuasa insidentil adalah surat kuasa yang diberikan kepada yang masih ada kaitannya dengan hubungan kekeluargaan. Yang boleh menjadi kuasa insidentil adalah saudara atau keluarga yang ada hubungan darah, paling jauh hingga derajat ketiga. Misalnya, satu derajat ke bawah (anak), ke samping (saudara kandung), atau ke atas (orang tua). Surat kuasa ini tidak bisa diberikan ke orang yang salah, dimana insidentil ini hanya disyaratkan kepada orang yang berhubungan keluarga dan dapat dibuktikan dengan suatu pencatatan hubungan keluarga yang sah.

Dari penjelasan diatas, selain pemahaman akan jenis surat kuasa analis hukum dituntut untuk mampu mengidentifikasi somasi yang akan dilayangkan oleh instansi pemerintah.

Bentuk identifikasi tersebut pada dasarnya hampir sama dengan identifikasi jika pemerintah digugat (identitas yang pengirim somasi, identitas pihak yang disomasi, isi somasi, batas waktu pemenuhan tuntutan somasi, upaya hukum lanjutan yang akan ditempuh jika somasi tidak diindahkan dan tanda tangan pengirim somasi).

2. Identifikasi Pengaduan Masyarakat.

Pengaduan masyarakat penting bagi pemerintah untuk melihat seberapa besar keberhasilan dalam melaksanakan kegiatan.

Pengaduan masyarakat merupakan elemen penting dalam instansi daerah, karena pengaduan bertujuan memperbaiki kekurangan dari kegiatan yang sudah dilaksanakan. Bahwa Negara berkewajiban untuk melayani setiap warga Negara untuk memenuhi hak dan kebutuhan dasarnya dalam kerangka pelayanan publik yang merupakan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Hak setiap warga Negara untuk mendapatkan layanan perlu dipenuhi oleh pemerintah menjadi tanggung jawab pemerintah untuk memenuhinya sebagaimana termuat dalam Pasal 28I Ayat (4) UUD 1945 yang menjelaskan bahwa perlindungan, pemajuan, penegakkan, dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara, terutama pemerintah.

Salah satu upaya Pemerintah dalam menindaklanjuti tuntutan aspirasi reformasi adalah diterbitkannya Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara Yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Yang paling utama dalam kebijakan tersebut adalah dikembangkannya akuntabilitas kinerja aparatur sebagai wujud implementasi dari tuntutan aspirasi reformasi, agar aparatur negara mampu mempertanggungjawabkan tugas, fungsi dan wewenangnya kepada rakyat Indonesia sebagai pemegang kekuasaan tertinggi negara. Sebagai penjabaran lebih lanjut diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1999 tentang Tata Cara Pelaksanaan Peran Serta Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Negara.

Peraturan Pemerintah dimaksud, antara lain menjelaskan bahwa yang dimaksud peran serta masyarakat adalah peran aktif masyarakat untuk ikut serta mewujudkan penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme yang dilaksanakan dengan menaati norma hukum, moral dan sosial yang berlaku dalam masyarakat47.

Dengan demikian 2 (dua) hal penting yang perlu diperhatikan adalah48:

a. Tindakan hukum terhadap pelaku tindak Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme yang khusus ditujukan kepada para Penyelenggara Negara dan Pejabat lain yang memiliki fungsi strategis dalam kaitannya dengan penyelenggaraan negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan yang berlaku.

b. Pemberdayaan masyarakat dalam rangka mewujudkan penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Dengan hak dan kewajiban yang dimiliki, masyarakat diharapkan dapat lebih terbuka dalam melaksanakan kontrol sosial secara optimal terhadap Penyelenggara Negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Melalui kedua kebijakan di atas diharapkan dapat menumbuhkembangkan hal-hal penting sebagai berikut49: a. Penyelenggara Negara semakin berhati-hati dalam

melakukan tugas, fungsi dan tanggung jawab di bidangnya

47 Pedoman Umum Penanganan Pengaduan Masyarakat Bagi Instansi Pemerintah.

Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.2009.hlm.1.

48 Ibid.hlm.2.

49 Ibid.

masing-masing sehingga berdampak pada percepatan penurunan prosentase tindak penyimpangan yang dewasa ini masih banyak terjadi di kalangan aparatur negara terutama aparatur pemerintah baik di pusat maupun di daerah.

b. Melakukan berbagai tindakan nyata dalam rangka menindaklanjuti pengawasan masyarakat utamanya melalui intensifikasi penanganan pengaduan masyarakat oleh semua unsur aparatur negara terutama aparatur pemerintah baik di pusat maupun di daerah melalui siklus penanganan yang dikemas secara komprehensif, terkoordinasi, terpadu dan sinergis serta saling menghormati hak, kewajiban dan wewenangnya masing-masing berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Secara bertahap keberhasilan menangani pengaduan masyarakat, diharapkan dapat mempercepat perwujudan penyelenggaraan pemerintahan yang baik (Good Governance) terutama dalam memberikan pelayanan, pengayoman dan pemberdayaan kepada masyarakat.

Dari penjelasan diatas, instansi pemerintah menindaklanjuti dengan peraturan internal (Peraturan Menteri/Lembaga dan Peraturan Pemerintah Daerah baik Provinsi, Kabupaten/Kota).

Berikut beberapa contoh peraturan tersebut, antara lain:

a. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2018 tentang Pedoman Sistem Pengaduan Pelayanan Publik Nasional.

b. Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 57 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Hukum dan Hak

Asasi Manusia Nomor 25 Tahun 2012 tentang Penanganan Laporan Pengaduan di Lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

c. Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 44/Permen-KP/2018 tentang Penanganan Pengaduan di Lingkungan Kementerian Kelautan Dan Perikanan.

d. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 13 Tahun 2017 tentang Penanganan Pengaduan Masyarakat Terpadu di Lingkungan Kementerian Kesehatan.

e. Peraturan Wali Kota Bogor Nomor 11 Tahun 2019 tentang Pelayanan Penanganan Pengaduan Masyarakat.

Selain tindak lanjut dari segi regulasi, instansi pemerintah terus berinovasi dalam rangka meningkatkan pelayanan publik khususnya pengaduan masyarakat melalui sistem informasi. Hal ini tentu saja sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah terus berusaha untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.

Lebih lanjut Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, sistem informasi memberikan peran yang sangat penting dalam bidang pelayanan publik, sehingga pelayanan publik menggunakan keunggulan sistem informasi yang digunakan sebagai kunci strategi pengelolaan pelayanan.

Manajemen pelayanan publik dapat berjalan dengan baik untuk mencapai tujuan memerlukan adanya sistem informasi manajemen yang membantu atau menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan bagi pimpinan dalam pengelolaan pelayanan publik.

Salah satu bentuk upaya peningkatan kualitas pelayanan, dilakukan melalui penanganan pelaporan masyarakat yang masuk melalui tatap muka, call center, surat atau email, WhatsApp atau SMS, media sosial (bisa melalui twitter, instagram, facebook) aplikasi yang disediakan oleh instansi pemerintah.

Berikut contoh bentuk pelayanan publik/pengaduan masyarakat melalui media informasi yang ada Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan HAM dan yang ada di Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui SIPPN Kemenpan RB:

Gambar 3.1. Pengaduan Online di Badan Pembinaan Hukum Nasional

Sumber: https://lapor.bphn.go.id.

Gambar 3.2. Sistem Informasi Pelayanan Publik di Pemerintah Provinsi Jawa Barat

Sumber:https://sippn.menpan.go.id/pelayananpublik/wilayah/

pemerintahprovinsi-jawa-barat/biro-hukum- dan ham.

Pelayanan pengaduan masyarakat harus dikelola dengan prinsip responsif, objektif, adil, rahasia, dan akuntabel. Terkait dengan identifikasi pengaduan masyarakat, secara umum dapat dilakukan dalam beberapa tahapan yaitu50:

50 Bandingkan dengan lampiran Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 62 Tahun 2018 tentang Pedoman Sistem Pengelolaan Pengaduan Pelayanan Publik Nasional. hlm.13-14.

a. Melakukan verifikasi pengaduan mulai dari identitas pelapor, substansi sampai data dukung pengaduan yang diterima.

b. Membuat rumusan apakah laporan pengaduan berupa sengketa atau berupa indikasi pelanggaran terhadap peraturan yang berlaku.

c. Mengidentifikasi subjek dan objek pengaduan.

d. Melakukan klarifikasi atas informasi dalam pengaduan serta meminta dokumen pendukung kepada pengadu apabila diperlukan.

e. Menentukan kelayakan dan kelengkapan pengaduan untuk diteruskan kepada Admin Instansi/organisasi atau tidak.

B. KLASIFIKASI BAHAN DAN DATA TERKAIT SOMASI ATAU PENGADUAN

Pembahasan untuk sub bab ini, perihal klasifikasi bahan dan data, peserta dapat membaca klasifikasi bahan dan data yang sudah dijelaskan pada Bab II modul ini. Khususnya pembahasan terkait

Pembahasan untuk sub bab ini, perihal klasifikasi bahan dan data, peserta dapat membaca klasifikasi bahan dan data yang sudah dijelaskan pada Bab II modul ini. Khususnya pembahasan terkait

Dokumen terkait