• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI KLAUSULA ARBITRASE

2.4 Klausula Arbitrase

Klausula arbitrase adalah suatu klausula dalam perjanjian antara para pihak yang mencantumkan adanya kesepakatan untuk menyelesaiakan sengketa yang timbul antara para pihak melalui proses arbitrase. Klausula arbitrase dalam suatu kontrak bisnis menurut Huala Adolf, dijelaskannya sebagai berikut: “penyerahan suatu sengketa kepada arbitrase dapat

dilakukan dengan pembuatan suatu submission clause, yaitu penyerahan kepada arbitrase suatu sengketa yang lahir. Alternatif lainnya, atau melalui pembuatan suatu klausul arbitrase dalam suatu perjanjian sebelu sengketanya lahir (klausul arbitrase atau arbitration clause)”.40

Dalam Pasal 7-11 UU AAPS maupun dalam konvensi internasional, dikenal dua bentuk klausula arbitrase, yaitu:

1. Pactum de compromittendo

Pactum de compromittendo adalah suatau klausula arbitrase yang dibuat sebelum timbulonya sengketa. Jadi, sejak awal klausula arbitrase ini telah dibuat oleh para pihak sebagai bentuk kesepakatan mereka untuk menyelesaiakan sengketa tersebut melalui lembaga arbitrase dan bukan melalui lemabaga pengadilan. Pactum de compromittendo dibiuat secara bersamaan dengan perjanjian pokok. Bentuk klausula yang disebut “pactum de compromittendo”, dimana bentuk klausula ini semula diatur dalam Pasal 615 ayat 3 Rv. dan diadopsi/diatur dalam Pasal 7 UU AAPS dan diatur juga dalam Pasal II Konvensi New York 1958. Hal yang penting dalam ketentuan Pasal ini antara lain, membolehkan untuk membuat persetujuan di antara para pihak yang membuat persetujuan, untuk menyerahkan penyelesaian perselisihan yang mungkin timbul di kemudian hari akan diselesaikan dan diputus oleh arbitrase. Kesepakatan inilah yang dimaksud dengan

40

“klausula arbitrase”.41

Dalam klausula arbitrase yang berbentuk pactum de compromittendo, para pihak mengikat kesepakatan akan menyelesaikan persengketaan yang mungkin timbul melalui forum arbitrase. Pada saat mereka mengikat dan menyetujui klausula arbitrase, sama sekali belum terjadi perselisihan. Seolah-olah klausula arbitrase dipersiapkan untuk mengantisipasi perselisihan yang mungkin timbul di masa yang akan datang. Jadi, sebelum terjadi perselisihan yang nyata, para pihak telah sepakat untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi pada arbitrase. Mengenai cara pembuatan klausula pactum de compromittendo ini tidak tegas diatur dalam Pasal 615 ayat 3 Rv. maupun dalam Pasal II Konvensi New York 1958. Namun dari segi pendekatan penafsiran dan dalam praktik dijumpai dua cara yang dibenarkan, yaitu:

1. Mencantumkan klausula arbitrase yang bersangkutan dalam perjanjian pokok. Ini cara yang paling lazim. Klausula arbitrase langsung digabungkan dan dicantumkan dalam perjanjian pokok. Perjanjian pokok menjadi satu kesatuan dengan klausula arbitrase, yang satu dengan yang lain tidak terpisah dokumennya. Dalam perjanjian pokok, langsung dimuat persetujuan arbitrase yang berisi kesepakatan, bahwa para pihak setuju akan menyelesaikan perselisihan (dispute atau defference) yang timbul di kemudian hari melalui forum arbitrase.

41

2. Pactum de compromittendo yang dibuat dalam akta tersendiri. Di samping apa yang telah dijelaskan di atas, pactum de compromittendo dapat dibuat tersendiri. Perjanjian arbitrase dalam hal ini tidak langsung digabung menjadi satu dengan perjanjian pokok, tetapi dibuat terpisah dalam akta tersendiri. Akta perjanjian pokok merupakan dokumen tersendiri, begitu juga perjanjian arbitrasenya. Dengan demikian, ada dua dokumen, yakni akta perjanjian pokok dan akta pembuatan rupa akta yang terpisah Apabila pactumde compromittendo berupa akta yang terpisah dari perjanjian pokok, waktu pembuatan perjanjian arbitrase harus tetap berpegang pada ketentuan, yaitu bahwa akta persetujuan arbitrase harus sudah dibuat “sebelum” perselisihan terjadi. Hal itu sesuai dengan syarta formil keabsahan pactumde compromittendo yang harus dibuat sebelum perselisihan timbul. Boleh dibuat beberapa saat setelah pembuatan perjanjian pokok, atau dibuat beberapa lama setelah pembuatan perjanjian pokok, asalkan dibuat sebelum terjadi perselisihan.

2. Acte compromis

Adalah klausula arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa setelah timbulnya sengketa. Jadi apabila Pactum de compromittendo dibuat sebelum timbulnya sengketa, akte kompromis sebaliknya, yaitu dibuat setelah adanya sengketa. Perbedaan yang esensil di anatar kedua klausula tersebut adalah

terletak pada saat pembuatnnya. Pactum de compromittendo dibuat pada saat belum ada sengketa, sedangkan akte compromis setelah ada sengketa.42

Jadi dari uraian diatas baik Pactum de compromittendo maupun akte kompromis adalah sama klausula arbitrase (perjanjian). Dengan kata lain kedua klausula arbitrase tersebut adalah sama dasar hukum dan filsafah bagi semua pihak untuk menyelesaikan sengketanya melalui lembaga arbitrase. Bentuk perjanjian arbitrase disebut acte compromis(akta kompromis) ini diatur dalam Pasal 9 UU AAPS:

“Ayat (1): Dalam hal para pihak memilih penyelesaian sengketa melalui arbitrase setelah sengketa terjadi, persetujuan mengenai hal tersebut harus dibuat dalam suatu perjanjian tertulis yang di tandatangani oleh para pihak. Ayat (2): Dalam hal para pihak tidak dapat menandatangani

perjanjian tertulis sebagaim dimaksud dalam ayat (1), perjanjian tertulis tersebut harus dibuat dalam bentuk akta notaris”.

Ketentuan tersebut sama dengan yang semula diatur dalam Pasal 618 Rv:

1. Persetujuan arbitrase harus diadakan secara tertulis dan ditandatangani kedua belah pihak, jika para pihak tidak mampu menanda tangani, maka persetujuan harus dibuat di muka notaris.

2. Persetujuan harus memuat masalah yang menjadi sengketa, nama dan tempat tinggal para pihak, dan juga nama serta tempat tinggal arbiter atau anggota para arbiter yang selalu harus dalam jumlah diri. ganjil.

42

Dari bunyi Pasal 9 UU AAPS atau Pasal 618 Rv. dapat dilihat, akta kompromis sebagai perjanjian arbitrase dibuat peranjian pokok berjalan dan kemudian timbul perselisihan antara para pihak. Adapun sebelumnya, baik dalam perjanjian maupun dengan akta tersendiri, tidak diadakan persetujuan arbitrase. Dalam kasus yang seperti ini, apabila para pihak menghendaki agar perselisihan diselesaikan melalui forum arbitrase, mereka dapat membuat perjanjian untuk itu. Jadi, akta kompromis merupakan kebalikan dari pactum de compromittendo. Dalam pactum de compromittendo, perjanjian penyelesaian perselisihan melalui arbitrase telah disepakati sejak semula sebelum perselisih terjadi. Pada akta kompromis perjaniian penyelesaian perselisihan melalui arbitrase baru diikat dan disepakati setelah terjadi perselisihan. Namun dalam praktik perjanjian arbitrase yang dibuat setelah terjadi sengketa jarang terjadi dan sulit dilaksanakan. Karena para pihak yang sudah berada dalam suatu perselisihan, tidak dapat dibawa dalam suatu permufakatan untuk menyelesaikan sengketa mereka melalui jalur arbitrase. Keuntungan menggunakan akta kompromis ini yaitu penunjukan siapa arbiter yang akan menangani perselisihan sudah jelas. Ada kelemahannya yaitu bila terjadi perselisihan belum tentu bisa diselesaikan melalui arbitrase. Oleh karena itu, penerapan atau syarat-syarat sahnya akta

kompromis yang diatur dalam Pasal 9 UU AAPS dapat diperinci sebagai berikut:

“(1) Dalam hal para pihak memilih penyelesaian sengketa melalui arbitrase setelah sengketa terjadi, persetujuan mengenai hal tersebut harus dibuat dalam suatu perjanjian tertulis yang ditandatangani oleh para pihak.

(2) Dalam hal para pihak tidak dapat menandatangani perjanjian tertulis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), perjanjian tertulis tersebut harus dibuat dalam bentuk akta notaris.

(3) Perjanjian tertulis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memuat :

a. masalah yang dipersengketakan;

b. nama lengkap dan tempat tinggal para pihak;

c. nama lengkap dan tempat tinggal arbiter atau majelis arbitrase;

d. tempat arbiter atau majelis arbitrase akan mengambil keputusan;

e. nama lengkap sekretaris;

f. jangka waktu penyelesaian sengketa; g. pernyataan kesediaan dari arbiter; dan

h. pernyataan kesediaan dari pihak yang bersengketa untuk menanggung segala biaya yang diperlukan untuk penyelesaian sengketa melalui arbitrase”.

Persyaratan yang perinci tersebut berkenaan dengan kehendak dari pihak-pihak yang bersengketa untuk menyelesaikan sengketa mereka melalui arbitrase setelah terbit sengketa. Persyaratan yang mendetail itu tidak diperlukan jika perjanjian dibuat sebelum timbul sengketa. Persyaratan yang mendetail sebagaimana diatur dalam Pasal 9 ayat (3) UU AAPS merupakan syarat mutlak, karena adanya sanksi tersebut dalam ayat (4) yang menyatakan: “perjanjian tertulis yang tidak memuat hal sebagaimana dimaksud di atas batal demi hukum”.

2.4.1 Macam-Macam Klausula Arbitrase 1. Klausula Arbitrase Umum

Klausula arbitrase apabila dilihat dari sudut isinya, dapat diklasifikasikan dalam dua klasifikasi, yaitu klausula arbitrase yang bersifat umum (general) dan khusus. Suatu klausula arbitrase dikatakan bersifat umum apabila di dalam klausula arbitrase tersebut secara jelas dan nyata dikatakan bahwa semua (all) sengketa yang timbul dalam pelaksanaan suatu perjanjian akan diselesaikan melalui lembaga arbitrase. Jadi, adanya kata semua (all) dalam klausula arbitrase memberikan pengertian bahwa kalusula arbitrase tersebut bersifat umum (general).43 Klausula arbitrase dikatakan umum apabila sengketa yang akan diselesaikan melalui lembaga arbitrase adalah bersifat umum atau keselurahan tentunya sengketa-sengketa yang dapat diselesaikan melalui lembaga arbitrase. Adapun contoh kalusula arbitrase tersebut bersifat umum (general) dalam lembaga arbitrase BANI: “semua sengketa yang timbul dari perjanjian ini, akan diselesaikan dan diputus oleh Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) menurut peraturan-peraturan prosedur arbitrase BANI, yang keputusannya mengikat kedua belah pihak yang bersengketa, sebagai keputusan dalam tingkat pertama dan terakhir”. Seperti telah dijelaskan diatas bahwa adanya kata “semua” tersebut dengan sendirinya

43

memberikan pengertian bahwa objek sengketa yang arbitrase adalah semua yang tentunya termasuk dalam ruang lingkup arbitrase.jadi, klausula arbitrase yang bersifat umum atau general ini adalah suatu klausula arbitrase yang di dalamnya dicantumkan secara jelas dan nyata bahwa yang menjadi objek sengketa arbitrase adalah semua jenis sengketa yang dapat diselesaikan melalui lembaga arbitrase.44

2. Klausula Arbitrase yang Bersifat Khusus

Klausula arbitrase yang bersifat khusus ini adalah klausula arbitrase yang di dalamnya ditentukan secara spesifik atau jelas tentang apa-apa yang menjadi objek sengketa arbitrase.dengan kata lain, tidak semua sengketa yang akan timbul nantinya dari suatu perjanjian akan diselesaikan melalui lembaga arbitrase. ciri dari klausula arbitrase yang bersifat khusus ini adalah terdapatnya kata “sebagian” (any) dalam klausula arbitrase itu sendiri, seperti contoh klausula arbitrase UNCITRAL:

Any dispute, controversy or claim arising out of or relating to this contract, or the breach, termination or invalidity there of, shall be settled by arbitration in accordance with the UNCITRAL

Arbitration Rules as at present in force”. "sebagian perselisihan, perselisihan atau gugatan yang timbul dari atau berhubungan dengan kontrak ini, atau pelanggaran, penghentian atau ketidakabsahan daripadanya, harus diselesaikan melalui arbitrase sesuai dengan Peraturan Arbitrase UNCITRAL seperti saat ini berlaku".

Dari klausula arbitrase UNCITRAL tersebut di atas, terlihat jelas bahwa dalam klausula arbitrase tersebut tercantum kata “any” yang

44

memiliki arti bahwa objek sengketa yang dapat diselesaikan melalui lembaga arbitrase terkait dengan suatu perjanjian hanyalah sengketa-sengketa yang telah ditentukan sebelumnya oleh para pihak. Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa klausula arbitrase yang bersifat khusus adalah suatu klausula arbitrase yang objek sengketanya terbatas, yaitu sesuai dengan kesepakatan para pihak.

Dokumen terkait