• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

D. Uraian Teoritis

3. Klasifikasi Pajak Daerah

Dalam penulisan ini, penulis membahas tentang Pajak Hiburan di Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Kota Medan.

Salah satu sumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) yaitu berasal dari sektor pajak daerah yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009. Pajak daerah terbagi atas Pajak Provinsi dan Pajak Kabupaten/Kota.

A. Pajak Provinsi terdiri dari:

1. Pajak Kendaraan Bermotor

2. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor 3. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 4. Pajak Air Permukaan

5. Pajak Rokok

B. Pajak Kabupaten/Kota terdiri dari:

1. Pajak Hotel 2. Pajak Restoran 3. Pajak Hiburan 4. Pajak Reklame

5. Pajak Penerangan Jalan

6. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan 7. Pajak Parkir

8. Pajak Air Tanah

9. Pajak Sarang Burung Walet

10. Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan 11. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan a. Pengertian Pajak Hiburan

Menurut Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009 pasal 1 angka 24 dan 25 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Pajak Hiburan adalah pajak atas penyelenggaraan hiburan. Sedangkan yang dimaksud hiburan adalah semua jenis tontonan, pertunjukan,

permainan, dan/atau keramaian yang dinikmati dengan dipungut bayaran.

b. Objek Pajak Hiburan

Menurut Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Objek Pajak Hiburan adalah jasa penyelenggaraan Hiburan dengan dipungut bayaran.

Hiburan yang atas jasa penyelenggaraannya ditentukan menjadi objek adalah:

1) tontonan film;

2) pagelaran kesenian, musik, tari, dan/atau busana;

3) kontes kecantikan, binaraga, dan sejenisnya;

4) pameran;

5) diskotik, karaoke, klab malam, dan sejenisnya;

6) sirkus, akrobat, dan sulap;

7) permainan bilyar, golf, dan boling;

8) pacuan kuda, kendaraan bermotor, dan permainan ketangkasan;

9) panti pijat, refleksi, mandi uap/spa, dan pusat kebugaran (fitness center); dan

10) pertandingan olahraga.

c. Bukan Objek Pajak

Pada Pajak Hiburan tidak semua penyelenggaraan hiburan dikenakan pajak. Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009 Pasal 42 ayat 3, penyelenggaraan hiburan yang

merupakan objek Pajak Hiburan dapat dikecualikan dengan peraturan daerah. Pengecualian ini misalnya saja dapat diberikan terhadap penyelenggaraan hiburan yang tidak dipungut bayaran, seperti hiburan yang diselenggarakan dalam rangka pernikahan, upacara adat, dan kegiatan keagamaan.

d. Subjek Pajak dan Wajib Pajak

Menurut Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009 Pasal 43 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Subjek Pajak Hiburan adalah orang pribadi atau Badan yang menikmati Hiburan. Wajib Pajak Hiburan adalah orang pribadi atau Badan yang menyelenggarakan Hiburan.

e. Dasar Pengenaan, Tarif dan Cara Perhitungan Pajak Hiburan 1) Dasar Pengenaan Pajak Hiburan

Dasar pengenaan Pajak Hiburan adalah jumlah uang yang diterima atau yang seharusnya diterima oleh penyelenggara hiburan. Jumlah uang yang seharusnya diterima sebagaimana dimaksud adalah termasuk potongan harga dan tiket cuma-cuma yang diberikan kepada penerima jasa hiburan.

2) Tarif Pajak Hiburan

Sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 8 tahun 2016 tentang Pajak Hiburan.

a. Tarif pajak untuk pertunjukan film di bioskop ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen)

b. Tarif pajak untuk pagelaran kesenian, musik, tari dan/atau busana yang berkelas lokal/tradisional sebesar 0% (nol persen)

c. Tarif pajak untuk pagelaran kesenian, musik, tari dan/atau busana yang berkelas nasional sebesar 10%

(sepuluh persen)

d. Tarif pajak untuk pagelaran kesenian, musik, tari dan/atau busana yang berkelas internasional sebesar 10%

(sepuluh persen)

e. Tarif pajak untuk kontes kecantikan yang berkelas lokal/

tradisional sebesar 0% (nol persen)

f. Tarif pajak untuk kontes kecantikan yang berkelas nasional sebesar 10% (sepuluh persen)

g. Tarif pajak untuk kontes kecantikan yang berkelas internasional sebesar 10% (sepuluh persen)

h. Tarif pajak untuk pameran yang bersifat non komersial sebesar 0% (nol persen)

i. Tarif pajak untuk pameran yang bersifat komersial sebesar 10% (sepuluh persen)

j. Tarif pajak untuk sirkus, akrobat, dan sulap yang berkelas lokal/tradisional sebesar 0% (nol persen)

k. Tarif pajak untuk sirkus, akrobat, dan sulap yang berkelas nasional dan internasional sebesar 10% (sepuluh persen)

l. Tarif pajak untuk permainan bilyar yang menggunakan air conditioner (AC) dikenakan pajak 20% (dua puluh persen) dan permainan bilyar yang tidak menggunakan air conditioner (AC) dikenakan pajak 15% (lima belas persen).

m. Tarif pajak untuk pertandingan olahraga yang berkelas lokal/tradisional sebesar 0% (nol persen)

n. Tarif pajak untuk pertandingan olahraga yang berkelas nasional sebesar 10% (sepuluh persen)

o. Tarif pajak untuk pertandingan olahraga yang berkelas internasional sebesar 15% (lima belas persen)

p. Tarif pajak untuk panti pijat, refleksi, mandi uap, dan pusat kebugaran (fitness centre) sebesar 30% (tiga puluh persen) q. Tarif pajak untuk diskotik, karaoke, klub malam dan

sejenisnya sebesar 30% (tiga puluh persen)

r. Tarif pajak untuk pacuan kuda yang berkelas lokal/tradisional sebesar 0% (nol persen)

s. Tarif pajak untuk pacuan kuda yang berkelas internasional sebesar 15% (lima belas persen)

t. Tarif pajak untuk pacuan kendaraan bermotor dan permainan ketangkasan sebesar 20% (dua puluh persen) 3) Cara Perhitungan Pajak Hiburan

Besaran pokok Pajak Hiburan yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak sebagaimana dimaksud dalam tarif pajak dengan dasar pengenaan pajak yaitu jumlah

uang yang diterima atau yang seharusnya diterima oleh penyelenggara hiburan.

Masa pajak hiburan adalah masa pajak adalah jangka waktu yang lamanya sama dengan 1 (satu) bulan takwim. Bagian dari bulan dihitung satu bulan penuh. Pajak terutang terjadi pada saat penyelenggaraan hiburan. Dalam hal pembayaran diterima sebelum hiburan tersebut diselenggarakan, pajak terutang pada saat terjadinya pembayaran.

E. METODE PENELITIAN

Adapun yang menjadi metode penelitian dalam melaksanakan Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut:

a. Bentuk / Jenis Penelitian

Bentuk dari Penelitian ini, Penulis menggunakan Penelitian Deskriptif.

Penelitian Deskriptif adalah penelitian yang bermaksud untuk membahas tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian dan mendeskripsikan suatu gejala peristiwa, data, dan fakta yang terjadi saat berlangsungnya suatu penelitian.

Pajak Terutang = Tarif Pajak x Dasar Pengenaan Pajak

Tarif Pajak x Jumlah Uang yang Diterima atau yang Seharusnya Diterima oleh Penyelenggara Hiburan

b. Data yang dipergunakan 1. Jenis Data

Adapun jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif dan kuantitatif

a. Data Kualitatif, yaitu data yang disajikan dalam bentuk kata verbal yang mencakup gambaran umum objek penelitian, yang meliputi sejarah singkat berdirinya BPPRD, struktur organisasinya, dan tugas pokok maupun fungsi dari BPPRD.

b. Data Kuantitatif, yaitu jenis data yang dapat diukur atau dihitung secara langsung, yang berupa informasi atau penjelasaan yang dinyatakan dalam bentuk angka. Dalam hal ini data kuantitatif yang diperlukan adalah: Jumlah pegawai berdasarkan tingkat jabatan, pendidikan mapun berdasarkan jenis kelamin. Pada data ini juga mencakup jumlah UPT BPPRD yang tersebar di kota medan, jumlah Objek maupu Subjek Pajak Hiburan, dan Jumlah Target dan Realisasi Penerimaan Pajak Hiburan di Badan Pengelololaan Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Kota Medan.

2. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian adalah subjek darimana data nya diperoleh dalam penelitian ini. Peneliti menggali data dari dua sumber yaitu :

a. Data Primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari objek ataupun subjek yang relevan dengan masalah-masalah yang sudah ada dirumuskan dalam penelitian ini diperoleh dengan cara

wawancara, dimana petugas menjadi sumber informasi dalam pengumpulan data.

b. Data Sekunder adalah data yang tidak langsung diperoleh dari hasil kepustakaan. Praktek kepustakaan diperoleh dari menyadur berbagai buku, jurnal ilmiah, peraturan perundang-undangan, peraturan pemerintah maupun dari bahan-bahan tertulis lainya.

c. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini umtuk mengumpulkan data-data yang diperlukan oleh peneliti adalah :

a. Wawancara

Dalam metode ini, instrument yang digunakan sebagai pengumpulan data berupa pedoman wawancara yang berupa pertanyaan-pertanyaan yang sistematis dan terarah. Pedoman yang dimaksud adalah bentuk pertanyaan yang digunakan baik yang telah dirumuskan sebelunya maupun yang belum. Metode ini digunakan peneliti dalam mencari data secara langsung dengan objek penelitian guna mencari informasi yang dibutuhkan.

b. Observasi

Dalam metode ini peneliti melakukan peninjauan langsung ke lapangan terhadap objek penelitian untuk memperoleh data yang diperlukan.

c. Studi Dokumentasi

Dalam metode ini peneliti meminta dokumen yang berakitan dengan penelitian. Dokumen tersebut dapat berupa struktur organisasi, tugas dan fungsi pokok gambaran pegawai, seerta data perkembangan Target dan Relisasi penerimaan Pajak Hiburan pada Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) Kota Medan.

d. Informan Penelitian

Dalam Penelitian ini, Informan Penelitian yang memahami informasi tentang objek penelitian. Informan yang dipilih harus memiliki kriteria agar informasi yang didapatkan bermanfaat untuk penelitian yang dilakukan. Kriteria untuk menentukan informan penelitian ini antara lain :

a. Informan yang intensif menyatu dengan suatu kegiatan atau bidang aktivitas yang menjadi sasaran dan bisa memberikan informasi yang di butuhkan pada saat penelitian.

b. Informan mempunyai cukup banyak waktu dan kesempatan untuk dimintai informasi, data, maupun hal pendukung dalam melengkapi data penelitian.

F. METODE ANALISA

Adapun Metode yang digunakan dalam analisa data ini adalah menggunakan metode deskriptif analisis, yaitu data yang diperoleh kemudian dituangkan dalam bentuk kata-kata maupun skema, kemudian

dideskripsikan sehingga dapat memberikan kejelasan yang realistis dan memberikan kejelasan informasi maupu data yang diperoleh.

BAB II

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

A. Sejarah Singkat Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan

Pada awalnya Dinas Pendapatan Daerah Kota Medan adalah suatu sub bagian pada bagian keuangan yang mengelola bidang penerimaan dan pendapatan daerah. Pada sub bagian ini tidak terdapat lagi sub seksi, karena pada saat itu wajib pajak atau wajib retribusi yang berdomisili di daerah Kota Medan belum begitu banyak.

Mempertimbangkan perkembangan pembangunan dan laju pertumbuhan penduduk di Kota Medan melalui peraturan sub bagian keuangan tersebut dirubah menjadi bagian pendapatan. Pada bagian pendapatan maka dibentuklah beberapa seksi yang mengelola penerimaan pajak dan retribusi yang merupakan kewajiban para wajib pajak atau wajib retribusi dalam Kota Medan yang terdiri dari 21 Kecamatan, diantaranya Kecamatan Medan Tuntungan, Medan Johor, Medan Amplas, Medan Denai, Medan Tembung, Medan Kota, Medan Area, Medan Baru, Medan Polonia, Medan Maimun, Medan Selayang, Medan Barat, Medan Belawan, Medan Deli, Medan Helvetia, Medan Labuhan, Medan Marelan, Medan Perjuangan, Medan Petisah, Medan Sunggal, Medan Timur. Sehubungan dengan intruksi Menteri Dalam Negeri KPUD No. 7/12/41-10 tentang penyeragaman struktur organisasi Dinas Pendapatan Daerah diseluruh Indonesia, maka

Pemerintah Daerah Kota Medan berdasarkan PERDA No. 12 Tahun 1978 menyesuaikan atau membentuk struktur organisasi DISPENDA yang baru.

Di dalam struktur organisasi yang baru ini dibentuklah seksi-seksi administrasi Dinas Pendapatan Daerah serta bagian tata usaha yang membawahi 3 (tiga) Kepala sub bagian yang merupakan sub Sektor Perpajakan, Retribusi Daerah, dan Pendapatan Daerah yang merupakan kontribusi yang cukup penting bagi pemerintahan daerah dalam mendukung serta memelihara hasil-hasil pembangunan dari peningkatan pendapatan daerah.

Bagian Tata Usaha terdiri dari 3 (tiga) Kepala Sub Bagian. Peningkatan penerimaan pendapatan daerah melalui Sub Sektor Perpajakan, Retribusi Daerah, Pendapatan Daerah lainnya serta peningkatan pemungutan Pajak Restoran yang merupakan kontribusi yang cukup penting bagi Pemerintah Daerah. Meningkatnya pendapatan daerah hendaknya tidak hanya ditempuh dengan cara kebijaksanaan menaikkan tarif saja, tetapi yang lebih penting dengan memperbaiki sistem atau menyempurnakan administrasi, sistem dan prosedur serta organisasi dari Dinas Pendapatan Daerah yang ada sekarang.

Namun pada kondisi sekarang ini, dirasakan tuntutan untuk perlunya meninjau kembali dan penyempurnaan Manual Pendapatan Daerah (MAPATDA). Seiring dengan tuntutan gerak pembangunan yang sedang berjalan terutama dari pola pendekatan yang selama ini dilakukan secara sektoral perlu dirubah secara fungsional dan disesuiakan dengan kebijaksanaan pemerintah yang paling akhir dibidang perpajakan, maka

penyempurnaan telah dilaksanakan secara sungguh-sungguh sehingga akhirnya Manual Pendapatan Daerah (MAPATDA) berhasil disusun.

Adapun penyempurnaan dimaksud dituangkan dalam:

1. Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 973/442 Tahun 1988 pada tanggal 26 Mei 1988, tentang sistem prosedur perpajakan, retribusi daerah, dan pendapatan daerah lainnya serta pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan.

2. Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 10 tanggal 26 Mei 1988, tentang pelaksanaan Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 973/442 Tahun 1988.

3. Surat Menteri Dalam Negeri No. 23 Tahun 1989 tanggal 26 Mei 1988, tentang Organisasi dan tata kerja Dinas Pendapatan Kota Medan.

Pendapatan Daerah Kota Medan atau Manual Pendapatan Daerah (MAPATDA) yang dilaksanakan bertahap dan penyempurnaannya sebagai tahap awal untuk Dinas Pendapatan Daerah Kota Medan secara efektif. Berdasarkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No.

061/1861/PUOD, tanggal 2 Mei 1988, instruktur Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Utara No. 188.342/790/SK/1991, tentang pelaksanaan PERDA No. 16 Tahun 1991 tentang susunan organisasi dan tata kerja Dinas Pendapatan Daerah Kota Medan.

Dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah, maka pada awal tahun 2017 setiap instansi vertikal akan mengalami perubahan nomenklatur, salah satunya Dinas Pendapatan Daerah Kota

Medan (DISPENDA) yang berubah nama menjadi Badan Pengelola Pajak dan Retribusi DaerahKota Medan (BPPRD).

B. Struktur Organisasi Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan

Struktur Organisasi Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan terdiri dari:

1. Kepala Badan

2. Sekretaris, terdiri dari:

a. Sub Bagian Umum b. Sub Bagian Keuangan

c. Sub Bagian Penyusunan Program

3. Bidang Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan, Pajak Bumi dan Bangunan terdiri dari:

a. Sub Bidang Teknis Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan dan Pajak Bumi dan Bangunsan

b. Sub Bidang Keberatan dan Sengketa c. Sub Bidang Pembukuan dan Pelaporan 4. Bidang Hotel, Restoran, dan Hiburan terdiri dari:

a. Sub Bidang Teknis Hotel, Restoran, dan Hiburan b. Sub Bidang Keberatan dan Sengketa

c. Sub Bidang Pembukuan dan Pelaporan

5. Bidang Parkir, Reklame, Penerangan Jalan, Air Tanah, Sarang Burung

a. Sub Bidang Teknis Parkir, Reklame, Penerangan Jalan, Air Tanah, Sarang Burung Walet dan Retribusi

b. Sub Bidang Keberatan dan Sengketa c. Sub Bidang Pembukuan dan Pelaporan

6. Bidang Pengembangan dan Pengendalian Pajak dan Retribusi Daerah terdiri dari:

a. Sub Bidang Perencanaan, Pengembangan, dan Evaluasi Pajak Daerah

b. Sub Bidang Perencanaan, Pengembangan, dan Evaluasi Retribusi Daerah

c. Sub Bidang Hukum dan Publikasi Pajak Daerah dan Retribusi Daerah

7. Unit Pelaksana Teknis

8. Kelompok Jabatan Fungsional dan Pelaksana

C. Uraian Tugas Pokok dan Fungsi Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan

Sesuai dengan keputusan Walikota Medan No. 27 Tahun 2017 tentang Tugas Pokok dan Fungsi Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan, dalam keputusan ini yang dimaksud dengan:

1. Daerah adalah Kota Medan

2. Pemerintah Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan dewan perwakilan rakyat daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya

dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

3. Pemerintah Daerah adalah Wali Kota sebagai unsur penyelenggara Pemerintah Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.

4. Wali Kota adalah Wali Kota Medan.

5. Sekretaris Daerah adalah Sekretaris Daerah Kota Medan.

6. Badan adalah Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan.

7. Kepala Badan adalah Kepala Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan.

8. Sekretaris adalah Sekretaris Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah Kota Medan.

9. Aparatur Sipil Negara, yang selanjutnya disingkat ASN adalah profesi bagi pegawai negri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang bekerja pada instansi pemerintah.

10. Pegawai Aparatur Sipil Negara, yang selanjutnya disebut pegawai ASN adalah pegawai negri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang diangkat oleh pejabat Pembina kepegawaian dan diserahi tugas dalam suatu jabatan pemerintah atau diserahi tugas negara lainya dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan.

11. Pegawai Negri Sipil, yang selanjutnya disingkat PNS adalah warga

Pegawai ASN secara tetap oleh pejabat Pembina kepegawaian untuk menduduki jabatan pemerintahan.

12. Urusan Pemerintahan adalah kekuasaan pemerintahan yang menjadi kewenangan Preseiden yang pelaksanaanya dilakukan oleh kementrian negara dan penyelenggara Pemerintahan Daerah untuk melindungi, melayani, memberdayakan, dan mensejaterahkan masyarakat.

13. Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang selanjutnya disingkat SKPD adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/barang.

14. Perangkat Daerah adalah unsur pembantu Wali Kota dan DPRD daalam penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah.

15. Jabatan Fungsional adalah sekelompok jabatan yang berisi fungsi dan tugas berkaitan dengan pelayanan fungsional yang berdasarkan atas keahlian dan keterampilan tertentu.

16. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, yang selanjutnya disingkat RPJPD adalah dokumen perencanaan Daerah untuk periode 20 (dua puluh) tahun.

17. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, yang selanjutnya disingkat RPJMD adalah dokumen perencanaan Daerah untuk periode 5 (lima) tahun.

18. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, yang selanjutnya disingkat APBD adalah rencana keuangan tahunan Daerah yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

19. Kebijakan Umum APBD, yang selanjutnya disingkat KUA adalah dokumen yang memuat kebijakan bidang pendapatan, belanja, dan pembiayaan serta asumsi yang mendasarinya untuk periode 1 (satu) tahun.

20. Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara, yang selanjutnya disingkat PPAS adalah program prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada Perangkat Daerah untuk setiap program sebagai acuan dalam penyusunan rencana kerja dan anggaran satuan kerja Perangkat Daerah.

21. Rencana Umum Kota adalah dokumen perencanaan yang telah ditetapkan menjadi rencana lingkup Kota yang meliputi antara lain RPJPD, RPJMD, KUA-PPAS, APBD/Perubahan APBD tahun berjalan, dan rencana lainya berdasarkan atas peraturan perundang-undangan.

Adapun tugas pokok dari masing-masing seksi pada Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah adalah sebagai berikut:

a. Kepala Badan

Badan merupakan unsur penunjang urusan pemerintahan dipimpin oleh Kepala Badan, berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Wali Kota melalui Sekretaris Daerah.

Untuk melaksanakan tugas tersebut, Badan Pengelola Pajak dan Retribusi Daerah mempunyai fungsi sebagai berikut:

1. Kepala Badan mempunyai tugas membantu Wali Kota sebagai unsur penunjang urusan pemerintahan lingkup pengelolaan pajak dan retribusi daerah.

2. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Badan menyelenggarakan fungsi:

a. Perumusan kebijakan teknis pengelolaan pajak dan retribusi daerah.

b. Pelaksanaan tugas dukungan teknis pengelolaan pajak dan retribusi daerah.

c. Pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan tugas dukungan teknis pengelolaan pajak dan retribusi daerah.

d. Pembinaan teknis penyelenggaraan fungsi penunjang urusan pemerintahan lingkup pengelolaan pajak dan retribusi daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan, dan

e. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Wali Kota terkait dengan tugas dan fungsinya.

b. Sekretariat

Sekretariat pada Badan dipimpin oleh Sekretaris, yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan.

Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut, sekretariat memiliki fungsi:

1. Sekretaris mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Kepala Badan lingkup kesekretariatan yang meliputi pengelolaan administrasi umum, keuangan dan penyusunan program serta

fasilitasi pengoordinasian penyusunan kebijakan dan pelaksanaan tugas Kepala Badan.

2. Dalam melaksanakan tugas sebagaiaman dimaksud pada ayat (1), Sekretaris menyelenggarakan fungsi:

a. Perencanaan program dan kegiatan kesekretariatan dengan mempedomani rencana umum kota, rencana strategis, dan rencana kerja Badan untuk terlaksananya sinergitas perencanaan.

b. Pelaksanaan penyusunan bahan kebijakan, standar operasional prosedur, standar pelayanan, standar kompetensi jabatan, analisis, jabatan, analisis beban kerja, evaluasi jabatan, laporan kinerja, dan standar lainya lingkup kesekretariatan untuk terselenggaranya aktivitas dan tugas secara optimal.

c. Pendistribusian tugas, pembimbingan, penilaian, penghargaan, dan penegakkan/pemrosesan kedisiplinan pegawai ASN (reward and punishment) lingkup kesekretariatan berdasarkan peraturan perundang-undangan.

d. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Kepala Badan terkait dengan tugas dan fungsinya.

3. Dalam melaksanakan tugas dan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), Sekretaris membawahkan 3 (tiga) Kepala Sub Bagian, antara lain:

a. Kepala Sub Bagian Umum

b. Kepala Sub Bagian Keuangan, dan

c. Kepala Sub Bagian Penyusunan Program

Setiap Sub Bagian dipimpin oleh seorang Kepala Sub Bagian yang dalam melaksanakan tugasnya berada dibawah dan bertanggung jawab kepada sekretaris:

1. Sub Bagian Umum mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Sekretaris lingkup administrasi umum.

Dan adapula fungsinya yaitu:

a. Perencanaan program dan kegiatan Sub Bagian Umum dengan mempedomani rencana umum kota, rencana strategis, dan rencana kerja Badan untuk terlaksananya sinegritas perencanaan.

b. Penyusunan bahan kebijakan, standar operasional prosedur, standar kompetensi jabatan, analisis jabatan, analisis beban kerja, evaluasi jabatan, dan standar lainya lingkup Sub Bagian Umum untuk terselenggaranya aktivitas dan tugas secara optimal.

c. Penyusunan bahan pelaksanaan survei kepuasaan masyarakat atas pelayanan publik.

d. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Sekretaris terkait dengan tugas dan fungsinya.

2. Sub Bagian Keuangan, mempunyai tugas melaksanakan sebagaian tugas Sekretaris lingkup pengelolaan administrasi keuangan, Dan adapula fungsinya yaitu:

a. Perencanaan program dan kegiatan Sub Bagian Keuangan dengan mempedomani rencana umum kota, rencana strategis, dan rencana kerja Badan untuk terlaksananya sinegritas perencanaan.

b. Pelaksana tugas selaku Pejabat Penatausahaan Keuangan Badan.

c. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Sekretaris terkait dengan tugas dan fungsinya.

3. Sub Bagian Penyusunan Program mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas sekretaris lingkup penyusunan program dan pelaporan.

Dan adapula fungsinya yaitu:

a. Perencanaan program dan kegiatan Sub Bagian Penyusunan Program dengan mempedomani rencana umum kota, rencana strategis, dan rencana kerja Badan untuk terlaksananya sinegritas perencanaan.

b. Penyusunan bahan pengendalian, evaluasi, dan penilaian lingkup Sub Bagian Program meliputi unsur pelaksanaan perencanaan, unsur pelaksanaan perumusan kebijakan, unsur pelaksanaan tugas, dan unsur-unsur lainya berdasarkan atas perundang-undangan.

c. Pelaksanaan fungsi lain yang diberikan oleh Sekretaris terkait dengan tugas dan fungsinya.

c. Bidang Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan Dan Pajak Bumi Dan Bangunan

c. Bidang Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan Dan Pajak Bumi Dan Bangunan

Dokumen terkait