• Tidak ada hasil yang ditemukan

KODE ETIK PEGAWAI DIREKTORAT JENDERAL PAJAK 1. Dasar Hukum

Dalam dokumen ASPEK HUKUM PEMERIKSAAN DAN ETIKA PROFESI (Halaman 37-46)

Oleh : Dra. Ucok Sarimah

H. KODE ETIK PEGAWAI DIREKTORAT JENDERAL PAJAK 1. Dasar Hukum

Dasar hukum dalam penyusunan, pelaksanaan, dan pengawasan Kode Etik serta penegakan hukum atas pelanggaran Kode Etik Pegawai DJP adalah:

a. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan

ASPEK HUKUM PEMERIKSAAN DAN ETIKA PROFESI

Lembaran Negara Rl Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3890);

b. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851);

c. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3094) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 134, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4150);

d. Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Gratifikasi dan Pelaporannya;

e. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1980 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3176);

f. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 142, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4450);

g. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 29/PMK.01/2007 tentang Pedoman Peningkatan Disiplin Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Departemen Keuangan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 71/PMK.01/2007;

h. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72/PMK.01/2007 tanggal 28 Juni 2007 tentang Majelis Kode Etik di Lingkungan Departemen Keuangan.

i. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 1/PM.3/2007 tanggal 23 Juli 2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak;

j. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-33/PJ/2007 tanggal 23 Juli 2007 tentang Panduan Pelaksanaan Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak.

ASPEK HUKUM PEMERIKSAAN DAN ETIKA PROFESI

Kode Etik Pegawai DJP sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 1/PM.3/2007 tanggal 23 Juli 2007 tentang Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak adalah pedoman sikap, tingkah laku, dan perbuatan, yang mengikat Pegawai Direktorat Jenderal Pajak dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya serta dalam pergaulan hidup sehari-hari.

Kode Etik Pegawai DJP berisi kewajiban dan larangan pegawai yang bertujuan untuk: a. meningkatkan disiplin Pegawai;

b. menjamin terpeliharanya tata tertib;

c. menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan iklim kerja yang kondusif; d. menciptakan dan memelihara kondisi kerja serta perilaku yang profesional; e. meningkatkan citra dan kinerja Pegawai.

Kewajiban dan larangan dalam Kode Etik Pegawai DJP: a. Setiap Pegawai mempunyai kewajiban untuk:

1) menghormati agama, kepercayaan, budaya, dan adat istiadat orang lain; 2) bekerja secara profesional, transparan, dan akuntabel;

3) mengamankan data dan atau informasi yang dimiliki Direktorat Jenderal Pajak; 4) memberikan pelayanan kepada Wajib Pajak, sesama Pegawai, atau pihak lain dalam

pelaksanaan tugas dengan sebaik-baiknya; 5) mentaati perintah kedinasan;

6) bertanggung jawab dalam penggunaan barang inventaris milik Direktorat Jenderal Pajak;

7) mentaati ketentuan jam kerja dan tata tertib kantor;

8) menjadi panutan yang baik bagi masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan; 9) bersikap, berpenampilan, dan bertutur kata secara sopan.

b. Setiap Pegawai dilarang:

1) bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas; 2) menjadi anggota atau simpatisan aktif partai politik;

3) menyalahgunakan kewenangan jabatan baik langsung maupun tidak langsung; 4) menyalahgunakan fasilitas kantor;

ASPEK HUKUM PEMERIKSAAN DAN ETIKA PROFESI

5) menerima segala pemberian dalam bentuk apapun, baik langsung maupun tidak langsung, dari Wajib Pajak, sesama Pegawai, atau pihak lain, yang menyebabkan Pegawai yang menerima, patut diduga memiliki kewajiban yang berkaitan dengan jabatan atau pekerjaannya;

6) menyalahgunakan data dan atau informasi perpajakan;

7) melakukan perbuatan yang patut diduga dapat mengakibatkan gangguan, kerusakan dan atau perubahan data pada sistem informasi milik Direktorat Jenderal Pajak; 8) melakukan perbuatan tidak terpuji yang bertentangan dengan norma kesusilaan dan

dapat merusak citra serta martabat Direktorat Jenderal Pajak.

3. Panduan Pelaksanaan Kode Etik Pegawai DJP

Mengingat butir-butir Kode Etik disusun dalam kalimat-kalimat yang ringkas, dalam pelaksanaannya dapat terjadi perbedaan penafsiran. Oleh karena itu, diperlukan Panduan Pelaksanaan Kode Etik Pegawai DJP yang merupakan penjabaran, penjelasan atau penegasan atas butir-butir kewajiban dan larangan yang tercantum dalam Kode Etik disertai dengan contoh-contoh pelaksanaannya. Panduan pelaksanaan Kode Etik Pegawai DJP tersebut ditetapkan dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-33/PJ/2007 tanggal 23 Juli 2007 tentang Panduan Pelaksanaan Kode Etik Pegawai Direktorat Jenderal Pajak.

Melalui Panduan Kode Etik, Pegawai diharapkan dapat memahami makna yang terkandung dalam butir-butir Kode Etik secara lebih baik.

Panduan Kewajiban Pegawai

1. Menghormati agama, kepercayaan, budaya, dan adat istiadat orang lain.

Pegawai harus mengembangkan sikap kerjasama dan toleransi dalam melaksanakan tugas, yang meliputi:

a. saling menghormati antar pemeluk agama dan penganut kepercayaan yang berbeda, sehingga terbina kerukunan antar Pegawai maupun dengan pihak lain yang akan menimbulkan suasana kondusif dalam pelaksanaan tugas;

b. saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing sehingga terbina kerukunan antar pegawai;

ASPEK HUKUM PEMERIKSAAN DAN ETIKA PROFESI

A adalah Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) ABC. Sehubungan dengan akan diselenggarakannya Rapat Koordinasi DJP, A mengadakan rapat internal kantor untuk mempersiapkan materi Rapat Koordinasi tersebut. Ketika waktu sholat tiba, A mempersilakan para peserta rapat yang akan menunaikan ibadah sholat untuk menjalankannya.

c. saling menghormati budaya dan adat istiadat orang lain sehingga terbina kerukunan antar pegawai maupun dengan pihak lain.

Contoh:

B adalah Kepala KPP XYZ. Dalam suatu kesempatan, B diundang oleh masyarakat setempat untuk menghadiri suatu acara adat. Untuk menghormati masyarakat setempat, B sebaiknya menghadiri acara tersebut.

2. Bekerja secara profesional, transparan, dan akuntabel.

Pegawai mempunyai kewajiban untuk bekerja secara profesional, transparan, dan akuntabel.

a. Bekerja secara profesional meliputi:

integritas, yaitu ukuran kualitas moral Pegawai yang diwujudkan dalam sikap

jujur, bersih dari tindakan tercela, dan senantiasa mengutamakan kepentingan negara;

disiplin, yaitu pencerminan ketaatan Pegawai terhadap setiap ketentuan

yang berlaku;

 kompetensi, yaitu ukuran tingkat pengetahuan, kemampuan dan penguasaan atas bidang tugas Pegawai sehingga mampu melaksanakan tugas secara efektif dan efisien.

b. Bekerja secara transparan, yaitu setiap Pegawai bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Namun demikian, kerahasiaan jabatan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, tetap harus diterapkan. Terkait dengan transparansi yang dituntut dari setiap Pegawai, maka dalam hal Pegawai berada dalam atau berpotensi mengalami situasi konflik kepentingan dalam melaksanakan tugas, yang bersangkutan harus

ASPEK HUKUM PEMERIKSAAN DAN ETIKA PROFESI

c. Bekerja secara akuntabel artinya Pegawai harus bertanggungjawab dan bersedia untuk diperiksa oleh pihak yang berwenang atas setiap keputusan atau tindakan yang diambil dalam rangka pelaksanaan tugas.

3. Mengamankan data dan atau informasi yang dimiliki Direktorat Jenderal Pajak.

a. Mengamankan data dan atau informasi.

1) Termasuk dalam pengertian data dan atau informasi adalah semua dokumen dan atau data baik dalam bentuk fisik dokumen (hardcopy), media elektronik (softcopy), maupun data pada aplikasi portal DJP (intranet DJP).

2) Semua data dan atau informasi hanya digunakan untuk kepentingan pelaksanaan tugas dan tidak digunakan untuk kepentingan pribadi atau golongan. Setiap pegawai wajib menjaga agar data dan atau informasi tersebut tidak jatuh ke tangan yang tidak berhak ataupun ke pihak-pihak yang tidak seharusnya menguasai ataupun mengetahui isi data dan atau informasi. 3) Semua data dan atau informasi harus diarsipkan dan disimpan dengan baik. Penyimpanan data dan atau informasi harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab agar terhindar dari kerusakan serta penyalahgunaan. 4) Pegawai tidak diperkenankan memberitahukan, menggandakan dan atau

memberikan data dan atau informasi di luar ketentuan dan atau kepentingan dinas.

b. Mengamankan user id dan password serta tidak membocorkannya kepada Pegawai dan atau pihak lain yang tidak berhak.

1) Termasuk dalam pengertian user id dan password adalah identitas dan otentifikasi untuk mengakses seluruh sumber daya informasi milik DJP yang meliputi informasi, aplikasi, dan infrastruktur.

2) User id dan password hanya diketahui oleh pegawai pemegang user id dan

password serta pihak lain yang diberikan kewenangan untuk itu, misalnya

administrator. Pegawai wajib merahasiakan user id dan password-nya, baik kepada pegawai lain atau pihak lain yang tidak berhak.

3) Pegawai yang oleh karena alasan tertentu dalam rangka pelaksanaan tugas harus memberitahukan user id dan password komputer kepada pegawai atau pihak lain, wajib memenuhi prosedur yang ditetapkan serta

ASPEK HUKUM PEMERIKSAAN DAN ETIKA PROFESI

melaporkannya kepada atasan. Disamping itu dalam hal diperlukan, Pegawai yang bersangkutan wajib melakukan penggantian password setelah password tersebut selesai digunakan oleh pihak lain.

c. Memusnahkan dokumen yang tidak terpakai sesuai prosedur.

d. Tidak mengijinkan orang yang tidak berhak berada dalam ruangan kerja.

Dalam pelaksanaan pekerjaan, Pegawai banyak berhubungan dengan data yang sifatnya rahasia dan membutuhkan konsentrasi dalam pelaksanaan tugasnya. Kehadiran orang yang tidak berhak, dikhawatirkan dapat mengetahui dan atau mengambil data yang sifatnya rahasia, serta mengganggu konsentrasi kerja. Untuk itu perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

 tamu atau pihak lain hanya dapat diterima di ruangan yang telah disediakan;

 Pegawai yang mengetahui adanya orang yang tidak berhak berada di dalam ruangan kerja, agar mengarahkan orang tersebut dengan sopan ke ruangan yang disediakan;

Pegawai yang mengetahui pegawai lain menerima tamu atau orang lain yang

tidak berhak di ruang kerja, wajib mengingatkan pegawai lain tersebut untuk tidak menerima tamu atau orang yang tidak berhak di ruang kerja.

4. Memberikan pelayanan kepada Wajib Pajak, sesama Pegawai, atau pihak lain dalam pelaksanaan tugas dengan sebaik-baiknya.

Pelayanan prima merupakan nilai sikap dan perilaku setiap Pegawai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan kualitas terbaik. Nilai ini diharapkan dapat membentuk sikap setiap Pegawai agar mampu memposisikan diri sebagai abdi masyarakat yang mengedepankan sikap melayani dan bukan sebaliknya. Nilai pelayanan prima juga harus selalu dijunjung tinggi dalam pelaksanaan tugas yang berhubungan dengan sesama Pegawai maupun dengan pihak lain.

Yang dimaksud dengan pihak lain adalah pihak-pihak di luar WP dan sesama Pegawai, yang dapat berinteraksi dengan Pegawai dalam melaksanakan tugasnya, misalnya: rekanan, peserta tender atau lelang, Pegawai Negeri Sipil (PNS) di luar DJP, dan instansi atau badan pemerintahan lainnya.

ASPEK HUKUM PEMERIKSAAN DAN ETIKA PROFESI

Perintah kedinasan adalah perintah yang diberikan oleh atasan yang berwenang mengenai atau yang ada hubungannya dengan kedinasan.

Semua pegawai DJP wajib mengerjakan semua perintah kedinasan dari atasan yang berwenang. Pegawai berhak menolak perintah dari atasan yang tidak berhubungan dengan kedinasan.

Contoh:

1) A adalah Penata Usaha Administrasi Berkas dan Konfirmasi pada Seksi Pelayanan KPP STU. Suatu ketika atasannya memerintahkan untuk membuat rekapitulasi penerimaan SPT. Walaupun tidak sesuai dengan uraian jabatannya, A harus tetap melaksanakan perintah tersebut.

2) B adalah AR pada KPP DEF. Dalam suatu penyuluhan perpajakan, secara dinas Kepala KP2KP meminta B untuk menjadi nara sumber pada kegiatan tersebut. Atas seijin Kepala KPP DEF, B wajib melaksanakan tugas penyuluhan tersebut. 3) C adalah pelaksana pada Seksi Pemeriksaan KPP GHI. Atasan C meminta bantuan

C untuk mengurus keperluan pribadi (misalnya ke bengkel) pada jam kerja. Atas permintaan tersebut C berhak menolak.

6. Bertanggung jawab dalam penggunaan barang inventaris milik Direktorat Jenderal Pajak.

DJP memiliki barang inventaris yang merupakan fasilitas bagi Pegawai agar dapat menunjang pelaksanaan tugas dengan efektif dan efisien. Oleh sebab itu Pegawai bertanggung jawab untuk:

a. menggunakan barang inventaris hanya untuk keperluan dinas, misalnya tidak menggunakan kendaraan dinas untuk tujuan komersial, tidak menyewakan atau mengalihkan penggunaan rumah dinas untuk orang yang tidak berhak;

b. menyerahkan kembali barang inventaris kepada pihak yang berwenang sesuai dengan ketentuan, dalam hal hak pemakaian atas barang inventaris tersebut telah berakhir. Misalnya pemakaian rumah dinas atau mobil dinas;

c. menggunakan dan memelihara barang inventaris dengan sebaik-baiknya, misalnya mematikan komputer jika tidak dipergunakan;

ASPEK HUKUM PEMERIKSAAN DAN ETIKA PROFESI

d. melakukan usaha-usaha untuk mengamankan barang inventaris, misalnya menyimpan LCD projector/laptop pada tempat yang aman serta memarkir kendaraan dinas pada tempat yang aman.

7. Mentaati ketentuan jam kerja dan tata tertib kantor.

a. Pegawai berada di tempat kerja sesuai ketentuan mengenai jam kerja dan memanfaatkan jam kerja tersebut untuk melaksanakan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Mentaati ketentuan jam kerja agar tidak dipahami bahwa Pegawai hanya berada di tempat kerja pada jam kerja yang ditentukan. Dalam hal-hal tertentu dimana tugas harus diselesaikan di luar jam kerja maka Pegawai juga diwajibkan untuk melaksanakan tugas tersebut sesuai tanggung jawab yang diberikan.

b. Pegawai tidak diperkenankan bermain game di kantor.

c. Pegawai dapat meninggalkan tempat kerja untuk alasan pribadi dengan persetujuan atasan dan sesuai dengan prosedur mengenai ijin keluar kantor. d. Pegawai yang meninggalkan tempat kerja untuk kepentingan dinas harus

dilengkapi dengan surat tugas/surat ijin keluar kantor/SPPD atau mengisi buku ijin keluar kantor. Pegawai harus dapat mempertanggungjawabkan kegiatan dinas yang dilakukan di luar kantor kepada atasannya.

e. Pengecualian jam kerja dapat diberikan kepada Pegawai yang:

 mempunyai tugas khusus, misalnya Pegawai yang bertugas untuk melakukan intelijen, penyidikan, investigasi;

mempunyai pekerjaan khusus, misalnya Pegawai yang bekerja pada bagian

yang berkaitan dengan teknologi informasi;

menghadapi situasi khusus, misalnya terjadi bencana alam.

Contoh:

A adalah Pegawai yang diberikan tugas khusus untuk melakukan penyidikan terhadap WP CD yang diduga melakukan tindak pidana di bidang perpajakan. Atas tugas penyidikan tersebut, dengan persetujuan atasan, A diperkenakan untuk tidak mentaati ketentuan mengenai jam kerja.

f. Pegawai harus menjaga kebersihan dan kerapian tempat kerja dan lingkungan kantor.

ASPEK HUKUM PEMERIKSAAN DAN ETIKA PROFESI

8. Menjadi panutan yang baik bagi masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan.

Sebagai anggota masyarakat, Pegawai harus menjadi teladan dalam memenuhi kewajiban perpajakan sesuai ketentuan yang berlaku, antara lain:

a. memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP); b. mengisi SPT dengan lengkap, benar, dan jelas; c. melaporkan SPT tepat waktu;

d. membayar pajak yang terutang atau pajak yang masih harus dibayar.

9. Bersikap, berpenampilan, dan bertutur kata secara sopan.

a. Pegawai wajib mengenakan pakaian sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada jam kerja atau pada waktu melaksanakan tugas kedinasan.

b. Pegawai wajib mengenakan tanda pengenal pada saat melaksanakan tugas kecuali Pegawai yang mempunyai pekerjaan khusus atau sedang melaksanakan tugas khusus.

c. Pegawai wajib menjaga setiap tutur katanya dengan baik dan bersikap sopan sesuai norma umum yang berlaku.

d. Pegawai wajib menjaga kerapian dalam berpenampilan sesuai dengan kepantasan yang berlaku umum.

Dalam dokumen ASPEK HUKUM PEMERIKSAAN DAN ETIKA PROFESI (Halaman 37-46)

Dokumen terkait