TINJAUAN PUSTAKA
2.1.5. Pendapatan Asli Daerah
2.1.5.2. Klasifikasi Pendapatan Asli Daerah
Klasifikasi pendapatan daerah berdasarkan Permendagri 71 Tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.3.
Klasifikasi Pendapatan Daerah
Keterangan Klasifikasi
a. Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Pajak Daerah Retribusi Daerah
Hasil Pengelolahan Kekayaan Daerah Dipisahkan
Lain - lain PAD yang sah b. Pendapatan Dana
Perimbangan/dan Transfer
Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, Dana Bagi Hasil
Pendapatan Transfer Pemerintah Lainnya
Pendapatan Transfer Pemerintah Daerah
Bantuan Keuangan c. Lain - lain Pendapatan
Daerah yang Sah
Pendapatan Hibah Dana Darurat Pendapatan Lainnya
Sumber : Permendagri No. 71 Tahun 2010
Undang - Undang No. 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan daerah disebutkan bahwa sumber pendapatan daerah terdiri dari pendapatan asli daerah, bagi hasil pajak dan bukan pajak, pendapatan asli daerah terdiri dari:
1) Pajak Daerah, 2) Retribusi Daerah,
3) Hasil pengelolahan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan 4) Lain - lain PAD yang sah, meliputi:
1.hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak terpisah; 2.hasil jasa giro;
3. pendapatan bunga;
4.keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing;
5.komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh daerah.
2.1.6. Dana Alokasi Umum (DAU)
Berdasarkan Pasal 1 poin 21 Undang - undang nomor 33 tahun 2004, DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendalami kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan
desentralisasi. Kata “umum” dalam DAU mengandung pengertian DAU
merupakan block grant artinya kewenangan pengaturan penggunaanya deserahkan sepenuhnya kepada daerah sesuai tujuan pemberian otonomi daerah.DAU diberikan kepada seluruh daerah otonom di Indonesia.
DAU merupakan block grant yang diberikan kepada semua kabupaten dan kota untuk tujuan mengisi kesenjangan antara kapasitas dan kebutuhan fiskalnya, dan didistribusikan dengan formula berdasarkan perinsip tertentu yang secara umum mengindikasikan bahwa daerah miskin dan terbelakang harus menerima lebih banyak daripada daerah yang kaya.Dengan kata lain, tujuan penting dana alokasi umum (DAU)
adalah dalam kerangka pemerataan kemampuan penyediaan pelayanan
publik antar pemerintah daerah di Indonesia.” (Kuncoro, 2004)
Menurut Kuncoro (2004 : 30) dana alokasi umum (DAU) dapat diartikan sebagai berikut:
a. komponen dari dana perimbangan pada APBN, yang pengalokasiannya didasarkan atas konsep kesenjangan fiskal atau celah fiskal (Fiscal Gap), yaitu selesih antara kebutuhan fiskal dengan kapasitas fiskal, b. instrumen untuk mengatasi horizontal inbalances, yang dialokasikan
dengan tujuan pemeretaan kemampuan keuangan antar daerah dimana penggunaannya ditetapkan sepenuhnya oleh daerah.
c. equalization grant, yaitu berfungsi untuk menetralisasi ketimpangan kemampuan keuangan dengan adanya pendapatan asli daerah (PAD) dan dana bagi hasil (DBH) sumber daya alam yang diperoleh daerah.
Mardiasmo, (2007 : 157) menyatakan bahwa tujuan dana alokasi umum (DAU) terutama adalah untuk horizontal equity dan sufficiency. Tujuan Horizontal equitymerupakan kepentingan pemerintah pusat dalam rangka melakukan distribusi pendapatan secara adil dan merata agar tidak terjadi kesenjangan antar daerah.Sementara itu, yang menjadi kepentingan daerah adalah kecukupan (sufficiency), terutama untuk menutup fiscal gap.
Menurut Halim (2004 : 160), dana alokasi umum adalah dana yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan daerah
untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.
Dana Alokasi Umum mempunyai bagian-bagian. Bagian-bagian tersebut akan dijelaskan pada bagian berikut.
1. Dana Alokasi Umum untuk Daerah Provinsi.
2. Dana Alokasi Umum untuk daerah Kabupaten/Kota.
DAU ditetapkan minimal 26% dari Pendapatan Dalam Negeri (PDN) Netto yang ditetapkan dalam APBN.10% untuk DAU daerah provinsi, 90% untuk DAU daerah kabupaten/kota.
DAU Provinsi = �lh��� � ℎ � �X
DAU Kab/kota =�lh��� � ℎ . atau X
2.2. ReviewPenelitian Terdahulu
Berikut ini adalah penelitian-penelitian terdahulu tentang Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah (KKD).Penelitian tersebut yaitu Muliana (2009),Sholikhah (2011), Suci (2013), Marizka (2013), Nurmince (2014), Wilujeng (2014).
Adapun hasil penelitian terdahulu mengenai topik yang berkaitan denganpenelitian ini dapat dilihat dalam Tabel 2.4.
Tabel 2.4.
Hasil Penelitian Terdahulu N o Nama (Tahun) Variabel Penelitian Hasil Penelitian Independen Dependen 1 Muliana (2009) Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dana Aloksi Umum (DAU) Dana Alokasi Khusus (DAK) Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah
1. Secara parsial bahwa rasio efektivitas PAD berpengaruh secara signifikan positif terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah , sedangkan DAU, DAK berpengaruh signifikan negatif terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah 2. Secara simultan, bahwa
Rasio efektivitas PAD, DAU dan DAK berpengaruh secara signifikan positif terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah . 2 Sholikhah (2011) Kemampuan Kemandirian Keuangan Daerah Pertumbuhan Ekonomi
1. KKD rasio rata – rata 7,84% masih berada diantara 0%-25% tergolong mempunyai pola instruktif.
2. KKD berpengaruh negatif tetapi tidak signifikan terhadap Pertumbuhan Ekonomi 3 Suci (2013) Kemandirian Keuangan Daerah Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan 1. Kemandirian keuangan daerah berpengaruh positif secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi 2. Kemandirian keuangan
daerah berpengaruh positif secara signifikan terhadap peningkatan persentase penduduk miskin. 4 Marizka (2013) Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Dana Bagi Hasil (DBH) Dana Alokasi Umum (DAU) Dana Alokasi Khusus (DAK) Tingkat Kemandirian Keuangan Daerah
1. PAD berpengaruh signifikan positif terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah
2. DBH dan DAU tidak berpengaruh teradap TKKD sedangkan DAK
berpengaruh signifikan negatif terhadap TKKD
5 Nurmince (2014) Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dana Alokasi Umum (DAU) Dana Alokasi Khusus (DAK)
Dana Bagi Hasil (DBH)
Kemandirian Keuangan Daerah
1. PAD dan DBH tidak berpengaruh terhadap KKD .
2. DAU dan DAK berpengaruh signifikan terhadap KKD. 6 Wilujeng (2014) Pertumbuhan Penduduk Pertumbuhan Ekonomi Kemandirian Keuangan Daerah 1. Variabel Pertumbuhan Penduduk berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kemandirian keuangan daerah baik dan jangka panjang maupun dalam jangka pendek. 2. Variabel Pertumbuhan
Ekonomi dalam jangka pendek dan jangka panjang tidak mempunyai pengaruh terhadap kemandirian keuangan daerah
Sumber : Berbagai Peneliti
1. Muliana (2009)
Penelitian ini betujuan mengetahui pngaruh PAD, DAU dan DAK terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara yang diukur dengan rasio efektivitas.Metode penelitian ini adalah dengan menggunakan desain penelitian klausal, dengan jumlah sampel 15 Kabupaten/Kota setiap tahunnya dari 29 Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Sumatera Utara. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara parsial rasio Efektivitas PAD berpengaruh signifikan positif terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah, sedangkan DAU dan DAK berpengaruh negatif terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah .secara simultan rasio Efektivitas PAD, DAU dan DAK mempunyai pengaruh signifikan positif terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah.
2. Sholikhah (2011)
Tujuan penelitan iini adalah untuk mengetahui tingkat perkembangan kemampuan dan kemandirian keuangan daerah serta pengaruhnya terhadap pertumbuhna ekonomi di KabupatenWonogiri tahun 2000 – 2009.Data yang digunakan adalah data keuangan APBD dan PDRB perkapita. Metode analisis dalam penelitian ini ada dua macam, yang pertama adalah rasio kemampuan keuangan daerah dan rasio kemandirian keuangan daerah. Yang kedua, dengan alat regresi linier berganda.
Hasil dari kesimpulan dari penelitian menunjukkan bahwa kemampuan keuangan daerah berpengaruh negatif tetapi tidak sigifikan terhadap pertumbuhan ekonomi (growth) artinya semakin tinggi tingkat kemampuan keuangan daerah tidak akan mengurangi tingkat pertumbuhan ekonomi. Kemandirian keuangan daerah berpengaruh positif dan signifikan, artinya semakin tinggi rasio kemandirian daerah maka akan menambah tingkat pertumbuhan ekonomi. 3. Suci (2013)
Penelitian ini bertujuan untuk membahas perkembangan kemandirian keuangan daerah kabupaten dan kota di Provinsi Banten dan menganalisis pengaruh kemandirian keuangan daerah terhadap pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan di Provinsi Banten. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan data panel pada 6 Kabupaten/Kota di Provinsi Banten tahun 2001-2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemandirian keuangan daerah berpengaruh positif secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi sedangkan rasio dana
perimbangan berpengaruh negatif secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.Pada model kemiskinan, kemandirian keuangan daerah berpengaruh positif secara signifikan terhadap peningkatan persentase penduduk miskin, sedangkan rasio dana perimbangan berpengaruh negatif secara signifikan terhadap persentase penduduk miskin, indeks ketimpangan pendapatan dan tingkat pengangguran terbuka berpengaruh positif secara signifikan terhadap persentase penduduk miskin.
4. Marizka (2013)
Penelitian yang dilakukan Marizka di Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Barat bertujuan untuk melihat pengaruh PAD, DBH, DAU dan DAK terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PAD berpengaruh signifikan positif terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah, yang mempunyai arti bahwa semakin tinggi PAD maka akan menambah tingkat kemandirian keuangan daerah. DBH dan DAU tidak berpengaruh terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah, sedangkan DAK berpengatuh signifikan negatif terhadap kemandirian keuangan daerah, yang artinya bahwa semakin tinggi DAK maka akan mengurangi kemandirian keuangan daerah.
5. Nurmince (2014)
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pendapatan asli daerah (PAD), dan dana perimbangan (DAU,DAK,DBH) terhadap kemandirian keuangan daerah pada Kab/Kota di Provinsi Riau diukur dengan rasio efektifitas.
Data yang digunakan adalah laporan realisasi APBD tahun 2008 – 2009.Dalam penelitian ini menggunakan populasi seluruh Kabupatendan Kota di Provinsi Riau.Teknik analisis data yang digunakan adalah regresi linear berganda.Hasilkesimpulan dari penelitian menunjukkan bahwa secara parsial hanya DAU dan DAK yang berpengaruh signifikan terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah, sedangkan PAD dan DBH tidak berpengaruh terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah, sementara secara simultan PAD, DAU, DAK,DBH berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel dependen yaitu tingkat kemandirian keuangan daerah.
6. Wilujeng (2014)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat trend kemandirian keuangan daerah serta pengaruh variabel pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi terhadap kemandirian keuangan daerah di kabupaten Klaten tahun 2003 – 2012. Metode analisis dalam penelitian ini ada 2 macam yaitu yang pertama adalah dengan menggunakan raio kemandirian keuangan daerah dan analisis trend dengan Metode Least Squeres (Kuadrat Minimum). Kedua adalah dengan menggunakan alat analisis regres dinamis Error Conection Model (ECM) untuk mengetahi pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen dalam jangka pendek dan jangka panjang.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah variabel pertumbuhan penduduk berpengaruh negatif dan signifikan terhadap terhadap kemandirian keuangan daerah baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, yang mempunyai arti bahwa semakin tinggi tingkat pertumbuhan penduduk maka akan mengurangi
tingkat kemandirian keuangan daerah, sedangkan variabel pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek maupun jangka panjang tidak mempunyai pengaruh terhadap kemandirian keuangan daerah walaupun dalam jangka panjang koefesien pertumbuhan ekonomi telah positif seperti yang diharapkan.
2.3. Kerangka Konseptual
Penelitian ini menganalisis pengaruh pertumbuhan ekonomi, pendapatan asli daerah, dan dana alokasi umum terhadap tingkat kemandirian keuangan daerah pada kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2011 - 2013.
Pertumbuhan ekonomi, pendapatan asli daerah (PAD), dana alokasi umum, berpengaruh terhadap kemandirian keuangan daerah. Pemerintah daerah yang efektif dalam mengelola pendapatan PAD, maka akan memperbesar atau meningkatkan PAD yang diperoleh sehingga Pemerintah pusat tidak perlu lagi mengalokasikan dana kepada pemerintah daerah sehingga daerah tersebut dikatakan mandiri. Oleh karena itu, pemerintah daerah yang memiliki pertumbuhan pendapatan asli daerah (PAD) kemungkinan mempunyai pertumbuhan ekonomi yang positif, sehingga secara tidak langsung dapat disimpulkan bahwa untuk mencapai sebuah kemandirian suatu daerah maka pertumbuhan ekonomi diperlukan.
Kerangka konseptual dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Variabel Independen Variabel Dependen
Gamabar 2.1