• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kode Etik dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan

PERAN KOMPETENSI SOSIAL KULTURAL PENGAJAR TERHADAP KEBERHASILAN PEMBELAJARAN

LATAR BELAKANG

4. Kode Etik dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan

Kode Etik adalah aturan-aturan yang mengatur tingkah laku dalam suatu kelompok khusus, sudut pandangnya hanya ditujukan pada hal-hal prinsip dalam bentuk ketentuan-ketentuan tertulis. Adapun Kode Etik Profesi dimaksudkan untuk mengatur tingkah laku/etika suatu kelompok khusus dalam masyarakat melalui ketentuan-ketentuan tertulis yang diharapkan dapat dipegang teguh oleh sekelompok profesional tertentu.29 Kode etik tidak hanya sekedar bacaan, tetapi juga di implementasikan dalam melakukan pekerjaan, dinilai tingkat implementasinya melalui mekanisme monitoring, kemudian dievaluasi dan diupayakan perbaikan melalui konsensus. Komitmen terhadap perbaikan etika ini perlu ditunjukkan, agar masyarakat semakin yakin bahwa birokrasi publik sungguh-sungguh akuntabel dalam melaksanakan kegiatan pelayanan publik.

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2012 pasal 2 menyatakan bahwa kode Etik meliputi30:

a. Etika terhadap diri sendiri;

29 Wahyudi Kumorotomo et.al., “ETIKA

PUBLIK” Modul Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan Golongan I dan II, Lembaga Administrasi

Negara Republik Indonesia, 2015, hlm.8

30 Tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia

b. Etika terhadap sesama Pegawai; c. Etika dalam berorganisasi; d. Etika dalam bermasyarakat; dan e. Etika dalam bernegara.

Pegawai Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi wajib mematuhi dan berpedoman pada unsur-unsur Kode Etik sebagaimana ditetapkan dalam peraturan tersebut. Untuk memberikan kontrol terhadap kode etik yang telah ditetapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan membentuk Majelis Kode Etik untuk memeriksa dugaan adanya pelanggaran kode etik. Sesuai dengan ketetapan Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 16 tahun 2012 pasal 12 Majelis Kode Etik bertugas31:

a. memeriksa Pegawai yang disangka melakukan pelanggaran Kode Etik yang dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan

b. meminta keterangan dari pihak lain atau pejabat lain yang dipandang perlu;

c. mendengarkan pembelaan diri dari Pegawai yang diduga melakukan pelanggaran Kode Etik;

d. memberikan rekomendasi kepada Pejabat Pembina Kepegawaian atau pejabat yang berwenang menghukum atau pejabat lain yang ditunjuk paling rendah pejabat struktural eselon IV mengenai pemberian sanksi; dan e. menyusun laporan hasil pemeriksaan

tentang dugaan adanya pelanggaran Kode Etik yang dituangkan dalam Laporan Hasil Pemeriksaan.

Selanjutnya setiap pegawai yang terbukti melakukan pelanggaran Kode Etik yang telah ditetapkan akan dikenakan sanksi sebagaimana tertuang dalam pasal 14. Adapun sanksi-sanksi dimaksud meliputi32:

Nomor 16 Tahun 2012 Tentang Kode Etik Pegawai Di Lingkungan KEMENDIKBUD pasal 2

31 Ibid.

32 Tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia

a. permohonan maaf dituangkan dalam Surat Pernyataan Permohonan Maaf b. pernyataan penyesalan dituangkan dalam Surat Pernyataan Penyesalan c. pernyataan sikap bersedia dijatuhi

hukuman disiplin berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan apabila mengulangi perbuatannya atau melakukan pelanggaran Kode Etik lainnya

Simpulan

Pelayanan Publik yang profesional tidak hanya membutuhkan kompetensi teknis dan leadership, namun juga kompetensi etika. Kinerja Pegawai Negeri Sipil pada beberapa waktu terakhir ini sering mendapat sorotan dari berbagai kalangan sehingga mucul suatu stigma yang kurang baik. Stigma ini muncul dan umumnya ditujukan kepada para PNS di hampir seluruh instansi pemerintah, demikian pula dengan

Kompetensi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sikap yang kurang baik masih ditemui dikalangan ASN tersebut umumnya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, pemahaman dan penghayatan terhadap nilai-nilai etika. Berbicara mengenai etika, etika PNS berisi ajaran-ajaran moral dan asas-asas kelakuan yang baik dalam melaksanakan tugas dan melakukan tindakan jabatannya.

Oleh karena itu perlu dipahami secara holistik mengenai etika dan kode etika pejabat publik. ASN cenderung menjadi tidak peka, tidak peduli dan bahkan seringkali diskriminatif bilamana tanpa memiliki kompetensi etika. Etika publik merupakan suatu refleksi kritis yang mendeskripsikan bagaimana nilai-nilai kejujuran, solidaritas, keadilan, kesetaraan, dan yang lain-lain dipraktikkan dalam suatu sikap yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Becker, BE, Huselid, ME & Ulrich, D. HR Scorecard: Menghubungkan orang, strategi, dan

kinerja. Boston: Harvard Business School Press. 2001.

Donalson, Les dan Edward E Scannel. Pengembangan Sumber Daya Manusia. Gaya Media Pratama. Jakarta. 1993.

Douglas, Hall T. & James Good ale G.Human Resources Management, Strategy, Design and

Impelementation. (Scott Foresmanand Company: Glenview, 1986).

Fathurrochman, Irwan. Pengembangan Kompetensi Pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN)

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Curup Melalui Metode Pendidikan Dan Pelatihan. Volume 11, Nomor21, Maret 2017.

G. Dessler. Manajemen Sumber Daya Manusia, Jilid 2, Edisi Kesembilan. (Jakarta:PTIndeks Kelompok Gramedia, 2003).

Kalangi, Roosje. Pengembangan Sumber Daya Manusia Dan Kinerja Aparat Sipil Negara Di

Kabupaten Kepulauan Sangihe Provinsi Sulawesi Utara. Jurnal LPPM Bidang

EkososBudKum Volume 2 Nomor 1 Tahun 2015.

Nomor 16 Tahun 2012 Tentang Kode Etik Pegawai Di Lingkungan KEMENDIKBUD pasal 14

Paul, a. k. & anantharaman, r. n. ‟dampak praktik manajemen orang pada kinerja organisasi:

analisis model kausal”. international journal of manajemen sumber daya manusia, 14 (7).

2003.

Santiarsti, Thea, Salmin Dengo dan Joorie M. Ruru. Penerapan Etika PNS Dalam Pelaksanaan

Tugas Aparatur Pelayanan Publik (Suatu Studi di Kantor Camat Wanea Kota Manado).

Simanjuntak, P.J.Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia, Lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 1985.

Smith, Andrew. Training and Development In Australia, Second Edition, Reed International Books Australia Pty Buuterworths, Australia, 1985.

Spencer dan Spencer. Competence at Work:Models for Superrior Performance. John Wily & Son, Inc, New York. USA, 1993.

Suhanda. Urgensi Sumber Daya Manusia Menuju Aparatur Sipil Negara Potensial Berbasis

Ketangguhan Mental-Spiritual. RI’AYAH. Vol. 01, No. 02 Juli-Desember 2016.

Wahyudi Kumorotomo, et.al. “Etika Publik” Modul Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan

Golongan I dan II, Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia. Jakata. 2015.

Wright, P., Gardner, T., Moynihan, L. & Allen, M. Hubungan antara Praktik SDM dan Kinerja

Perusahaan: Memeriksa Urutan Kausal. Personil Psikologi. 2005.

Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil (PNS)

Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2012 Tentang Kode Etik Pegawai Di Lingkungan KEMENDIKBUD

HUBUNGAN AKTUALISASI NILAI-NILAI DASAR KESEHATAN

Dokumen terkait