• Tidak ada hasil yang ditemukan

SISTEM PEMARKAH DAN KONSTRUKSI KLAUSA DASAR BAHASA KODI

4.2 Sistem Pemarkah Bahasa Kodi

4.2.1 Klitik pronomina

Pronomina dalam bahasa Kodi memiliki acuan silang dengan klitik pronomina yang memarkahi predikat. Klitik pronomina BK secara morfologis digunakan untuk menunjukkan hubungan antara konstituen sintaktik, seperti hubungan antara verba dan argumennya atau nomina dan posesornya. Dalam bahasa Kodi, argumen verba dimarkahi pada predikat untuk menunjukkan tipe dan jumlah persona serta kasus morfologis yang dimarkahinya. Klitik pronomina

memiliki sebuah paradigma yang membentuk pola beraturan (pola kanonis atau tidak bermarkah). Namun, pola ini juga menunjukkan bentuk nonkanonis atau bermarkah ketika muncul dalam konstruksi bermakna keaspekan dan ketika memarkahi argumen verba dengan tipe semantik tertentu. Klitik pronomina yang terdapat dalam bahasa Kodi juga berfungsi sebagai pemarkah kasus morfologis yang memberikan gambaran atas peran semantis argumen yang diacunya. Sebelum dibahas lebih lanjut mengenai paradigma dan kasus morfologis yang dimarkahi oleh klitik pronomina, berikut ini disajikan daftar pronomina yang dimiliki oleh bahasa Kodi.

Tabel 4.2 Daftar Pronomina Bahasa Kodi

Tipe Persona Pronomina Bahasa Kodi

1T Saya Yayo

2T Kamu Yoyo

3T Dia Dhiyo (laki-laki dan perempuan)

1Jink Kita Yicca

1Jeks Kami Yamma

2J Kalian Yemmi

3J Mereka Ehetu

Van Valin (2005:16) menyatakan bahwa pada jenis bahasa berpemarkah argumen terikat, hubungan antarfrasa nomina dalam kalimat dengan verba ditunjukkan dalam bentuk kasus pada frasa nomina. Di dalam bahasa berpemarkah inti seperti bahasa Kodi, hubungan antara frasa nomina dan verba dimarkahi pada verba. Tidak terdapat pemarkah pada frasa nomina terikat untuk mengindikasikan relasinya dengan verba. Verba sebagai inti mengandung morfem yang mengindikasikan jumlah argumennya. Perbedaan ini menyebabkan munculnya kontras dalam tataran sintaktik yang signifikan. Klitik pronomina

merupakan kaidah morfologis dalam mengungkapkan relasi antara konstituen sintaktik dan dimarkahi pada verba.

Dalam pola bahasa berpemarkah inti, inti dimarkahi oleh pemarkah yang mengindikasikan argumen terikatnya, sehingga argumen terikat dapat dihilangkan tanpa memengaruhi tingkat gramatikalitas kalimat karena inti sendiri sudah mewakili satu unit yang utuh. Klitik pronomina dalam bahasa Kodi merupakan pronomina dependen karena dapat hadir tanpa dipengaruhi sepenuhnya oleh kehadiran pronomina yang utuh. Dengan kata lain, klitik pronomina memiliki karakteristik yang mirip dengan pronomina. Akan tetapi, tidak seperti pronomina, klitik tidak dapat berfungsi sebagai sebuah kata bebas. Daftar klitik pronomina bahasa Kodi beserta kasus morfologis yang dimarkahinya ditunjukkan pada tabel 4.3.

Tabel 4.3 Daftar Klitik pronomina dan Pemarkahan Kasus Morfologis Bahasa Kodi

NOMINATIF GENITIF AKUSATIF DATIF

1T ku- -nggu -gha ya -ngga

2T - -mu -ghu -nggu

3T na- -na -ya -ni

1J (inklusif) ta- -nda -ta -nda

1J (eksklusif) ma- -ma -ma -nggama

2J mi- -mi -mi -nggumi

3J a- -dha -hi -dhi

Pemarkah klitik pronomina dalam bahasa Kodi memarkahi tipe dan jumlah persona serta membawa informasi kasus morfologis (nominatif, akusatif, datif, genitif). Klitik pronomina pemarkah kasus nominatif hadir sebelum predikat

dalam bentuk proklitik, sedangkan ketiga tipe kasus yang lain hadir setelah predikat atau konstituen yang dimarkahinya dalam bentuk enklitik. Label kasus morfologis yang dilekatkan pada empat paradigma klitik mengaitkan klitik dengan fungsi sintaktik dan peran tematik argumen predikat. Klitik pronomina pemarkah kasus nominatif mengacu silang kepada argumen subjek, klitik pronomina pemarkah kasus akusatif mengacu silang kepada argumen objek langsung, klitik pronomina pemarkah kasus datif mengacu silang kepada argumen objek tidak langsung dan klitik pronomina pemarkah kasus genitif mengacu silang kepada konstituen POSSESSOR berupa pronomina atau frasa nomina. Konstruksi klausa pada contoh (4.1--4.2) menunjukkan klitik pronomina pemarkah kasus nominatif ku- dan a- yang memarkahi subjek dengan peran tematik AGENT dan klitik pronomina pemarkah kasus akusatif ya- memarkahi objek langsung dengan peran tematik PATIENT.

(4.1) Yayo ku-teba-ya a ghayo 1T 1TN-potong-3JA ART kayu ‘Saya memotong sebilah kayu’ (4.2) Ehetu a-kodo-ya enetu sumuro 3J 3JN-gali-3TA DEM sumur ‘Mereka menggali sumur itu’

Klitik pronomina pemarkah kasus nominatif ku- dan a- mengacu silang kepada subjek yaitu yayo ‘saya’ (4.1) dan ehetu ‘mereka’ (4.2). Klitik pronomina pemarkah kasus akusatif ya- yang membawa peran tematik PATIENT mengacu silang kepada frasa nomina pengisi slot objek langsung. Klitik pronomina ya- pada dua contoh tersebut mengacu silang kepada objek langsung a ghayo ‘sebilah kayu’ (4.1) dan enetu sumuro ‘sumur itu’ (4.2). Data (4.2) adalah salah satu contoh yang menunjukkan bahwa bahasa Kodi menyerap leksikon bahasa

Indonesia dengan beberapa penyesuaian fonologis seperti yang terlihat pada kata

sumuro (4.2) yang diserap dari kata bahasa Indonesia ‘sumur’. Kata ‘sumur’

kemudian mengalami penambahan bunyi vokal [o] di akhir kata karena leksikon yang terkumpul dalam korpus data menunjukkan bahwa bahasa Kodi tergolong ke dalam bahasa dengan suku kata terbuka. Bentuk klitik pronomina ya- pada kedua data tersebut memiliki bentuk jamak hi-. Bentuk klitik pronomina jamak ini muncul sebelum penanda jamak ha seperti yang terlihat pada data berikut.

(4.3) Enetu lakedha minye na-iriho-ya a poyo DEM anak perempuan 3TN-iris-3TA ART mangga ‘Anak perempuan itu mengiris sebuah mangga’

(4.4) Inya-nggu na-irihu-hi ha poyo Ibu-1TG 3TN-iris-3JA J mangga ‘Ibu saya mengiris beberapa mangga’ (4.5) Dhiyo na-ngandi-ya a karohi

3T 3TN-bawa-3JA ART kursi ‘Dia membawa sebuah kursi’

(4.6) Dhiyo na-ngandi-hi ha-karohi 3T 3TN-bawa-3JA J-kursi ‘Dia membawa semua kursi’

Subjek pada data (4.3) diisi oleh frasa nomina takrif berupa enetu lakedha

minye ‘anak perempuan itu’ yang diacu silang oleh klitik pronomina pemarkah

kasus nominatif na- pada verba iriho ‘iris’. Objek langsung takrif a ghayo ‘sebuah mangga’ diacu silang oleh klitik pronomina pemarkah kasus akusatif ya-. Klitik pronomina na- (4.4) juga mengacu silang subjek kepada inya-nggu ‘ibu saya’, tetapi klitik pronomina hi- digunakan sebagai pengganti klitik ya- karena bersesuaian dengan jumlah objek langsung jamak yang diacunya, yaitu ha poyo ‘beberapa mangga’. Cuplikan data (4.3--4.5) juga memperlihatkan contoh

leksikon bahasa Indonesia yang diadaptasi ke dalam bahasa Kodi, yaitu iriho dari kata ‘iris’ dan karohi dari kata ‘kursi’. Bahasa Kodi tidak mengenal bunyi [s] sehingga kata-kata dengan bunyi [s] kemudian diadaptasi melalui proses fonologis. Putra (2007:145) mengungkapkan bahwa di daerah Sumba, konsonan [h] bervariasi teratur dengan konsonan [s] dan [z]. Realisasi konsonan [h] ditemukan di titik pengamatan Kodi. Dua contoh leksikon tersebut menunjukkan proses fonologis yang terjadi pada bunyi vokal [s] pada kata bahasa Indonesia menjadi bunyi [h] ditambah bunyi dengan fitur [+vokal].

Klitik pronomina dalam bahasa Kodi memiliki induk berupa kategori kata yang luas, seperti verba, nomina, adjektiva, numeralia dan preposisi. Klitik pronomina mengacu silang kepada pronomina dan frasa nomina yang menempati posisi subjek, objek, dan objek tidak langsung seperti yang terlihat pada data berikut.

(4.6) Robi monno Rinus a-walungo noppo (verba) Nama dan Nama 3JN-gulung tikar

‘Robi dan Rinus menggulung tikar’

(4.7) Dhiyo polihi-ya (nomina)

3T polisi-3TA

‘Dia polisi’

(4.8) Rehi na-huha (adjektiva)

Nama 3TN-sedih ‘Rehi sedih’

(4.9) Tallu-ya ana-na Heri a-bokolo (numeralia) Tiga-3TA anak-3TG Nama 3JN-gemuk

‘Ketiga anak Heri gemuk’

(4.10) Inya na-pupu kalogho dhawa tagu-na ari (preposisi) Ibu 3TN-petik pepaya untuk-3TG adik

Data (4.5 dan 4.7) menunjukkan penggunaan klitik pronomina pemarkah kasus nominatif untuk mengacu silang kepada subjek, data (4.6) menunjukkan pola acuan silang argumen subjek dengan klitik pronomina pemarkah kasus akusatif, dan data (4.9 dan 4.10) menunjukkan objek tidak langsung yang diacu silang oleh klitik pronomina pemarkah kasus genitif.

Ditinjau dari tata urutannya dalam konstruksi klausa, klitik pronomina BK tidak selalu melekat pada induk (host) yang menduduki fungsi sebagai predikat. Klitik pronomina dapat disisipi oleh pemarkah kausatif pa-, tetapi tidak dapat disisipi oleh pemarkah keaspekan imperfektif progresif tengera ‘sedang’. Contoh data berikut menunjukkan klitik pronomina pemarkah kasus nominatif dapat muncul sebelum pemarkah kausatif pa- sehingga tidak langsung melekat pada induk berupa verba.

(4.11) Ari-nggu na-londo Adik-1TG 3TN-duduk ‘Adikku duduk’

(4.12) Yayo ku-pa-londo-ni a ari 1T 1TN-KAUS-duduk-3TD ART adik ‘Saya mendudukkan adik’

(4.13) *Ari-nggu na tengera londo Adik-1TG 3TN PROG duduk ‘Adik saya sedang duduk’

Pada jenis bahasa yang memiliki sistem acuan silang seperti bahasa Kodi, FN beraposisi dengan pemarkah pronominal pada verba. FN bersifat opsional karena verba dan pemarkah berupa klitik pronomina sudah mewakili sebuah klausa yang lengkap. Hubungan antara inti dan dependennya bersifat unilateral. FN independen memerlukan pemarkah berupa klitik pronomina pada inti

sementara inti dan pemarkah pronominal dapat muncul tanpa FN yang independen.

(4.14) Dhiyo na-tingu-hi ha-watu 3T 3TN-tarik-3JA J-batu ‘Dia menarik semua batu’ (4.15) Na-tingu-hi ha-watu 3TN-tarik-3JA J-batu ‘Dia menarik semua batu’ (4.16) *Dhiyo tingu-hi ha-watu 3T tarik-3JA J-batu ‘Dia menarik semua batu’

Pelesapan klitik pronomina dhiyo ‘dia’ pada data (4.16) menghasilkan konstruksi yang tidak berterima. Hal ini menunjukkan bahwa BK merupakan bahasa yang tergolong bahasa FN-lesap di mana klitik merupakan argumen inti, sedangkan FN bersifat opsional. Kehadiran FN yang lengkap digunakan untuk menghindari ambiguitas atau menunjukkan penekanan acuan silang argumen terikat dan klitik pronominanya. Contoh berikut menunjukkan bahwa pronomina bisa mengalami proses penggabungan seperti frasa nomina, sedangkan klitik tidak.

(4.17) A ghagha monno Njaka ART kakak konj Nama ‘Kakak dan Njaka’

(4.18) Yayo monno dhiyo 1T konj 3T ‘Saya dan dia’ (4.19) *ku monno na 1TN konj 3TN

Klitik pronomina memiliki status argumen (dimarkahi dengan peran tematik), dan membawa informasi berupa kasus morfologis. Klitik selalu memiliki acuan yang takrif atau dengan kata lain argumen predikat yang takrif selalu memiliki

acuan silang dengan klitik (seperti yang terlihat pada tabel 4.2). Secara inheren, pronomina dan klitik pronomina bersifat takrif. Jika terdapat frasa nomina yang mengacu silang kepada klitik, maka kehadiran frasa nomina bersifat opsional. Klitik pronomina tidak berada dalam distribusi komplementer dengan frasa nomina yang diacunya; kedua-duanya dapat hadir dalam satu konstruksi klausa yang sama. Oleh sebab itu, frasa nomina bersifat opsional, sedangkan klitik bersifat obligatori jika acuannya bersifat takrif.

Klitik pronomina pemarkah subjek biasanya memarkahi subjek yang bersifat ‘topikal’, merupakan informasi lama, atau dapat dikenali dari konteks sehingga frasa nomina yang menempati slot subjek dapat dilesapkan. Sebuah frasa nomina bersifat takrif jika didahului oleh artikel penanda tunggal a, jamak ha atau penanda demonstrativa seperti enetu ‘itu’ dan iyiya ‘ini’ . Klitik objek langsung hanya mengacu silang kepada frasa nomina takrif. Jika argumen objek bersifat tak takrif, maka argumen tersebut hadir dalam bentuk frasa nomina tak takrif (tanpa artikel) dan tidak diacu silang oleh klitik pronomina.

(4.20) A ghagha na-dheke-ya a tobbo ART kakak 3TN-ambil-3TA ART piring ‘Kakak mengambil sebuah piring’

(4.21) A ghagha na-dheke tobbo ART kakak 3TN-ambil piring ‘Kakak mengambil piring’

Konstruksi pada data (4.20) memiliki objek takrif berupa frasa nomina a

tobbo ‘sebuah piring’ ditandai dengan penggunaan artikel sehingga diacu silang oleh klitik pronomina pemarkah kasus akusatif –ya. Kasus morfologis yang dimarkahi oleh klitik pronomina menghubungkan fungsi sintaktik (subjek, objek langsung, objek tak langsung) dengan peran tematiknya (AGENT, PATIENT,

BENEFICIARY, dan yang lainnya). Dengan kata lain, klitik pronomina melekat pada inti yaitu predikat dan memarkahi relasi antara peran tematik dari argumen predikat dan peran sintaktiknya.

Berkaitan dengan konsep keintian, teori Tata Bahasa Peran dan Acuan memiliki pandangan tersendiri mengenai perilaku sintaksis seperti yang ditunjukkan oleh klitik pronomina bahasa Kodi. Tata Bahasa Peran dan Acuan menetapkan bahwa sebuah klausa terdiri atas unsur yang merupakan argumen predikat dan yang bukan dengan cara membedakan antara inti klausa (predikat + argumennya) dan periferi (unsur yang bukan merupakan argumen predikat). Perbedaan ini dikenal dengan istilah struktur lapis klausa. Klitik pronomina menduduki unsur inti karena inti sendiri (klitik pronomina + predikat) sudah mewakili satu unit utuh, sedangkan persona atau frasa nomina yang mengisi slot subjek berada pada posisi di luar inti, tetapi sebagai bagian dari klausa. Status frasa nomina independen dalam konstruksi klausa tersebut adalah untuk menekankan referen dari argumen pronominal yang mendeskripsikan jenis dan jumlah persona yang diacu silang oleh klitik pronomina.

Contoh:

(4.21a) Ehetu a-kahi-ya a kahihi 3J 3JN-beli-3TA ART baju ‘Mereka membeli sebuah baju’ (4.21b) A-kahi-ya

3JN-beli-3TA

‘Mereka membeli itu/sesuatu’ (4.21c) *Ehetu kahi a kahihi

Data (4.21a) menggambarkan konstruksi klausa dengan pronomina subjek dan frasa nomina objek yang lengkap. Jika kedua argumen verba tersebut dihilangkan, maka dihasilkan struktur seperti (4.21b) yang merupakan konstruksi berterima secara gramatikal dan semantik. Dengan kata lain, klitik pronomina bahasa Kodi dapat berfungsi sebagai subjek (atau objek). Jika klitik pronomina dan frasa nomina sama-sama hadir dalam konstruksi sebuah klausa seperti data (4.21a), maka klitik pronomina adalah subjek atau objek ‘sebenarnya’ karena pronomina

ehetu ‘mereka’ dan frasa nomina a kahihi ‘sebuah baju’ dapat dimengerti dari

konteks sehingga bersifat opsional. Namun, jika objek yang diacu bersifat tidak takrif, maka kehadiran objek tidak langsung bersifat obligatori karena tidak diacu silang oleh klitik pronomina. Representasi formal dari contoh data (4.21a) dapat dilihat sebagai berikut.

KALIMAT

KLAUSA

INTI ARG PRO NUK PRO ARG PRED V

Ehetu a- kahi -ya a kahihi

Gambar 4.1 Representasi Formal Data (4.21a)

Van Valin, Jr (2005: 17) menyatakan bahwa secara semantis, fungsi dari argumen subjek berupa pronomina persona ketiga jamak ehetu ‘mereka’ dan argumen objek berupa frasa nomina a kahihi ‘sebuah baju’ seperti yang terlihat

pada contoh di atas adalah untuk memberikan spesifikasi terhadap acuan klitik pronomina yang hanya memberi informasi mengenai tipe dan jumlah argumen. Dilihat dari tataran sintaktik, kedua argumen tersebut merupakan bagian internal klausa. Oleh sebab itu, kedua argumen tersebut berada dalam lingkup operator daya ilokusi sehingga bisa ditonjolkan, ditanyakan, atau disangkal. Argumen tersebut tidak menempati slot periferi klausa karena bukan merupakan oblik seperti ajung periferi.

Representasi formal untuk klausa yang tersusun atas verba dan klitik pronomina pemarkah subjek dan objek terlihat pada gambar 4.2. Klausa terdiri atas nukleus yang tersusun oleh predikat berupa verba dan pronomina dalam bentuk klitik yang mengacu silang kepada subjek berupa ehetu ‘mereka’ dan objek berupa frasa nomina a kahihi ‘baju itu’.

KALIMAT KLAUSA INTI

PRO NUK PRO PRED

V

a- kahi ya

Gambar 4.2 Representasi Formal Data (4.21b)

Berkaitan dengan klausa yang terdapat pada tipe bahasa berpemarkah inti, Van Valin, Jr (2005:17) menyatakan bahwa argumen inti klausa tersusun dari pronomina pada verba, bukan terdiri dari leksikal berupa frasa nomina dan

pronomina independen yang opsional. Dalam bahasa Kodi, relasi antara inti dan argumen terikatnya bersifat unilateral dalam arti bahwa frasa nomina terikat memerlukan pemarkah pronominal pada inti, tetapi inti dan pemarkah pronominal dapat muncul tanpa kehadiran frasa nomina terikat. Hal ini disebabkan oleh inti dan pronomina (dalam bentuk acuan silang klitik pronomina) sudah membentuk sebuah klausa utuh yang bermakna. Oleh sebab itu, konstruksi klausa transitif pada contoh (4.21c) menghasilkan konstruksi yang tidak berterima karena verba sebagai inti klausa tidak mengandung informasi mengenai argumen subjek dan objek. Hal ini menekankan bukti bahwa kehadiran subjek dan objek takrif dalam bahasa Kodi bersifat opsional. Fenomena ini berbeda dengan paradigma yang ditemukan pada bahasa Manggarai2 di Flores. Pada bahasa Manggarai, frasa nomina bebas atau klitik pronomina dapat mengisi posisi subjek sehingga keduanya tidak bersifat opsional (Arka dan Kosmas, 2002: 4) seperti yang terlihat pada data berikut (glos dan format cetak tebal diadopsi berdasarkan cuplikan data asli).

(4.22a) Hia ongga aku 3s hit 1s

(4.22b) Ongga aku-i Hit 1s-3s (4.22c) *Ongga aku ‘(S)he hit me’

Data pada contoh (4.22b) menunjukkan kehadiran klitik pronomina –i yang mengacu silang kepada pronomina persona ketiga tunggal hia ‘dia (laki-laki atau

2

Bahasa Manggarai adalah bahasa yang tergolong subgrup Melayu Polinesia Tengah dari rumpun bahasa Austronesia dengan jumlah penutur 400.000 di wilayah barat dan utara Flores (Blust, 1978)

perempuan)’. Data (4.22a) menunjukkan konstruksi dengan pronomina hia yang mengisi slot subjek dan aku pada slot objek tanpa kehadiran klitik pronomina pada verba, sedangkan data (4.22c) merupakan konstruksi yang tidak berterima karena subjek berupa persona hia dan klitik –i sama-sama tidak muncul. Hal ini menekankan bahwa tidak seperti bahasa Kodi, relasi antara konstituen yang mengisi slot subjek dan objek dengan klitik pronomina dalam bahasa Manggarai tidak bersifat gramatikal.

Di samping karakteristik yang telah dijabarkan sebelumnya, klitik pronomina dalam bahasa Kodi juga menunjukkan pola pemarkahan nonkanonis. Contoh data berikut ini menunjukkan argumen subjek yang dimarkahi oleh klitik pronomina pemarkah kasus datif dan argumen objek dimarkahi oleh klitik pronomina pemarkah kasus genitif.

(4.23a) Iyiya karimboyo do-nggu-ni yayo DEM kerbau milik-1TG-3TD 1T

‘Kerbau ini milik saya’ lit. ‘Ini kerbau milik saya’

(4.23b) Iyiya karimboyo do-dha-ndi ehetu DEM kerbau milik-3TG-3JD 3J

‘Kerbau-kerbau ini milik mereka’ lit. ‘Ini kerbau-kerbau milik mereka’ (4.23c) Iyiya karimboyo do-mu-ndi yoyo

DEM kerbau milik-2TG-3JD 2T

‘Kerbau-kerbau ini milik kamu’ lit. ‘Ini kerbau-kerbau milik kamu’

Konstruksi klausa di atas memperlihatkan konstruksi yang menggunakan kluster klitik berupa klitik pronomina pemarkah kasus genitif-datif. Klitik pronomina pemarkah kasus genitif mengacu silang kepada objek tiap-tiap klausa, -nggu (4.23a) mengacu silang kepada pronomina persona pertama tunggal yayo ‘saya’, -nda (4.23b) mengacu silang kepada pronomina persona ketiga jamak

ehetu ‘mereka’, dan -mu (4.23c) mengacu silang kepada pronomina persona

kedua tunggal yoyo ‘kamu’. Subjek pada tiap-tiap kalimat dimarkahi dengan klitik pronomina pemarkah kasus datif. Klitik pronomina pemarkah kasus nominatif yang memarkahi subjek pada struktur kanonis pada kalimat aktif tidak muncul pada verba sehingga menghasilkan konstruksi bermarkah. Tipe konstruksi ini dijelaskan lebih lanjut pada bab V yang membahas tipologi relasi gramatikal dengan penekanan pola pemarkahan argumen inti predikat. Representasi formal kalimat (4.23a) dapat digambarkan sebagai berikut.

KALIMAT

KLAUSA

INTI ARG NUK PRO PRO ARG PRED

FN V FN Iyiya karimboyo do -nggu -ni yayo

Gambar 4.3 Representasi Formal Data (4.23a)

Konstruksi (4.23a--4.23c) juga menunjukkan bahwa klitik pronomina dapat berfungsi sebagai pronomina anaforik. Anteseden yang diacu oleh klitik pronomina pada (4.23a--4.23c) masih berada pada tataran satu klausa. Relasi anaforik ditunjukkan oleh penggunaan klitik pronomina pemarkah kasus datif -ni (4.23a) mengacu pada anteseden takrif berupa frasa nomina berjumlah tunggal

karimboyo mengacu pada jumlah jamak ‘kerbau-kerbau ini’ sehingga diacu oleh

klitik –dha. Fenomena fungsi anaforik dari klitik juga ditemukan pada bahasa Manggarai dalam tulisan Arka dan Kosmas (1993:3) seperti yang terlihat pada data klausa intransitif berikut (cuplikan data disadur seperti aslinya).

(4.24) Hia pa’u etu mai bubung mbaru hitu=i 3s fall above from top.roof house that=3s ‘(S)he fell down from the roof top of the house’ (4.25) Hi Kode ka’eng wa tana=i

ART monkey stay down ground=3s ‘The monkey lives on the ground’

Pada konstruksi (4.24), klitik -i (orang ketiga tunggal) bersesuaian dengan

hia dan bersesuaian dengan hi Kode pada konstruksi (4.25). Fitur yang

membedakan konstruksi anaforik bahasa Kodi dan bahasa Manggarai terdapat pada kelas kata yang dimarkahi oleh klitik anaforik. Sebagai bahasa berpemarkah inti, klitik anaforik pada bahasa Kodi merupakan bentuk argumen terikat pada inti klausa atau predikat (dalam hal ini verba do ‘milik’). Selain verba, klitik pronomina juga melekat pada nomina, penanda keaspekan, dan preposisi. Sementara itu, klitik anaforik pada bahasa Manggarai melekat pada unsur noninti berupa bentuk demonstratif hitu (4.24) dan nomina tana (4.25).

Selain pemarkah berupa klitik pronomina yang mengacu silang kepada argumen predikat, bahasa Kodi juga memiliki tipe pemarkah lain. Pemarkah tersebut meliputi klitik pronomina keaspekan, pemarkah kausatif, pemarkah resiprokal, pemarkah perelatif, pemarkah anti kausatif, dan pemarkah penegas.